Wahyu
menggandeng tangan Mita erat-erat karena takut adiknya itu ketakutan saat ia
dan ketiga sahabatnya tengah berada di lantai tiga sekolahnya, bagian yang
sudah tak pernah terjamah lagi disekolahnya itu. Meskipun tomboy dan nekat,
Mita adalah manusia yang paling takut pada hal-hal seperti ini. Wahyu ingat
saat ia mengajak Mita menonton film horor beberapa hari, gadis itu berteriak
histeris tengah malam didepan kamarnya dan memaksa ditemani tidur karena ia
mimpi buruk.
“Mit,”
Wahyu menoleh kebelakang, Mita memang berjalan pelan dibelakangnya. “Tangan loe
dingin banget,” bisik Wahyu.
“Gue
takut bego,” sahut Mita pelan.
Terdengar
Icez membuka pintu sebuah kelas kosong, pelan-pelan Icez memasuki kelas itu,
kelas kosong dengan beberapa bangku dan meja yang rusak dan berdebu. Ikmal
menyorot setiap sudut ruangan dengan senter ditangannya. Tiba-tiba terdengar
suara yang membuat Icez, Ikmal, dan Wahyu kaget.
“Mitaaaaa,”
Ikmal dan Icez menatap Mita yang baru saja bersin itu.
“Duh
sorry ya,” Mita menyeka hidungnya.
“Alergi gue kambuh nih kayaknya,” Mita bersin sekali lagi.
“Loe
nggak bawa masker?” tanya Wahyu yang paham betul adiknya itu memang alergi
terhadap debu.
“Enggak,”
Mita menggeleng kemudian bersin sekali lagi. Wahyu mendengus lemah. “Gue pikir
kan kita nggak bakal ke tempat beginian,” ujar Mita.
“Ya
terus sekarang gimana?” tanya Ikmal. “Lagian loe aneh benget sih, Mit. Sama
debu aja nggak kuat,” gerutu Ikmal sebal.
“Ish,”
Mita hendak menyahut tapi ia bersin sekali lagi. “Udah deh gue tunggu diluar
aja,” putus Mita. “Sekalian jaga-jaga takut ada Pak Tharas,” katanya.
“Yakin?”
tanya Wahyu.
“Iya,”
Mita mengangguk.
“Mit,
ati-ati loe,” kata Icez. Mita mengangguk kemudian keluar dari kelas itu.
Mita
duduk di koridor kelas sambil sesekali bersin, ia benar-benar tersiksa jika
sudah seperti ini. Ia menyapu pandangan ke penjuru lantai tiga itu, hanya ada
lampu yang tak begitu terang, membuat suasana menjadi agak menakutkan.
Sebenarnya Mita tak begitu paham kenapa tempat ini tak lagi digunakan untuk
sarana belajar sekolah, malah dibiarkan begitu saja dengan keadaan menakutkan
seperti ini.
Pandangan
Mita berhenti pada sebuah ruangan yang memiliki dua daun pintu yang ada disisi
kirinya. Ada yang bilang kalau ruangan itu dulunya adalah kamar jenazah, karena
memang sekolahnya ini dulu bekas sebuah rumah sakit. Mita kaget bukan main saat
pintu ruangan itu terdengar seperti diketuk dari dalam. “Nggak mungkin, pasti
cuma imajinasi,” Mita mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi ketukan itu
semakin keras, Mita menoleh menatap ruangan misterius itu. Kemudian terdengar
suara keras dari arah lain, suara benda yang dibanting, Mita menoleh ke arah ruang
kelas yang sedang diselidiki Icez, Ikmal, dan Wahyu itu. “Guys,” seru Mita. Tak
ada jawaban, ia pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan cepat menuju kelas
itu.
“Kenapa,
Mit?” tanya Ikmal yang menyadari kehadiran Mita diambang pintu.
“Kita
turun sekarang yuk,” ajak Mita dengan suara bergetar.
“Kenapa,
Mit?” tanya Icez yang berjalan mendekatinya. “Loe liat sesuatu diluar?” timpal
Icez.
“Nanti
gue ceritain kalo kita udah dibawah,” kata Mita dengan napas cepat. “Ayo kita
turun sekarang,” Mita tak sabaran.
“Mit,”
Wahyu mendekati Icez dan Mita diambang pintu itu. “Loe gapapa kan?” tanya Wahyu
yang menyadari ada yang tak beres dengan adiknya itu. Ikmal juga mendekat.
“Kita
turun sekarang,” kata Mita lagi. “Please,”
suara Mita hampir menangis.
“Ok,
kita turun sekarang,” putus Icez. “Disini nggak ada apa-apa,” Icez mengangkat
bahunya.
“Yuk,”
Mita menarik tangan Wahyu dengan cepat. “Cepetan,” komando Mita. Ikmal, Icez,
dan Wahyu pun menuruti ucapan Mita.
“Loe
liat apa sih?” tanya Wahyu saat mereka menuruni anak tangga menuju lantai dua
itu.
“Ada
yang nggak beres, Yu.” Mita berjalan disebelah kakaknya itu.
“Maksud
loe?” tanya Wahyu.
“Loe
tahu ruangan kelas yang dianggap bekas kamar mayat itu, kan?” tanya Mita. Wahyu
mengangguk. “Tadi gue denger pintu ruangan itu diketok dari dalem, terus
setelah itu gue denger ada suara keras yang gue nggak tau itu suara apa, suara
benda yang dibanting,” cerita Mita pelan. Wahyu menatapnya dengan dahi
berkerut. “Gue serius,” Mita meyakinkan kakaknya itu.
“Apa
yang kalian lakukan disini?” tanya seseorang dengan suara lantang dan membuat
Mita dan yang lainnya terperanjat kaget. Seorang pria berdiri dihadapan mereka
dengan tatapan tajam.
“Eh
bapak,” Ikmal cengengesan. Wahyu menginjak kaki cowok yang tak pernah bisa
serius itu. “Apa kabar, Pak?” tanya Ikmal sok asik.
“Kita
lagi...” Icez tampak gelagapan. “Anu, Pak...” Icez menggaruk kepalanya yang
tidak gatal itu. “Kita mau, anu... apa sih tadi...” Icez tampak bodoh.
“Kita
mau ngambil barang kita yang ketinggalan dikelas, Pak.” Wahyu menimpali.
Terdengar
Icez menghela napas lega. “Iya, Pak itu maksud saya,” Icez mengiyakan.
“Bapak
ngapain disini?” tanya Mita polos. Wahyu memelototi gadis disebelahnya itu
dengan gemas.
“Barang
apa?” tanya pria bernama Tharas itu.
“Apa
aja boleh,” gumam Ikmal dengan wajah lugunya.
“Ikmal!”
Icez menyenggol lengan Ikmal yang ada disebelahnya itu dengan gemas. “Bego
banget sih,” omel Icez.
“Kalo
tidak ada keperluan apa-apa lagi cepat pergi dari sini,” kata Tharas datar.
“Kenapa,
Pak?” tanya Mita.
“Ini
udah hampir tengah malem, nanti orangtua kalian khawatir,” jawabnya.
“Kita
udah ijin kok, Pak.” Timpal Wahyu jujur. Yang lain mengiyakan.
“Kalian
tidak boleh terlalu lama disini,” kata pria itu yang membuat empat sekawan itu
saling menatap bingung.
“Ada
yang aneh kan, Pak sama sekolah ini?” tanya Icez.
“Maksud
kamu apa?” tanyanya dengan tatapan tajam.
“Iya
ada yang aneh kan dari sekolah ini, Pak?” tanya Ikmal.
“Temen
saya sering ngalamin kejadian aneh ditoilet,” Wahyu menimpali.
“Ada
yang bapak sembunyiin kan tentang sekolah ini?” tanya Mita ikut menimpali.
“Sebaiknya
kalian pulang,” perintah Tharas.
“Enggak,
Pak. Kita nggak akan pulang sebelum kita tahu jawaban yang sebenarnya tentang
keanehan yang saya alami selama beberapa hari ini,” kata Icez.
“Kalian
berani membantah?” tanya Tharas.
“Ayo
guys kita lanjutin,” Icez memberi komando kepada ketiga sahabatnya itu sambil
berlalu pergi.
“Permisi,
Pak.” Mita, Ikmal, dan Wahyu berjalan mengejar Icez yang terlebih dulu meninggalkan
tempat itu.
“Cez,”
Mita berjalan menyamai Icez. Icez menoleh kearah Mita yang berjalan
disebelahnya. “Apa nggak sebaiknya kita balik aja?” tanya Mita kemudian melirik
jam dilengan kirinya. “Udah tengah malem,” peringat Mita.
“Enggak,
Mit. Gue masih penasaran sama hantu yang selalu aja ganggu gue ditoilet itu,”
ujar Icez.
“Guys,
kita ke toilet dulu ya,” seru Ikmal yang berjalan bersama Wahyu dibelakang Mita
dan Icez. “Kebelet nih,” Ikmal nyengir.
“Ok,”
Icez mengacungkan ibu jarinya.
Keempat
sekawan itu pun menuruni anak tangga yang langsung mengantarkan mereke ke
toilet yang ada dilantai dasar. Banyak yang bilang saat sore tiba, ditikungan
tangga itu ada beberapa makhluk halus yang menghuni tangga itu. Sebenarnya
mereka bisa saja melewati tangga kembar yang ada diujung koridor lantai dua,
tapi karena Ikmal yang ingin segera ke toilet maka mereka terpaksa melewati
tangga itu.
“Setelah
ke toilet kita mau kemana?” tanya Wahyu yang berjalan dibarisan ketiga setelah
Ikmal dan Icez.
“Nggak
tau, nanti kita pikirin lagi,” sahut Icez saat mereka sudah berada dilantai
dasar itu. Ikmal langsung berlari ke toilet. Icez menyapu pandangannya ke
penjuru tempat itu, ia tak mendapati salah satu sahabatnya. “Mita mana?” tanya
Icez.
Wahyu
menoleh kebelakang dan memang benar Mita tak ada dibelakangnya. “Tadi di jalan
dibelakang gue,” Wahyu mulai panik.
“Loe
yakin Mita jalan dibelakang loe?” tanya Icez.
“Yakin!”
jawab Wahyu mantap. “Dia emang nggak pegangan sama gue selama kita turun tangga
tadi,” Wahyu mulai didera rasa takut.
“Mita?”
tanya Icez yang mendapati Mita menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Wahyu
menoleh ke belakang. “Loe dari mana aja sih?” tanya Icez.
“Kita
nyari loe, kenapa loe nggak pegangan sama gue tadi?” tanya Wahyu yang sedikit
lega karena Mita ada dihadapannya sekarang.
“Gue
dibelakang kalian kok,” sahut Mita datar dengan sorot mata yang sedikit
berbeda.
“Mit,
loe gapapa kan?” tanya Icez.
“Gue
gapapa,” jawab Mita. Icez merasa ada yang lain dengan sahabatnya yang satu ini,
tatapan Mita dingin dan kosong, bibirnya sedikit pucat.
“Guys,”
Ikmal yang baru keluar dari toilet itu hendak berjalan menghampiri ketiga
sahabatnya itu, namun langkahnya berhenti saat mendapati seorang wanita dengan
rambut panjang menjuntai berdiri diantara Wahyu dan Icez menatap tajam ke
arahnya.
“Udah
kelar loe?” tanya Icez.
Ikmal
mengucek matanya, ia tatap sekali lagi wanita yang berdiri diantara Wahyu dan
Icez, dan saat ia lihat kembali, wanita berambut panjang itu sudah tidak ada
disana. “Kalian lagi sama siapa?” tanya Ikmal.
“Maksud
loe?” tanya Wahyu bingung.
“Mita
mana?” tanya Ikmal.
“Ini
Mita bego...” Wahyu menoleh kebelakang. “Lho Mita kemana, Cez?” tanya Wahyu.
Icez ikut menoleh kebelakang. “Tadi dia ada disini, Mal.” Wahyu bingung.
“Yang
gue liat tadi bukan Mita,” suara Ikmal seperti bisikan.
“Terus?”
tanya Icez.
“Cewek
rambutnya panjang, matanya serem banget,” cerita Ikmal. “Gue sempet nggak yakin
kalo tu cewek bukan manusia,” tambah Ikmal yang membuat Icez bergidik ngeri.
“Tapi buktinya dia bisa ilang,” kata Ikmal.
“Berarti
cewek itu...” Icez menatap Ikmal yang juga menatapnya.
“Hantu?”
tanya Wahyu.
“Brak!”
suara keras itu membuat Ikmal, Wahyu dan Icez terperanjat kaget.
“Denger
nggak?” tanya Ikmal.
“Mita?”
Wahyu langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, ia yakin ada yang
tak beres dengan Mita, adiknya. Ikmal dan Icez mengikuti cowok itu dari
belakang. “Mit, Mitaaa...” Wahyu berseru keras memanggil nama Mita disepanjang
lantai dua itu sambil ia cek semua ruang kelas melalui jendela kecil. “Mita loe
dimana?” teriak Wahyu.
“Mitaaaa,”
Ikmal ikut memanggil nama Mita.
“Mungkin
nggak sih ini semua ada hubungannya sama Pak Tharas?” tanya Icez.
“Maksud
loe?” tanya Wahyu. Mereka bertiga ada didekat tangga menuju lantai tiga.
“Ya
mungkin aja dia nyembunyiin Mita dimana gitu supaya bikin kita jera dan nggak
balik kesini lagi kalo malem, mungkin aja kan?” celoteh Icez yang membuat kedua
sahabatnya itu agak heran.
“Kita
nggak boleh nuduh sembarangan,” Wahyu menghela napas panjang. “Belum tentu juga
kan?” tambahnya.
“Kalian
belum pulang juga?” tanya seseorang dengan suara lantang dari tangga menuju
lantai tiga itu.
“Astaga,”
Ikmal kaget bukan main.
“Apa
yang masih kalian lakukan disini?” pria itu mendekati Wahyu, Ikmal dan Icez.
“Saya sudah bilang kan sebaiknya kalian pulang,” tambahnya.
“Temen
kita ilang, Pak.” Ikmal menyahut.
“Itu
karena ulah kalian sendiri,” ujar pria itu. “Kalian sendiri lah yang membuat
teman kalian harus menanggung semua rasa penasaran kalian,” katanya lagi.
“Maksud
bapak?” tanya Wahyu.
“Bapak
tau dimana Mita?” tanya Icez.
“Mending
bapak kasih tau kita sekarang,” kata Ikmal.
“Kasih
tau kita dimana Mita,” ujar Icez.
“Saya
nggak tau dimana teman kalian itu,” katanya yang membuat Ikmal, Wahyu dan Icez
mengerutkan dahi bingung. “ Kalian cari saja sendiri,” tambahnya kemudian pergi
meninggalkan tiga remaja itu.
“Ok guys, kita cari
Mita sendiri,” kata Icez sambil melirik Tharas yang terus berlalu
meninggalkannya dan kedua sahabatnya itu.
“Cez!” Wahyu menatap
Icez. “Kita nggak bisa cari Mita sendiri tanpa bantuan Pak Tharas, biar
gimanapun dia lebih tau tentang sekolah ini bego,” kata Wahyu gemas.
“Biarin aja kali, Yu.”
Ikmal menyahuti dengan cueknya. “Loe nggak yakin kita bisa cari Mita sendiri
tanpa dia?” tanya Ikmal.
“Bukan gituuuu...”
Wahyu mendesah pelan. “Gue cuma takut Mita kenapa-napa, biar gimanapun kan dia
ade gue,” katanya lagi.
“Siapa yang bilang
kalo dia majikan loe sih, Yu?” tanya Ikmal sebal.
“Ish,” Wahyu menoyor
kepala Ikmal dengan jengkel.
“Udah deh jangan ribut
mulu,” Icez menengahi. “Kita cari Mita sekarang yuk,” ajaknya kemudian.
“Kemana?” tanya Ikmal.
“Gudang,” jawab Wahyu
mantap.
“Sok tau banget kalo
Mita ada disana,” celetuk Ikmal.
“Gue yakin dia disana,”
sahut Wahyu.
“Ok kita ke gudang
sekarang,” komando Icez.
To Be Continue
@DevyMrz
0 komentar:
Posting Komentar