Serpihan Sesal




Mita berjalan riang menyusuri area parkir rumah sakit siang itu, tangannya menggenggam sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan yang ia lakukan. Siang itu ia mendapat kabar hebat. Kabar yang selalu ia tunggu setiap harinya. Ia hamil. Sudah masuk usia tiga minggu. Dan ia tak sabar ingin segera menyampaikan berita hebat itu pada suaminya.

"Ya, Ma?" Mita menempelkan ponsel di telinga kirinya, tangan kanannya menggenggam amplop putih itu sembari membuka pintu mobilnya.

"Kamu dimana?" tanya sang Mama dari seberang. "Mama lagi bikin kue nih, main dong kesini," katanya, terdengar antusias.

"Mita lagi mau jalan ke kantornya Wahyu, Ma." Mita beringsut masuk ke dalam mobilnya. "Ada hal penting yang mau Mita omongin sama Wahyu," Mita meletakkan amplop itu di jok sebelahnya, lalu sibuk memasang sabuk pengamannya.

"Yaudah kalau gitu nanti sore aja, ajak Wahyu sekalian," sahut Mamanya.

"Iya, Ma, Mita usahain," ujar Mita seraya menstarter mobilnya. "Mita jalan dulu ya, Ma." katanya lalu memutus sambungan telfonnya.

Mobil Mita pun melaju meninggalkan area parkir itu. Membelah jalanan yang cukup padat siang itu. Siang itu agak mendung, mungkin karena sudah masuk musim penghujan.
***

Mita urung membuka pintu ruangan Wahyu. Sejak tadi, ia hanya menyentuh knopnya tanpa ia putar agar pintu terbuka. Entah apa yang membuatnya takut seperti ini. Sekretaris Wahyu bilang, suaminya itu sedang ada tamu, tapi sektetaris itu tidak menyebutkan siapa tamu suaminya itu.

Mita menarik napas panjang, menahannya sebentar lalu menghembuskannya, ia mencoba menarik sudut bibirnya, mengukir senyum. Tanpa pikir panjang lagi, Mita putar knop pintu itu. Pintu terbuka tak terlalu lebar, tapi cukup jelas memperlihatkan siapa saja yang ada diruangan itu. Suaminya itu sedang mengecup kening seorang wanita cantik yang tak ia kenal sama sekali. Pelan-pelan, jantung Mita seperti melorot turun, dadanya sesak. Tangannya terlepas dari knop pintu itu. Untuk kesekian kali, ia kembali melihat Wahyu asik berduaan dengan wanita lain.

"Mita...." suara Wahyu terdengar samar di telinga Mita.

Mita berbalik sebelum air matanya tumpah dan Wahyu akan melihatnya. Langkahnya cepat menembus karyawan-karyawan perusahaan yang sedang berlalu lalang itu. Mita tahu Wahyu mengejarnya, bahkan ketika ia sampai parkiran pun ia tahu Wahyu masih mengejarnya.

"Mita!" seru Wahyu, ia berhenti, ia pandangi Mita yang mendekati mobilnya.

Mita enggan menoleh, ia hendak membuka pintu mobil itu, tapi tiba-tiba, "Kamu mau kemana?" tanya Wahyu, menggenggam lengan Mita yang sedikit gempal itu.

Mita berusaha menepisnya, sekuat tenaga masih ia tahan emosi serta air mata yang bergerumul di balik matanya. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang baru saja ia lihat.

"Mita...." Wahyu mengendurkan genggamannya ketika Mita sama sekali tak merespons-nya dan hanya diam bersandar di badan mobil itu.

Mita menepis pelan genggaman Wahyu. Dengan gerakan pelan, Mita membuka pintu mobilnya lalu beringsut masuk dan menutup pintunya dengan kasar. Ia pasang seatbelt-nya lalu menstarter mobilnya tanpa mempedulikan Wahyu yang berdiri mematung disebelah mobilnya itu. Ia benci dengan pria itu. Sangat membencinya. Mita menginjak gasnya hingga membuat mobilnya melasat pergi. Dan saat itu juga air mata menetes dari pelupuk matanya, air mata yang ia tahan sejak tadi.

Mita membasahi bibirnya, menghapus air matanya dengan kasar. Sungguh ia benar-benar marah, sangat marah pada pria bernama Wahyu itu. Pria yang selama ini amat ia cintai, amat ia sayangi, amat ia hargai, dan amat ia butuhkan dalam keadaan apapun itu tega melukai hatinya, menyayat nadinya dengan cara menjijikkan seperti itu. Sementara ia selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Wahyu. Lalu inikah balasan Wahyu?

Mita menepikan mobilnya disebuah pinggiran taman kota, ia lepas seatbelt-nya lalu keluar dari mobilnya itu. Mita memilih duduk di salah satu bangku taman itu, sendirian. Ia pandangi orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. Mendung semakin gelap. Dan Mita seakan tak peduli ketika tetesan air hujan jatuh di atas kemeja hitamnya itu. Ia mendongak sebentar menatap langit yang siap mengeluarkan ribuan tetes air hujan itu, kemudian ia pandangi orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh itu.

"Yu, kenapa kamu setega itu?" gumam Mita berbarengan dengan air matanya yang mengalir di pipi. "Salah aku apa?" Mita terisak bebarengan dengan air hujan yang kian deras itu hingga membasahi tubuhnya.

Mita menelan ludah getir. Semua rasa bahagianya seakan menguap tanpa sisa. Semua rasa antusiasnya ketika ingin bertemu Wahyu tadi seperti lenyap diterpa rasa kagetnya melihat Wahyu bersama wanita lain. Seperti ada yang menekan dadanya kuat. Sangat kuat. Sampai ia harus mencari celahnya sendiri untuk tetap bisa bernapas. Andai Wahyu tahu apa tujuannya datang ke kantor, apa pria itu akan mengurungkan niatnya untuk berselingkuh?

***

Wahyu menatap lurus ke luar jendela yang dibasahi air hujan. Ia terperangah ketika mendapati sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah itu, hujan lebat masih saja mengguyur bumi sampai detik itu. Ia pandangi Mita yang keluar dari dalam mobil, berlari menembus hujan sampai teras depan rumah. Wahyu tersenyum tipis, ia bergerak dari tempatnya, dan disaat yang bersamaan, pintu terbuka dan Mita muncul dari sana. Senyum Wahyu pudar demi melihat betapa berantakkannya Mita, bibirnya pucat, pakaian dan rambutnya setengah basah, kelopak matanya sayu. Apa yang terjadi dengan istrinya itu?

"Mit...." sekuat hati ia memberanikan diri menyebut nama itu.

Mita diam tak menjawab, ia tatap Wahyu sebentar lalu pergi meninggalkannya.

Wahyu tak menyerah, ia kejar Mita yang masuk ke dalam kamar. Wanita itu kini duduk didepan meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tatapannya kosong. Wahyu dekati wanita itu.

"Mit," Wahyu menyentuh bahu Mita. Dan dengan cepat Mita menepisnya. "Aku minta maaf," kata Wahyu pelan seperti bisikan.

Mita bergeming. Suara Wahyu terdengar samar ditelinganya. Ia pandangi pantulan diri Wahyu dari cermin didepannya. Semua membuatnya sakit. Amat sakit. Sampai ia tak tahu bagaimana cara mendefinisikan rasa sakit itu.

"Aku bisa jelasin semuanya," Wahyu bicara lagi.

Mita melepaskan handuk digenggamannya, ia remas amplop putih ditangan kirinya dengan mata terpejam, amplop itu tidak lagi mampu membuatnya bahagia, amplop putih itu tak lagi bisa membuktikan kalau Wahyu benar-benar mencintainya. Mita menarik napas panjang, menahan air matanya kuat-kuat agar tidak menetes.

"Aku sama dia cuma sebatas rekan kerja, Mit." gumam Wahyu. "Selebihnya, dia temen lamaku saat SMA dulu, wajar kan kalau kita deket, dan...." Wahyu menggantung kalimatnya ketika Mita berdiri dari duduknya dan menatapnya nanar.

"Wajar kalau sampe cium segala?!" napas Mita memburu.

"Bukan gitu maksud aku.." suara Wahyu mulai meninggi.

"Maksud kamu apa?!" Mita diambang batas kesabarannya. "Sengaja berbuat seperti itu?" dada Mita naik turun. "Sengaja mau nyakitin aku?!" Mita menunjuk dadanya sendiri. "Iya?!" Mita garang menatap Wahyu.

Wahyu diam saja. Ia tahu ia salah. Ia tak akan membela diri. Ia memang salah. Salah besar menyakiti Mita.

"Sebenernya artinya aku buat kamu itu apa?" Mita tak bisa lagi menahan gejolak di hatinya, ia memang harus menangis.

Wahyu menunduk. Diam tak bersuara. Hatinya seperti luluh lantak melihat air mata yang mengalir di kedua pelupuk mata wanita didepannya. Apa yang sudah ia lakukan sampai Mita menangis sehebat itu? Air mata itu membuat hatinya pilu.

"Aku benci sama kamu!" Mita mengusap air matanya dengan kasar, bergegas pergi dari hadapan Wahyu, ia keluarkan koper dari lemari pakaiannya kemudian memasukkan beberapa pakaian yang ia ambil sekenanya dari dalam lemari itu kedalam koper berukuran sedang itu.

"Hey, kamu mau kemana?" Wahyu mendekati wanita yang siap menarik kopernya itu. "Diluar hujan," kata Wahyu, berusaha mencegah Mita.

"Kamu boleh temui aku setelah kamu bisa benar-benar mengerti apa kesalahan kamu!" Mita susah payah menarik kopernya.

"Tapi, Mit..." seruan Wahyu hanya dihadiahi suara keras dari pintu yang dibanting Mita. "Mita!" Wahyu mengejar istrinya itu. "Kamu mau kemana?" tanya Wahyu.

"Aku nggak mau lagi tinggal sama kamu!" jawab Mita sembari membuka pintu itu dan keluar sambil menarik kopernya diikuti Wahyu.

Wahyu hanya bisa menatap nanar kepergian Mita. Dibawah derasnya hujan, ia tahu betapa dalam luka yang telah ia toreh dihati Mita. Andai semua bisa ia ulangi. Andai.

***

Wahyu menyipitkan matanya menatap seorang wanita yang duduk di sebuah bangku di taman rumah sakit itu. Disebelah wanita itu duduk ada sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu. Dada Wahyu bergetar ketika melihat wajah wanita berambut hitam legam itu tampak pucat dan tak bersemangat dengan perutnya yang sedikit membesar. Lima bulan ia mencari tahu dimana Mita. Setelah sekian lama semua orang yang mengetahui keberadaan Mita itu bungkam, akhirnya Mama Mita mengatakan dimana keberadaan Mita. Pertengakaran malam itu benar-benar pukulan telak baginya. Satu hal lagi yang membuatnya seperti terhempas sekeras-kerasnya adalah tak lama setelah Mita pergi, ia tahu bahwa istrinya itu tengah mengandung. Betapa jahat dirinya tega melukai wanita yang amat ia cintai itu. Masih bolehkah ia duduk disebelah wanita itu dan melipur laranya? Masihkah Mita mau menerimanya?

Wahyu menatap nanar sebucket mawar merah digenggamannya, bunga favorit Mita. Ia tarik napas dalam-dalam lalu dengan segenap keberaniannya ia dekati Mita. Langkahnya terhenti ketika Mita bergerak hendak berdiri dari duduknya. Miris hatinya memandangi betapa rapuhnya saat ini, susah payah wanita itu hendak berdiri. Wahyu mendekat, ia takut terjadi sesuatu dengan Mita.

"Mita...." panggil Wahyu pelan. Dalam hati ia takut, takut kalau Mita akan mengusirnya.

Mita mengangkat wajahnya, cukup kaget mendapati Wahyu berdiri didepannya. "Kamu?" Mita menyibak rambutnya yang kian memanjang itu ke belakang, makin memperjelas setiap inci wajahnya yang pucat pasi.

"Apa kabar?" tanya Wahyu, mengukir seulas senyum.

"Baik," jawab Mita dengan senyum tipisnya. "Kamu apa kabar?" Mita balik bertanya.

"Buruk," jawab Wahyu seraya maju beberapa langkah mendekati Mita.

"Kenapa?" tanya Mita.

"Buruk tanpa kamu," jawab Wahyu.

Mita menarik sudut bibirnya, tersenyum getir demi mengingat kembali lima bulan yang ia lalui tanpa Wahyu. Hanya seorang diri. Jatuh bangun merawat kandungannya sendirian. Tanpa bantuan suaminya itu. Tak terhitung sudah berapa kali ia harus masuk rumah sakit karena kandungannya bermasalah selama lima bulan terakhir ini. Wahyu tak akan lebih buruk darinya.

"Itu bunga buat aku?" Mita melirik sebucket mawar merah digenggaman Wahyu.

"Ya," Wahyu memberikan bunga itu pada Mita dan ia cukup lega ketika Mita menerimanya dengan baik. "Masih suka mawar merah, kan?" tanyanya.

"Masih," Mita tersenyum dan kembali duduk, memeluk bunga itu sambil menatap lurus ke depan. Angin di akhir musim penghujan itu menerbangkan setiap helai rambutnya.

Wahyu ikut duduk di sebelah Mita. Menarik napas dalam-dalam. Semuanya seperti terasa ringan didadanya ketika ia kembali bisa melihat Mita, senyumnya, suaranya, semua yang ada pada Mita amat ia rindukan.

"Maafin aku, Mit." Wahyu menghela napas pendek. "Aku tahu terlalu banyak luka yang aku toreh dihati kamu," timpalnya. "Maafin aku," Wahyu menatap Mita nanar. Sungguh, ia akan selalu membutuhkan cinta dan kasih sayang dari Mita.

"Aku udah maafin," Mita mengulum senyum getir. "Aku nggak ngerti kenapa selalu ada maaf buat kamu di hati aku," Mita menarik napas panjang, berusaha membiarkan setiap beban dibahunya menjauh pergi. "Sebesar apapun kesalahan kamu, aku nggak pernah bisa benci sama kamu," Mita menatap setiap kelopak beberapa tangkai mawar yang ada dipangkuannya itu. Semuanya tampak segar, tidak ada yang tampak layu. Mita yakin, Wahyu pasti sengaja membelinya sebelum datang kesini.

"Kenapa kamu masih mau menerima aku, Mit?" tanya Wahyu. "Aku sering nyakitin kamu, bikin kamu marah, kecewa, sedih dan terluka," paparnya.

"Anak aku akan selalu membutuhkan kamu," Mita menoleh, menatap Wahyu yang juga menatapnya. "Harus ada sosok Ayah disampingnya sampai kapanpun," bibir pucat Mita mengulas senyum.

Wahyu menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Mita terlalu tangguh untuk diruntuhkan begitu saja. Ia selalu tampak hebat dibalik sikap cuek dan sederhananya. Tak ada yang tahu jika begitu banyak beban yang ada dibahu wanita itu. Demi apapun di dunia, Wahyu berjanji tidak akan menyakiti hati Mita lagi, ia tidak akan melukai hati wanita yang selalu membuatnya gila itu. Mita terlalu sempurna untuk dipatahkan hatinya.

"Aku pikir aku bisa tanpa kamu, tapi aku rasa aku nggak sekuat saat ada sama kamu, Yu." Mita menyandarkan kepalanya dibahu Wahyu.

Wahyu usap kepala Mita, satu tangannya meremas jemari Mita yang agak dingin itu. Selalu ada celah yang Mita berikan untuknya. Selalu ada ruang dihati Mita yang memang Mita sediakan khusus untuknya. Dan selalu ada maaf yang Mita beri untuk setiap kesalahannya. Lantas kenapa ia masih saja tega menyakiti wanita seperti Mita? Membiarkan Mita berjuang sendirian merawat kandungannya. Seketika serpihan sesal itu kembali menghujam jantungnya pilu.

"Setelah ini kamu masih mau, kan pulang ke rumah kita?" tanya Wahyu.

Mita mengangkat kepalanya, ia tatap Wahyu dengan mata sayunya, kemudian ia mengangguk.

Wahyu kecup kening Mita. Ia usap pipinya dengan lembut. Demi apapun didunia, ia tidak akan lagi membiarkan Mita sendirian menghadapi semuanya. Tak akan lagi ia lukai hati Mita. Ia janji. Pada Tuhan serta dirinya sendiri.

TAMAT 

@DevyMrz