Mita
meyemburkan bakso yang ada dimulutnya saat ada seseorang yang mengagetkannya
saat ia sedang asik melahap baksonya yang super pedas itu. Ia langsung
menyambar es teh manis didepannya lalu meneguknya.
“Mit, ngapain
loe?” seorang cowok dengan rambut anehnya duduk dihadapan Mita sambil
cengengesan.
“Ngaduk semen,”
jawab Mita sekenanya, tenggorokannya masih panas karena tersedak kuah baksonya
tadi.
“Wah naluri
kuli bangunan loe makin kacau, Mit.” kata cowok bernama Ikmal itu.
“Loe sinting
ya, Mal?” Mita menatap Ikmal garang. Ikmal mengerutkan dahinya. “Loe mau gue
mati keselek bakso, hah?” tanya Mita jengkel bukan main. “Jahat banget, orang
lagi makan pake dikagetin segala,” Mita merengut kesal.
“Peace,” Ikmal mengacungkan jari telunjuk
dan jari tengahnya ke udara.
“Tai loe,” Mita
mengaduk-aduk baksonya lagi. Ia masih ingin makan baksonya. “Awas kalo berani
kayak gitu lagi,” Mita mengancam.
“Bodo,” Ikmal
tak peduli. Kemudian dengan seenaknya ia meneguk es teh manis Mita yang tinggal
sedikit itu. “Mit,” kata Ikmal kemudian.
“Apaan?” tanya
Mita cuek sambil melahap baksonya itu.
“Loe nggak
takut ketahuan guru jam segini ada dikantin?” tanya Ikmal.
“Kaga, biasa
aja,” jawab Mita asal. “Gue tadi izin ke uks karena perut gue sakit,” jelas Mita.
“Perut gue laper banget, Mal.” Mita nyengir kuda.
“Anjrit,” Ikmal
tertawa geli. “Jago banget kalo urusan ngeles,” Ikmal memuji sahabatnya yang
hobby makan dikantin saat bukan jam istirahat itu.
“Gue udah
nyuruh anak-anak yang laen buat kesini kok, jadi nggak cuma kita berdua,” jelas
Mita.
“Hallo guys,”
cewek berambut sebahu datang menghampiri Ikmal dan Mita.
“Nah, tu Icez.”
Mita menunjuk Icez dengan dagunya. Mulutnya masih penuh bakso yang sedang
dikunyahnya.
“Mit,” gumam
Icez. Mita menatapnya penuh tanya. “Udah nggak makan berapa windu?” tanya Icez
asal saat melihat Mita yang menyantap baksonya itu dengan lahap.
“Sial,” gerutu
Mita.
“Abang loe
kemana nih, Mit?” tanya Ikmal.
“Au,” jawab
Mita sekenanya. “Masih ada guru kali kelasnya,” tambahnya.
“Atau nggak dia
lagi mikir gimana caranya izin keluar ke guru yang ada dikelasnya,” tebak Icez.
“Atau nggak dia
lagi galau karena cintanya abis gue tolak,” kata Ikmal dengan raut wajah sok
serius.
“Eh loe pikir
abang gue homo?” Mita melempar tissue bekas kewajah Ikmal dengan gemas.
“Loe kali yang
galau karena cinta loe ditolak sama tu ade kelas,” Icez menyeringai.
“Tai,” Ikmal
menatap Icez jengkel.
“Eh sorry-sorry,” seorang cowok tinggi dan
putih menghampiri Ikmal, Mita dan Icez. “Abis ulangan Fisika nih, jadi baru
bisa keluar,” cowok bernama Wahyu itu duduk diantara ketiga sahabatnya.
“Gapapa kali,”
sahut Ikmal santai.
“Ikmal!” sentak
Mita.
Semua
sahabatnya menatap Mita penuh tanya. “Apaan sih?” tanya ketiganya.
“Es teh manis
gue loe abisin?” tanya Mita dengan wajah datar.
“Astaga,” Wahyu
menepuk dahinya. “Cuma gara-gara es teh manis doang loe sampe kayak pengen
nelen orang, Mit?” celetuk Wahyu.
“Tau ih, lebay
banget!” Icez menoyor kepala Mita jengkel.
“Gue beliin
lagi sini,” Ikmal menyambar gelas yang sedang dipegang Mita. “Mana duit loe?”
Ikmal menyodorkan tangannya meminta uang pada Mita.
“Pake duit
loe!” Mita menatap Ikmal jengkel.
“Nggak ada
ribuan,” sahut Ikmal. “Buat bayar parkir nih, ntar kan gue mau nganter nyokap
gue ke supermarket,” kata Ikmal polos.
“Ya ampun,
Ikmal!” Mita memelototi cowok sakit jiwa itu dengan kesal.
“Kere banget!”
celetuk Icez.
“Cepetan beliin
gue es teh manis, Ikmaaaaal!” seru Mita tak sabaran. “Gue kepedesan nih,” Mita
menyeka keringat didahinya.
“Ok, Mit. Loe
tenang dulu ya,” Ikmal sok serius. “Tarik napas, terus buang, tarik lagi terus
buang,” kata Ikmal.
“Emangnya gue
mau lahiran?” Mita kesal bukan main pada Ikmal.
Tawa Icez dan
Wahyu pecah memenuhi kantin sekolah yang tengah sepi pengunjung itu. Ikmal
memang terkadang gila. Saking gilanya terkadang ia harus menerima hukuman dari
guru-guru dikelasnya. Selain gila ia juga cowok playboy kelas kakap.
“Iya gue
beliin,” Ikmal mengalah juga akhirnya.
***
Icez tengah
mencuci tangannya diwestafel yanga ada ditoilet sekolah kala itu. Sekolah sudah
sepi sejak lima belas menit yang lalu, tapi ia dan ketiga sahabatnya baru saja
di izinkan pulang karena tadi mereka ketahuan berada dikantin saat jam
pelajaran sedang berlangsung. Dan mereka dikenakan hukuman membersihkan halaman
sekolah.
Icez
bersiul-siul sambil sesekali membenarkan rambutnya dengan tangannya. Tiba-tiba
dari salah satu toilet terdengar suara dari kran air yang dibiarkan terbuka
begitu saja. Icez terdiam sebentar. Ia sama sekali tak lupa mematikan kran air
usai memakainya tadi. Perasaan Icez mulai ketar-ketir. Ia dekati toilet yang
kran airnya menyala itu, ia buka pintunya pelan-pelan, tak ada siapa pun
didalam toilet itu. Icez menghela napas lega. Ia tutup kran air itu, dan saat
ia hendak pergi meninggalkan toilet itu ia dikejutkan dengan suara pintu yang
tiba-tiba tertutup dengan keras itu padahal tak ada siapapun selain dirinya
ditoilet itu. Icez bergidik ngeri, tanpa pikir panjang lagi, ia berlari
meninggalkan toilet itu.
“Guys,” Icez
menghampiri ketiga sahabatnya yang menunggunya didepan gerbang sekolah,
napasnya tersengal.
“Lama banget
sih, Cez?” gerutu Mita. “Kita sampe jamuran nih nungguin loe lama banget,” omel
Mita.
Icez sama
sekali tak mengindahkan ucapan Mita, ia hanya ingin napasnya kembali normal
lalu menceritakan keanehan yang baru saja ia alami pada ketiga sahabatnya itu.
“Nih liat
rambutnya Ikmal sampe ubanan gara-gara nungguin loe doang,” Mita menunjuk
rambut Ikmal dengan ekspresi lebaynya.
“Eh pe’a, ini
kan kena bedak taburnya Icez tadi,” Ikmal menoyor kepala Mita dengan wajah
polosnya sambil membersihkan rambutnya.
“Mita Ikmal,”
Wahyu menatap adik dan sahabatnya itu dengan wajah sok serius.
“Iya, kakak?”
Ikmal dan Mita juga berlagak serius.
“Diamlah
sebentar, Nak.” Wahyu meletakkan jari telunjuk dimulutnya meminta Mita dan
Ikmal diam sebentar.
Tawa Mita dan
Ikmal pecah melihat kelakuan Wahyu yang super duper serius itu. Meskipun
pendiam, Wahyu ini juga sangat humoris, ia mampu membuat suasana menjadi lebih
menyenangkan. Kakak kembar Mita itu juga dijuluki cowok paling setia terhadap
semua ulangan-ulangan harian. Tak ada satu pun ulangan harian yang cowok itu
lewatkan. Berbanding jauh dengan Mita, adiknya yang super nekat. Nekat meninggalkan
semua ulangan harian mata pelajaran apapun. Sampai-sampai setiap pembagian
raport berlangsung, orangtua Mita harus terima lahir batin saat semua guru
menyampaikan semua kelakuan Mita selama dikelas, dan alhasil Mita pasti
dikenakan hukuman dari orngtuanya tidak boleh keluar rumah selama liburan
berlangsung. Tapi bukan Mita namanya kalau tidak modal nekat.
“Gue barusan
ngalamin kejadian aneh lagi dikamar mandi,” kata Icez kemudian.
“Aneh gimana?”
tanya Wahyu yang diiringi anggukan Ikmal dan Mita.
“Kejadiannya
sama kayak waktu itu,” cerita Icez. “Kran aer yang nyala sendiri, pintu yang
ketutup sendiri, sama persis pokoknya,” tambah Icez.
“Ah palingan
juga kena angin,” Ikmal cuek.
“Bukan bego,”
Icez jengkel.
“Kalo
kena angin nggak mungkin sampe sekenceng itu, Mal ketutupnya,” Wahyu memberikan
pendapatnya. “Ketutupnya kenceng kan, Cez?” tanya Wahyu.
“He’eh,”
Icez mengangguk.
“Mungkin
nggak sih sekolah kita ini ada hantunya?” Ikmal menatap ketiga sahabatnya itu.
“Hantu
apaan?” tanya Mita bingung.
“Ya
hantu, Mit. Yang mukanya serem itu,” jelas Wahyu dengan wajah polosnya.
“Dimana-mana
hantu emang serem kali, Yu.” Ikmal jengkel.
“Ok
fix abang gue mulai blo’on,” celetuk Mita.
“Kalian
ngerasa aneh nggak sih sama sekolah kita ini?” tanya Icez.
Ketiga
sahabatnya itu tampak berpikir, kejadian yang dialami Icez memang sudah
kesekian kalinya, tapi mereka pikir itu hanya halusinasi Icez yang terkadang
berlebihan. Tapi kalau hanya halusinasi tak mungkin bisa sama persis dengan
kejadian sebelumnya.
“Iya
nggak sih menurut kalian?” tanya Icez sekali lagi.
“Bisa
jadi sih,” Wahyu manggut-manggut.
“Jadi
sekolah kita ada hantunya?” tanya Mita.
“Belom
pasti juga, Mita.” Wahyu gemas pada adiknya itu.
“Gimana
kalo kita selidikin?” tanya Icez.
“Ogah
ah,” tolak Mita.
“Selidikin
gimana?” tanya Ikmal.
“Ya
kita selidikin, sekolah ini beneran ada hantunya atau nggak,” Icez mengangkat
bahunya. “Loe inget nggak kelakuan penjaga sekolah kita yang kadang-kadang suka
aneh itu?” tanya Icez kemudian.
“Inget,”
jawab Ikmal. “Kenapa?” tanyanya kemudian.
“Apa
hubungannya sama sekolah kita ada hantunya atau enggak?” tanya Mita.
“Ok
fix, ade gue blo’onnya nggak ilang-ilang,” Wahyu mengikuti gaya bicara Mita
yang terkadang alay dan norak itu.
“Ish,”
Mita meninju lengan Wahyu pelan sambil merengut kesal.
“Jelasin,
Mal.” Icez melirik Ikmal.
“Gini,
Mit.” Ikmal berdehem. “Tempo hari kan kita berempat mergokin penjaga sekolah
lagi dilantai tiga sekolah kan?” Mita mengangguk. “Nah setelah turun dari
lantai tiga, muka penjaga sekolah kita kayak ketakutan gitu, inget?” tanya
Ikmal. Mita mengangguk lagi. “Bisa jadi semua keanehan penjaga sekolah kita ada
hubungannya sama keanehan yang dialamin Icez di toilet,” Ikmal mengakhiri
ceritanya.
“Jadi
loe pikir penjaga sekolah kita ngumpetin mayat di gudang itu, terus tu mayat
jadi hantu dan gentayangan disekolah ini, gitu?” celoteh Mita.
“Mitaaaaa,”
Wahyu gemas pada adiknya yang terkadang memiliki daya imajinasi yang tinggi
itu. “Sok tau banget sih?” Wahyu menatapnya kesal.
“Ya
terus gimana?” tanya Mita dengan wajah memelas.
“Loe
laper ya?” tanya Icez.
“He’eh,”
Mita mengangguk.
“Pantesan
bego,” celetuk Ikmal sekenanya.
“Sial,”
Mita menoyor kepala Ikmal.
“Yaudah
gini aja, gimana kalo kita ngobrolnya di kedai bakso langganan kita aja,” usul
Wahyu. “Gimana?” tanya Wahyu.
Seketika
Ikmal, Icez, dan Mita mengecek kantong seragam mereka. Kemudian mereka nyengir
bebarengan menatap Wahyu. “Duit kita abis, Yu.” Ikmal, Icez, dan Mita menatap
Wahyu dengan wajah polos.
“Yaudah
nggak jadi,” putus Wahyu dengan santainya.
“Wahyuuuuu,”
rengek ketiganya.
“Apa
sih?” tanya Wahyu dengan wajah bingung.
***
“Yu,
kita pulang aja yuk,” rengek Mita pada Wahyu. Icez dan Ikmal tengah memikirkan
bagaimana caranya masuk ke sekolah itu tanpa perlu merusak gembok yang mengunci
gerbang tinggi dan besar itu.
“Mit,
tadi kan udah gue tanya berkali-kali loe beneran mau ikut apa enggak, katanya
loe yakin mau ikut, kenapa sekarang minta pulang melulu sih?” tanya Wahyu
jengkel pada adiknya itu.
“Ya
gue kira kan sekolah kita nggak serem gini kalo malem,” Mita menyapu
pandangannya ke gedung berlantai tiga itu. “Ternyata serem juga, Yu.” Mita
menggenggam erat tangan Wahyu sedari tadi.
“Ya
emang begini keadaan semua sekolah kalo malem,” jelas Wahyu.
“Pulang
aja yuk,” ajak Mita lagi. Wahyu melirik gadis berkupluk hitam disebelahnya itu.
“Tadi kan kata Papa sama Mama kita nggak boleh pulang malem-malem, Yu.” Mita
beralasan.
“Mita,”
Wahyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan kesal. Mita merengut.
“Ayolah jangan manja,” Wahyu mencoba membuat Mita tenang sedikit.
“Gue
kan cuma nggak mau kita kenapa-kenapa,” Mita cemberut.
“Kita
nggak akan kenapa-kenapa, gue janji!” Wahyu mengacungkan jari telunjuk dan jari
tengahnya. Mita akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah, toh kalau ada apa-apa ia
tinggal bilang Wahyu yang memaksanya ikut, jadi ia tak akan kena marah oleh
Papa dan Mamanya. Biar saja Wahyu yang menanggung semuanya.
Wahyu
menatap gedung berlantai tiga itu dengan seksama, sebentar lagi ia akan masuk
kedalam sana bersama kedua sahabat dan adiknya malam-malam begini. Ia tak tahu
apa yang akan terjadi jika ia nekat masuk kesana hanya untuk memecahkan semua
keanehan yang sering dialami Icez, salah satu sahabatnya.
“Gue
punya cara jitu buat masuk kesana,” Ikmal membuat ketiga sahabatnya melonjak
kaget.
“Apaan?”
tanya Icez antusias.
“Lewat
gerbang rahasia,” Ikmal menatap ketiga sahabatnya itu bergantian.
“Oh
gerbang yang kita pake buat kabur waktu itu ya?” celetuk Mita.
“Anjir,
loe masih inget, Mit?” tanya Ikmal yang terkesan sedang mengejek sahabatnya
yang memiliki penyakit pikun berkepanjangan itu.
“Ngeledek?”
Mita sebal bukan main.
“Ok,
sorry-sorry,” Ikmal terkekeh.
“Ayo
langsung aja, sebelum tengah malem,” Icez tak sabaran.
“Pokoknya
jangan sampe ada yang misah dari rombongan,” kata Ikmal. “Apapun yang terjadi
kita harus tetep sama-sama,” tambahnya.
“Ok,”
sahut ketiganya.
“Ayo,”
Ikmal berjalan didepan bersama Icez. Mita dan Wahyu mengikuti dari belakang
mereka sambil memegang senter.
***
Mita,
Wahyu, Icez, dan Ikmal berhasil memasuki arena sekolah melalui gerbang kecil
yang ada dibelakang sekolah mereka. Mereka susuri setiap penjuru sekolah, dan
membuktikan tentang keanehan yang dialami Icez.
Mita
menyapu pandangannya ke setiap ruangan kelas yang dilewatinya bersama Ikmal,
Icez dan Wahyu itu. Semua lampunya remang-remang, membuat suasananya semakin
menakutkan. Mita kaget bukan main saat tiba-tiba ada yang berkelebat disalah
satu ruang kelas yang ia lewati itu.
“Kenapa,
Mit?” tanya Wahyu dengan suara serendah mungkin.
“Barusan
ada sesuatu dikelas itu,” napas Mita sedikit memburu.
“Kita
kelantai tiga dulu aja guys,” komando Icez.
“Gue
nggak mau,” tolak Mita.
“Kenapa,
Mit?” Icez menatap Mita.
“Loe
tau kan kalo lantai tiga udah nggak dipake, banyak kelas kosong,” ujar Mita
pelan. “Ngapain kita kesana?” tanya Mita.
“Kita
cari tahu dari sana, gue rasa lantai tiga ada yang nggak beres,” kata Icez.
“Yu,”
Mita menatap Wahyu, berharap Wahyu mau membujuk Icez untuk tidak nekat kelantai
tiga sekolahnya itu.
“Mit,
kita cuma kesan sebentar aja,” Wahyu membujuk adiknya itu.
“Ayolah,
Mit. Kita naiknya juga sama-sama, kan?” Ikmal ikut membujuk gadis tomboy itu.
“Gue
yang tanggung jawab kalo ada apa-apa,” Icez berjanji.
Mita
menatap Ikmal, Icez, dan Wahyu bergantian, ia tak mengerti kenapa ia bisa ada
disekolah ini malam-malam begini. “Tapi...”
“Mit,”
ketiganya menatap gadis itu.
“Ok,”
Mita mengalah juga akhirnya, karena hanya itu yang ia bisa, ia tak mungkin
meninggalkan sekolah itu tanpa Ikmal, Icez, dan Wahyu. Ia tak mau ambil risiko.
“Nah
gitu dong dari tadi,” Ikmal cengengesan.
“Masih
bisa ya loe cengengesan begitu, Mal?” Mita mendengus kesal.
“Ayo,
sebelum tengah malem,” Icez berkomando. “Kalo udah tengah malem kan Pak Tharas
suka ngecek lantai tiga,” katanya. Ketiga sahabatnya mengiyakan.
To Be Continue...
@DevyMrz
0 komentar:
Posting Komentar