Desember.....
Mita membuka matanya saat matahari pagi berhasil
menembus jendela kaca kamar itu. Ia sambar ponselnya yang tergeletak di meja
nakas disebelahnya untuk melihat jam. Mita memicingkan matanya saat menatap
layar ponselnya yang masih agak samar dimatanya. Ia menggeliat sampai akhirnya
ia ingat semuanya saat ia mendapati seorang pria tertidur disebelahnya. Mita
memeriksa tubuhnya yang dibalut selimut putih itu. Ia memang melakukan itu lagi
semalam bersama pria disebelahnya. Pria yang jelas-jelas bukan suaminya. Mita
menghela napas panjang seraya menatap langit-langit kamar itu. Tak seharusnya
ia melakukan semua ini. Wahyu telah beristri, seharusnya ia tak boleh
mencintainya, dan seharusnya ia tak boleh melakukan hal seintim itu bersama
Wahyu. Tapi... Tapi ia mencintai Wahyu. Sampai ia tak pernah bisa menolak semua
buaian yang Wahyu berikan padanya.
“Pagi,” Mita merasakan pipinya yang
terasa hangat saat seseorang mengecupnya lembut. Mita hanya mengukir sebuah
senyum manis dibibirnya. “Kamu...”
“Yu,” Mita menoleh menatap pria yang
berbaring disebelahnya.
“Ya?” sahutnya lembut.
“Aku takut,” jawab Mita seraya menatap
lekat mata teduh itu.
“Aku pasti akan menikahi kamu,” Wahyu
seakan paham apa yang ada didalam pikiran dan hati wanita disebelahnya itu.
“Nggak,” gumam Mita seraya menggeleng
lemah. Ia tatap lagi langit-langit kamar itu. Memikirkan semua kemungkinan yang
akan terjadi setelah ia melakukan hal konyol seperti ini bersama Wahyu.
“Kenapa?” tanya Wahyu bingung.
“Kamu nggak akan pernah menikahi aku,
Yu.” Mita mengubah posisinya menghadap Wahyu. Wahyu menatapnya bingung. “Kamu
mencintai istri kamu,” ucap Mita lirih. “Dan kamu nggak akan pernah
meninggalkannya,” Mita menahan napasnya agar tak menangis.
“Kalau kamu bilang kamu mencintai aku,
aku akan meninggalkan istriku buat kamu,” Wahyu menatapnya lekat. “Dan aku akan
menikahi kamu, lalu kita akan hidup bahagia selamanya,” Wahyu terkekeh riang.
“Aku janji,” Wahyu tersenyum kemudian.
“Yu,” Mita menampik tangan Wahyu yang
hendak menyentuh pipinya. “Dari awal seharusnya kita nggak melakukan ini,” Mita
menatap Wahyu dan mencoba mencari pengertian dari mata teduh itu.
“Kamu nyesel?” tanya Wahyu seraya
meremas jemari wanita didepannya itu.
Mita menggeleng pelan. Sama sekali tak
ada penyesalan dalam dirinya melakukan semua hal konyol ini dengan Wahyu. Yang
ia sesalkan kenapa Wahyu ditakdirkan bukan untuknya. Tapi untuk wanita lain.
Itu yang Mita sesalkan.
“Seharusnya aku nggak menyakiti istri
kamu, dan seharusnya kamu bisa menjadi suami yang setia buat istri kamu,” Mita
memalingkan wajahnya.
“Lalu?” tanya Wahyu.
Mita mengehela napas panjang. Hatinya
mendadak sakit. “Kita nggak boleh begini terus, Yu.” Mita menatap pria
disebelahnya.
“Tapi aku nggak bisa, aku sayang
kamu,” ujar Wahyu lembut namun penuh ketegasan. Mita menatap pria itu dengan
mata berkaca. “Aku sayang kamu, Mita.” Wahyu mengucapkannya lagi. “Semua rasa
nyamanku ada sama kamu,” tambahnya.
Hati Mita semakin sesak mendengar
semua ucapan Wahyu. Ia tahu Wahyu menyayangi dan mencintainya. Tapi ini sama
sekali tak adil untuknya. Dan tentu tak adil untuk istri Wahyu. Yang wanita itu
tahu, suaminya adalah suami yang baik dan setia. Mita tak bisa membayangkan
seandainya wanita itu tahu kalau suaminya memiliki hubungan lain dengan wanita
semacam dirinya. Mita bisa merasakan betapa sakitnya hati wanita itu.
“Mita,” Wahyu hendak mengecup pipi
Mita, tapi buru-buru Mita beringsut duduk sambil memegangi selimut yang
membalut tubuhnya. Wahyu ikut beringsut duduk. “Aku minta maaf,” Wahyu menatap
wanita disebelahnya. “Nggak seharusnya aku menjadikan kamu sebagai....”
“Aku paham,” potong Mita cepat. “Aku
mengerti bagaimana posisi kamu,” Mita menoleh dan menatap pria disebelahnya.
“Dan aku siap menerima semua konsekuensinya,” Mita memaksakan seulas senyum tipis.
“Maafkan aku, Mita.” Wahyu merasa
bersalah. “ Nggak seharusnya aku menjadikan kamu wanita yang tidak....” Wahyu
menghela napas. “Aku salah,” Wahyu menarik wanita itu kedalam dekapannya.
“Seharusnya aku...”
“Aku mencintai kamu,” bisik Mita.
“Aku tahu,” Wahyu mengecup bahu Mita
lembut.
Mita menghela napas panjang. Sampai
kapanpun Wahyu akan tetap menjadi pria yang ia cintai. Meskipun ia sama sekali
tidak akan pernah bisa memiliki pria itu seutuhnya. Karena pada hakikatnya
cinta tak harus selalu memiliki. Itu berlaku keras untuk hubungannya dengan
Wahyu.
“Aku harus siap-siap ke kantor,” Mita
melepas pelukannya dari Wahyu. “Hari ini ada meeting penting,” Mita menurunkan kakinya dari ranjang kemudian
berjalan menuju kamar mandi bersama selimut yang membalut tubuhnya.
“Aku anter,” ujar Wahyu. Mita hanya
mengiyakan.
♥♥♥
Mita memasuki gedung berlantai lima
pagi itu bersama Wahyu. Semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. Mita risi
dipandangi seperti habis mencuri sesuatu itu. Memang pada kenyataannya ia
memang telah mencuri suami boss-nya sendiri semalaman. Tapi itu semua hanya ia,
Wahyu, dan Tuhan yang tahu. Istri Wahyu sama sekali tidak tahu hal ini. Wanita
hanya tahu kalau suaminya itu ada tugas diluar kota dan baru kembali pagi ini.
Padahal semalaman Wahyu sudah menghabiskan waktu di apartemen milik Mita.
“Hey kamu udah dateng,” wanita
ber-lipstik merah tipis itu menghampiri Wahyu yang berdiri disebelah Mita.
Wahyu hanya melontarkan senyum pada istrinya itu. “Lho kok kamu bisa sama
Mita?” tanyanya saat menyadari keberadaan Mita.
Mita kalangkabut. Ia melirik Wahyu
yang tersenyum tenang disebelahnya. Mita berdehem dan hendak mejawab. Tapi
Wahyu lebih dulu menyahut, “Tadi kebetulan aku liat Mita dijalan, yaudah aku
ajak bareng aja sekalian,” Mita tersenyum mengiyakan saat wanita bernama Renata
itu menatapnya penuh tanya.
“Dasar pembohong!” umpat Mita dalam
hati sambil mengulum senyum.
“Oh,” Renata hanya ber-oh saja. Mita
lega mendengarnya. Itu berarti wanita itu percaya pada ucapan suaminya, Wahyu.
“Oh iya gimana tugas kamu yang di luar kota kemarin itu, udah beres?” tanyanya
kemudian pada Wahyu.
“Saya permisi, Bu.” Mita pamit dan
meninggalkan suami istri itu.
“Udah clear semuanya,” Wahyu tersenyum sambil memandangi Mita yang
berjalan semakin jauh. “Siang ini aku jemput kamu ya,” Wahyu tersenyum pada
wanita dihadapannya. “Kita makan siang sama-sama,” tambahnya. Renata hanya
mengangguk mengiyakan. “See you,”
Wahyu mengecup pipi wanita itu kemudian meninggalkannya.
♥♥♥
“Apa?!” Dara hampir tersedak pasta
yang sedang disantapnya malam itu disebuah restaurant saat Mita menceritakan
semua hubungan konyolnya dengan Wahyu, suami boss-nya itu padanya. “Kamu
bercanda kan, Mit?” tanya Dara yang mulutnya dipenuhi saus pasta yang
disantapnya itu.
“Serius,” jawab Mita santai sambil
menyodorkan selembar tissue pada
sahabatnya itu. Sahabat yang sangat ia percaya sampai detik ini. Dara mengelap
mulutnya yang kotor itu. “Awas ya kalau kamu berani bilang sama siapa-siapa,
aku jamin kamu akan menderita!” ancam Mita dengan sorot mata tajam menatap
Dara.
“Sinting!” Dara ketus. “Aku pikir kamu
wanita baik-baik, ternyata...” Dara tersenyum menyeringai. “Dasar gila kamu!”
katanya.
“Siapa sih yang nggak tertarik dengan
pesona suami boss itu?” Mita tersenyum licik. “Aku rasa kamu juga pasti
tertarik kan sama Wahyu?” tanya Mita menggoda sahabatnya itu.
“Sedikit,” Dara terkekeh. “Tapi aku
nggak semurahan kamu!” Dara tertawa riang kemudian menyuapkan pasta kedalam
mulutnya. Mita hanya tersenyum tipis. “Kamu itu udah gila, nggak waras, dan
sinting!” ujar Dara kemudian sambil mengunyah pasta dimulutnya.
Mita mengaduk-aduk pastanya sambil
tersenyum kecut. Ucapan Dara semuanya memang benar. Ia wanita paling sinting
yang pernah ada didunia ini. Wanita yang rela menyerahkan seluruh hidupnya
untuk pria yang sama sekali bukan suaminya. Wanita yang rela menjadi simpanan
suami orang. Sebenarnya Mita mulai jijik dengan dirinya sendiri. Ia mulai bosan
dengan hidupnya yang hanya menjadi benalu untuk rumah tangga orang lain. Dan ia
mulai merasa menjadi wanita paling hina di dunia ini. Lantas apa bedanya ia
dengan.... Mita menarik napas panjang.
“Udah berapa kali?” tanya Dara serius.
“Apanya?” tanya Mita bingung.
“Kamu sama dia....” Dara mendesah
pelan. “Apa perlu aku jelasin?” Dara menyeringai.
“Hey itu urusanku, Ra!” Mita
membentaknya dengan nada menyeringai. “Kamu nggak perlu tahu,” Mita menatapnya
dengan tatapan menyeringai.
“Jahat,” Dara tertawa pelan. “Kamu
nggak takut kalau suatu hari nanti kamu...” Dara berdehem, dan ia yakin Mita
pasti mengerti arah pembicaraannya.
“Aku siap,” Mita meletakkan garpunya
lalu menyeruput orange jus yang dipesannya. “Aku nggak takut,” Mita tersenyum.
Dara menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya yang
super gila dan sinting itu. “Aku berani berbuat, jadi aku harus berani bertanggung
jawab, kan?” Mita tertawa pelan, seakan semuanya hanyalah hal sepele.
“Aku nggak mau ikut campur untuk
urusan ini,” Dara menatap Mita menyeringai. “Aku takut sama Renata,” Dara
berbisik dibarengi senyum kecil.
“Renata galak?” tanya Mita serius.
“Hah?” Dara melongo.
“Maksud aku Renata itu wanita yang
seperti apa?” koreksi Mita. “Kamu kan sekretarisnya, pasti tahu banget dong
Renata itu kayak apa?” Mita terkekeh.
“Dia...” Dara berpikir sejenak.
“Agresif mungkin,” Dara mengangkat bahunya. “Nggak cocok untuk jadi boss,
apalagi jadi istrinya Wahyu,” Dara tertawa seenaknya.
“Eh aku serius, Ra!” sentak Mita.
“Aku serius,” Dara berhenti tertawa
kemudian melanjutkan makannya.
“Tapi dia baik,” Mita tersenyum
menatap Dara. Dara menatapnya juga dengan tatapan bingung. “Buktinya dia mau
berbagi suaminya sama aku,” Mita tertawa nyaring hingga semua orang menoleh ke
arahnya dengan tatapan heran. Dara memelototinya. “Ya kan?” tanya Mita pelan.
“Dasar gila!” Dara melempar tissue
bekas ke arah Mita. Mita hanya membalasnya dengan tawa pelan. “Aku nggak ngerti
ya sama jalan pikiran kamu, otak kamu masih ada atau nggak sih?” Dara jengkel.
“Mana ada wanita yang rela bagi-bagi suami?” Dara makin sebal. Mita malah
tertawa geli. “Sakit jiwa kamu yah?” Dara menyeruput avocado jusnya.
“Aku bakal pergi, Ra.” Mita menatap
Dara yang sedang asik menikmati jus alpukatnya dengan serius. Dara membulatkan
matanya kemudian meletakkan gelas itu dimeja. “Gapapa, kan?” tanya Mita.
“Pergi kemana?” tanya Dara balik.
“Ya ke tempat yang nggak bisa kamu
temuin,” Mita tersenyum tipis. “Tapi nanti, aku nggak tahu kapan,” katanya.
“Jahat,” komentar Dara sebal. “Lalu
Wahyu?” tanyanya.
Mita mengangkat bahunya. “Nggak tahu,”
jawab Mita sekenanya.
“Makin sinting kamu yah,” Dara gemas
pada wanita berbibir tipis itu. Mita hanya tertawa riang.
♥♥♥
April....
Mita berlari kecil keluar dari kamar
mandi apartemennya pagi itu, tangannya menggenggam sebuah benda mungil. Ia
hampiri Dara yang tengah asik membaca majalah fashion di sofanya kala itu. “Aku
ada kabar gembira,” Mita merampas majalah dari tangan Dara lalu melemparnya ke
meja. Dara melongo bingung menatap sahabatnya itu.
“Nih,” Mita menyodorkan benda mungil
yang sejak tadi digenggamnya pada Dara. Dara menerimanya lalu menatapnya cukup
lama. Mita menunggu reaksi Dara. “Gimana?” tanyanya tak sabaran.
“Gila!” Dara menatap Mita yang terus
tersenyum itu. “Kamu hamil?” Dara shock
bukan main melihat hasil yang ditunjukkan test pack itu. Mita mengangguk dengan
wajah lugu. “Terus?” Dara mengerutkan dahinya.
“Ya terus kenapa?” tanya Mita bingung.
“Mit, kamu....” Dara mendesah pelan.
“Siapa yang bakal tanggung jawab?” tanya Dara gemas.
“Wahyu lah,” jawab Mita santai.
“Dia punya Renata,” Dara menatap
sahabatnya itu.
“Aku nggak peduli,” Mita menyambar gelas
berisi coklat hangat diatas meja itu. “Ini kan anaknya dia, dia harus tanggung
jawab,” Mita menyeruput coklat hangat itu sedikit.
“Sakit jiwa!” Dara tersenyum miris
menatap sahabatnya itu. “Kalau dia nggak mau nikahin kamu?” tanya Dara.
“Siapa bilang dia harus dia nikahin
aku?” tanya Mita balik. Dara makin tak mengerti dengan semua hal konyol ini.
“Aku cuma mau dia mengakui anak ini,” Mita menyalakan tivi dengan remote. “Itu
aja,” katanya. “Dia mau nikahin aku atau nggak aku nggak peduli, dia mau
ninggalin Renata demi aku atau nggak aku juga nggak mau tahu,” Mita menatap
layar televisi itu dengan pandangan kosong. “Aku cuma pengen dia tahu kalau
akan ada yang panggil dia dengan sebutan Ayah,” tambah Mita. Terdengar Dara
menghela napas. “Dan aku cuma pengen dia tahu kalau sebentar lagi dia akan
punya anak dari aku,” Mita tersenyum tipis.
“Mit,” Mita menoleh menatap Dara.
“Gimana sama omongan orang tentang kehamilan kamu nanti?” tanya Dara. Mita
hanya tersenyum cuek. “Mereka tahunya kamu nggak punya suami, kan?” timpalnya.
“Aku nggak mau kamu jadi bahan omongan orang diluar sana,” katanya. “Renata
pasti akan heran liat perut kamu yang tiba-tiba besar padahal Renata tahunya
kamu nggak punya suami,” Dara masih menatap sahabatnya itu. Dihati kecilnya ia
seperti ikut merasakan apa yang Mita rasakan. “Renata itu orang yang serba
ingin tahu, Mita.” Dara menekan setiap kalimatnya. “Dia pasti akan mencari
tahu,” tambahnya.
“Aku akan mengundurkan diri dari
kantor itu sebelum perut aku makin membesar,” Mita menatap Dara seraya mengukir
senyum tipis.
“Mengundurkan diri?” tanya Dara. Mita
mengangguk. “Dari mana kamu bisa dapat uang untuk biaya hidup kamu sama calon
anak kamu nanti?” celoteh Dara.
“Aku udah pikirin semuanya baik-baik,
Ra. Kamu nggak perlu khawatir, aku pasti akan baik-baik aja,” hibur Mita. Dara
menghela napas bingung. Mita memang wanita paling keras kepala yang pernah ia
temui didunia ini. “Aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bilang
semuanya sama Wahyu,” Mita tersenyum.
“Apapun yang bisa membuat kamu bahagia
aku dukung,” Dara merangkul wanita disebelahnya itu seraya mengukir senyum.
♥♥♥
“Yu,” Mita menatap pria yang sedang
asik menyantap nasi goreng buatannya di depannya itu. Malam itu Wahyu
mengunjungi apartemennya lagi. Setelah hampir dua minggu pria itu tak
mengunjunginya. Wahyu mengangkat wajahnya menatap wanita didepannya. “Sebentar
lagi akan ada yang panggil kamu Ayah,” Mita tersenyum manis.
Wahyu melongo, refleks ia menjatuhkan
sendok yang digenggamnya. Mita hanya tertawa geli melihat ekspresi wajah Wahyu.
“Maksud kamu, kamu...”
“Iya,” sela Mita cepat. Seketika raut
wajah Wahyu berubah. Ia meneguk air putihnya sedikit. “Kamu akan punya anak,”
Mita tersenyum riang.
“Sejak kapan?” tanya Wahyu.
“Dua minggu yang lalu,” jawab Mita.
“Lalu?” tanya Wahyu.
“Tenang aja yah, aku nggak akan
memaksa kamu untuk menikahiku,” Mita seakan bisa membaca pikiran pria
didepannya.
“Tapi...”
“Aku cuma mau kamu mengakui anak ini,”
sela Mita. “Cuma itu yang aku butuhkan,” katanya tersenyum tulus. “Supaya kalau
dia lahir nanti dia tahu siapa Ayahnya,” Mita tersenyum tipis.
“Baik,” sahut Wahyu pelan namun penuh
ketegasan. “Aku akan meninggalkan Renata untukmu,” katanya.
“Nggak perlu,” Mita meremas jemari
Wahyu. “Jangan pernah kamu tinggalin Renata untuk wanita lain termasuk aku,”
Mita menatap mata teduh itu. “Renata itu wanita yang akan melengkapimu, bukan
aku.” Mita tersenyum. “Jangan pernah meninggalkan dia,” Mita memdorong tangan
Wahyu pelan.
“Tapi aku...”
“Aku tahu,” Mita menghela napas
panjang. Ia sudah lelah dengan semua hal konyol yang menyakitinya ini. “Aku
juga mencintai kamu,” Mita menatap Wahyu sekali lagi. “Apa jika kita saling
mencintai itu berarti kita harus selalu bersama dan memiliki?” tanya Mita.
Wahyu menunduk. Jujur, ia mencintai
wanita didepannya itu melebihi apapun. Melebihi cintanya pada Renata. “Mita,”
desah Wahyu mengangkat wajahnya menatap Mita. “Kamu nggak ngerti, aku....”
“Kamu yang nggak ngerti,” Mita
tersenyum menyeringai. “Aku ini cuma seorang selingkuhan kamu aja, Yu. Nggak
akan pernah sebanding dengan posisi Renata yang statusnya adalah istri kamu
yang sah secara hukum maupun agama,” jelas Mita. “Sedangkan aku?” Mita tertawa
kecil.
Wahyu menatap Mita dengan tatapan
miris. Ia sangat menyayangi wanita itu. Jujur ia tak bisa jika harus membiarkan
Mita menanggung semuanya sendiri. Ia tak bisa jika harus membiarkan Mita
menopang beban dibahunya sendiri. Dari awal ia memang tak mau menjadikan Mita
sebagai wanita simpanannya. Tapi pada kenyataannya cinta tak pernah bisa ia
cegah. Ia begitu ingin memiliki wanita bermata bening itu seutuhnya. Meskipun itu
harus menyakiti Renata, istrinya. Dan ia juga harus menyakiti Mita.
Mita berdiri dari duduknya, mengangkat
piring dan gelas yang ada di meja makan itu dan hendak membawanya ke westafel.
Wahyu juga ikut berdiri saat Mita berdiri didepan westafel. Ia dekati wanita
itu. Ia peluk wanita yang sangat dicintainya itu dari belakang. “Aku nggak bisa
tanpa kamu,” bisik Wahyu, meletakkan kepalanya dibahu Mita. Mita menarik napas
panjang. “Mita,” desah Wahyu.
Mita memutar tubuhnya menghadap Wahyu.
“Tapi kamu harus bisa, demi Renata,” Mita mengukir sebuah senyum tipis.
“Buat kamu, bukan buat Renata.” Wahyu
menatap lekat mata Mita.
“Ok, buat aku.” Mita mengalah.
Kemudian ia peluk pria didepannya itu erat. Membiarkan hatinya bebas menari
indah ditempat semestinya. “Aku sayang kamu,” Wahyu mengecup pipi wanita yang
memeluknya itu dengan lembut.
“Mungkin ini terakhir kalinya kita
seperti ini, Yu. Aku harus pergi,” batin Mita dalam pelukan Wahyu. “Buat Renata
dan kebahagiaan kamu,” katanya lagi dalam hati.
♥♥♥
Wahyu membuka lembar berikutnya dari
buku bersampul merah yang sejak sejam lalu dibacanya itu. Buku itu buku harian
Mita yang diberikan Dara siang tadi saat ia bertemu dengan wanita itu
dibasement kantor Renata. Setelah hampir satu tahun Dara bungkam mengenai
keberadaan Mita padanya, akhirnya wanita bergingsul itu pun buka mulut mengenai
Mita. Dara bilang Mita baik-baik saja. Setidaknya itu sudah membuatnya tenang.
Dan Dara menyerahkan buku harian Mita padanya. Buku harian yang selama ini
menjadi tempat curahan hati wanita yang amat dicintainya itu sampai detik ini.
Buku yang seakan-akan menggambarkan kehidupan Mita dari awal ia bertemu dirinya
sampai akhirnya menjalin hubungan terlarang hingga membuat Mita hamil diluar
nikah. Hati Wahyu seperti dicabik sembilu saat Mita menulis semua kisah
hidupnya dibuku itu. Saat dimana Mita mulai jatuh cinta padanya, menjalin
hubungan konyol dengannya sampai akhirnya ia harus menanggung malu karena hamil
diluar nikah, dan hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan
semuanya. Apartemen, pekerjaan, dan sahabatnya. Dan saat paling memilukan pun
Mita tulis dibuku itu. Saat dimana ia harus berjuang sendiri merawat
kandungannya tanpa sosok suami, saat ia harus berjuang sendiri ketika
melahirkan tanpa dukungan siapa pun. Semua Mita tulis lengkap dibuku itu. Wahyu
tak menyangka begitu banyak yang Mita korbankan. Cinta dan harga dirinya.
Seandainya waktu bisa ia putar, ia ingin berada dimasa-masa tersulit dalam
hidup Mita. Masa-masa dimana wanita itu berusaha hidup tanpa merepotkan orang
lain. Membohongi semua orang tentang kehamilannya. Menutup diri dari siapa pun.
Dan menghindar dari hidup pria yang amat dicintainya, pria yang statusnya
adalah Ayah dari bayi yang dikandungnya. Berusaha menjadi wanita yang tegar
seperti karang meskipun ia tahu hati Mita telah hancur menjadi ribuan keping
karena dirinya. Tapi sayang, ia sama sekali tak bisa memutar waktu.
Januari....
Kamu dan Aku.
Kamu pernah bilang padaku bahwa kamu
mencintaiku. Dan aku percaya.
Kamu pernah bilang padaku bahwa kamu mau menerimaku
apa adanya. Dan aku percaya lagi. Terakhir kamu bilang padaku bahwa kamu
mencintai Renata, istrimu. Tapi kamu juga bilang bahwa kamu mencintaiku. Untuk
terakhir kalinya aku percaya lagi.
Aku
pernah bilang padamu bahwa aku juga mencintaimu. Kamu percaya.
Dan sekarang aku akan bilang aku mau kamu mencintai
Renata. Hanya Renata. Bukan Renata dan Aku. Karena aku hanya ingin kamu
mencintai Renata. Jangan pernah bilang bahwa kamu mencintaiku juga. Karena aku
tidak akan percaya. Tidak akan.
Renata adalah cinta sejatimu. Bukan aku.
Renata adalah wanita yang diciptakan dari tulang
rusukmu. Bukan aku.
Dan Renata adalah wanita yang akan melengkapimu. Bukan
aku.
Maka, cintailah Renata. Tapi jangan mencintai Renata
seperti kamu mencintaiku. Cintamu umtukku jelas berbeda dengan cintamu untuk Renata.
Cintai Renata seperti kamu mencintai sayap-sayapmu. Sayap yang akan selalu bisa
membawamu terbang kemana pun kamu mau.
Kamu
pernah bilang padaku bahwa kamu akan meninggalkan Renata untukku. Tidak perlu.
Karena pada hakikatnya cintamu adalah Renata. Renata-lah wanita yang Tuhan
sebut jodoh untukmu. Bukan aku. Karena aku hanyalah tempat persinggahan
sementaramu. Aku bukan wanita yang diciptakan Tuhan untuk melengkapimu. Maka
dari itu jangan pernah kamu bilang bahwa kamu mencintaiku.
Wahyu membuka halaman berikutnya.
Semua tulisan tangan Mita seakan membunuhnya pelan-pelan. Tulisan yang seakan
menyalahkannya. Tulisan yang seakan menghancurkan hatinya. Kenapa ia sampai
begitu bodohnya mau menuruti semua keinginan Mita. Keinginan Mita yang sama
sekali tak mau ia nikahi hanya karena ia takut menyakiti Renata. Wahyu muak
dengan semua keadaan yang menyiksa batinnya ini. Ia lelah terus-menerus
bersikap baik-baik saja didepan Renata. Ia muak. Ia ingin berlari dari
tempatnya. Tempat yang hanya akan terus menyiksanya sampai ia mati. Kenapa Mita
harus pergi dari hidupnya? Kenapa Mita seakan tak mau membagi semua rasa sakit
itu padanya. Kenapa ia hanya ingin menelan semua rasa pahit itu sendirian tanpa
dirinya? Dan kenapa ia selalu berusaha menjadikan dirinya kuat dan tangguh
seperti sebuah karang.
Masih
dibulan Januari...
Ini halaman terakhir dari buku ini.
Halaman yang akan menjadi tulisan terakhirku untuk buku ini. Kamu tidak akan
menemukan apapun lagi setelah ini. Dihalaman terakhir ini aku hanya akan
bercerita tentang diriku dan anak kita. Dia sudah lahir. Dia laki-laki dan
wajahnya sangat mirip denganmu. Aku janji kalau saatnya sudah tiba, aku akan
mempertemukan kamu dengannya.
Setelah kamu membaca buku ini dan
menutupnya, kamu tidak boleh lagi mengingatku dalam hari-harimu. Anggap saja
kamu tidak pernah mengenal siapa Mita. Dan kamu tidak perlu tahu dimana aku
berada sekarang, bagaimana keadaanku, dan bagaimana keadaan anak kita. Kamu cukup
tahu bahwa aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Bersama anak kita
tentunya.
Setiap kisah memiliki titik
akhirnya. Dan inilah titik akhir dari kisahku. Kisah kita. Kisah yang akan
menjadi kisah termanis dan terbodoh dalam hidupku. Aku mau kamu mengetahui satu
hal. Dari sini, dari tempatku ini aku masih sangat mencintaimu. Meskipun mata
kita tidak saling menatap lagi seperti dulu. Tapi percayalah, nama kamu tetap
menjadi yang terbaik dalam hatiku. Aku tidak tahu kapan kamu akan membaca
tulisan dalam buku ini, tapi yang jelas, Tuhan pasti punya cara untuk
memberitahumu bahwa aku baik-baik saja meskipun tanpa kamu. Dan sama sekali
tidak ada rasa menyesal dalam diriku sempat merebutmu dari Renata. Aku bahagia.
Mungkin itulah yang disebut dengan dosa terindah yang pernah aku lakukan
bersama kamu.
-Mita-
Wahyu mengusap wajahnya usai membaca tulisan terakhir
Mita dibuku itu. Kalau saja ia tahu dimana Mita berada sekarang, ia akan
langsung menemui wanita itu dan menghapus semua luka yang sempat ia torehkan
dihati Mita. Ia ingin memeluk Mita detik ini juga. Tak peduli pada Renata atau
siapapun. Ia hanya ingin meringankan beban yang Mita tanggung. Ia ingin ikut
merasakan apa yang Mita rasakan. Dan ia ingin melihat senyum menawan itu lagi.
Tapi ia sama sekali tak tahu dimana Mita. Bagaimana keadaannya, bagaimana ia mencukupi
semua kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan wanita itu sama sekali tak mengizinkan
dirinya tahu dimana ia berada. Terlalu dalamkah luka yang telah ia torehkan
dihati Mita sampai-sampai tak ada celah sedikitpun lagi untuknya?
Wahyu tersadar dari lamunannya saat
selembar foto terjatuh dari buku yang digenggamnya. Ia ambil foto yang ada
dilantai itu. Foto seorang wanita yang tersenyum dengan bibir pucatnya sambil
menggendong seorang bayi mungil yang masih sangat merah. Mata itu penuh dengan
kebahagiaan. Senyum itu seakan menjelaskan betapa wanita itu sangat bahagia.
Bahagia karena telah berhasil melahirkan seorang bayi mungil yang ada
digendongannya. Wahyu tersenyum melihat foto Mita itu. Dan ia yakin bayi yang
digendong Mita adalah putranya. Sekali lagi ia tersenyum.
Wahyu membalik foto itu. Dibelakang
foto itu ada sebuah tulisan tangan. Ia yakin itu tulisan tangan Mita.
Hal terindah yang diberikan Tuhan setelah
Wahyu.
“I just wanna say ‘Hello’ for My Daddy!”
–Rey-
“And i just wanna say that ‘I’m still love
you’...” –Mita-
Created By: @Devymrz
