Tanpa Ujung



            Mita menatap pria berkemeja putih yang tengah sibuk memakai dasi merah maroon dihadapannya itu. Matanya menatap lekat pria yang telah menjadi suaminya selama hampir dua bulan itu. Ia mencintai Wahyu, suaminya. Sangat mencintainya. Pria yang penuh kasih sayang, pria yang penuh cinta, pria yang bak malaikat baginya, dan pria yang tak pernah luput dari pandangannya. Selalu ada dan akan selalu ada. Di dunia nyatanya, atau di dunia mimpinya. Terlalu sempurna memang, tapi itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan suaminya itu.
            “Kenapa liatin aku sampe kayak gitu?” tanya Wahyu yang masih sibuk dengan dasinya.
            Mita tak menyahut, Wahyu sadar wanitanya itu memang menatapnya tapi pikirannya tak sama sekali ada padanya. Ia tatap Mita yang asik dengan pikirannya itu. Ia akan menunggu sampai Mita menyadarinya. Mita sering sekali seperti ini akhir-akhir ini.
            Menit terus berganti, Wahyu telah usai memakai dasinya, ia juga telah menyematkan jas hitam ditubuhnya yang tersampir disofa yang ada disebelahnya berdiri, tapi Mita belum juga sadar dari lamunannya. Wahyu tatap lagi Mita, istrinya itu. Sejurus kemudian Mita menatapnya, kali ini ia yakin pikiran Mita ada padanya.
            “Yu,” gumam Mita.
            “Ya?” tanya Wahyu kalem.
            “Kamu udah selesai?” tanya Mita balik.
            “Sejak beberapa menit yang lalu,” jawabnya.
            Mita melirik jam dilengan kirinya. “Lho ini udah siang banget lho, kenapa kamu belum berangkat?” tanya Mita.
            “Nungguin kamu ngelamun,” jawab Wahyu santai.
            “Ngelamun?” Mita menatap Wahyu. “Siapa yang ngelamun?” tanya Mita bingung.
            “Kamu,” Wahyu tersenyum tipis.
            “Yakin nggak ngelamun?” tanya Wahyu.
            “Iya, aku kan liatin kamu terus dari tadi,” Mita membela diri.
            “Oh ya?” tanya Wahyu. “Kalau kamu nggak ngelamun kenapa nggak bantuin aku pake dasi tadi?” tanya Wahyu.
            Mita menutup mulutnya rapat-rapat, ia menelan ludahnya dengan perasaan ketar-ketir. Pertanyaan Wahyu membuatnya mati kutu. Seharusnya ia tak melamun sampai selama itu jika sedang dihadapan Wahyu. Ia lupa kalau Wahyu itu bak malaikat yang bisa tahu betul tentangnya.
            “Aku jalan dulu ya,” Wahyu mengecup kening istrinya itu. “Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku,” Wahyu mengacak pelan rambut Mita yang hanya diikat sekenanya itu.
            “Yu,” Wahyu yang hendak pergi itu pun berhenti. “Maafin aku,” ucap Mita pelan persis seperti bisikan. Wahyu mengangguk kemudian berlalu pergi dan hilang dari pandangan Mita.
***
            Mita menatap pria berkemaja hitam tanpa dasi yang duduk dihadapannya sambil melahap pastanya. Pria itu memang selalu mengajaknya makan siang bersama seperti saat ini. Ia tatap pria berkawat gigi itu dengan seksama. Entah sejak kapan pria itu mulai masuk kedalam hatinya tanpa ia sadari. Yang Mita tahu, ia senang jika sedang bersama pria itu. Entah kenapa Mita tak tahu. Ia tek penah bisa menjelaskan tentang hal itu.
            “Kenapa liatin aku kayak gitu?” tanya pria itu saat sadar sejak tadi wanita berkuncir ekor kuda itu terus menatapnya.
            “Mal, aku mau tanya sama kamu,” Mita menarik napasnya seraya meletakkan garpu yang sedari digenggamnya tanpa digunakan.
            “Soal apa?” tanya pria bernama Ikmal itu dengan santainya.
            “Soal kita,” jawab Mita.
            “Kenapa soal kita?” tanya Ikmal seraya menyuapkan segulung pasta digarpu kemulutnya.
            “Soal hubungan kita yang nggak jelas ini,” ucapan Mita berhasil membuat Ikmal berhenti mengunyah makanan dimulutnya.
            “Maksud kamu?” Ikmal meletakkan garpunya.
            “Kita nggak boleh kayak gini terus,” Mita coba menjelaskan. “Kamu tau nggak sih secara nggak langsung aku ini udah nyakitin Wahyu,” tambah Mita dengan nada suara yang disetel sepelan mungkin. “Setiap hari kita pergi berdua, kemana-mana berdua,” katanya. “Bahkan aku sampe nggak punya waktu buat berdua sama suami aku sendiri, Mal.” Mita menekan kata ‘suami’ dikalimatnya barusan.
            “Suami kamu kan sibuk, mana sempet dia ngajak kamu pergi, jadi kamu boleh dong pergi sama aku?” Ikmal menyeringai, seakan semuanya hanya lelucon.
            “Mal, aku sayang sama Wahyu,” ucap Mita penuh ketegasan. Ia tatap mata Ikmal lekat-lekat, mencoba mencari pengertian dimata pria dihadapannya.
            “Kamu juga sayang sama aku,” Ikmal menatap Mita. “Ya kan?” Ikmal tersenyum.
            “Mal,” Mita mendesah pelan. Ikmal memang pria yang berbanding terbalik dengan Wahyu. Tak seserius Wahyu, tak sependiam Wahyu, tak juga mudah peduli seperti Wahyu. “Aku rasa aku salah ngelakuin semua ini ke Wahyu,” Mita menunduk
            “Kamu nyesel kenal dan deket sama aku?” tanya Ikmal. “Kamu nyesel dengan semua hal yang udah kita lakuin sama-sama selama ini?” timpalnya. Masih dengan nada kalem.
            “Aku nggak pernah nyesel,” Mita mengangkat kepalanya menatap Ikmal. “Aku rasa semua ini udah cukup, Mal.” Mita membasahi bibirnya. “Aku mau...”
            “Kita udahan aja sampe disini?” tanya Ikmal seraya menatap Mita. “Ngebiarin semuanya tanpa ujung yang jelas?” timpalnya. “Ngebiarin semuanya nggak ada akhirnya?” Ikmal menghela napas pendek. “Aku nggak bisa,” suara Ikmal melemah. “Aku sayang kamu,” ujarnya pelan tapi masih terdengar oleh Mita.
            “Aku terlalu jauh nyakitin Wahyu,” gumam Mita. “Sampe aku nggak tau gimana cara ngobatin luka itu nantinya,” Mita mengigit bibir bawahnya. “Luka yang entah bisa disembuhin atau enggak,” Mita menatap Ikmal yang juga menatapnya. “Aku nggak akan pernah bisa kehilangan Wahyu, Mal.” Mita seperti memohon kepada Ikmal agar pria itu mengerti tentang posisinya. “Nggak akan pernah bisa,” Mita menekan setiap kata-katanya itu.
            “Mita,” Ikmal menyentuh jemari Mita yang ada diatas meja itu. “Aku nggak bisa kehilangan kamu,” katanya dengan suara lirih.
            “Kita nggak seharusnya kayak gini, Mal.” Mita menarik tangannya yang digenggam Ikmal. “Aku nggak bisa terus-terusan bohongin Wahyu,” tambahnya.
            “Kamu selalu mikirin bagaimana perasaan Wahyu,” Ikmal tersenyum sinis. “Tapi apa pernah sedikit aja kamu mikirin perasaan aku, Mita?” suara Ikmal mulai meninggi.
            Mita tatap Ikmal lekat. Ia memang tak hanya menyakiti Wahyu, tapi ia juga menyakiti Ikmal. Pria yang juga menyayanginya. Pria yang juga ia anggap kehadirannya. Jujur ia tak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. “Kalau kamu terus menerus sayang sama aku justru kamu akan terus terluka, Mal.” ujar Mita lirih.
            “Aku nggak bisa berhenti mencintai kamu,” sahut Ikmal pelan. “Nggak akan pernah bisa,” imbuhnya.
            “Aku tau,” Mita medesah lemah. “Tapi kamu juga harus ngerti posisi aku, Mal.” Mita menghela napas pendek. “Hubungan kita ini nggak pantes,” imbuhnya.
            “Aku tau,” sahut Ikmal. “Aku ngerti,” katanya.
            Mita menunduk, ia sama sekali tak mengerti kenapa bisa melakukan hal bodoh seperti ini, hal yang seharusnya tak ia lakukan, hal yang menyakiti dua orang sekaligus, hal yang mungkin akan menghancurkannya sendiri.
            “Mit, aku anter kamu pulang,” Ikmal menarik tangan Mita hingga membuat Mita terperanjat kaget. Dan untuk kali ini Mita memang tak bisa menolaknya.
            Ikmal menggandeng tangan wanita yang amat disayanginya itu keluar dari restaurant. Seakan Mita adalah miliknya utuh. Ia tatap Mita yang berjalan disampingnya, sejurus kemudian ia kecup pipi Mita dengan lembut, tak peduli pada semua orang yang memandangnya kala itu.
            “Mal,” Mita menatap Ikmal.
            “Untuk yang pertama dan terakhir kalinya,” Ikmal tersenyum simpul. Mita menelan ludahnya menahan malu luar biasa saat semua orang menatapnya.
***
            Mita menatap pria yang tengah duduk bersila ditepi kolam sambil mengelus-elus Chiko yang ada dipangkuannya dari ambang pintu. Pria yang terlalu sering ia sakiti, pria yang terlalu sering ia bohongi, dan pria yang terlalu sering ia korbankan demi pria lain. Kenapa ia bisa sampai setega itu pada Wahyu? Pria yang sedikitpun tak pernah menyakitinya. Mita benar-benar benci dirinya sendiri.
            Mita berjalan mendekati Wahyu yang asik dengan anjing pudle-nya itu. Ia tatap pantulan wajah Wahyu di air kolam dihadapannya. Wajah yang seakan menunjukkan semuanya baik-baik saja. Wahyu yang seakan selalu baik-baik saja dengan senyum tipisnya itu.
            “Yu,” Mita duduk disebelah Wahyu seraya memeluk kedua lututnya.
            “Udah selesai mandinya?” tanya Wahyu tanpa mengalihkan perhatiannya dari Chiko. Beberapa menit yang lalu ia dan Mita memang baru saja berenang bersama, kegiatan rutin mereka setiap malam sebelum makan malam.
            “Makan malem diluar yuk,” ajak Mita kemudian. “Aku bingung mau masak apa buat kamu,” katanya.
            “Tumben ngajak makan diluar,” Wahyu menatapnya, tapi tangannya tak berhenti mengelus-elus Chiko yang tertidur dipangkuannya itu.
            “Udah lama kan kita nggak pergi berdua?” Mita tersenyum.
            Wahyu tersenyum, kemudian menatap pantulan wajahnya dan wajah Mita yang menatapnya seakan menunggu jawabannya dikolam itu.
            “Aku boleh tanya satu hal dulu nggak sama kamu sebelum kita pergi?” tanya Wahyu.
            “Apa?” tanya Mita.
            “Tadi siang kamu makan siang diluar sama siapa?” tanya Wahyu to the point.
            Mita seperti tersambar petir kala itu. Pertanyaan Wahyu membuat jantungnya seperti ingin mencelos keluar. Sungguh pertanyaan yang membuat napasnya seakan berhenti detik itu juga. Dan ia bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Wahyu barusan. Seketika lidahnya kelu. Rahangnya mengatup rapat bak diberi lem super lengket sehingga membuatnya tak mampu bicara sepatah katapun.
            “Temen kamu?” tanya Wahyu lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Chiko yang semakin hari semakin menggemaskan itu. Mita tetap diam seribu bahasa. “Tapi kayaknya kalau cuma temen dia nggak mungkin berani sampe cium pipi kamu didepan banyak orang lho, Mit.” Wahyu berdiri dari duduknya sambil menggendong Chiko.
            Sempurna. Mita ingin menembak kepalanya sendiri dengan pistol sekarang juga agar semuanya selesai. Selesai secara keseluruhan. Hingga tak ada lagi masalah seperti ini. Hingga ia tak harus lagi melihat Wahyu terluka. Ia benci dirinya yang tega menyakiti pria sebaik Wahyu. Ucapan Wahyu barusan membuatnya sedih bukan main. Seperti ditikam ribuan pisau dari berbagai penjuru. Pilihannya hanya dua. Mati atau berlari dari itu semua. Jujur Mita tak bisa melihat Wahyu yang seakan-akan selalu baik-baik saja itu.
            “Yu,” Mita berjalan pelan mendekati Wahyu yang baru saja memasukkan anjingnya itu kedalam kandang yang ada tak jauh dari kolam.
            “Jadi kan mau makan malem diluar?” tanya Wahyu. Hati Mita bertambah sakit. “Yuk!” Wahyu menarik lengan Mita dan hendak mengajaknya pergi dari tempat itu.
            “Wahyu,” Mita menepis genggaman Wahyu kemudian menarik pria itu kedalam pelukannya. Ia peluk Wahyu se-erat mungkin, mencoba merasakan luka yang telah ia toreh dihati Wahyu.
            “Mita,” gumam Wahyu.
            “Maaf untuk semuanya, Yu.” Mita berbisik lirih.
            “Aku benci liat kamu sama dia,” ujar Wahyu.
            Mita bergeming, ia biarkan hatinya berada ditempat dimana seharusnya ia berada. Ia telah menyakiti malaikatnya, tak hanya menyakiti tapi juga menghancurkan hatinya. Hati malaikat cintanya. Hati yang seakan kokoh itu seakan telah ia hancurkan. Cinta yang seakan abadi itu seakan telah ia musnahkan begitu saja. Dan itu semua karena kesalahan bodoh yang ia lakukan. Ia penghancur semuanya.
            “Mita,” Wahyu melepaskan pelukan Mita. “Aku tanya sama kamu,” kata Wahyu menatap mata bening wanita dihadapannya itu. “Selama ini artinya aku buat kamu itu apa?” tanya Wahyu.
            “Yu, biar aku jelasin dulu ke kamu siapa Ikmal,” Mita menatap mata teduh yang seakan mematikannya itu.
            “Jadi namanya Ikmal?” Wahyu menatap Mita
            “Biar aku jelasin semuanya, aku sama dia...”
            “Mit,” Mita berhenti bicara seraya menatap lekat mata Wahyu. “Aku nggak butuh penjelasan kamu tentang laki-laki itu,” katanya. “Aku cuma mau kamu jawab pertanyaan aku,” imbuhnya. Yang seakan-akan selalu baik-baik saja itu kini terlihat hancur berantakkan.
            “Yu, aku mohon dengerin aku dulu,” Mita menghapus air matanya dengan kasar. “Biar aku jelasin semuanya biar kamu ngerti,” imbuhnya dengan suara serak.
            “Apa yang harus aku mengerti?” tanya Wahyu yang masih dengan nada bicara biasa saja. “Keputusan kamu untuk pergi sama laki-laki lain selain suami kamu sendiri, begitu?” suara Wahyu akhirnya meninggi juga. Mita sesenggukan. “Untuk hal lain aku masih bisa mengerti, tapi untuk semua yang menyangkut perasaan aku, aku nggak mau ngerti,” katanya.
            “Yu,” Mita lirih.
            “Selama ini aku nunggu kamu buat jelasin semuanya sama aku, tapi kamu nggak pernah cerita, kamu menganggap seakan-akan aku ini bodoh yang bisa segampang itu kamu permainkan,” Wahyu maju selangkah mendekati Mita, hingga tak menyisakan jarak diantara keduanya. “Aku nggak suka permainan konyol kamu ini, Mita.” ujar Wahyu pelan tepat didepan wajah Mita.
            “Yu, aku nggak bermaksud mempermainkan kamu,” Mita menatap mata Wahyu yang amat dekat didepan matanya. “Aku sayang kamu,” katanya.
            “Kamu sayang sama aku?” tanya Wahyu yang juga menatap Mita. “Tapi kenapa kamu ngelakuian hal ini sama aku?” matanya bertemu dengan mata Mita. “Apa aku nggak cukup sempurna buat kamu?” Wahyu menyentuh pipi Mita dengan lembut. “Apa aku nggak cukup membuat kamu bahagia?”  Wahyu masih menikam Mita dengan tatapannya.
“Yu, kamu boleh berhenti mencintai aku,” Mita masih menatap Wahyu. “Tapi jangan pernah kamu minta aku untuk berhenti mencintai kamu,” katanya. “Karena aku nggak akan pernah bisa,” Mita menatap Wahyu dengan tatapan nanar.
“Kenapa?” tanya Wahyu.
“Aku nggak pernah punya alasan kenapa aku bisa mencintai kamu,” jawab Mita.
“Kalau kamu mencintai aku, kenapa kamu tega melakukan semua ini sama aku?” tanya Wahyu. “Apa aku orang yang pantas menerima itu semua?” imbuhnya.
“Yu,” Mita meremas jemari Wahyu.
“Jawab aja, Sayang.” Wahyu menatap mata bening dihadapannya itu.
“Maafin aku,” Mita menunduk. “Aku salah, nggak seharusnya aku melakukan ini semua sama kamu, Yu.” Mita menatap Wahyu lagi. “Buat aku kamu lebih dari sempurna, buat aku kamu lebih dari bisa membahagiakan aku,” katanya. “Dan buat aku kamu lebih dari berarti buat aku,” imbuhnya.
“Mita,” Wahyu menatap lekat wanita berambut panjang dihadapannya itu. “Kalau aja aku ini seorang malaikat, pasti aku bisa jagain kamu terus dimana pun kamu berada,” katanya. “Tapi sayang aku bukan malaikat,” Wahyu mendekap Mita erat seakan tak akan pernah lagi membiarkannya pergi.
“Buat aku kamu lebih dari seorang malaikat, Yu.” ujar Mita dalam hati. Untuk saat ini ia hanya ingin berada dalam pelukan hangat ini. Baginya, Wahyu tetap ada disisinya itu sudah lebih dari cukup.
Wahyu melepaskan pelukannya kemudian menatap Mita. Mita membalas tatapan Wahyu yang seakan penuh makna itu. “Aku baru sadar kalau malam ini kamu...” Wahyu mendekatkan wajahnya ke wajah Mita. Mita menatap suaminya itu dengan perasaan was-was. Dan benar saja, sejurus kemudian Wahyu berhasil membuainya dengan ciuman mesra. Dan untuk malam ini ia merasa sempurna karena telah memiliki Wahyu. Dan biarkan kisahnya bersama Ikmal tidak memiliki ujung.


Selesai

Happy birthday ya adikku yang manis dan cantik, semoga sehat selalu, makin dewasa, murah rizkinya, makin pinter sekolahnya, semua yang dicita-citakan terwujud. Maaf aku Cuma bisa kasih ini aja, kalo jelek boleh kok dibuang laptopnya *eh. Maaf gak bisa kasih apa-apa, aku Cuma bisa bikin cerpen semacam ini, hiks. Semoga diumur yang baru kamu selalu disayang orangtua, disayang Allah, disayang orang-orang sekitar kamu. Happy birthday ya kamuu
@DevyMrz

Malaikat

              
             Mita menatap nanar rintik-rintik hujan yang tengah membasahi kaca jendela kamarnya malam itu. Ia lirik sekali lagi jam tangan yang melingkar apik di lengan kirinya. Semakin larut. Mita menatap rintik-rintik hujan itu lagi. “Kenapa kamu belum pulang juga?” gumam Mita. Ia mendesah pelan, jujur ia sudah lelah menunggu.
            Mita membalikkan tubuhnya kemudian keluar dari kamar itu dengan langkah pelan. Lampu rumahnya itu masih menyala semua, itu menandakan kalau ia belum tertidur. Mita mendekati pintu depan, ia sentuh gagang pintu yang dingin itu. Tapi kemudian ia turunkan lagi tangannya dari gagang pintu itu. Ia menarik napas panjang sekali lagi kemudian berjalan menjauhi pintu itu, dan ia memilih duduk disofa ruang tengahnya.
            Mita menyambar ponselnya yang tergeletak dimeja yang ada didepannya duduk sekarang. Ia tatap layar ponsel itu, tak ada apapun yang ditunjukkan oleh benda mungil itu. Mita menempelkan ponsel itu ke telinganya. Nada sambung pertama mulai terdengar.
            “Angkat, Yu.” gumam Mita sambil menggigit bibir bawahnya.
            “Ya hallo?” seseorang dari seberang merespon panggilannya.
            “Kamu dimana?” tanya Mita.
            “Aku masih dijalan,” sahutnya. “Kamu belum tidur?” tanyanya kemudian.
            “Aku nungguin kamu,” sahut Mita.
            “Oh,” katanya. Mita menelan ludah getir. “Aku pulang agak telat, kamu tidur duluan aja ya,” katanya kemudian.
            “Tapi...” telepon terputus. Mita tersenyum kecut sambil menurunkan ponsel itu dari telinganya. “Ok kalau itu yang kamu mau, Yu.” Mita menyandarkan punggungnya disandaran sofa.

‡‡‡

            “Mit...” Wahyu menyentuh pipi wanita yang tengah terlelap disofa ruang tengah rumah itu. Ia baru saja menyalakan lampu dan mendapati Mita, istrinya tengah tertidur. Mita sering sekali melakukan hal ini ketika menunggunya pulang.
            Mita bergerak, perlahan matanya terbuka. Samar-samar ia melihat seseorang berdiri di dekatnya. Ia beringsut duduk. “Kamu udah pulang?” Mita mengukir sebuah senyum tipis.
            “Kamu nunggu aku lagi?” tanya Wahyu yang duduk disofa sebelahnya. Mita mengangguk saja. “Aku kan udah bilang kamu nggak perlu nunggu aku,” timpalnya.
            “Kenapa?” tanya Mita.
            “Aku nggak mau kamu nunggu aku sampe ketiduran,” jawab Wahyu, menatap istrinya itu.
            “Gapapa,” Mita menarik sudut bibirnya membentuk senyum. “Aku nggak masalah,” Mita menambahkan.
            “Mita....”
            “Kenapa?” tanya Mita memotong ucapan Wahyu. “Kamu nggak suka kalo aku nunggu kamu?” tambahnya, menatap pria berkemeja putih itu.
            “Mita, ka...”
            “Ya udah,” Mita mengukir senyum tipis. “Aku nggak akan nunggu kamu lagi besok,” Mita berdiri dari duduknya.
            Wahyu berdiri dari duduknya, berdiri tepat dihadapan istrinya itu. Ia tatap wanita yang sangat dicintainya itu. Sungguh ia sama sekali tak berniat membohongi istrinya itu. Ia tak berniat menyakiti istrinya itu. Tapi ia juga tak mengerti apa yang sedang ia rasakan sekarang. Ia tidak mau melukai wanita dihadapannya ini.
            “Yu, boleh aku tanya satu hal sama kamu?” tanya Mita.
            “Apa?” tanya Wahyu.
            “Apa ada wanita lain yang kamu cintai selain aku?” tanya Mita, menatap mata teduh itu dengan tatapan nanar.
            “Maksud kamu?” tanya Wahyu.
            “Apa ada wanita lain diluar sana yang selalu kamu temui tanpa sepengetahuan aku?” tanya Mita lagi dengan pertanyaan lainnya.
            “Mita...”
            “Jawab aja,” sela Mita.
            “Aku harus jawab apa?” tanya Wahyu bingung.
            “Yu,” Mita tampak memohon. “Aku mau kamu jujur,” ia mencoba mencari kejujuran dimata pria dihadapannya itu. “Apa ada wanita lain diluar sana yang berhasil merebut perhatian kamu dari aku?” tanya Mita untuk kesekian kalinya.
            Wahyu mendesah pelan, pertanyaan-pertanyaan Mita membuatnya bingung. Ini yang ia takutkan, tapi inilah saat yang tepat untuk mengakui semuanya pada Mita. Semua yang ia alami, semua yang ia rasakan, dan semua yang membuatnya merasa takut menyakiti Mita, istrinya.
            “Yu?” Mita menyentuh lengan Wahyu.
            “Maaf, Mit.” Wahyu menatap mata bening milik Mita itu. “Aku...”
            “Bener?” tanya Mita.
            Mita memang sudah beberapa kali memergoki suaminya itu duduk berdua dengan seorang wanita disebuah cafe, restaurant atau bar. Mita pikir wanita itu hanya partner kerja suaminya, tapi lama kelamaan presepsi Mita berubah, terlebih saat ia menanyakan tentang wanita itu pada sekretaris Wahyu dikantor, dan sekretaris Wahyu bilang wanita itu memang sering datang ke kantor hanya untuk menemui Wahyu. Distulah ia mulai merasa takut kehilangan Wahyu.
            “Mit,” Wahyu hendak menjelaskannya.
            “Siapa wanita itu?” tanya Mita.
            “Biar aku jelasin dulu ke kamu yang sebenarnya, tolong dengerin aku du...”
            “Apa perlu aku temuin wanita yang udah berani-beraninya merebut semua perhatian kamu dari aku itu, hah?” tanya Mita dengan napas memburu. “Apa perlu aku bunuh dia supaya dia nggak bisa ketemu lagi sama kamu?” timpal Mita. “Harus aku ngelakuin itu?” tanya Mita.
            “Nggak perlu,” sahut Wahyu. “Kamu nggak perlu melakukan itu, Mit.” Wahyu menatap Mita dengan tatapan sendu.
            “Kenapa?” tanya Mita.
            “Karena dia nggak akan pernah lagi ketemu sama aku,” jawab Wahyu.
            “Masud kamu?” napas Mita mulai kembali normal.
            “Maka dari itu aku mohon kamu dengerin dulu semua penjelasan aku, Mit.” Wahyu menatap mata Mita.
            “Apa kamu tahu gimana perasaan aku pas aku tahu kalo banyak hal yang kamu sembunyiin dari aku?” suara Mita melemah. “Kamu mau tahu?” Mita menahan semua amarahnya.
            “Mita, aku mohon dengerin aku dulu,” rajuk Wahyu.
            “Selama ini aku nunggu kamu jelasin semuanya sama aku tentang wanita itu,” Mita menatap Wahyu  nanar. “Karena tadinya aku pikir dia cuma partner kerja kamu,” tambah Mita. Wahyu memilih diam terlebih dulu, ia akan membiarkan Mita mengeluarkan semua isi hatinya itu. Karena bicara sekarang pun tidak akan ada gunanya. “Semenjak kamu kenal sama wanita itu kamu berubah, Yu.” Mita menatap Wahyu yang juga menatapnya. “Kamu sering pulang malem, kamu sering nggak ngerespon semua telepon-teleponku, kamu nggak peduli lagi sama aku,” Mita merasakan dadanya yang sakit.
            “Mita!” sentak Wahyu.
            “Apa?” tanya Mita dengan suara bergetar, ia menangis.
            “Kamu salah kalau kamu bilang aku nggak peduli lagi sama kamu,” Wahyu berusaha menguasai dirinya. “Aku selalu peduli sama kamu,” katanya.
Mita tak menyahut, ia bergeming dengan air mata yang ia biarkan mengalir dari pelupuk matanya itu. Ia sungguh sudah lelah dengan keadaan ini, ia bingung harus bagaimana lagi bicara pada Wahyu. Kalau bisa ia ingin pergi dari semua ini. Ia benci ketidakjujuran seperti ini.
“Mita,” Wahyu sedih melihat Mita yang seperti ini. Ia dekati wanita itu, kemudian ia dekap tubuh wanita itu dengan erat dan seakan tidak akan pernah lagi membiarkannya terluka. “Maafin aku, Mit.” Wahyu mengecup pipi kanan Mita dengan lembut.
“Kenapa, Yu?” tanya Mita  lemah.
“Aku nggak akan pernah menemui wanita itu lagi,” bisik Wahyu. “Karena...” ucapan Wahyu menggantung. “Aku yang meminta wanita itu untuk tidak menemuiku lagi,” lanjut Wahyu.
“Begitu?” tanya Mita, melepas pelukan Wahyu lalu menatap pria dihadapannya itu.
“Ya,” Wahyu menyibak rambut istrinya itu lalu tersenyum.
“Kenapa?” tanya Mita.
“Karena kamu,” Wahyu mengecup kening istrinya itu. Mita memejamkan matanya seraya tersenyum, perlakuan seperti ini selalu membuatnya seperti melayang.

‡‡‡
Mita menutup buku hariannya lalu meletakkannya disebelah ia duduk, ia sedang asik duduk disebuah ayunan yang ada dihalaman belakang rumahnya malam itu, mengingat semua kejadian indah yang ia lalui bersama Wahyu, suaminya. Begitu banyak cerita yang ia torehkan dibuku harian kesayangannya itu, tentang Wahyu, tentang cintanya, tentang hatinya yang hanya ia serahkan pada Wahyu. Ia merasa takdir seakan mempermainkan hatinya, tapi ia salah.
Mita menatap langit yang dipenuhi bintang gemintang itu dengan takzim, diantara ribuan bintang-bintang itu ia yakin Wahyu ada diantaranya. Menatap dirinya dari atas sana, tempat dimana seharusnya Wahyu berada. Sungguh ia amat sangat merindukan suaminya itu, ingin rasanya ia memeluk pria yang selalu berhasil membuatnya gila itu. Pria yang seakan melebihi malaikat dari surga, pria yang seakan selalu berhasil melipur lara hatinya. Dan pria yang seakan mampu melindunginya.
Mita ingat betul saat Wahyu berusaha menutupi semua dari dirinya, tentang wanita yang selalu ia temui tanpa sepengetahuannya. Wanita yang ternyata memiliki peran besar bagi Wahyu. Seharusnya ia tak boleh egois saat itu, seharusnya ia dengar dulu semua penjelasan Wahyu. Ia terlalu egois saat itu.
Dan ingatannya kembali pada saat ia menemukan Wahyu tak sadarkan diri di ayunan ini dengan wajah pucat pasi, dan seluruh tubuhnya yang dingin. Mita tak suka dengan moment pahit itu. Wahyu yang bak malaikat baginya itu justru terlihat sangat menyedihkan dengan wajah pucat dan tangan yang dingin. Keadaan itu membuatnya seakan beku. Wahyu yang beberapa menit sebelumnya masih mendekapnya erat dengan kedua tangannya yang kokoh bak karang itu. Mita menelan ludah pahit mengingat itu semua.
“Begitu banyak hal yang aku nggak ngerti tentang semua ini, Yu.” Mita tersenyum lemah. “Tentang kamu yang pergi gitu aja, tentang kamu yang seakan menutup rapat semuanya dari aku, dan tentang kamu yang....” Mita menghapus air matanya dengan kasar. “Seakan nggak menganggapku ada,” Mita mengulas senyuman miris.
Angin berhembus perlahan, menerbangkan setiap helai rambutnya yang mulai memanjang itu, luka dihatinya kembali terbuka, dan terasa sangat perih saat semua hal tentang Wahyu mencoba mengganggunya. Mita bergeming, tatapannya sendu, lidahnya seakan kelu, semua persendiannya seakan melemah. Ia memang lemah tanpa Wahyu. Sangat lemah, seperti sebuah daun kering yang tertiup angin kencang.
“Aku capek, Yu.” Mita berbisik lemah. “Capek bergantung sama kamu,” katanya lirih. “Kenapa mencintaimu harus menjadi selemah ini?” tanya Mita. Perlahan hatinya mulai lega, seakan semuanya menguap begitu saja, kini semuanya terasa hangat, sangat hangat, seperti ada sesuatu yang mendekapnya dengan lembut. Wahyu kah itu?

TAMAT....

Ini sebenernya Cerpen iseng, gak nyangka kalo bisa kelar, hehe. Cerpen ini mau aku dedikasiin buat Teteh kesayanganaku yang ulang tahun tanggal 2 Juli lalu. Telat yah? Maaf yah baru sempet. Maaf ya teh telat kadonya, haha. Maaf juga kalo jelek, gak genah dsb *hiks. Ini cerpen seadanya banget. Kalo nggak suka langsung buang aja hapenya yaa *lho
Sekali lagi Happy Birthday ya, Teh. Semoga sehat selalu, makin murah rezekinya, cepet dapet jodoh, makin dewasa, sayang keluarga. Sayang juga sama aku *plak. Aku cuma bisa kasih ini nggak lebih, karena aku cuma bisa ini aja, huhu. Semoga suka yaa kamuuuu. Loveyou :*  ☺☻ 
@DevyMrz ☺☻