Malaikat Kecil 3


     Wahyu baru saja pulang usai menemui Dokter yang menangani Rey siang itu, seminggu setelah kemoterapi pertama itu, Wahyu sengaja dihubungi oleh Dokter itu. Wahyu mendapati putranya sedang asik dengan mainannya diruang tengah itu sendirian, ia pandangi malaikat kecilnya itu dari posisinya yang tak terlalu jauh dari Rey, pikirannya kacau, perkataan Dokter tadi membuatnya seperti orang linglung, Dokter itu bilang kemoterapi pertama yang dijalani Rey seminggu yang lalu sama sekali tidak menunjukkan kabar baik, yang ada malah kabar buruk, penyakit itu tumbuh kian cepat setiap harinya, itu membuat kondisi Rey semakin hari semakin drop. Dokter menyarankan agar Rey dirawat intensif di Rumah Sakit, tapi ia sama sekali tak tega jika harus melihat malaikat kecilnya itu berada terus menerus di Rumah Sakit, menikmati aroma memuakkan Rumah Sakit, Wahyu tak mau anaknya itu menghabiskan waktunya di Rumah Sakit, karena itu pasti akan sangat menyiksa Rey. Lalu bagaimana ia akan menjelaskan pada Rey tentang semua ini, yang anak itu tahu, ia baik-baik saja, bermain seperti biasanya, ke sekolah setiap hari, itu yang Rey tahu tentang keadaannya. Wahyu tak mau mengganti senyuman manis itu menjadi sebuah kesedihan, bagaimanapun juga Rey berhak bahagia dengan dunianya, tak peduli seberapa lama lagi ia hidup, ia hanya ingin melihat Rey terus tersenyum disela keadaannya yang mengkhawatirkan. Baginya, kebahagiaan Rey adalah kebahagiaannya juga. Lihat, apa besok ia masih akan melihat putranya itu duduk manis diruang tengah bersama mainannya lagi? Apa besok suara Rey yang menaggilnya manja bisa ia dengar lagi? Dan apa besok Rey masih berada disisinya saat ia terbangun dari tidurnya? Andai takdir Tuhan bisa ia rubah, ia ingin semuanya tidak seperti sekarang. Ia ingin Rey selalu disisinya, menjadi pelipur penatnya, menjadi sahabat terbaiknya dalam suka maupun duka, menjadi malaikat yang senantiasa hadir tanpa ia minta. Hanya Rey yang ia punya, Rey napasnya, nadinya, hidupnya, separuh jiwanya. Ia tak sanggup jika harus kehilangan Rey, tidak sekarang, besok, lusa, atau beberapa puluh tahun lagi. Rey motivasinya untuk tetap bertahan pada posisinya. Rey harus tetap disisinya.
        “Ayah?” seru Rey saat mendapati Ayahnya yang diam ditempatnya berdiri. Lamunan Wahyu buyar, ia pun mendekati putranya itu seraya mengukir seulas senyum. “Kok Ayah udah pulang kerjanya?” tanyanya.
        “Hari ini Ayah pulang cepet,” dusta Wahyu.
        “Oh gitu ya, Yah,” Rey manggut-manggut mengerti kemudian melanjutkan kesibukannya dengan mainan-mainannya.
        “Rey udah makan?” tanya Wahyu seraya duduk disebelah Rey. Rey menggeleng cuek. “Kenapa belum?” tanya Wahyu lagi.
        “Rey nggak mau makan, kalau abis makan, pasti Rey disuruh minum obat,” jawabnya cuek. Dahi Wahyu berkerut. “Emang Rey sakit apa sih, Yah?” tanyanya. Wahyu menelan ludah getir, ia yakin sekali pertanyaan itu pasti akan ditanyakan Rey padanya. “Kenapa minum obat melulu?” imbuhnya.
        “Rey nggak sakit, itu cuma vitamin aja, biar Rey nggak gampang sakit, itu aja,” jelasnya berdusta. “Ayah kan nggak mau kalau Rey sampai sakit,” katanya lagi. Rey seakan tak menggubris omongan Ayahnya itu, ia sibuk dengan mainannya. “Rey ngerti kan?” tanya Wahyu.
        “Ngerti, Ayah!” sungut Rey seraya memaksakan seulas senyum. “Tapi sampe kapan Rey harus minum vitamin-vitamin itu?” tanyanya seraya menatap Ayahnya.
        Wahyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, bagaimana cara ia menjawab pertanyaan itu? Astaga, ia baru sadar kalau pangeran kecilnya itu sudah besar sekarang, pangeran kecilnya itu semakin mengerti banyak hal tanpa ia bisa ia kendalikan. Ya Tuhan, malaikat kecilnya itu sudah menjelma menjadi anak yang tahu banyak hal.
        “Ayah!” Rey menyentuh tangan Ayahnya membuat Wahyu tersentak dari lamunannya dan menoleh memandangi Rey disebelahnya.
        “Rey,” Wahyu memutar posisi duduknya, menghadap putranya, menatap wajah yang polos itu. “Ayah mau Rey tahu beberapa hal tentang hidup,” katanya. Rey menatapnya lugu. “Sekarang Rey seneng kan dengan apa yang Rey punya? Rey punya Ayah sama Bunda yang sayang sama Rey, iya kan?” tanya Wahyu. Rey mengangguk. “Nah, sekarang tugas Rey cuma satu, nikmatin semua itu dengan cara bersyukur dengan apa yang Rey punya,” imbuh Wahyu. “Dan kalo Rey tanya kenapa Rey harus minum vitamin-vitamin itu, itu karena Ayah sama Bunda pengen Rey tumbuh jadi anak yang sehat,” setengah hati Wahyu mengatakan hal itu, pada kenyataannya kesehatan putranya itu sudah terganggu. “Ayah mau Rey jadi lelaki yang kuat, lelaki yang tangguh, dan nggak cengeng,” katanya seraya menarik hidung putranya itu pelan.
        “Dan Ayah sama Bunda pengen liat Rey tumbuh jadi lelaki yang hebat!” seru seseorang. Rey dan Wahyu menoleh, mereka mendapati seorang wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda tanpa poni berjalan mendekati mereka, siapa lagi kalau bukan Mita. Ia tampak anggun dengan kemeja kerjanya yang pas dengan ukuran badannya yang dibalut sebuah blezer, dengan celana panjang dan wedgesnya.
        “Bunda!” seru Rey sumringah. Wahyu terpekur melihat Mita ada disini tanpa izin darinya terlebih dulu.
        Mita duduk diantara Ayah dan anak itu, kemudian ia kecup kening Rey, hal pertama yang selalu ia lakukan saat bertemu Rey, pangeran kecilnya. “Rey baik-baik aja?” tanya Mita menyeringai.
        “Bunda, Rey kan nggak sakit,” Rey tampak manja dihadapan ibunya.
        “Oh iya, Bunda lupa,” Mita terkekeh. “Rey kan anak yang sehat,” Mita tersenyum, kemudian memeluk putranya itu seraya mengalihkan pandang pada Wahyu dihadapannya yang terdiam. “Lagi apa sih sama Ayah?” tanyanya.
        “Nggak ngapa-ngapain, cuma ngobrol aja,” jawab Rey.
        Mita melepaskan pelukannya dari Rey, kemudian memandangi Wahyu lagi. “Kamu nggak ke kantor?” tanya Mita, mencoba mencairkan suasana.
        Wahyu tak menyahut, ia menunduk sebentar kemudian menatap serius mantan istrinya itu. Bagaimana ia harus memulainya, bagaimana caranya menyampaikan pada Mita apa yang Dokter sampaikan padanya tadi? Wahyu berdiri dari duduknya, kemudian ia berjalan menjauhi tempat itu, Mita bangkit kemudian memandangi Rey yang menatapanya lugu.
        “Bunda mau ke Ayah dulu ya sayang,” Rey tersenyum maklum, Mita pun hendak menemui Wahyu. Ia yakin ada hal penting yang harus ia dengar dari pria itu.
        “Yu?” Mita menemukan Wahyu yang berdiri ditepi kolam renang dihalaman belakang, dipandanginya air kolam yang tenang itu.
        “Aku nggak ngerti harus bilang apa lagi sama kamu soal Rey,” Wahyu terlihat mengusap wajahnya yang berkeringat. Mita mendekati pria itu, ia pun ikut memandangi air kolam itu disebelah Wahyu. “Rey semakin memburuk, kemoterapi itu nggak membantu apapun untuk Rey,” Wahyu memasukkan ibu jarinya kedalam kantung celananya. Mita mengerutkan dahinya. “Kemoterapi pertama gagal dan sama sekali nggak menghasilkan apa-apa untuk keadaan Rey,” pandangan Wahyu lurus kedepan.
        “Masih ada kemoterapi kedua, ketiga, keempat….”
        “Itu hanya bisa dilakukan lagi sebulan kemudian, Mit!” celetuk Wahyu tanpa menatap Mita. “Aku nggak tahu, apa Rey bisa bertahan selama itu kalau hanya bergantung dari obat-obatan itu,” imbuh Wahyu.
        Deg! Dada Mita seperti ditusuk ribuan pisau, ini lebih menyakitkan dari yang ia kira, padahal ia sempat berharap kalau kemoterapi ini akan berhasil dan membuat keadaan Rey membaik, tapi nyatanya? Mita ingin semua keadaan rumit ini berakhir. “Apa nggak ada cara lain supaya Rey bisa bertahan sampai kemoterapi berikutnya?” tanya Mita.
        “Ada,” jawaban itu seakan memupuk lagi asanya. “Rey harus dirawat intensif di Rumah Sakit,” imbuhnya.
        “Yaudah kita bawa Rey ke Rumah Sakit, kita…”
        “Aku nggak mau Rey menghabiskan waktunya dirumah sakit, Mit!” Wahyu menatap Mita yang juga menatapnya. “Aku nggak mau liat dia terus menerus dijejali obat-obatan itu setiap harinya sama suster-suster itu, Rey benci semua itu, kamu tahu?” suara Wahyu meninggi. “Rey nggak pernah suka dibawa ke Rumah Sakit, dia selalu ngambek sama aku dirumah kalau aku habis bawa dia kerumah sakit,” cerita Wahyu. “Dia bilang sama aku ‘Ayah, kenapa nggak dokternya aja yang disuruh dateng kesini? Kenapa Rey harus kerumah sakit?’ itu yang selalu dia bilang sama aku, Mit!” terang Wahyu.
        “Yu, aku tahu, tapi cuma ini satu-satunya jalan supaya Rey bisa bertahan,” Mita menggenggam tangan Wahyu tanpa ia sadari. “Setidaknya sampai kemoterapi selanjutnya dilaksanain,” Mita tampak memohon. “Bujuk dia,” pinta Mita. “Aku lebih nggak tega kalau harus liat Rey dibohongi sama orangtuanya sendiri,” Wahyu memandangi tangan Mita yang menggenggam tangannya. “Maaf, aku…”
        “Kalau aku tahu cara bagaimana membujuk Rey, aku udah lakuin itu sejak tadi, tapi aku nggak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya sama Rey tentang keadaan dia yang sebenarnya,” Wahyu tak mengindahkan insiden Mita barusan. “Yang dia tahu, dia anak yang sehat, sama seperti teman-temannya yang lain,” Wahyu mengacak rambutnya, pria itu tampak frustrasi. “Aku nggak mau merenggut semua waktunya dengan meminta dia tinggal dirumah sakit,” Wahyu tetap pada pendiriannya.
        “Aku mohon jangan egois, Yu,” Mita menatap pantulan dirinya dan Wahyu diair kolam itu. “Kali ini aja,” Mita menoleh memandangi Wahyu yang diam. “Aku mohon,” pinta Mita. “Demi kebaikan Rey, demi kesembuhannya,” Mita menyetel suaranya setenang mungkin supaya Wahyu tak emosi.
        “Apa selama ini aku egois?” tanya Wahyu. Mita menelan ludah saat Wahyu memandanginya dengan serius. “Apa selama ini aku gagal merawat Rey?” ia bertanya lagi. Mita belum mau menjawab. “Apa aku bukan Ayah yang baik buat Rey?” Wahyu menunduk. “Iya, Mita?” ia menatap Mita.
        “Kamu Ayah terbaik buat Rey, kamu yang terhebat buat Rey, dan kamu nggak pernah gagal menjalankan tugas kamu sebagai Ayah,” Mita memalingkan wajahnya. “Justru aku yang gagal menjadi sosok ibu yang baik untuk Rey, aku gagal jadi seorang ibu yang Rey butuhkan, aku nggak bisa terus berada disisinya setiap saat,” sesal Mita, matanya berkaca-kaca. Wahyu menatap Mita yang pandangannya lurus kedepan. “Aku bukan ibu yang baik, aku nggak ada saat Rey butuhin aku,” Mita meneteskan air matanya didepan Wahyu lagi. “Tapi,” Mita menatap Wahyu. “Rey punya kamu, Rey punya Ayah yang baik dan hebat seperti kamu, Rey punya Ayah yang bisa memerankan sosok ibu sekaligus,” Mita tersenyum kecut seraya menghapus air matanya.
        Wahyu seperti sedang melihat Mita yang kuat dengan setiap ucapannya, tapi sisi rapuh dari wanita itu tetap terlihat dimatanya, terlihat jelas sekali wanita itu seperti tertekan dengan semua keadaan rumit ini, keadaan yang seakan menyudutkannya, membuangnya jauh dari hingar bingar hidupnya yang dulu saat ia masih menjadi istrinya. Apa semua ini salahnya? Apa perceraian itu berdampak seburuk ini bagi Mita? Dalam hatinya yang paling dalam masih ada secuil perasaan itu, perasaan membutuhkan akan kehadiran wanita itu. Ya, masih ada cinta untuk Mita dihatinya, masih ada tempat dihatinya untuk Mita, dan dipalung hatinya yang paling dalam, nama Mita tak pernah ia lupakan sedikitpun, ia telah mengunci hati Mita untuknya. Dan Mita telah mengunci hatinya, membuang kunci itu sejauh mungkin. Mita masih berarti baginya, tapi insiden itu membuatnya terpuruk, ia seperti mendapat pukulan telak dengan kejadian beberapa bulan silam. Kejadian yang menghancurkan semuanya tanpa sisa. Kejadian yang akhirnya memaksa ia untuk melepaskan wanita yang amat ia cintai itu. Alotta Pramita.
        “Kamu bisa kan mengesampingkan ego kamu untuk saat ini?” tanya Mita kemudian. “Buat Rey,” katanya seraya menatap Wahyu.
        Wahyu menunduk sebentar kemudian mengangkat wajahnya lagi seraya memandangi kolam didepannya. Kapan hidupnya akan setenang air kolam itu? Banyak hal yang hilang dari dalam dirinya setelah Mita menyandang status sebagai mantan istrinya, separuh napasnya dan jiwanya seakan ikut pergi bersama Mita. Wahyu berdehem, ia tak mengerti dengan keadaan ini.
        “Yu?” Mita menyentuh bahu Wahyu, kali ini ia sadar melakukan itu seraya memandangi wajah Wahyu yang tampak frustrasi itu.
        “Ok, aku akan bujuk Rey dan jelasin semuanya,” katanya seraya membalas tatapan Mita, tatapan mereka bertemu. Tatapan itu membuatnya merasa lebih tenang. Ia tahu, memang hanya Mita yang mampu merubah semua pendiriannya.
        Mita tersenyum seraya menarik tangannya dari bahu Wahyu, kemudian mengisyaratkan Wahyu untuk menemui Rey sekarang, anak itu sudah terlalu lama menunggu. “Aku pasti bantu kamu jelasin semuanya sama Rey,” janji Mita.
        Wahyu pun meninggalkannya sendiri ditempat itu, ia kembali menatap kolam didepannya. Andai semuanya bisa seperti dulu. Mita membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan masuk kerumah itu.

₯₯₯

        Mita duduk berdua bersama Rey ditaman halaman belakang rumah sakit malam itu, seminggu sudah Rey tinggal dirumah sakit, betapa sulitnya membujuk Rey saat itu untuk tinggal di rumah sakit, akhirnya semua bujukan itu disetujui Rey, dan sekarang Rey tahu bahwa dirinya sakit, tapi yang Rey tahu, ia hanya sakit biasa dan tak parah. Ucapan Dokter bilang keadaan Rey semakin hari semakin memburuk, obat-obatan itu sama sekali tak mambantu apa-apa masih terngiang jelas ditelinganya. Mita mendekap tubuh mungil malaikat kecilnya yang terbalut sweater tebal berwarna abu-abu itu, angin berhembus perlahan tapi cukup menusuk kulit. Mita tak mau Rey sampai kedinginan. Rey terdiam dalam dekapan yang sangat ia rindukan itu, dekapan hangat dari seorang ibu. Mita mengusap-usap puncak kepala Rey sambil bersenandung kecil agar suasana tak begitu buruk bagi Rey, supaya suasana hati Rey bisa tenang.
        “Bunda, kepala Rey pusing,” keluh Rey pelan.
        “Kita kekamar aja ya,” Mita tampak khawatir.
        “Nggak mau, Rey suka disini, Rey mau bobo disini aja,” tolaknya. “Dipeluk sama Bunda,” suara Rey semakin pelan, genggamannya semakin erat.
        “Yaudah kalo Rey maunya begitu,” Mita hanya bisa mengiyakan, padahal sudah hampir dua jam ia dan Rey duduk disini, memeluk erat malaikat kecilnya itu.
        “Bunda, Rey boleh tanya sesuatu sama Bunda?” tanya Rey.
        “Boleh dong,” jawab Mita. “Apa?” Mita mempererat genggamannya pada Rey.
        “Kenapa Bunda sama Ayah nggak tinggal sama-sama kayak dulu?” tanya Rey. Mita menelan ludah getir, kenapa Rey tanyakan hal itu padanya? Bagaimana ia harus menjawabnya? Menjelaskan semuanya. “Kata temen Rey kalo Ayah sama Bunda kita nggak tinggal bareng lagi itu berarti udah cerai,” jelas Rey. “Cerai itu apa, Bunda?” tanyanya.
        Mita shock dengan penjelasan Rey tentang semua itu, bagaimana bisa  anak sekecil Rey menanyakan hal itu. Mita menahan napasnya beberapa detik, lalu sekarang ia harus jawab apa? Menjelaskan apa pada Rey. “Kenapa Rey tanya itu sayang?” tanya Mita.
        “Abisnya Ayah sama Bunda nggak tinggal bareng lagi kayak dulu, kenapa, Bun?” tanyanya balik.
        “Nanti kalau Rey udah dewasa, Rey pasti ngerti semua itu,” kata Mita seraya membelai rambut putranya itu.
        “Ayah pernah bilang gitu sama Rey,” ujarnya dengan nada kecewa.
        Mita menngecup puncak kepala anaknya itu, ia sama sekali tak pernah ingin membebani Rey dengan semua keadaan rumit ini, ia hanya ingin merasakan sendiri semua ini tanpa melibatkan Rey sedikitpun.
        “Bun, kalau Rey minta Bunda sama Ayah kayak dulu lagi, Bunda mau kan ngabulin?” tanyanya pelan, mempererat genggamannya pada Mita. “Rey mau Ayah sama Bunda kayak dulu lagi, sama-sama lagi, tinggal sama-sama lagi,” katanya.
        Mita tak menyahut, apa ia bisa mengabulkan semua impian Rey itu? Sekarang baginya, Wahyu hanyalah sepenggal kenangan yang amat manis, sampai ia tak berani membayangkannya lagi. Sekarang, Wahyu sangat jauh dari jangkauannya, sangat jauh sampai ia tak bisa meraihnya lagi. Wahyu telah pergi bersama separuh napasnya. Pergi tanpa jejak sedikitpun. Yang ia tahu, Wahyu tak akan bisa ia gapai lagi, tak bisa ia sentuh lagi hati dan jiwanya, Wahyu terlalu jauh dari pandangan matanya. Sangat jauh.
        “Bunda,” genggaman Rey semakin erat. Mita tersentak, ia merasakan tangan Rey yang agak dingin. “Rey mau bobo, Bunda nyanyi lagi kayak tadi ya,” Rey memejamkan matanya dalam dekapan ibunya itu.
        Mita bersenandung lagi seperti tadi, mengelus-elus rambut pangeran kecilnya itu dengan lembut, merasakan kebahagiaan atas apa yang Tuhan berikan padanya, Rey yang menyayanginya sepenuh hati. Mita merasa menjadi ibu yang amat bahagia saat ini. Bahagia mencintai dan menjaga Rey Nairo Damara, malaikat kecil yang diberikan Tuhan untuknya. “Rey?” bisik Mita. Genggaman Rey mengendur, Mita mulai dilanda rasa takut. “Rey?” Mita mengeluarkan Rey dari dekapannya, meletakkan tubuh Rey dalam pangkuannya, ditatapnya wajah Rey yang seperti malaikat itu. “Rey, jangan bercanda dong sayang,” Mita menepuk pelan pipi Rey.
        Wahyu yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat itu pun mendekati Mita yang terlihat panik. “Kenapa, Mit?” tanyanya. Mita tak menyahut, pipinya sudah basah oleh air mata yang tak berhenti mengalir. “Bilang sama aku kalau Rey gapapa, dia cuma tidur, kan?” Wahyu mengambil alih tubuh Rey dari Mita. Mita tak bergeming. “Aku mau bawa dia ke kamarnya,” Wahyu hendak membawa Rey pergi dari tempat itu.
        “Yu!” seru Mita masih tetap pada posisinya. “Rey udah nggak ada, kamu tahu itu?” teriak Mita. Wahyu menghentikan langkahnya. “Percuma kamu bawa dia kekamarnya, dokter pasti bilang hal yang sama,” imbuhnya seraya menghapus air matanya dengan kasar.
        Apa malaikat kecilnya itu memang benar-benar telah pergi? Apa ia tidak akan melihat Rey lagi besok seperti biasanya? Apa ia tidak akan mendengar celotehan manja Rey lagi besok dan seterusnya? Apa ia tidak akan melihat senyuman manis dari pangeran kecilnya itu lagi besok? Tidak, Rey akan selalu ada disisinya sampai kapanpun. Ya, selalu dan selalu. Berarti apa sekarang, ia gagal merawat Rey, ia gagal menjadikan Rey anak yang kuat dan hebat, ia gagal membiarkan Rey untuk tetap tumbuh menjadi anak yang tangguh. Ia bukan Ayah yang baik, begitu kan? Iya begitu, ia bukan Ayah yang berhasil.
        “Yu?” gumam Mita pelan, tapi terdengar jelas ditelinga Wahyu. “Biarin dia pergi, biarin semua rasa sakitnya hilang, biarin semua penderitaannya berakhir, dia udah cape dengan keadaan ini, biarin dia bahagia meskipun nggak sama kita,” Mita berusaha tegar dengan semua ini. “Biar Rey bahagia disurga,” Mita meneteskan air matanya lagi, pandangannya lurus kedepan. Ia tak mendengar respon Wahyu sama sekali. Ia menoleh, dan Wahyu masih mematung diposisinya, pria itu sangat terpukul, Mita bisa merasakan itu.

₯₯₯

         Mita duduk memeluk lututnya sambil menatap jauh kelautan lepas didepannya sore itu, memandangi batas cakrawala yang ada jauh didepannya, ia suka pantai, ia suka siluet senja, dan ia suka sunset, sudah lama ia tak mengunjungi pantai ini, pantai yang ia sering kunjungi bersama Rey dan Wahyu dulu. Sekarang semuanya berubah semenjak peristiwa perceraian itu, ia rindu mendengar deburan ombak yang seakan sekaligus membawa semua masalahnya pergi. Sudah sebulan lamanya Rey pergi untuk selamanya, masih tergambar jelas dibenaknya saat moment membahagiakan itu hadir ditengah-tengahnya, momen dimana saat Rey lahir kedunia dari rahimnya, momen dimana Rey tumbuh dalam naungan kasih dan cintanya. Tapi lihat sekarang, Rey hanya memiliki waktu lima tahun didunia ini, selebihnya terserah Tuhan, ia tak pernah menyesali semua yang terjadi. Baginya, meskipun singkat, Rey tetap pangeran kecilnya sampai detik ini, malaikat kecilnya yang tercinta, putra kecilnya yang kuat dan hebat. Sedang apa Rey disana? Mita membenarkan kaca mata hitamnya, angin menerbangkan setiap helai rambutnya yang tergerai indah sore itu, kemeja putih tipis membalut tubuhnya sore itu, jeans pendek putih menyempurnakan penampilan simplenya kala itu.
        “Aku nggak ngerti kenapa dunia ini sempit banget,” Mita mendengar suara seseorang yang membuyarkan lamunannya. “Aku kira kamu lupa tempat ini,” Mita mendapati Wahyu yang berdiri disebelahnya duduk, kemeja putih tipis dan celana jeans putih pendek membuatnya tampak charming, ditambah dengan kaca mata hitamnya. Hey, penampilan mereka sama persis, sungguh diluar dugaan Mita. “Apa kabar kamu?” Wahyu memasukkan ibu jarinya kedalam kantung jeansnya, menatap lurus kedepan.
        “Baik,” Mita berdiri. “Kamu sendiri?” tanyanya balik. Sudah sebulan ini ia tak pernah bertemu Wahyu.
        “Aku ya begini ini,” jawabnya santai. “Aku nggak bisa setegar kamu,” ia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
        Mita hanya mengulum senyum seraya menunduk, rambutnya yang panjang diterpa angin dengan lembut, terdengar deburan ombak bergulung-gulung didepannya, Mita menatap jauh kedepan, wajahnya tertutup rambutnya, ia menyibaknya. Keheningan hadir ditengah-tengah mereka.
        “Masih belum percaya ya kalau Rey udah nggak ada ditengah-tengah kita,” Mita membuka pembicaraan kemudian seraya menoleh kearah Wahyu yang berdiri disebelahnya.
        “Tapi kenyataan selalu berbanding terbalik,” rambut Wahyu diterpa angin. “Mau nggak mau kita harus terima, itu yang terbaik,” Wahyu menoleh kemudian tersenyum. Mita bahagia dapat melihat senyum itu lagi.
        Matahari mulai mendekati batas cakrawala, Mita melepaskan kaca matanya, ia sama sekali tak ingin melewatkan moment mengesankan itu selama berada disini.  Sudah lama ia tak menikmati anugerah Tuhan disore hari seperti ini. Ia menatap Wahyu yang memicingkan matanya menatap batas cakrawala didepannya tanpa kaca matanya, Mita ingat, Wahyulah orang yang mengenalkannya pada senja beserta siluet-siluetnya yang indah.
        “Mita?” gumam Wahyu pelan.
        “Ya?” sahut Mita.
        “Boleh aku minta maaf?” tanyanya seraya menatap Mita.
        “Minta maaf untuk apa?” Mita tak mengerti dengan pertanyaan Wahyu barusan.

It still feels like our first night together…
Feels like the first kiss…
It’s getting better baby…
No one can better this…
Still holding on…
You’re still the one…

        “Semuanya,” jawabnya singkat seraya memasukkan kembali ibu jarinya kedalam kantung celana jeans putihnya. Mita menautkan alisnya, Wahyu ini bicara apa sebenarnya? Mita tak mengerti. “Aku selalu menyakiti kamu, kan?” tanyanya. “Aku minta maaf,” Wahyu menunduk.
        Mita mengerti sekarang arah pembicaraan mereka ini, ia menghela napas panjang kemudian berjalan menjauhi Wahyu, membiarkan kakinya berbaur lagi dengan pasir pantai itu, angin kencang berhembus lagi, angin senja. Mita tak mau membahas semua itu, semua tentang kisahnya bersama Wahyu, kisah itu selalu membuatnya sakit sendiri jika diingat lagi. Biarkan semuanya berlalu sebagaimana seharusnya, ia tak pernah lagi berani mengharapkan Wahyu kembali padanya. Ia telah kehilangan semuanya, separuh jiwanya telah pergi untuk selamanya, sekarang separuh napasnya juga akan pergi bersama angin itu.

First time our eyes met…
Same feeling I get…
Only feels much stronger…
I wanna love you longer…
Do you still turn the fire on?...

        “Kepergian Rey mengajarkan aku untuk selalu menghargai apa yang aku punya,” Mita menghentikan langkahnya tanpa menoleh saat seseorang berbicara dibelakangnya. “Kepergian Rey mengajarkan aku untuk selalu menerima semua kehilangan dengan ikhlas,” suara Wahyu tak pernah asing bagi telinganya.
        “Rey adalah kehilangan terbesar buat aku,” Wahyu menatap punggung Mita yang ada didepannya. “Udah cukup aku kehilangan hal terbesar itu, dan aku nggak mau kehilangan hal terbesar aku untuk kedua kalinya,” angin berhembus semakin kencang. “Yaitu kamu,” Wahyu memicingkan matanya.
        “Maksud kamu apa si, Yu? Apa yang kamu bicarain?” Mita belum berani menoleh.
So if you’re feeling lonely, don’t…
You’re the only one I’ll ever want…
I only want to make it go…
So if I love you a little more than I should…
        “Aku rasa keputusan aku untuk menceraikan kamu adalah keputusan paling bodoh yang pernah aku lakuin dalam hidup aku,” Wahyu memutar posisinya menghadap kearah cakrawala didepannya. “Kehilangan Rey sudah sangat membuatku terpuruk, maka dari itu aku nggak mau kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup aku lagi,” rahang Mita mengatup sekuat-kuatnya, pengakuan ini sangat mengejutkannya.
        “Kepergian Rey membuat aku mengerti,” Wahyu berjalan mendekati Mita. “Kalau aku nggak bisa tanpa kamu disisiku,” Wahyu memeluk tubuh Mita dari belakang, meletakkan dagunya dibahu Mita. “Aku butuh kamu disetiap helaan napasku, Mit,” gumam Wahyu.

Please forgive me…
I know not what I do…
Please forgive me…
I can’t stop loving you…
Don’t deny me, this pain I’m going through…
Please forgive me…
If I need you like I do…
Please believe me…
Every word I say is true…
Please forgive me…
I can’t stop loving you…

        Mita menunduk, menatap tangan Wahyu yang melingkar dipinggangnya dengan erat. Apa ia sedang bermimpi saat ini? Apa Wahyu memang benar-benar memeluknya seerat ini? Apa Wahyu serius dengan setiap ucapannya barusan? Jantung Mita ingin mencelos keluar, ia tak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdegub dua kali lebih cepat ini. Apa pantas ia mendapat perlakuan seperti ini dari pria yang jelas-jelas bukan suaminya lagi? Mita memejamkan matanya sebentar, membiarkan angin membelai wajahnya dengan lembut, menerbangkan setiap helai rambutnya.
        “Izinkan aku memperbaiki semua kesalahan aku, Mit,” napas Wahyu terasa hangat dibahunya. “Aku egois, aku tahu itu, aku keras kepala, aku tahu itu,” imbuhnya. “Aku nggak pernah mau mendengarkan semua penjelasan kamu waktu itu,” sesal Wahyu.
        “Kamu menyesal sekarang?” tanya Mita pelan.
        “Ya,” jawab Wahyu.
        Mita melepaskan tangan Wahyu dari pinggangnya, kemudian ia memutar tubuhnya menatap Wahyu. “Kamu tahu?” berjalan pergi menjauhi Wahyu, hari mulai gelap. Wahyu membalikkan tubuhnya menghadap lautan didepannya, senja sudah hadir, ia menatapnya seraya tersenyum datar, membiarkan Mita menjauhinya. “Aku sedang belajar untuk melupakan kamu, menghapus kamu dari memoriku, menikmati hidupku tanpa kamu dan juga Rey, aku sedang belajar bagaimana caranya melepaskan kamu, membiarkan kamu menikmati hidupmu sendiri tanpa aku,” Mita berjalan pelan-pelan, menikmati pasir pantai yang dipijaknya. Wahyu menarik napas dalam tanpa menoleh kearah Mita yang berjalan disebelahnya. “Tapi aku nggak pernah berhasil,” lanjut Mita. “Bayangan kamu selalu hadir disetiap helaan napasku, disetiap detik hari-hariku,” Mita berhenti, menoleh kebelakang, memandangi siluet wajah Wahyu dari tempatnya berdiri. “Akhirnya aku berhenti untuk melakukan itu semua, karena pada kenyataannya aku memang terlalu…”

Still feels like our best times together…
Feel likes the first touch…
Still getting closer baby…
Can’t closer enough…
Still holding on…
You’re still number one…

        “Mencintai kamu, aku terlalu mencintai kamu, Mita.” Wahyu menatapnya sebentar. Mita diam seribu bahasa. “Aku nggak pernah mencoba belajar melupakan kamu, menghapus memori tentang kamu disetiap inci hidupku,” katanya. “Kamu terlalu indah untuk dicampakkan, dibuang dan dilupakan begitu saja,” Wahyu menatap lurus kedepan, wajahnya diterpa cahaya senja yang orange itu. “Rey pernah bilang sama aku, kalau aku nggak boleh menyakiti kamu, membuat kamu menangis, membiarkan kamu terluka,” katanya lagi. “Rey mau aku menjaga kamu, menyayangi kamu, buat dia,” Wahyu tersenyum tipis, otomatis siluet wajahnya berubah.
       
I remember smell of you skin…
I remember everything…
I remember all the moves…
I remember you yeah…
I remember the nights, you know still I do….

        Perasaan Mita benar-benar tak karuan, pengakuan Wahyu membuatnya sangat shock. Ia seperti mendapat kekuatan baru dalam dirinya, kekuatan yang telah lama hilang, kekuatan yang sempat hancur dalam sekejap. Sekarang semuanya telah kembali. Entah karena apa, setiap ada Wahyu dalam hidupnya, ia merasa menjadi wanita yang sempurna, kuat dan tegar. Mita memandangi deburan ombak didepannya, senja telah berakhir, berganti dengan malam. Ia menoleh ke kiri, Wahyu berjalan kearahnya. Separuh napasnya akan segera kembali, bagian terpenting hatinya akan kembali, semua yang hilang dalam dirinya akan kembali. Bolehkah ia menata hatinya yang sempat luluh lantak seperti semula? Bolehkah ia memiliki impian indah bersama Wahyu Damara? Dan bolehkah ia bermimpi menjadi ratu dalam kerajaan milik pria itu? Mita tersenyum saat Wahyu tersenyum padanya.
        Wahyu menggenggam jemari Mita, meremasnya erat, seakan tak rela jika harus melepaskannya lagi. Kemudian ia menatap wanita itu, mengusap pipinya pelan, kemudian mengecup keningnya. Ia seperti mendapatkan kembali separuh hatinya yang pernah hilang itu. Ia pun membawa Mita pergi meninggalkan pantai itu dengan segenap cinta untuk Mita. Ya, separuh hati dan jiwanya telah kembali, dan ia tak akan mau melepaskannya lagi. Tidak untuk sekarang, besok, lusa dan selamanya. Mita nadinya, separuh napasnya.
        You’re still number one…” bisik Wahyu tepat ditelinga Mita. Mita menoleh dan mendapati Wahyu tersenyum simpul, angin kencang membuat kemeja mereka bergerak kesana kemari. Mita ikut tersenyum, dan mereka bahagia hari itu, dibawah langit bertaburan bintang, senja saksi mereka hari ini. Mita memperat genggamannya pada Wahyu.

The one thing I’m sure of….
Is the way we make love…
The one thing I depened on…
Is for us to stay strong…
With every word and every breath…
I’m praying…
That’s why I’m saying….

--TAMAT—


Created By: Devy Rahma - @DeviMrz – Dv Rahma Devi – devy.rahmawati2 (Skype)

0 komentar:

Posting Komentar