Sekali Saja



       Wahyu menatap seorang wanita berdress putih selutut dengan paduan sepatu cats berwarna senada dengan dressnya yang duduk didepan piano klasik berwarna putih diatas stage mini disebuah cafe malam itu. Ia tampak anggun malam itu dengan balutan dress putihnya. Mita, wanita yang akan ia nikahi sebentar lagi, wanita yang beberapa bulan lalu ia putuskan sebagai calon istrinya. Perlahan jemari Mita mulai menari indah diatas deretan tuts piano klasik itu. Wahyu menahan nafasnya saat Mita menatapnya sambil tersenyum.
      Mita mulai memainkan piano itu. “Aku cinta mati padamu, tak kan sanggup aku tanpamu... Bahagiamu itu bahagiaku... Dan setiap air matamu itulah juga kesedihanku...” Mita diam sebentar dengan jemarinya yang tetap terus menari diatas tuts piano itu. “Aku cinta mati padamu... Jangan pernah meragukanku...” Mita melirik Wahyu yang duduk tepat didepan posisinya sekarang bebarengan dengan permainan biola yang menyempurnakan penampilannya malam itu. “Terlalu dalam cintaku ini... Mungkin aku bisa mati bila harus kehilangan dirimu...” suara Mita mulai meninggi saat membawakan bait itu. Wahyu menatap wanita itu tanpa berkedip. Mita menarik napasnya seraya tersenyum. “Bukaaaan untuk sembarang hati aku katakan ini... Sungguh aku cinta kamu... Bukaaaan untuk sembarang hati hingga nafas terhenti aku rela berlelah untukmu....” Mita membawakan bait itu dengan sepenuh hatinya. Seperti sedang berteriak diatas bukit yang tinggi, berteriak bebas tanpa ada yang melarangnya. Ia memang mencintai Wahyu, calon suaminya itu.
      Wahyu membenarkan posisi duduknya, matanya tak bisa beralih dari sosok wanita yang sudah mencuri hatinya itu. “Aku cinta mati padamu...” Mita menatapnya dengan seulas senyum. “Jangan pernah meragukanku... Terlalu dalam cintaku ini... Mungkin aku bisa mati bila harus kehilangan dirimu...” Wahyu mengulum senyum. “Oooohhh... Bukan untuk sembarang hati aku katakan ini, sungguh aku cinta kamu... Bukan untuk sembarang hati hingga nafas terhenti aku rela berlelaaaah...” Mita menarik nafasnya dan berhenti memainkan pianonya. “Untukmuuuu...” alunan melodi mengakhiri persembahan itu. Dan tepuk tangan pengunjung cafe itu terdengar sangat meriah.
      Wahyu berdiri dan memberi tepuk tangannya untuk persembahan Mita malam itu. Mita tersenyum kemudian berdiri, ia menyapu pandangannya ke penjuru cafe itu lalu membungkukkan tubuhnya kemudian turun dari stage mini itu. Ia lega sekarang. Semua pengunjung cafe itu pun kembali pada obrolan mereka masing-masing. Mita langsung menghamburkan tubuhnya kepelukan Wahyu saat mendapati pria itu berdiri disebelah stage menunggunya.
      “You look so beautiful,” Wahyu memuji wanita yang memeluknya seraya mengusap rambutnya yang mulai memanjang itu.
Mita melepaskan pelukannya dari Wahyu, kemudian ia tatap pria didepannya itu, pria yang terlihat begitu charming dengan jaket cotton-nya malam itu. “Are you serious, Sir?” tanya Mita menahan senyum.
“Ya, I’m serious,” Wahyu mengecup kening wanita itu. Mita manggut-manggut saja sambil terus tersenyum. Sampai saat ini ia selalu saja gugup jika sedang seperti ini bersama Wahyu. Wahyu menggandeng tangan Mita dan membawanya pergi dari cafe itu.
“Kemana?” tanya Mita yang dress-nya tertiup angin malam yang berhembus lembut malam itu saat mereka tiba diparkiran.
“Pulang,” jawab Wahyu yang rambutnya agak berantakkan karena tertiup angin.
“Nanti aja pulangnya, kita jalan-jalan dulu yah?” pinta Mita manja. Wahyu menatapnya heran. “Please, ayolaaaah, Yu.” Mita menarik-narik jaket Wahyu. “Ya?” rengeknya.
“Ok,” Wahyu menghela napas pendek seraya membukakan pintu mobil itu untuk Mita. Mita tersenyum pada Wahyu. “Silakan, Nona.” katanya mempersilakan Mita masuk bak seorang princess. Mita tertawa geli kemudian beringsut masuk kedalam mobil itu tak lama diikuti Wahyu.
***
Mita duduk bersila seorang diri di tepi pantai senja itu, pantai favoritnya dan Wahyu. Pantai yang mempertemukannya dengan Wahyu. Pantai yang menjadi saksi kisah cintanya dengan Wahyu. Dan pantai yang seakan selalu menyatukannya dengan Wahyu sampai sekarang. Ia selalu bahagia setiap kali sedang duduk ditepi pantai itu. Perasaannya seakan bebas menari indah dibatas cakrawala itu bersama dengan matahari senja.
Mita memejamkan matanya, merasakan angin yang tengah membelainya lembut. Angin senja. Dan saat ia membuka matanya lagi, seseorang duduk disebelahnya dengan senyum yang tak asing baginya.
“Hai,” katanya tanpa menoleh kearah Mita.
“Kamu,” sahut Mita seray mengulum senyum. Pria disebelahnya menoleh menatapnya. “Sejak kapan ada disini?” tanya Mita.
“Baru aja,” katanya seraya tersenyum. “Suntuk nih,” tambahnya.
“Suntuk kenapa?” tanya Mita.
Pria itu mengangkat bahunya seraya tersenyum kecut. Mita mengernyitkan dahinya bingung. Bobby, pria asing yang beberapa bulan terakhir berhasil masuk kedalam hidupnya. Pria yang hadir dengan sejuta kisah yang tak ia mengerti sampai detik ini. Yang Mita tahu, Bobby adalah pria yang menyenangkan, berselera humor tinggi, dan yang pasti misterius. Entah sejak kapan ia dan Bobby menjadi akrab seperti ini. Mereka sering terlibat dalam obrolan hangat. Obrolan yang menurut Mita terkadang tak harus terjadi.
“Eh suntuk kenapa?” tanya Mita seraya menyenggol lengan pria itu pelan. Pria itu tersenyum. “Mau cerita?” tanya Mita. Pria itu menatapnya. “Siap dengerin kok,” Mita terkekeh riang.
“Sekali-sekali kamu kek yang cerita, jangan aku melulu yang cerita,” katanya menyeringai.
“Aku cerita?” tanya Mita. Bobby mengangguk. “Apa yang harus aku ceritain?” tanya Mita.
“Apa aja, tentang hidup kamu misalnya,” jawab pria berhidung bangir itu. Mita mengerutkan dahinya. “Aku siap dengerin,” katanya terkekeh.
“Lho yang suntuk kan kamu, berarti ada yang mau kamu ceritain dong, yaudah kamu aja yang cerita,” sahut Mita menyeringai. Bobby menghela napas jengkel. “Aku dengerin,” tambahnya.
“Nggak mau ah,” sahut Bobby.
“Yaudah,” Mita memandang lurus ke depan.
Bobby menatap wanita disebelahnya. Wanita yang ia pikir telah mencuri perhatiannya dengan sikapnya yang menyenangkan. Wanita yang seakan membawanya keluar dari segala hal yang menikamnya dari berbagai penjuru. Wanita yang berani mengajarkannya bermimpi indah. Dan wanita yang seakan mengobati lukanya. Luka yang tak pernah bisa ia obati. Luka yang seakan memintanya tetap diam ditempatnya. Luka yang seakan terus menyakitinya terus dan terus. Setiap tawa yang ia pecah bersama Mita begitu berarti di jiwanya yang kosong. Entah sejak kapan ia mulai meletakkan Mita dihatinya.
“Kamu beneran mau denger cerita aku?” tanya Bobby pada Mita.
Mita menoleh menatapnya. “Ya kalau kamu mau cerita ke aku, aku pasti dengerin,” jawabnya. Rasa penasarannya terhadap pria itu semakin membuat perasaannya tak bisa tenang.
“Jadi pacar aku dulu,” katanya seraya terbahak. Mita menatap pria disebelahnya. Dibalik tawa itu ada kesedihan. “Nanti kamu pasti tahu semua tentang aku,” tambahnya dengan suara riang. Mita meninju pelan lengan pria disebelahnya itu seraya mengulum senyum. “Hahaha...” Bobby tertawa riang.
Mita mengulum senyum seraya menatap lurus ke depan. Bobby memang pria yang menyenangkan. Tapi dibalik sikap menyenangkan itu Mita merasa banyak hal yang pria itu simpan. Pria itu menutup serapat mungkin agar orang lain tak mengetahui kisah hidupnya. Dan Mita adalah orang yang memiliki rasa penasaran yang amat besar atas hal itu. Dan tanpa Mita sadar, Bobby telah menelusup masuk kedalam hatinya.
***
Wahyu menatap dua orang yang tengah asik tertawa riang dibawah langit senja kala itu dari kejauhan. Terlihat begitu menyenangkan. Mita, calon istrinya tengah tertawa disana, ditepi pantai itu bersama pria yang sama sekali tak ia kenal, tapi begitu dekat dengan Mita. Pantas saja Mita tak mengangkat teleponnya, ternyata wanita itu tengah sibuk dengan pria itu. Wahyu melepas kacamata hitamnya, membiarkan angin senja itu berhembus membelai wajahnya. Beberapa bulan terakhir ini, Mita memang lebih sering datang ke pantai ini tanpa dirinya. Ternyata memang ada yang wanita itu temui. Tapi kenapa Mita tak pernah cerita apapun padanya mengenai pria itu? Pikir Wahyu. Ini kesekian kalinya Wahyu memergoki Mita tengah asik dengan pria lain, dan dengan pria yang sama. Dipantai itu. Dan tanpa terasa hatinya mulai terluka melihat wanita yang begitu ia cintai tertawa dengan pria lain.
***
      Malam ini ada acara makan malam bersama antara keluarga Mita dan Wahyu disebuah restaurant yang tak jauh dari pantai favorit mereka. Sebenarnya bukan acara apa-apa, hanya ingin mempererat hubungan dari kedua pihak keluarga dengan sesering mungkin mengadakan makan malam bersama jika sedang ada waktu luang.
      Mita berjalan berdampingan dengan ibunya saat memasuki restaurant itu, ayahnya berjalan didepan. Mita agak kurang enak badan malam ini, maka dari itu tak ada penampilan khusus yang akan ia suguhkan pada Wahyu dan keluarganya malam ini.
      “Malam Oom, Tante...” Wahyu menyapa calon mertuanya itu dengan ramah. Wahyu memang tak pernah mengecewakan untuk hal beramah tamah. Orangtua Mita hanya tersenyum santai. Wahyu mempersilakan mereka duduk. Kemudian orangtua Mita larut dalam obrolan dengan orangtuanya.
      “Kamu cantik banget malem ini,” Wahyu berbisik pada Mita yang duduk disebelahnya.
      “Bohong ya?” tanya Mita dengan suara berbisik juga.
      “Aku serius,” jawab Wahyu seraya tersenyum santai.
      “Aku nggak dandan spesial buat kamu lho malem ini,” aku Mita seraya menatap Wahyu yang tampak charming dengan balutan jaket berbahan cotton belang-belangnya itu.
      “Tetep cantik,” Wahyu menyuapkan sesendok makanan pesanannya kedalam mulutnya. Mita manggut-manggut saja sambil mengulum senyum.
***
      Mita dan Wahyu duduk berdampingan ditepi pantai favorit mereka malam itu usai acara makan malam keluarga mereka itu selesai. Malam itu terlihat sangat menawan dengan taburan bintang yang memenuhi angkasa. Mita memikirkan ucapan Bobby sore tadi yang memintanya untuk menjadi pacarnya, Mita tahu itu bukan sebuah gurauan meskipun Bobby mengucapkannya dibarengi dengan tawa. Ucapan itu seakan memang sengaja dilontarkan Bobby padanya. Tapi Mita tak mengerti mengapa Bobby mengucapkan hal itu padanya. Senyuman itu senyuman penuh luka. Mita bisa merasakan itu semua. Entah sejak kapan Mita mulai merasa Bobby telah ikut mengisi hatinya. Membawanya keluar dari dunianya. Bobby membuatnya memiliki rasa penasaran yang cukup besar pada pria itu.
      “Mit,” lamunan Mita buyar saat Wahyu menyentuh tangannya dengan lembut. Mita menoleh dan menatap pria disebelahnya. Bahkan ia lupa kalau ada sudah ada Wahyu disampingnya saat ini, ia lupa bahwa Wahyu adalah pelabuhan terakhir yang ia pilih. Dan ia lupa kalau Wahyu adalah orang yang amat ia cintai. Tapi kenapa ia berani-beraninya mengingat Bobby saat sedang bersama Wahyu. “Aku boleh tanya satu hal sama kamu?” tanya Wahyu.
      Mita tersenyum manis. “Boleh,” jawab Mita. Mendadak perasaannya ketar-ketir.
      “Kamu udah yakin mau jadi istri aku?” tanya Wahyu seraya menatap lekat mata bening wanita disebelahnya itu. Mita menelan ludah getir. Mendadak jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya. “Maaf aku tanya soal ini lagi, aku cuma mau...”
      “Tentu aja aku yakin, Yu.” Mita mengukir senyum. “Yakin banget,” Mita menatap mata teduh pria disebelahnya itu. “Seperti halnya kamu yang selalu yakin mau jadi suami aku,” Mita menatap deburan ombak yang menghantam karang besar itu.
      Wahyu ikut menatap deburan ombak itu. “Tapi kenapa ya aku ngerasa ada yang kamu tutupin dari aku,” gumam Wahyu.
      Mita menoleh menatap Wahyu. “Maksud kamu?” tanya Mita.
      “Sore tadi kamu ke pantai ini kan?” tanya Wahyu. Mita tak menyahut dan tetap menatap Wahyu yang pandangannya lurus kedepan. “Siapa Bobby?” tanya Wahyu seraya menoleh menatap Mita.
      Sempurna. Mita ingin menghilang sekarang juga dari hadapan Wahyu, dari tatapan yang seakan menghancurkannya itu. Meluluh lantakkan hatinya seperti deburan ombak yang menghantam karang. Darimana Wahyu tahu mengenai Bobby? Ia tak pernah sekalipun menyinggung mengenai Bobby, pria yang ia kenal beberapa bulan lalu kepada Wahyu.
      “Sore tadi aku liat kamu ngobrol berdua sama dia disini,” Wahyu bicara lagi dengan senyum yang membuat hatinya terluka. Mita membasahi bibirnya tanpa berniat menjawab semua pertanyaan Wahyu. “Kamu nggak pernah cerita apapun soal dia ke aku,” tambah Wahyu.
      Mita bingung, ia tak mengerti dengan perasaannya sekarang. Ia tak tahu mengapa bayangan Bobby terus mengganggunya. Ia tak mengerti mengapa ia begitu ingin memiliki hati pria itu. Dan ia sama sekali tak mengerti perasaan apa yang tengah tumbuh dihatinya ini? Tapi ia sama sekali tak bisa melepaskan Wahyu. Ia tak bisa membiarkan hatinya tanpa Wahyu. Wahyu yang menyempurnakannya. Tapi di lain sisi, ia merasa Bobby juga amat berarti.
“Yu,” Mita menatap Wahyu. Wahyu menoleh dan membalas tatapan Mita. “Boleh aku minta satu hal sama kamu sebelum kita menikah?” tanya Mita, ia menahan napasnya. Ia memang harus jujur pada Wahyu tentang perasaannya.
      Wahyu menatap wanita bermata bening itu, kenapa ia merasa Mita amat jauh dimatanya? Kenapa Mita seakan tak bisa ia gapai lagi? Dan kenapa Mita seakan menjadi hal yang amat mustahil untuk ia sentuh? “Apa?” tanya Wahyu memaksakan seulas senyum tipis.
      Mita menarik napasnya dalam-dalam, ada beban yang ingin ia lepaskan sekarang juga. Meskipun mungkin itu harus menyakiti Wahyu. Mita berdiri dari duduknya, menatap ombak yang mulai tenang didepannya, berbanding terbalik dengan hatinya sekarang. Dress biru tosca-nya tertiup angin. Rambut Mita yang dibiarkan tergerai itu tertiup angin kala itu. “Aku sayang sama Bobby,” Mita seakan tengah menghancurkan hati dan perasaan pria yang duduk disebelahnya. Mita tak berani menoleh ke arah Wahyu. Terdengar Wahyu menghela napas panjang. “Aku nggak tahu sejak kapan perasaan ini hadir dihati aku,” Mita meremas jemarinya sendiri. “Aku selalu ngerasa nyaman setiap ada disebelah dia,” Mita benar-benar mengakui perasaanya.
      Wahyu berdiri dari duduknya kemudian berdehem. Ia tatap lautan lepas didepannya. Ia tak menyangka dengan pengakuan yang Mita berikan padanya sekarang. Wanita yang amat ia cintai menyayangi orang lain selain dirinya. Ia seperti mendapat sebuah pukulan telak dibahunya. Sakit bukan main. “Jadi?”
 tanya Wahyu pelan. Ia bingung harus menjawab apa untuk menanggapi semua pengakuan Mita.
      “Aku pengen selalu ada disamping Bobby,” jawab Mita tanpa menoleh. Wahyu menatapnya. “Tapi aku juga nggak mau melepaskan kamu, aku nggak mau kamu ninggalin aku,” Mita menoleh dan membalas tatapan Wahyu. “Aku cuma mau kamu izinin aku untuk terus ada disamping Bobby tanpa harus kamu melepaskan aku,” Mita mendekati Wahyu, berdiri berhadapan dengan Wahyu dengan jarak yang cukup dekat. Ia bisa merasakan apa yang Wahyu rasakan. “Aku nggak tahu sampai kapan perasaan aku ke dia ini bisa bertahan,” Mita menatap lekat mata Wahyu. “Yang aku mau sekarang, aku hanya ingin ada disamping Bobby,” Mita masih menatap mata teduh itu.
      Wahyu belum mau bicara. Ia tatap wanita yang amat dekat dihadapnnya sekarang itu. Mita juga menatapnya. Mata bening itu selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari pada wanita berambut hitam legam itu. Baginya, membiarkan Mita bersama orang lain adalah satu hal paling bodoh yang ia lakukan. “Aku nggak bisa melihat kamu sama yang lain,” Wahyu bicara juga. “Kamu itu diciptakan cuma buatku, Mita.” tambahnya.
      “Yu, aku tahu,” Mita menatap Wahyu, meminta pengertian dari pria itu. “Aku tahu,” katanya lagi. Wahyu mengatupkan rahangnya. “Aku nggak akan pernah melepaskan kamu,” ujar Mita. Wahyu memalingkan wajahnya. “Biarin aku mencintai Bobby untuk saat ini,” Wahyu menatap Mita lagi dengan dahi berkerut. Mita tahu perasaan Wahyu sekarang.
      “Mita, aku nggak bisa, aku...”
      Mita mengecup bibir Wahyu dengan lembut. Ia mencintai Wahyu tapi ia juga menyayangi Bobby. Wahyu mengatupkan rahangnya. Ia tatap wanita didepannya yang juga menatapnya kemudian menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Ia dekap wanita itu dengan erat. Demi apapun didunia ini ia tak bisa menerima pengakuan Mita. Demi apapun didunia ini ia terluka. Sangat terluka.
      “Aku sayang kamu,” bisik Mita. Wahyu semakin mempererat dekapannya. “Tapi untuk sekali ini aja biarin aku sama yang lain,” tambah Mita. Wahyu mengecup pipinya lembut. “Sekali ini aja, Yu.” bisik Mita. Wahyu tak menyahut, ia hanya ingin membiarkan perasaannya ini menari indah ditempat semestinya. Dihati Mita.
      “Mita!” seseorang berseru tak jauh dari tempat mereka berdiri.
      Wahyu melepaskan pelukannya dari Mita. Mita mendapati Bobby berjalan ke arahnya dengan seulas senyum, seakan Wahyu tak ada disana kala itu. Mita menatap Wahyu yang berdiri disebelahnya tanpa mengucapkan apapun. Mita meremas jemari Wahyu. Mita menatap Bobby seraya tersenyum.
      “Aku mau ngajak kamu ke sesuatu tempat,” kata Bobby dengan riang.
      “Kemana?” tanya Mita dibarengi seulas senyum.
      “Udah, nanti juga tahu,” jawabnya. Mita tersenyum lagi. “Yuk!” Bobby menyambar tangan kanan Mita.
      Wahyu mengendurkan genggamannya pada Mita. Mungkin inilah yang dinamakan ujian dari Tuhan untuk hubungannya dengan Mita. Tuhan menghadirkan perasaan itu dihati Mita. Perasaan mencintai yang Mita tanam untuk Bobby saat ini. Mita tetap miliknya. Sampai kapanpun miliknya. Tak ada yang bisa mengambil Mita darinya. Kecuali maut.
      “Yu,”Mita menatap Wahyu. Ia melihat luka yang amat dalam dimata pria yang amat dicintainya itu.
      Wahyu melontarkan senyum khasnya. Senyum yang Mita sukai. Senyum yang seakan mampu menutupi luka yang akan melebar itu. Senyum yang seakan menyampaikan bahwa Wahyu rela ia pergi bersama Bobby. Menuntaskan rasa penasarannya pada Bobby. Berjalan disamping Bobby untuk saat ini. Dan membiarkan hatinya menari indah bersama Bobby. Meskipun harus melukai Wahyu. Karena pada hakikatnya hanya Wahyu yang Mita cintai.
      “I Love You...” ucap Mita tanpa suara seraya meremas jemari Wahyu se-erat mungkin sebelum benar-benar melepaskannya.
      “Aku tahu,” balas Wahyu yang juga tanpa suara lalu kemudian melepaskan tangan Mita yang sedari tadi digenggamnya. Ia janji, ia akan menggenggam jemari lembut itu lagi. Jemari yang selalu mampu menghapus segalanya.
      Mita tersenyum saat Wahyu tersenyum padanya. Kemudian ia tinggalkan Wahyu sendirian ditempatnya dengan seperuh napas yang telah ia bawa pergi bersama Bobby. Wahyu hidupnya, sampai kapanpun hidupnya. Karena ia mencintai Wahyu melebihi cintanya pada Bobby. Wahyu dan Tuhan tahu itu.

Created By: @DevyMrz - @DeviMrz