Misteri Sekolah Chapter 1




Mita meyemburkan bakso yang ada dimulutnya saat ada seseorang yang mengagetkannya saat ia sedang asik melahap baksonya yang super pedas itu. Ia langsung menyambar es teh manis didepannya lalu meneguknya.
“Mit, ngapain loe?” seorang cowok dengan rambut anehnya duduk dihadapan Mita sambil cengengesan.
“Ngaduk semen,” jawab Mita sekenanya, tenggorokannya masih panas karena tersedak kuah baksonya tadi.
“Wah naluri kuli bangunan loe makin kacau, Mit.” kata cowok bernama Ikmal itu.
“Loe sinting ya, Mal?” Mita menatap Ikmal garang. Ikmal mengerutkan dahinya. “Loe mau gue mati keselek bakso, hah?” tanya Mita jengkel bukan main. “Jahat banget, orang lagi makan pake dikagetin segala,” Mita merengut kesal.
Peace,” Ikmal mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara.
“Tai loe,” Mita mengaduk-aduk baksonya lagi. Ia masih ingin makan baksonya. “Awas kalo berani kayak gitu lagi,” Mita mengancam.
“Bodo,” Ikmal tak peduli. Kemudian dengan seenaknya ia meneguk es teh manis Mita yang tinggal sedikit itu. “Mit,” kata Ikmal kemudian.
“Apaan?” tanya Mita cuek sambil melahap baksonya itu.
“Loe nggak takut ketahuan guru jam segini ada dikantin?” tanya Ikmal.
“Kaga, biasa aja,” jawab Mita asal. “Gue tadi izin ke uks karena perut gue sakit,” jelas Mita. “Perut gue laper banget, Mal.” Mita nyengir kuda.
“Anjrit,” Ikmal tertawa geli. “Jago banget kalo urusan ngeles,” Ikmal memuji sahabatnya yang hobby makan dikantin saat bukan jam istirahat itu.
“Gue udah nyuruh anak-anak yang laen buat kesini kok, jadi nggak cuma kita berdua,” jelas Mita.
“Hallo guys,” cewek berambut sebahu datang menghampiri Ikmal dan Mita.
“Nah, tu Icez.” Mita menunjuk Icez dengan dagunya. Mulutnya masih penuh bakso yang sedang dikunyahnya.
“Mit,” gumam Icez. Mita menatapnya penuh tanya. “Udah nggak makan berapa windu?” tanya Icez asal saat melihat Mita yang menyantap baksonya itu dengan lahap.
“Sial,” gerutu Mita.
“Abang loe kemana nih, Mit?” tanya Ikmal.
“Au,” jawab Mita sekenanya. “Masih ada guru kali kelasnya,” tambahnya.
“Atau nggak dia lagi mikir gimana caranya izin keluar ke guru yang ada dikelasnya,” tebak Icez.
“Atau nggak dia lagi galau karena cintanya abis gue tolak,” kata Ikmal dengan raut wajah sok serius.
“Eh loe pikir abang gue homo?” Mita melempar tissue bekas kewajah Ikmal dengan gemas.
“Loe kali yang galau karena cinta loe ditolak sama tu ade kelas,” Icez menyeringai.
“Tai,” Ikmal menatap Icez jengkel.
“Eh sorry-sorry,” seorang cowok tinggi dan putih menghampiri Ikmal, Mita dan Icez. “Abis ulangan Fisika nih, jadi baru bisa keluar,” cowok bernama Wahyu itu duduk diantara ketiga sahabatnya.
“Gapapa kali,” sahut Ikmal santai.
“Ikmal!” sentak Mita.
Semua sahabatnya menatap Mita penuh tanya. “Apaan sih?” tanya ketiganya.
“Es teh manis gue loe abisin?” tanya Mita dengan wajah datar.
“Astaga,” Wahyu menepuk dahinya. “Cuma gara-gara es teh manis doang loe sampe kayak pengen nelen orang, Mit?” celetuk Wahyu.
“Tau ih, lebay banget!” Icez menoyor kepala Mita jengkel.
“Gue beliin lagi sini,” Ikmal menyambar gelas yang sedang dipegang Mita. “Mana duit loe?” Ikmal menyodorkan tangannya meminta uang pada Mita.
“Pake duit loe!” Mita menatap Ikmal jengkel.
“Nggak ada ribuan,” sahut Ikmal. “Buat bayar parkir nih, ntar kan gue mau nganter nyokap gue ke supermarket,” kata Ikmal polos.
“Ya ampun, Ikmal!” Mita memelototi cowok sakit jiwa itu dengan kesal.
“Kere banget!” celetuk Icez.
“Cepetan beliin gue es teh manis, Ikmaaaaal!” seru Mita tak sabaran. “Gue kepedesan nih,” Mita menyeka keringat didahinya.
“Ok, Mit. Loe tenang dulu ya,” Ikmal sok serius. “Tarik napas, terus buang, tarik lagi terus buang,” kata Ikmal.
“Emangnya gue mau lahiran?” Mita kesal bukan main pada Ikmal.
Tawa Icez dan Wahyu pecah memenuhi kantin sekolah yang tengah sepi pengunjung itu. Ikmal memang terkadang gila. Saking gilanya terkadang ia harus menerima hukuman dari guru-guru dikelasnya. Selain gila ia juga cowok playboy kelas kakap.
“Iya gue beliin,” Ikmal mengalah juga akhirnya.
***
Icez tengah mencuci tangannya diwestafel yanga ada ditoilet sekolah kala itu. Sekolah sudah sepi sejak lima belas menit yang lalu, tapi ia dan ketiga sahabatnya baru saja di izinkan pulang karena tadi mereka ketahuan berada dikantin saat jam pelajaran sedang berlangsung. Dan mereka dikenakan hukuman membersihkan halaman sekolah.
Icez bersiul-siul sambil sesekali membenarkan rambutnya dengan tangannya. Tiba-tiba dari salah satu toilet terdengar suara dari kran air yang dibiarkan terbuka begitu saja. Icez terdiam sebentar. Ia sama sekali tak lupa mematikan kran air usai memakainya tadi. Perasaan Icez mulai ketar-ketir. Ia dekati toilet yang kran airnya menyala itu, ia buka pintunya pelan-pelan, tak ada siapa pun didalam toilet itu. Icez menghela napas lega. Ia tutup kran air itu, dan saat ia hendak pergi meninggalkan toilet itu ia dikejutkan dengan suara pintu yang tiba-tiba tertutup dengan keras itu padahal tak ada siapapun selain dirinya ditoilet itu. Icez bergidik ngeri, tanpa pikir panjang lagi, ia berlari meninggalkan toilet itu.
“Guys,” Icez menghampiri ketiga sahabatnya yang menunggunya didepan gerbang sekolah, napasnya tersengal.
“Lama banget sih, Cez?” gerutu Mita. “Kita sampe jamuran nih nungguin loe lama banget,” omel Mita.
Icez sama sekali tak mengindahkan ucapan Mita, ia hanya ingin napasnya kembali normal lalu menceritakan keanehan yang baru saja ia alami pada ketiga sahabatnya itu.
“Nih liat rambutnya Ikmal sampe ubanan gara-gara nungguin loe doang,” Mita menunjuk rambut Ikmal dengan ekspresi lebaynya.
“Eh pe’a, ini kan kena bedak taburnya Icez tadi,” Ikmal menoyor kepala Mita dengan wajah polosnya sambil membersihkan rambutnya.
“Mita Ikmal,” Wahyu menatap adik dan sahabatnya itu dengan wajah sok serius.
“Iya, kakak?” Ikmal dan Mita juga berlagak serius.
“Diamlah sebentar, Nak.” Wahyu meletakkan jari telunjuk dimulutnya meminta Mita dan Ikmal diam sebentar.
Tawa Mita dan Ikmal pecah melihat kelakuan Wahyu yang super duper serius itu. Meskipun pendiam, Wahyu ini juga sangat humoris, ia mampu membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Kakak kembar Mita itu juga dijuluki cowok paling setia terhadap semua ulangan-ulangan harian. Tak ada satu pun ulangan harian yang cowok itu lewatkan. Berbanding jauh dengan Mita, adiknya yang super nekat. Nekat meninggalkan semua ulangan harian mata pelajaran apapun. Sampai-sampai setiap pembagian raport berlangsung, orangtua Mita harus terima lahir batin saat semua guru menyampaikan semua kelakuan Mita selama dikelas, dan alhasil Mita pasti dikenakan hukuman dari orngtuanya tidak boleh keluar rumah selama liburan berlangsung. Tapi bukan Mita namanya kalau tidak modal nekat.
“Gue barusan ngalamin kejadian aneh lagi dikamar mandi,” kata Icez kemudian.
“Aneh gimana?” tanya Wahyu yang diiringi anggukan Ikmal dan Mita.
“Kejadiannya sama kayak waktu itu,” cerita Icez. “Kran aer yang nyala sendiri, pintu yang ketutup sendiri, sama persis pokoknya,” tambah Icez.
“Ah palingan juga kena angin,” Ikmal cuek.
“Bukan bego,” Icez jengkel.
                “Kalo kena angin nggak mungkin sampe sekenceng itu, Mal ketutupnya,” Wahyu memberikan pendapatnya. “Ketutupnya kenceng kan, Cez?” tanya Wahyu.
                “He’eh,” Icez mengangguk.
                “Mungkin nggak sih sekolah kita ini ada hantunya?” Ikmal menatap ketiga sahabatnya itu.
                “Hantu apaan?” tanya Mita bingung.
                “Ya hantu, Mit. Yang mukanya serem itu,” jelas Wahyu dengan wajah polosnya.
                “Dimana-mana hantu emang serem kali, Yu.” Ikmal jengkel.
                “Ok fix abang gue mulai blo’on,” celetuk Mita.
                “Kalian ngerasa aneh nggak sih sama sekolah kita ini?” tanya Icez.
                Ketiga sahabatnya itu tampak berpikir, kejadian yang dialami Icez memang sudah kesekian kalinya, tapi mereka pikir itu hanya halusinasi Icez yang terkadang berlebihan. Tapi kalau hanya halusinasi tak mungkin bisa sama persis dengan kejadian sebelumnya.
                “Iya nggak sih menurut kalian?” tanya Icez sekali lagi.
                “Bisa jadi sih,” Wahyu manggut-manggut.
                “Jadi sekolah kita ada hantunya?” tanya Mita.
                “Belom pasti juga, Mita.” Wahyu gemas pada adiknya itu.
                “Gimana kalo kita selidikin?” tanya Icez.
                “Ogah ah,” tolak Mita.
                “Selidikin gimana?” tanya Ikmal.
                “Ya kita selidikin, sekolah ini beneran ada hantunya atau nggak,” Icez mengangkat bahunya. “Loe inget nggak kelakuan penjaga sekolah kita yang kadang-kadang suka aneh itu?” tanya Icez kemudian.
                “Inget,” jawab Ikmal. “Kenapa?” tanyanya kemudian.
                “Apa hubungannya sama sekolah kita ada hantunya atau enggak?” tanya Mita.
                “Ok fix, ade gue blo’onnya nggak ilang-ilang,” Wahyu mengikuti gaya bicara Mita yang terkadang alay dan norak itu.
                “Ish,” Mita meninju lengan Wahyu pelan sambil merengut kesal.
                “Jelasin, Mal.” Icez melirik Ikmal.
                “Gini, Mit.” Ikmal berdehem. “Tempo hari kan kita berempat mergokin penjaga sekolah lagi dilantai tiga sekolah kan?” Mita mengangguk. “Nah setelah turun dari lantai tiga, muka penjaga sekolah kita kayak ketakutan gitu, inget?” tanya Ikmal. Mita mengangguk lagi. “Bisa jadi semua keanehan penjaga sekolah kita ada hubungannya sama keanehan yang dialamin Icez di toilet,” Ikmal mengakhiri ceritanya.
                “Jadi loe pikir penjaga sekolah kita ngumpetin mayat di gudang itu, terus tu mayat jadi hantu dan gentayangan disekolah ini, gitu?” celoteh Mita.
                “Mitaaaaa,” Wahyu gemas pada adiknya yang terkadang memiliki daya imajinasi yang tinggi itu. “Sok tau banget sih?” Wahyu menatapnya kesal.
                “Ya terus gimana?” tanya Mita dengan wajah memelas.
                “Loe laper ya?” tanya Icez.
                “He’eh,” Mita mengangguk.
                “Pantesan bego,” celetuk Ikmal sekenanya.
                “Sial,” Mita menoyor kepala Ikmal.
                “Yaudah gini aja, gimana kalo kita ngobrolnya di kedai bakso langganan kita aja,” usul Wahyu. “Gimana?” tanya Wahyu.
                Seketika Ikmal, Icez, dan Mita mengecek kantong seragam mereka. Kemudian mereka nyengir bebarengan menatap Wahyu. “Duit kita abis, Yu.” Ikmal, Icez, dan Mita menatap Wahyu dengan wajah polos.
                “Yaudah nggak jadi,” putus Wahyu dengan santainya.
                “Wahyuuuuu,” rengek ketiganya.
                “Apa sih?” tanya Wahyu dengan wajah bingung.
***
                “Yu, kita pulang aja yuk,” rengek Mita pada Wahyu. Icez dan Ikmal tengah memikirkan bagaimana caranya masuk ke sekolah itu tanpa perlu merusak gembok yang mengunci gerbang tinggi dan besar itu.
                “Mit, tadi kan udah gue tanya berkali-kali loe beneran mau ikut apa enggak, katanya loe yakin mau ikut, kenapa sekarang minta pulang melulu sih?” tanya Wahyu jengkel pada adiknya itu.
                “Ya gue kira kan sekolah kita nggak serem gini kalo malem,” Mita menyapu pandangannya ke gedung berlantai tiga itu. “Ternyata serem juga, Yu.” Mita menggenggam erat tangan Wahyu sedari tadi.
                “Ya emang begini keadaan semua sekolah kalo malem,” jelas Wahyu.
                “Pulang aja yuk,” ajak Mita lagi. Wahyu melirik gadis berkupluk hitam disebelahnya itu. “Tadi kan kata Papa sama Mama kita nggak boleh pulang malem-malem, Yu.” Mita beralasan.
                “Mita,” Wahyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan kesal. Mita merengut. “Ayolah jangan manja,” Wahyu mencoba membuat Mita tenang sedikit.
                “Gue kan cuma nggak mau kita kenapa-kenapa,” Mita cemberut.
                “Kita nggak akan kenapa-kenapa, gue janji!” Wahyu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Mita akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah, toh kalau ada apa-apa ia tinggal bilang Wahyu yang memaksanya ikut, jadi ia tak akan kena marah oleh Papa dan Mamanya. Biar saja Wahyu yang menanggung semuanya.
                Wahyu menatap gedung berlantai tiga itu dengan seksama, sebentar lagi ia akan masuk kedalam sana bersama kedua sahabat dan adiknya malam-malam begini. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika ia nekat masuk kesana hanya untuk memecahkan semua keanehan yang sering dialami Icez, salah satu sahabatnya.
                “Gue punya cara jitu buat masuk kesana,” Ikmal membuat ketiga sahabatnya melonjak kaget.
                “Apaan?” tanya Icez antusias.
                “Lewat gerbang rahasia,” Ikmal menatap ketiga sahabatnya itu bergantian.
                “Oh gerbang yang kita pake buat kabur waktu itu ya?” celetuk Mita.
                “Anjir, loe masih inget, Mit?” tanya Ikmal yang terkesan sedang mengejek sahabatnya yang memiliki penyakit pikun berkepanjangan itu.
                “Ngeledek?” Mita sebal bukan main.
                “Ok, sorry-sorry,” Ikmal terkekeh.
                “Ayo langsung aja, sebelum tengah malem,” Icez tak sabaran.
                “Pokoknya jangan sampe ada yang misah dari rombongan,” kata Ikmal. “Apapun yang terjadi kita harus tetep sama-sama,” tambahnya.
                “Ok,” sahut ketiganya.
                “Ayo,” Ikmal berjalan didepan bersama Icez. Mita dan Wahyu mengikuti dari belakang mereka sambil memegang senter.

***
                Mita, Wahyu, Icez, dan Ikmal berhasil memasuki arena sekolah melalui gerbang kecil yang ada dibelakang sekolah mereka. Mereka susuri setiap penjuru sekolah, dan membuktikan tentang keanehan yang dialami Icez.
                Mita menyapu pandangannya ke setiap ruangan kelas yang dilewatinya bersama Ikmal, Icez dan Wahyu itu. Semua lampunya remang-remang, membuat suasananya semakin menakutkan. Mita kaget bukan main saat tiba-tiba ada yang berkelebat disalah satu ruang kelas yang ia lewati itu.
                “Kenapa, Mit?” tanya Wahyu dengan suara serendah mungkin.
                “Barusan ada sesuatu dikelas itu,” napas Mita sedikit memburu.
                “Kita kelantai tiga dulu aja guys,” komando Icez.
                “Gue nggak mau,” tolak Mita.
                “Kenapa, Mit?” Icez menatap Mita.
                “Loe tau kan kalo lantai tiga udah nggak dipake, banyak kelas kosong,” ujar Mita pelan. “Ngapain kita kesana?” tanya Mita.
                “Kita cari tahu dari sana, gue rasa lantai tiga ada yang nggak beres,” kata Icez.
                “Yu,” Mita menatap Wahyu, berharap Wahyu mau membujuk Icez untuk tidak nekat kelantai tiga sekolahnya itu.
                “Mit, kita cuma kesan sebentar aja,” Wahyu membujuk adiknya itu.
                “Ayolah, Mit. Kita naiknya juga sama-sama, kan?” Ikmal ikut membujuk gadis tomboy itu.
                “Gue yang tanggung jawab kalo ada apa-apa,” Icez berjanji.
                Mita menatap Ikmal, Icez, dan Wahyu bergantian, ia tak mengerti kenapa ia bisa ada disekolah ini malam-malam begini. “Tapi...”
                “Mit,” ketiganya menatap gadis itu.
                “Ok,” Mita mengalah juga akhirnya, karena hanya itu yang ia bisa, ia tak mungkin meninggalkan sekolah itu tanpa Ikmal, Icez, dan Wahyu. Ia tak mau ambil risiko.
                “Nah gitu dong dari tadi,” Ikmal cengengesan.
                “Masih bisa ya loe cengengesan begitu, Mal?” Mita mendengus kesal.
                “Ayo, sebelum tengah malem,” Icez berkomando. “Kalo udah tengah malem kan Pak Tharas suka ngecek lantai tiga,” katanya. Ketiga sahabatnya mengiyakan.

To Be Continue...

@DevyMrz

0 komentar:

Posting Komentar