Tanpa Ujung



            Mita menatap pria berkemeja putih yang tengah sibuk memakai dasi merah maroon dihadapannya itu. Matanya menatap lekat pria yang telah menjadi suaminya selama hampir dua bulan itu. Ia mencintai Wahyu, suaminya. Sangat mencintainya. Pria yang penuh kasih sayang, pria yang penuh cinta, pria yang bak malaikat baginya, dan pria yang tak pernah luput dari pandangannya. Selalu ada dan akan selalu ada. Di dunia nyatanya, atau di dunia mimpinya. Terlalu sempurna memang, tapi itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan suaminya itu.
            “Kenapa liatin aku sampe kayak gitu?” tanya Wahyu yang masih sibuk dengan dasinya.
            Mita tak menyahut, Wahyu sadar wanitanya itu memang menatapnya tapi pikirannya tak sama sekali ada padanya. Ia tatap Mita yang asik dengan pikirannya itu. Ia akan menunggu sampai Mita menyadarinya. Mita sering sekali seperti ini akhir-akhir ini.
            Menit terus berganti, Wahyu telah usai memakai dasinya, ia juga telah menyematkan jas hitam ditubuhnya yang tersampir disofa yang ada disebelahnya berdiri, tapi Mita belum juga sadar dari lamunannya. Wahyu tatap lagi Mita, istrinya itu. Sejurus kemudian Mita menatapnya, kali ini ia yakin pikiran Mita ada padanya.
            “Yu,” gumam Mita.
            “Ya?” tanya Wahyu kalem.
            “Kamu udah selesai?” tanya Mita balik.
            “Sejak beberapa menit yang lalu,” jawabnya.
            Mita melirik jam dilengan kirinya. “Lho ini udah siang banget lho, kenapa kamu belum berangkat?” tanya Mita.
            “Nungguin kamu ngelamun,” jawab Wahyu santai.
            “Ngelamun?” Mita menatap Wahyu. “Siapa yang ngelamun?” tanya Mita bingung.
            “Kamu,” Wahyu tersenyum tipis.
            “Yakin nggak ngelamun?” tanya Wahyu.
            “Iya, aku kan liatin kamu terus dari tadi,” Mita membela diri.
            “Oh ya?” tanya Wahyu. “Kalau kamu nggak ngelamun kenapa nggak bantuin aku pake dasi tadi?” tanya Wahyu.
            Mita menutup mulutnya rapat-rapat, ia menelan ludahnya dengan perasaan ketar-ketir. Pertanyaan Wahyu membuatnya mati kutu. Seharusnya ia tak melamun sampai selama itu jika sedang dihadapan Wahyu. Ia lupa kalau Wahyu itu bak malaikat yang bisa tahu betul tentangnya.
            “Aku jalan dulu ya,” Wahyu mengecup kening istrinya itu. “Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku,” Wahyu mengacak pelan rambut Mita yang hanya diikat sekenanya itu.
            “Yu,” Wahyu yang hendak pergi itu pun berhenti. “Maafin aku,” ucap Mita pelan persis seperti bisikan. Wahyu mengangguk kemudian berlalu pergi dan hilang dari pandangan Mita.
***
            Mita menatap pria berkemaja hitam tanpa dasi yang duduk dihadapannya sambil melahap pastanya. Pria itu memang selalu mengajaknya makan siang bersama seperti saat ini. Ia tatap pria berkawat gigi itu dengan seksama. Entah sejak kapan pria itu mulai masuk kedalam hatinya tanpa ia sadari. Yang Mita tahu, ia senang jika sedang bersama pria itu. Entah kenapa Mita tak tahu. Ia tek penah bisa menjelaskan tentang hal itu.
            “Kenapa liatin aku kayak gitu?” tanya pria itu saat sadar sejak tadi wanita berkuncir ekor kuda itu terus menatapnya.
            “Mal, aku mau tanya sama kamu,” Mita menarik napasnya seraya meletakkan garpu yang sedari digenggamnya tanpa digunakan.
            “Soal apa?” tanya pria bernama Ikmal itu dengan santainya.
            “Soal kita,” jawab Mita.
            “Kenapa soal kita?” tanya Ikmal seraya menyuapkan segulung pasta digarpu kemulutnya.
            “Soal hubungan kita yang nggak jelas ini,” ucapan Mita berhasil membuat Ikmal berhenti mengunyah makanan dimulutnya.
            “Maksud kamu?” Ikmal meletakkan garpunya.
            “Kita nggak boleh kayak gini terus,” Mita coba menjelaskan. “Kamu tau nggak sih secara nggak langsung aku ini udah nyakitin Wahyu,” tambah Mita dengan nada suara yang disetel sepelan mungkin. “Setiap hari kita pergi berdua, kemana-mana berdua,” katanya. “Bahkan aku sampe nggak punya waktu buat berdua sama suami aku sendiri, Mal.” Mita menekan kata ‘suami’ dikalimatnya barusan.
            “Suami kamu kan sibuk, mana sempet dia ngajak kamu pergi, jadi kamu boleh dong pergi sama aku?” Ikmal menyeringai, seakan semuanya hanya lelucon.
            “Mal, aku sayang sama Wahyu,” ucap Mita penuh ketegasan. Ia tatap mata Ikmal lekat-lekat, mencoba mencari pengertian dimata pria dihadapannya.
            “Kamu juga sayang sama aku,” Ikmal menatap Mita. “Ya kan?” Ikmal tersenyum.
            “Mal,” Mita mendesah pelan. Ikmal memang pria yang berbanding terbalik dengan Wahyu. Tak seserius Wahyu, tak sependiam Wahyu, tak juga mudah peduli seperti Wahyu. “Aku rasa aku salah ngelakuin semua ini ke Wahyu,” Mita menunduk
            “Kamu nyesel kenal dan deket sama aku?” tanya Ikmal. “Kamu nyesel dengan semua hal yang udah kita lakuin sama-sama selama ini?” timpalnya. Masih dengan nada kalem.
            “Aku nggak pernah nyesel,” Mita mengangkat kepalanya menatap Ikmal. “Aku rasa semua ini udah cukup, Mal.” Mita membasahi bibirnya. “Aku mau...”
            “Kita udahan aja sampe disini?” tanya Ikmal seraya menatap Mita. “Ngebiarin semuanya tanpa ujung yang jelas?” timpalnya. “Ngebiarin semuanya nggak ada akhirnya?” Ikmal menghela napas pendek. “Aku nggak bisa,” suara Ikmal melemah. “Aku sayang kamu,” ujarnya pelan tapi masih terdengar oleh Mita.
            “Aku terlalu jauh nyakitin Wahyu,” gumam Mita. “Sampe aku nggak tau gimana cara ngobatin luka itu nantinya,” Mita mengigit bibir bawahnya. “Luka yang entah bisa disembuhin atau enggak,” Mita menatap Ikmal yang juga menatapnya. “Aku nggak akan pernah bisa kehilangan Wahyu, Mal.” Mita seperti memohon kepada Ikmal agar pria itu mengerti tentang posisinya. “Nggak akan pernah bisa,” Mita menekan setiap kata-katanya itu.
            “Mita,” Ikmal menyentuh jemari Mita yang ada diatas meja itu. “Aku nggak bisa kehilangan kamu,” katanya dengan suara lirih.
            “Kita nggak seharusnya kayak gini, Mal.” Mita menarik tangannya yang digenggam Ikmal. “Aku nggak bisa terus-terusan bohongin Wahyu,” tambahnya.
            “Kamu selalu mikirin bagaimana perasaan Wahyu,” Ikmal tersenyum sinis. “Tapi apa pernah sedikit aja kamu mikirin perasaan aku, Mita?” suara Ikmal mulai meninggi.
            Mita tatap Ikmal lekat. Ia memang tak hanya menyakiti Wahyu, tapi ia juga menyakiti Ikmal. Pria yang juga menyayanginya. Pria yang juga ia anggap kehadirannya. Jujur ia tak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. “Kalau kamu terus menerus sayang sama aku justru kamu akan terus terluka, Mal.” ujar Mita lirih.
            “Aku nggak bisa berhenti mencintai kamu,” sahut Ikmal pelan. “Nggak akan pernah bisa,” imbuhnya.
            “Aku tau,” Mita medesah lemah. “Tapi kamu juga harus ngerti posisi aku, Mal.” Mita menghela napas pendek. “Hubungan kita ini nggak pantes,” imbuhnya.
            “Aku tau,” sahut Ikmal. “Aku ngerti,” katanya.
            Mita menunduk, ia sama sekali tak mengerti kenapa bisa melakukan hal bodoh seperti ini, hal yang seharusnya tak ia lakukan, hal yang menyakiti dua orang sekaligus, hal yang mungkin akan menghancurkannya sendiri.
            “Mit, aku anter kamu pulang,” Ikmal menarik tangan Mita hingga membuat Mita terperanjat kaget. Dan untuk kali ini Mita memang tak bisa menolaknya.
            Ikmal menggandeng tangan wanita yang amat disayanginya itu keluar dari restaurant. Seakan Mita adalah miliknya utuh. Ia tatap Mita yang berjalan disampingnya, sejurus kemudian ia kecup pipi Mita dengan lembut, tak peduli pada semua orang yang memandangnya kala itu.
            “Mal,” Mita menatap Ikmal.
            “Untuk yang pertama dan terakhir kalinya,” Ikmal tersenyum simpul. Mita menelan ludahnya menahan malu luar biasa saat semua orang menatapnya.
***
            Mita menatap pria yang tengah duduk bersila ditepi kolam sambil mengelus-elus Chiko yang ada dipangkuannya dari ambang pintu. Pria yang terlalu sering ia sakiti, pria yang terlalu sering ia bohongi, dan pria yang terlalu sering ia korbankan demi pria lain. Kenapa ia bisa sampai setega itu pada Wahyu? Pria yang sedikitpun tak pernah menyakitinya. Mita benar-benar benci dirinya sendiri.
            Mita berjalan mendekati Wahyu yang asik dengan anjing pudle-nya itu. Ia tatap pantulan wajah Wahyu di air kolam dihadapannya. Wajah yang seakan menunjukkan semuanya baik-baik saja. Wahyu yang seakan selalu baik-baik saja dengan senyum tipisnya itu.
            “Yu,” Mita duduk disebelah Wahyu seraya memeluk kedua lututnya.
            “Udah selesai mandinya?” tanya Wahyu tanpa mengalihkan perhatiannya dari Chiko. Beberapa menit yang lalu ia dan Mita memang baru saja berenang bersama, kegiatan rutin mereka setiap malam sebelum makan malam.
            “Makan malem diluar yuk,” ajak Mita kemudian. “Aku bingung mau masak apa buat kamu,” katanya.
            “Tumben ngajak makan diluar,” Wahyu menatapnya, tapi tangannya tak berhenti mengelus-elus Chiko yang tertidur dipangkuannya itu.
            “Udah lama kan kita nggak pergi berdua?” Mita tersenyum.
            Wahyu tersenyum, kemudian menatap pantulan wajahnya dan wajah Mita yang menatapnya seakan menunggu jawabannya dikolam itu.
            “Aku boleh tanya satu hal dulu nggak sama kamu sebelum kita pergi?” tanya Wahyu.
            “Apa?” tanya Mita.
            “Tadi siang kamu makan siang diluar sama siapa?” tanya Wahyu to the point.
            Mita seperti tersambar petir kala itu. Pertanyaan Wahyu membuat jantungnya seperti ingin mencelos keluar. Sungguh pertanyaan yang membuat napasnya seakan berhenti detik itu juga. Dan ia bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Wahyu barusan. Seketika lidahnya kelu. Rahangnya mengatup rapat bak diberi lem super lengket sehingga membuatnya tak mampu bicara sepatah katapun.
            “Temen kamu?” tanya Wahyu lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Chiko yang semakin hari semakin menggemaskan itu. Mita tetap diam seribu bahasa. “Tapi kayaknya kalau cuma temen dia nggak mungkin berani sampe cium pipi kamu didepan banyak orang lho, Mit.” Wahyu berdiri dari duduknya sambil menggendong Chiko.
            Sempurna. Mita ingin menembak kepalanya sendiri dengan pistol sekarang juga agar semuanya selesai. Selesai secara keseluruhan. Hingga tak ada lagi masalah seperti ini. Hingga ia tak harus lagi melihat Wahyu terluka. Ia benci dirinya yang tega menyakiti pria sebaik Wahyu. Ucapan Wahyu barusan membuatnya sedih bukan main. Seperti ditikam ribuan pisau dari berbagai penjuru. Pilihannya hanya dua. Mati atau berlari dari itu semua. Jujur Mita tak bisa melihat Wahyu yang seakan-akan selalu baik-baik saja itu.
            “Yu,” Mita berjalan pelan mendekati Wahyu yang baru saja memasukkan anjingnya itu kedalam kandang yang ada tak jauh dari kolam.
            “Jadi kan mau makan malem diluar?” tanya Wahyu. Hati Mita bertambah sakit. “Yuk!” Wahyu menarik lengan Mita dan hendak mengajaknya pergi dari tempat itu.
            “Wahyu,” Mita menepis genggaman Wahyu kemudian menarik pria itu kedalam pelukannya. Ia peluk Wahyu se-erat mungkin, mencoba merasakan luka yang telah ia toreh dihati Wahyu.
            “Mita,” gumam Wahyu.
            “Maaf untuk semuanya, Yu.” Mita berbisik lirih.
            “Aku benci liat kamu sama dia,” ujar Wahyu.
            Mita bergeming, ia biarkan hatinya berada ditempat dimana seharusnya ia berada. Ia telah menyakiti malaikatnya, tak hanya menyakiti tapi juga menghancurkan hatinya. Hati malaikat cintanya. Hati yang seakan kokoh itu seakan telah ia hancurkan. Cinta yang seakan abadi itu seakan telah ia musnahkan begitu saja. Dan itu semua karena kesalahan bodoh yang ia lakukan. Ia penghancur semuanya.
            “Mita,” Wahyu melepaskan pelukan Mita. “Aku tanya sama kamu,” kata Wahyu menatap mata bening wanita dihadapannya itu. “Selama ini artinya aku buat kamu itu apa?” tanya Wahyu.
            “Yu, biar aku jelasin dulu ke kamu siapa Ikmal,” Mita menatap mata teduh yang seakan mematikannya itu.
            “Jadi namanya Ikmal?” Wahyu menatap Mita
            “Biar aku jelasin semuanya, aku sama dia...”
            “Mit,” Mita berhenti bicara seraya menatap lekat mata Wahyu. “Aku nggak butuh penjelasan kamu tentang laki-laki itu,” katanya. “Aku cuma mau kamu jawab pertanyaan aku,” imbuhnya. Yang seakan-akan selalu baik-baik saja itu kini terlihat hancur berantakkan.
            “Yu, aku mohon dengerin aku dulu,” Mita menghapus air matanya dengan kasar. “Biar aku jelasin semuanya biar kamu ngerti,” imbuhnya dengan suara serak.
            “Apa yang harus aku mengerti?” tanya Wahyu yang masih dengan nada bicara biasa saja. “Keputusan kamu untuk pergi sama laki-laki lain selain suami kamu sendiri, begitu?” suara Wahyu akhirnya meninggi juga. Mita sesenggukan. “Untuk hal lain aku masih bisa mengerti, tapi untuk semua yang menyangkut perasaan aku, aku nggak mau ngerti,” katanya.
            “Yu,” Mita lirih.
            “Selama ini aku nunggu kamu buat jelasin semuanya sama aku, tapi kamu nggak pernah cerita, kamu menganggap seakan-akan aku ini bodoh yang bisa segampang itu kamu permainkan,” Wahyu maju selangkah mendekati Mita, hingga tak menyisakan jarak diantara keduanya. “Aku nggak suka permainan konyol kamu ini, Mita.” ujar Wahyu pelan tepat didepan wajah Mita.
            “Yu, aku nggak bermaksud mempermainkan kamu,” Mita menatap mata Wahyu yang amat dekat didepan matanya. “Aku sayang kamu,” katanya.
            “Kamu sayang sama aku?” tanya Wahyu yang juga menatap Mita. “Tapi kenapa kamu ngelakuian hal ini sama aku?” matanya bertemu dengan mata Mita. “Apa aku nggak cukup sempurna buat kamu?” Wahyu menyentuh pipi Mita dengan lembut. “Apa aku nggak cukup membuat kamu bahagia?”  Wahyu masih menikam Mita dengan tatapannya.
“Yu, kamu boleh berhenti mencintai aku,” Mita masih menatap Wahyu. “Tapi jangan pernah kamu minta aku untuk berhenti mencintai kamu,” katanya. “Karena aku nggak akan pernah bisa,” Mita menatap Wahyu dengan tatapan nanar.
“Kenapa?” tanya Wahyu.
“Aku nggak pernah punya alasan kenapa aku bisa mencintai kamu,” jawab Mita.
“Kalau kamu mencintai aku, kenapa kamu tega melakukan semua ini sama aku?” tanya Wahyu. “Apa aku orang yang pantas menerima itu semua?” imbuhnya.
“Yu,” Mita meremas jemari Wahyu.
“Jawab aja, Sayang.” Wahyu menatap mata bening dihadapannya itu.
“Maafin aku,” Mita menunduk. “Aku salah, nggak seharusnya aku melakukan ini semua sama kamu, Yu.” Mita menatap Wahyu lagi. “Buat aku kamu lebih dari sempurna, buat aku kamu lebih dari bisa membahagiakan aku,” katanya. “Dan buat aku kamu lebih dari berarti buat aku,” imbuhnya.
“Mita,” Wahyu menatap lekat wanita berambut panjang dihadapannya itu. “Kalau aja aku ini seorang malaikat, pasti aku bisa jagain kamu terus dimana pun kamu berada,” katanya. “Tapi sayang aku bukan malaikat,” Wahyu mendekap Mita erat seakan tak akan pernah lagi membiarkannya pergi.
“Buat aku kamu lebih dari seorang malaikat, Yu.” ujar Mita dalam hati. Untuk saat ini ia hanya ingin berada dalam pelukan hangat ini. Baginya, Wahyu tetap ada disisinya itu sudah lebih dari cukup.
Wahyu melepaskan pelukannya kemudian menatap Mita. Mita membalas tatapan Wahyu yang seakan penuh makna itu. “Aku baru sadar kalau malam ini kamu...” Wahyu mendekatkan wajahnya ke wajah Mita. Mita menatap suaminya itu dengan perasaan was-was. Dan benar saja, sejurus kemudian Wahyu berhasil membuainya dengan ciuman mesra. Dan untuk malam ini ia merasa sempurna karena telah memiliki Wahyu. Dan biarkan kisahnya bersama Ikmal tidak memiliki ujung.


Selesai

Happy birthday ya adikku yang manis dan cantik, semoga sehat selalu, makin dewasa, murah rizkinya, makin pinter sekolahnya, semua yang dicita-citakan terwujud. Maaf aku Cuma bisa kasih ini aja, kalo jelek boleh kok dibuang laptopnya *eh. Maaf gak bisa kasih apa-apa, aku Cuma bisa bikin cerpen semacam ini, hiks. Semoga diumur yang baru kamu selalu disayang orangtua, disayang Allah, disayang orang-orang sekitar kamu. Happy birthday ya kamuu
@DevyMrz

0 komentar:

Posting Komentar