Misteri Sekolah Chapter 2



Wahyu menggandeng tangan Mita erat-erat karena takut adiknya itu ketakutan saat ia dan ketiga sahabatnya tengah berada di lantai tiga sekolahnya, bagian yang sudah tak pernah terjamah lagi disekolahnya itu. Meskipun tomboy dan nekat, Mita adalah manusia yang paling takut pada hal-hal seperti ini. Wahyu ingat saat ia mengajak Mita menonton film horor beberapa hari, gadis itu berteriak histeris tengah malam didepan kamarnya dan memaksa ditemani tidur karena ia mimpi buruk.
                “Mit,” Wahyu menoleh kebelakang, Mita memang berjalan pelan dibelakangnya. “Tangan loe dingin banget,” bisik Wahyu.
                “Gue takut bego,” sahut Mita pelan.
                Terdengar Icez membuka pintu sebuah kelas kosong, pelan-pelan Icez memasuki kelas itu, kelas kosong dengan beberapa bangku dan meja yang rusak dan berdebu. Ikmal menyorot setiap sudut ruangan dengan senter ditangannya. Tiba-tiba terdengar suara yang membuat Icez, Ikmal, dan Wahyu kaget.
                “Mitaaaaa,” Ikmal dan Icez menatap Mita yang baru saja bersin itu.
                “Duh sorry ya,” Mita menyeka hidungnya. “Alergi gue kambuh nih kayaknya,” Mita bersin sekali lagi.
                “Loe nggak bawa masker?” tanya Wahyu yang paham betul adiknya itu memang alergi terhadap debu.
                “Enggak,” Mita menggeleng kemudian bersin sekali lagi. Wahyu mendengus lemah. “Gue pikir kan kita nggak bakal ke tempat beginian,” ujar Mita.
                “Ya terus sekarang gimana?” tanya Ikmal. “Lagian loe aneh benget sih, Mit. Sama debu aja nggak kuat,” gerutu Ikmal sebal.
                “Ish,” Mita hendak menyahut tapi ia bersin sekali lagi. “Udah deh gue tunggu diluar aja,” putus Mita. “Sekalian jaga-jaga takut ada Pak Tharas,” katanya.
                “Yakin?” tanya Wahyu.
                “Iya,” Mita mengangguk.
                “Mit, ati-ati loe,” kata Icez. Mita mengangguk kemudian keluar dari kelas itu.
                Mita duduk di koridor kelas sambil sesekali bersin, ia benar-benar tersiksa jika sudah seperti ini. Ia menyapu pandangan ke penjuru lantai tiga itu, hanya ada lampu yang tak begitu terang, membuat suasana menjadi agak menakutkan. Sebenarnya Mita tak begitu paham kenapa tempat ini tak lagi digunakan untuk sarana belajar sekolah, malah dibiarkan begitu saja dengan keadaan menakutkan seperti ini.
                Pandangan Mita berhenti pada sebuah ruangan yang memiliki dua daun pintu yang ada disisi kirinya. Ada yang bilang kalau ruangan itu dulunya adalah kamar jenazah, karena memang sekolahnya ini dulu bekas sebuah rumah sakit. Mita kaget bukan main saat pintu ruangan itu terdengar seperti diketuk dari dalam. “Nggak mungkin, pasti cuma imajinasi,” Mita mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi ketukan itu semakin keras, Mita menoleh menatap ruangan misterius itu. Kemudian terdengar suara keras dari arah lain, suara benda yang dibanting, Mita menoleh ke arah ruang kelas yang sedang diselidiki Icez, Ikmal, dan Wahyu itu. “Guys,” seru Mita. Tak ada jawaban, ia pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan cepat menuju kelas itu.
                “Kenapa, Mit?” tanya Ikmal yang menyadari kehadiran Mita diambang pintu.
                “Kita turun sekarang yuk,” ajak Mita dengan suara bergetar.
                “Kenapa, Mit?” tanya Icez yang berjalan mendekatinya. “Loe liat sesuatu diluar?” timpal Icez.
                “Nanti gue ceritain kalo kita udah dibawah,” kata Mita dengan napas cepat. “Ayo kita turun sekarang,” Mita tak sabaran.
                “Mit,” Wahyu mendekati Icez dan Mita diambang pintu itu. “Loe gapapa kan?” tanya Wahyu yang menyadari ada yang tak beres dengan adiknya itu. Ikmal juga mendekat.
                “Kita turun sekarang,” kata Mita lagi. “Please,” suara Mita hampir menangis.
                “Ok, kita turun sekarang,” putus Icez. “Disini nggak ada apa-apa,” Icez mengangkat bahunya.
                “Yuk,” Mita menarik tangan Wahyu dengan cepat. “Cepetan,” komando Mita. Ikmal, Icez, dan Wahyu pun menuruti ucapan Mita.
                “Loe liat apa sih?” tanya Wahyu saat mereka menuruni anak tangga menuju lantai dua itu.
                “Ada yang nggak beres, Yu.” Mita berjalan disebelah kakaknya itu.
                “Maksud loe?” tanya Wahyu.
                “Loe tahu ruangan kelas yang dianggap bekas kamar mayat itu, kan?” tanya Mita. Wahyu mengangguk. “Tadi gue denger pintu ruangan itu diketok dari dalem, terus setelah itu gue denger ada suara keras yang gue nggak tau itu suara apa, suara benda yang dibanting,” cerita Mita pelan. Wahyu menatapnya dengan dahi berkerut. “Gue serius,” Mita meyakinkan kakaknya itu.
                “Apa yang kalian lakukan disini?” tanya seseorang dengan suara lantang dan membuat Mita dan yang lainnya terperanjat kaget. Seorang pria berdiri dihadapan mereka dengan tatapan tajam.
                “Eh bapak,” Ikmal cengengesan. Wahyu menginjak kaki cowok yang tak pernah bisa serius itu. “Apa kabar, Pak?” tanya Ikmal sok asik.
                “Kita lagi...” Icez tampak gelagapan. “Anu, Pak...” Icez menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “Kita mau, anu... apa sih tadi...” Icez tampak bodoh.
                “Kita mau ngambil barang kita yang ketinggalan dikelas, Pak.” Wahyu menimpali.
                Terdengar Icez menghela napas lega. “Iya, Pak itu maksud saya,” Icez mengiyakan.
                “Bapak ngapain disini?” tanya Mita polos. Wahyu memelototi gadis disebelahnya itu dengan gemas.
                “Barang apa?” tanya pria bernama Tharas itu.
                “Apa aja boleh,” gumam Ikmal dengan wajah lugunya.
                “Ikmal!” Icez menyenggol lengan Ikmal yang ada disebelahnya itu dengan gemas. “Bego banget sih,” omel Icez.
                “Kalo tidak ada keperluan apa-apa lagi cepat pergi dari sini,” kata Tharas datar.
                “Kenapa, Pak?” tanya Mita.
                “Ini udah hampir tengah malem, nanti orangtua kalian khawatir,” jawabnya.
                “Kita udah ijin kok, Pak.” Timpal Wahyu jujur. Yang lain mengiyakan.
                “Kalian tidak boleh terlalu lama disini,” kata pria itu yang membuat empat sekawan itu saling menatap bingung.
                “Ada yang aneh kan, Pak sama sekolah ini?” tanya Icez.
                “Maksud kamu apa?” tanyanya dengan tatapan tajam.
                “Iya ada yang aneh kan dari sekolah ini, Pak?” tanya Ikmal.
                “Temen saya sering ngalamin kejadian aneh ditoilet,” Wahyu menimpali.
                “Ada yang bapak sembunyiin kan tentang sekolah ini?” tanya Mita ikut menimpali.
                “Sebaiknya kalian pulang,” perintah Tharas.
                “Enggak, Pak. Kita nggak akan pulang sebelum kita tahu jawaban yang sebenarnya tentang keanehan yang saya alami selama beberapa hari ini,” kata Icez.
                “Kalian berani membantah?” tanya Tharas.
                “Ayo guys kita lanjutin,” Icez memberi komando kepada ketiga sahabatnya itu sambil berlalu pergi.
                “Permisi, Pak.” Mita, Ikmal, dan Wahyu berjalan mengejar Icez yang terlebih dulu meninggalkan tempat itu.
                “Cez,” Mita berjalan menyamai Icez. Icez menoleh kearah Mita yang berjalan disebelahnya. “Apa nggak sebaiknya kita balik aja?” tanya Mita kemudian melirik jam dilengan kirinya. “Udah tengah malem,” peringat Mita.
                “Enggak, Mit. Gue masih penasaran sama hantu yang selalu aja ganggu gue ditoilet itu,” ujar Icez.
                “Guys, kita ke toilet dulu ya,” seru Ikmal yang berjalan bersama Wahyu dibelakang Mita dan Icez. “Kebelet nih,” Ikmal nyengir.
                “Ok,” Icez mengacungkan ibu jarinya.
                Keempat sekawan itu pun menuruni anak tangga yang langsung mengantarkan mereke ke toilet yang ada dilantai dasar. Banyak yang bilang saat sore tiba, ditikungan tangga itu ada beberapa makhluk halus yang menghuni tangga itu. Sebenarnya mereka bisa saja melewati tangga kembar yang ada diujung koridor lantai dua, tapi karena Ikmal yang ingin segera ke toilet maka mereka terpaksa melewati tangga itu.
                “Setelah ke toilet kita mau kemana?” tanya Wahyu yang berjalan dibarisan ketiga setelah Ikmal dan Icez.
                “Nggak tau, nanti kita pikirin lagi,” sahut Icez saat mereka sudah berada dilantai dasar itu. Ikmal langsung berlari ke toilet. Icez menyapu pandangannya ke penjuru tempat itu, ia tak mendapati salah satu sahabatnya. “Mita mana?” tanya Icez.
                Wahyu menoleh kebelakang dan memang benar Mita tak ada dibelakangnya. “Tadi di jalan dibelakang gue,” Wahyu mulai panik.
                “Loe yakin Mita jalan dibelakang loe?” tanya Icez.
                “Yakin!” jawab Wahyu mantap. “Dia emang nggak pegangan sama gue selama kita turun tangga tadi,” Wahyu mulai didera rasa takut.
                “Mita?” tanya Icez yang mendapati Mita menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Wahyu menoleh ke belakang. “Loe dari mana aja sih?” tanya Icez.
                “Kita nyari loe, kenapa loe nggak pegangan sama gue tadi?” tanya Wahyu yang sedikit lega karena Mita ada dihadapannya sekarang.
                “Gue dibelakang kalian kok,” sahut Mita datar dengan sorot mata yang sedikit berbeda.
                “Mit, loe gapapa kan?” tanya Icez.
                “Gue gapapa,” jawab Mita. Icez merasa ada yang lain dengan sahabatnya yang satu ini, tatapan Mita dingin dan kosong, bibirnya sedikit pucat.
                “Guys,” Ikmal yang baru keluar dari toilet itu hendak berjalan menghampiri ketiga sahabatnya itu, namun langkahnya berhenti saat mendapati seorang wanita dengan rambut panjang menjuntai berdiri diantara Wahyu dan Icez menatap tajam ke arahnya.
                “Udah kelar loe?” tanya Icez.
                Ikmal mengucek matanya, ia tatap sekali lagi wanita yang berdiri diantara Wahyu dan Icez, dan saat ia lihat kembali, wanita berambut panjang itu sudah tidak ada disana. “Kalian lagi sama siapa?” tanya Ikmal.
                “Maksud loe?” tanya Wahyu bingung.
                “Mita mana?” tanya Ikmal.
                “Ini Mita bego...” Wahyu menoleh kebelakang. “Lho Mita kemana, Cez?” tanya Wahyu. Icez ikut menoleh kebelakang. “Tadi dia ada disini, Mal.” Wahyu bingung.
                “Yang gue liat tadi bukan Mita,” suara Ikmal seperti bisikan.
                “Terus?” tanya Icez.
                “Cewek rambutnya panjang, matanya serem banget,” cerita Ikmal. “Gue sempet nggak yakin kalo tu cewek bukan manusia,” tambah Ikmal yang membuat Icez bergidik ngeri. “Tapi buktinya dia bisa ilang,” kata Ikmal.
                “Berarti cewek itu...” Icez menatap Ikmal yang juga menatapnya.
                “Hantu?” tanya Wahyu.
                “Brak!” suara keras itu membuat Ikmal, Wahyu dan Icez terperanjat kaget.
                “Denger nggak?” tanya Ikmal.
                “Mita?” Wahyu langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, ia yakin ada yang tak beres dengan Mita, adiknya. Ikmal dan Icez mengikuti cowok itu dari belakang. “Mit, Mitaaa...” Wahyu berseru keras memanggil nama Mita disepanjang lantai dua itu sambil ia cek semua ruang kelas melalui jendela kecil. “Mita loe dimana?” teriak Wahyu.
                “Mitaaaa,” Ikmal ikut memanggil nama Mita.
                “Mungkin nggak sih ini semua ada hubungannya sama Pak Tharas?” tanya Icez.
                “Maksud loe?” tanya Wahyu. Mereka bertiga ada didekat tangga menuju lantai tiga.
                “Ya mungkin aja dia nyembunyiin Mita dimana gitu supaya bikin kita jera dan nggak balik kesini lagi kalo malem, mungkin aja kan?” celoteh Icez yang membuat kedua sahabatnya itu agak heran.
                “Kita nggak boleh nuduh sembarangan,” Wahyu menghela napas panjang. “Belum tentu juga kan?” tambahnya.
                “Kalian belum pulang juga?” tanya seseorang dengan suara lantang dari tangga menuju lantai tiga itu.
                “Astaga,” Ikmal kaget bukan main.
                “Apa yang masih kalian lakukan disini?” pria itu mendekati Wahyu, Ikmal dan Icez. “Saya sudah bilang kan sebaiknya kalian pulang,” tambahnya.
                “Temen kita ilang, Pak.” Ikmal menyahut.
                “Itu karena ulah kalian sendiri,” ujar pria itu. “Kalian sendiri lah yang membuat teman kalian harus menanggung semua rasa penasaran kalian,” katanya lagi.
                “Maksud bapak?” tanya Wahyu.
                “Bapak tau dimana Mita?” tanya Icez.
                “Mending bapak kasih tau kita sekarang,” kata Ikmal.
                “Kasih tau kita dimana Mita,” ujar Icez.
                “Saya nggak tau dimana teman kalian itu,” katanya yang membuat Ikmal, Wahyu dan Icez mengerutkan dahi bingung. “ Kalian cari saja sendiri,” tambahnya kemudian pergi meninggalkan tiga remaja itu.
                “Ok guys, kita cari Mita sendiri,” kata Icez sambil melirik Tharas yang terus berlalu meninggalkannya dan kedua sahabatnya itu.
                “Cez!” Wahyu menatap Icez. “Kita nggak bisa cari Mita sendiri tanpa bantuan Pak Tharas, biar gimanapun dia lebih tau tentang sekolah ini bego,” kata Wahyu gemas.
                “Biarin aja kali, Yu.” Ikmal menyahuti dengan cueknya. “Loe nggak yakin kita bisa cari Mita sendiri tanpa dia?” tanya Ikmal.
                “Bukan gituuuu...” Wahyu mendesah pelan. “Gue cuma takut Mita kenapa-napa, biar gimanapun kan dia ade gue,” katanya lagi.
                “Siapa yang bilang kalo dia majikan loe sih, Yu?” tanya Ikmal sebal.
                “Ish,” Wahyu menoyor kepala Ikmal dengan jengkel.
                “Udah deh jangan ribut mulu,” Icez menengahi. “Kita cari Mita sekarang yuk,” ajaknya kemudian.
                “Kemana?” tanya Ikmal.
                “Gudang,” jawab Wahyu mantap.
                “Sok tau banget kalo Mita ada disana,” celetuk Ikmal.
                “Gue yakin dia disana,” sahut Wahyu.
                “Ok kita ke gudang sekarang,” komando Icez.


To Be Continue

@DevyMrz

0 komentar:

Posting Komentar