“Woy, ngapain loe?” tanya seseorang seraya menepuk bahunya pelan, Amanda.
“Ssst, berisik loe! Gua lagi nyari ide buat tema pertunjukan teater dua minggu lagi” jelas Wahyu berbisik.
“Oh gitu” ujar Amanda manggut-manggut.
“Loe ngapain?” tanya Wahyu seraya berjalan meninggalkan rak buku itu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya, lalu duduk disalah satu rak-rak buku.
“Cari buku biologi, buat tugas” jawab Amanda pelan seraya duduk disebelah Wahyu yang hanya manggut-manggut mengerti.
“Kemaren, loe nganterin Mita pulang, ya?” tanya Amanda pelan.
“Iya, kenapa?” Wahyu balik tanya.
“Loe nggak marah sama kelakuan dia yang keterlaluan itu?” tanya Amanda.
“Marah? Buat apa, gua tau kok Mita bukan tipe orang yang rela ninggalin sekolah demi ikut tugas” jelas Wahyu santai.
“Loe yakin banget, kalau seminggu dia nggak ke Bandung, menurut loe dia dimana?!” sanggah Amanda ketus.
“Nggak tau” jawab Wahyu enteng.
Amanda membuang napas kesal, lalu membuka buku yang dicarinya, buku biologi.
“Gua mau loe sma Dio maafin Mita” Wahyu memulai lagi.
“Apa?!” tanya Amanda, kali ini suaranya benar-benar keras.
“Hei, kalian berdua, keluar!” perintah penjaga perpustakaan pada Wahyu dan Amanda yang telah membuat keributan diperpustakaan itu.
“Ah, loe si” gerutu Wahyu jengkel seraya menyenggol siku Amanda.
Wahyu dan Amanda keluar dari perpustakaan itu, kemudian duduk dikursi panjang yang ada didepan perpustakaan itu.
“Loe mau gua maafin Mita?” Amanda bertanya soal ucapan Wahyu tadi.
“Iya, mau kan?” jawab Wahyu.
“Nggak semudah itu, Mita udah keterlaluan, Yu” sungut Amanda.
“Tapi, gua yakin bukan itu alasan Mita menghilang selama seminggu” elak Wahyu.
“Apa si yang bikin loe yakin, kalau bukan itu alasan Mita menghilang selama seminggu?” tanya Amanda.
“Loe lupa? Gua sama Mita udah temenan sejak kecil, jadi otomatis gua tau sifat Mita gimana. Dan Mita nggak mungkin ninggalin sekolah demi hal kurang penting itu!” jelas Wahyu seraya menutup bukunya.
Amanda tak berkomentar apapun, ucapan Wahyu memang ada benarnya.
“Gua yakin, Dio juga pasti mau maafin Mita” lanjut Wahyu yakin.
“Yu, Dio kalau udah terlanjur marah, dia bakal susah buat maafin, sama sahabatnya sendiri pun!” tukas gadis berambut sebahu dan berwajah imut dan manis itu.
Wahyu terdiam, ia paham semua karakter sahabatnya, tapi ia paling tau karakter Mita, sahabat kecilnya.
“Battle!” celetuk Amanda.
“Maksud loe?” tanya Wahyu.
“Ya, kita berempat tanding basket, loe sama Mita, gua sama Dio, gimana?” jelas Amanda.
“Terus?”
“Kalau loe berdua menang, gua sama Dio akan maafin Mita, tapi kalo gua sama Dio yang menang, gua sama Dio nggak akan maafin Mita” lanjut Amanda.
Wahyu memandangi Amanda, sahabatnya yang satu ini memang terkadang gila!
“Deal?” tanya Amanda.
“Ok, deal!” sahut Wahyu.
“Ok, gua cabut dulu, mau kasih tau Din dikelas” pamit Amanda seraya berdiri dari duduknya.
“Hey, kita tanding kapan?” tanya Wahyu.
“Hari ini, pas pulang sekolah!” seru Amanda kemudian berlalu pergi.
***
Four Years Ago...
“Wahyu beneran harus pindah?” tanya seorang gadis kecil berambut bondol dan hitam lurus itu kepada sahabatnya saat mereka sedang menikmati ice cream favorit mereka dibangku taman kompleks.
“Iya, Papa Aku pindah tugas didaerah lain, lagipula Papa udah beli rumah baru disana” jawab seorang bocah lelaki berhidung mancung dan berwajah tampan itu, siapa lagi kalau bukan Wahyu.
“Tapi, sekolahnya nggak pindah, kan?” tanya gadis kecil itu lagi.
“Pindah, jadi selama SMP kita nggak bisa sama-sama. Papa udah daftarin Aku disekolah lain” jelasnya.
“Tapi, gua yakin bukan itu alasan Mita menghilang selama seminggu” elak Wahyu.
“Apa si yang bikin loe yakin, kalau bukan itu alasan Mita menghilang selama seminggu?” tanya Amanda.
“Loe lupa? Gua sama Mita udah temenan sejak kecil, jadi otomatis gua tau sifat Mita gimana. Dan Mita nggak mungkin ninggalin sekolah demi hal kurang penting itu!” jelas Wahyu seraya menutup bukunya.
Amanda tak berkomentar apapun, ucapan Wahyu memang ada benarnya.
“Gua yakin, Dio juga pasti mau maafin Mita” lanjut Wahyu yakin.
“Yu, Dio kalau udah terlanjur marah, dia bakal susah buat maafin, sama sahabatnya sendiri pun!” tukas gadis berambut sebahu dan berwajah imut dan manis itu.
Wahyu terdiam, ia paham semua karakter sahabatnya, tapi ia paling tau karakter Mita, sahabat kecilnya.
“Battle!” celetuk Amanda.
“Maksud loe?” tanya Wahyu.
“Ya, kita berempat tanding basket, loe sama Mita, gua sama Dio, gimana?” jelas Amanda.
“Terus?”
“Kalau loe berdua menang, gua sama Dio akan maafin Mita, tapi kalo gua sama Dio yang menang, gua sama Dio nggak akan maafin Mita” lanjut Amanda.
Wahyu memandangi Amanda, sahabatnya yang satu ini memang terkadang gila!
“Deal?” tanya Amanda.
“Ok, deal!” sahut Wahyu.
“Ok, gua cabut dulu, mau kasih tau Din dikelas” pamit Amanda seraya berdiri dari duduknya.
“Hey, kita tanding kapan?” tanya Wahyu.
“Hari ini, pas pulang sekolah!” seru Amanda kemudian berlalu pergi.
***
Four Years Ago...
“Wahyu beneran harus pindah?” tanya seorang gadis kecil berambut bondol dan hitam lurus itu kepada sahabatnya saat mereka sedang menikmati ice cream favorit mereka dibangku taman kompleks.
“Iya, Papa Aku pindah tugas didaerah lain, lagipula Papa udah beli rumah baru disana” jawab seorang bocah lelaki berhidung mancung dan berwajah tampan itu, siapa lagi kalau bukan Wahyu.
“Tapi, sekolahnya nggak pindah, kan?” tanya gadis kecil itu lagi.
“Pindah, jadi selama SMP kita nggak bisa sama-sama. Papa udah daftarin Aku disekolah lain” jelasnya.
“Yaaah...” desah gadis kecil itu.
“Kamu tenang aja, kita masih bisa sering ketemu, kok” ujar Wahyu kecil.
“Oh ya? Caranya?” tanya si polos Mita.
“Kalau liburan sekolah, Ak pasti ajak Papa sama Mama main kerumah kamu” jawab Wahyu sambil menjilati ice cream rasa coklat favoritnya.
“Iya, kamu bener juga” komentar Mita seraya tersenyum.
“Nah, gitu dong, harus tetep senyum” balas Wahyu dibarengi cengiran.
Mita tersenyum lagi, kemudian berdiri dari duduknya.
“Udah sore, pulang yuk!” ajak Mita pada sahabatnya, Wahyu.
“Ok” kata Wahyu seraya berdiri dari duduknya.
“Oh iya, Aku lagi belajar buat bangau kertas lho” Mita memulai pembicaraan saat mereka mulai berjalan menyusuri setiap deretan rumah dikompleks itu.
“Oh ya? Belajar dimana?” tanya Wahyu antusias.
“Belajar sama Bunda” jawab Mita.
Wahyu tak berkomentar, karena sibuk menghabiskan ice creamnya. Padahal, Mita sudah menghabiskan ice creamnya sejak tadi.
“Wahyu kebiasaan, kalau makan ice cream pasti lama abisnya” komentar Mita kecil sambil memanyunkan bibirnya.
“Biarin” balas Wahyu santai.
Kedua bocah itu terdiam, menikmati semilir angin yang berhembus lembut sore itu, mengiringi langkah mereka menuju rumah.
“Pokoknya, suatu hari nanti kamu harus kasih bangau kertas buatan kamu ke Aku, ok” ujar Wahyu usai menghabiskan ice creamnya.
Mita kira, Wahyu sudah melupakan hal itu, ternyata tidak. Ya, Mita tahu, Wahyu bukan tipe orang yang mudah melupakan.
“Ok, mau berapa?” tanya Mita.
“Ehmmm, sebanyak-banyaknya” jawab Wahyu menantang.
“Oke, tapi buat apa bangau kertas sebanyak itu?” tanya Mita ingin tahu.
“Buat Aku buang ke sungai” jawab Wahyu.
“Ih, Wahyu jahaaat!” seru Mita.
Tetapi, Wahyu sudah berlari kencang dari tempat itu, dengan sigap, Mita pun berlari mengejar sahabatnya itu.
“Didaerah sini kan nggak ada sungai” lanjut Mita disela larinya mengejar Wahyu.
“Emaaang! Kamu ketipu!” balas Wahyu dibarengi tawa terpingkal.
“Wahyuuu!” suara Mita menggema diseluruh deretan rumah yang mereka lewati. Dan derap langkah mereka melengkapi suasana sore itu.
“Kamu tenang aja, kita masih bisa sering ketemu, kok” ujar Wahyu kecil.
“Oh ya? Caranya?” tanya si polos Mita.
“Kalau liburan sekolah, Ak pasti ajak Papa sama Mama main kerumah kamu” jawab Wahyu sambil menjilati ice cream rasa coklat favoritnya.
“Iya, kamu bener juga” komentar Mita seraya tersenyum.
“Nah, gitu dong, harus tetep senyum” balas Wahyu dibarengi cengiran.
Mita tersenyum lagi, kemudian berdiri dari duduknya.
“Udah sore, pulang yuk!” ajak Mita pada sahabatnya, Wahyu.
“Ok” kata Wahyu seraya berdiri dari duduknya.
“Oh iya, Aku lagi belajar buat bangau kertas lho” Mita memulai pembicaraan saat mereka mulai berjalan menyusuri setiap deretan rumah dikompleks itu.
“Oh ya? Belajar dimana?” tanya Wahyu antusias.
“Belajar sama Bunda” jawab Mita.
Wahyu tak berkomentar, karena sibuk menghabiskan ice creamnya. Padahal, Mita sudah menghabiskan ice creamnya sejak tadi.
“Wahyu kebiasaan, kalau makan ice cream pasti lama abisnya” komentar Mita kecil sambil memanyunkan bibirnya.
“Biarin” balas Wahyu santai.
Kedua bocah itu terdiam, menikmati semilir angin yang berhembus lembut sore itu, mengiringi langkah mereka menuju rumah.
“Pokoknya, suatu hari nanti kamu harus kasih bangau kertas buatan kamu ke Aku, ok” ujar Wahyu usai menghabiskan ice creamnya.
Mita kira, Wahyu sudah melupakan hal itu, ternyata tidak. Ya, Mita tahu, Wahyu bukan tipe orang yang mudah melupakan.
“Ok, mau berapa?” tanya Mita.
“Ehmmm, sebanyak-banyaknya” jawab Wahyu menantang.
“Oke, tapi buat apa bangau kertas sebanyak itu?” tanya Mita ingin tahu.
“Buat Aku buang ke sungai” jawab Wahyu.
“Ih, Wahyu jahaaat!” seru Mita.
Tetapi, Wahyu sudah berlari kencang dari tempat itu, dengan sigap, Mita pun berlari mengejar sahabatnya itu.
“Didaerah sini kan nggak ada sungai” lanjut Mita disela larinya mengejar Wahyu.
“Emaaang! Kamu ketipu!” balas Wahyu dibarengi tawa terpingkal.
“Wahyuuu!” suara Mita menggema diseluruh deretan rumah yang mereka lewati. Dan derap langkah mereka melengkapi suasana sore itu.
***
Sebuah Perpisahan ...
Pagi itu langit terlihat cerah, burung-burung kecil dengan antusiasnya berkicau menyemarakkan pagi itu. Yah, benar-benar pagi yang indah bagi siapapun yang bisa menikmatinya.
Tapi, tidak akan indah bagi Mita. Karena pagi itu, ia harus merelakan sahabat yang selalu memberi warna dihari-harinya pergi dari rumah yang sudah dua belas tahun ditempatinya. Tentu saja banyak kenangan indah dirumah sahabatnya itu. Apalagi, Mita memang lebih sering menghabiskan masa kecilnya dirumah Wahyu yang berada tepat disebelah rumahnya. Lagipula, orangtua Wahyu jarang berada dirumah, mereka sibuk bekerja, dan Wahyu hanya ditemani Bi Inah, pembantu setia keluarganya. Terkadang, Mita juga tak sungkan menginap dirumah Wahyu. Baginya, apa yang menjadi milik Wahyu adalah miliknya, begitupun sebaliknya. Itu komitmen persahabatan mereka.
“Mita cengeng!” celetuk Wahyu saat melihat Mita menangis saat ia dan keluarganya berpamitan.
Mita langsung memeluk Wahyu erat, menumpahkan duka terdalamnya dipelukan Wahyu.
“Aku cuma pindah, bukan meninggal atau pergi yang jauh, Mita” ujar Wahyu lembut seraya membelai rambut Mita.
“Iya Aku tau, tapi... Aku nggak bisa biarin kamu pergi” ucap Mita disela tangisnya.
“Aku kan udah janji, kalau libur sekolah, Aku pasti kesini” lanjut Wahyu.
“Aku mohon, tetep disini, jadi tetangga sekaligus jadi sahabat Aku” desak Mita.
Wahyu mengendurkan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Mita.
“Aku tetep sahabat kamu, sekarang, besok dan selamanya. Tanpa harus jadi seorang tetangga” komentar bocah lelaki itu dengan lembut.
Mita menyeka air matanya, kemudian menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan.
“Janji?” tanya Mita seraya tersenyum datar, kemudian mengacungkan jari kelingkingnya.
“Janji” tegas Wahyu seraya mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Mita.
Mita tersenyum, benar-benar tersenyum. Wahyu pun kembali memeluk gadis mungil nan tomboy itu.
“Wahyu tetep sahabat Mita, dan Mita tetep sahabat Wahyu!” bisik Mita tepat ditelinga Wahyu.
Sebuah Perpisahan ...
Pagi itu langit terlihat cerah, burung-burung kecil dengan antusiasnya berkicau menyemarakkan pagi itu. Yah, benar-benar pagi yang indah bagi siapapun yang bisa menikmatinya.
Tapi, tidak akan indah bagi Mita. Karena pagi itu, ia harus merelakan sahabat yang selalu memberi warna dihari-harinya pergi dari rumah yang sudah dua belas tahun ditempatinya. Tentu saja banyak kenangan indah dirumah sahabatnya itu. Apalagi, Mita memang lebih sering menghabiskan masa kecilnya dirumah Wahyu yang berada tepat disebelah rumahnya. Lagipula, orangtua Wahyu jarang berada dirumah, mereka sibuk bekerja, dan Wahyu hanya ditemani Bi Inah, pembantu setia keluarganya. Terkadang, Mita juga tak sungkan menginap dirumah Wahyu. Baginya, apa yang menjadi milik Wahyu adalah miliknya, begitupun sebaliknya. Itu komitmen persahabatan mereka.
“Mita cengeng!” celetuk Wahyu saat melihat Mita menangis saat ia dan keluarganya berpamitan.
Mita langsung memeluk Wahyu erat, menumpahkan duka terdalamnya dipelukan Wahyu.
“Aku cuma pindah, bukan meninggal atau pergi yang jauh, Mita” ujar Wahyu lembut seraya membelai rambut Mita.
“Iya Aku tau, tapi... Aku nggak bisa biarin kamu pergi” ucap Mita disela tangisnya.
“Aku kan udah janji, kalau libur sekolah, Aku pasti kesini” lanjut Wahyu.
“Aku mohon, tetep disini, jadi tetangga sekaligus jadi sahabat Aku” desak Mita.
Wahyu mengendurkan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Mita.
“Aku tetep sahabat kamu, sekarang, besok dan selamanya. Tanpa harus jadi seorang tetangga” komentar bocah lelaki itu dengan lembut.
Mita menyeka air matanya, kemudian menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan.
“Janji?” tanya Mita seraya tersenyum datar, kemudian mengacungkan jari kelingkingnya.
“Janji” tegas Wahyu seraya mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Mita.
Mita tersenyum, benar-benar tersenyum. Wahyu pun kembali memeluk gadis mungil nan tomboy itu.
“Wahyu tetep sahabat Mita, dan Mita tetep sahabat Wahyu!” bisik Mita tepat ditelinga Wahyu.
Wahyu melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum simpul.
“Always, and forever!” lanjut Wahyu.
“Janji ya, harus sering kirim surat atau telepon Aku, ok!” ujar Mita.
“Janji! Sekarang Aku harus pergi, jaga diri baik-baik ya” kata Wahyu seraya menyalami Mita.
“Wahyu! Ayo sayang!” seru sang Mama dari dalam mobil.
“Bye, Mit! Dipake selalu ya kalungnya, Aku janji, kita pasti ketemu lagi!” ujar Wahyu kemudian pergi menghampiri orangtuanya dimobil.
“Suatu hari nanti” lanjut Wahyu sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
Mita membuka kepalan tangannya, sebuah kalung emas putih berbandul hati, Wahyu berikan untuknya. Mita tersenyum, tapi air matanya tak mampu ia bendung. Ia terharu.
“Masuk yuk, Sayang!” ajak sang Bunda pada gadis kecilnya itu.
“Bunda, Wahyu kasih Mita ini” ucap Mita seraya menunjukkan kalung itu pada ibunya.
“Wah, simpan baik-baik ya, Bunda yakin kamu pasti dipertemukan lagi sama Wahyu, yuk!” komentarnya seraya mengajak putrinya masuk.
“Mita mau pake kalung ini setiap hari” kata gadis kecil itu saat masuk kedalam rumahnya.
Sang Bunda hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya itu. Kemudian kembali ke dapur, untuk memasak bersama pembantu.
“Bun, Mita belum beli pita buat orientasi besok!” seru Mita dari ruang tengah.
***
Wahyu tersenyum kecil saat mengingat kejadian empat tahun silam, saat dirinya dan Mita masih lugu dan polos, dan hanya mengerti senang-senang. Berbeda dengan sekarang, sahabat kecilnya kini telah menjadi gadis yang dewasa dan cantik. Meskipun penampilannya bak seorang laki-laki. Tapi, Wahyu bisa melihat sisi manja dan rapuh dari gadis tomboy itu.
“Hei” sapa seseorang seraya menepuk bahu Wahyu. Wahyu tersentak.
“Mita, bikin kaget aja” tukas Wahyu yang sedari tadi masih duduk didepan perpustakaan itu.
Mita hanya tersenyum seraya duduk disebelah Wahyu. Ia menarik napas dalam saat angin berhembus.
“Soal seminggu yang lalu, gua....”
“Gua udah lupa!” celetuk Wahyu.
Mita terperangah, semudah itu Wahyu melupakannya? Mustahil.
“Bohong!” semprot Mita.
“Always, and forever!” lanjut Wahyu.
“Janji ya, harus sering kirim surat atau telepon Aku, ok!” ujar Mita.
“Janji! Sekarang Aku harus pergi, jaga diri baik-baik ya” kata Wahyu seraya menyalami Mita.
“Wahyu! Ayo sayang!” seru sang Mama dari dalam mobil.
“Bye, Mit! Dipake selalu ya kalungnya, Aku janji, kita pasti ketemu lagi!” ujar Wahyu kemudian pergi menghampiri orangtuanya dimobil.
“Suatu hari nanti” lanjut Wahyu sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
Mita membuka kepalan tangannya, sebuah kalung emas putih berbandul hati, Wahyu berikan untuknya. Mita tersenyum, tapi air matanya tak mampu ia bendung. Ia terharu.
“Masuk yuk, Sayang!” ajak sang Bunda pada gadis kecilnya itu.
“Bunda, Wahyu kasih Mita ini” ucap Mita seraya menunjukkan kalung itu pada ibunya.
“Wah, simpan baik-baik ya, Bunda yakin kamu pasti dipertemukan lagi sama Wahyu, yuk!” komentarnya seraya mengajak putrinya masuk.
“Mita mau pake kalung ini setiap hari” kata gadis kecil itu saat masuk kedalam rumahnya.
Sang Bunda hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya itu. Kemudian kembali ke dapur, untuk memasak bersama pembantu.
“Bun, Mita belum beli pita buat orientasi besok!” seru Mita dari ruang tengah.
***
Wahyu tersenyum kecil saat mengingat kejadian empat tahun silam, saat dirinya dan Mita masih lugu dan polos, dan hanya mengerti senang-senang. Berbeda dengan sekarang, sahabat kecilnya kini telah menjadi gadis yang dewasa dan cantik. Meskipun penampilannya bak seorang laki-laki. Tapi, Wahyu bisa melihat sisi manja dan rapuh dari gadis tomboy itu.
“Hei” sapa seseorang seraya menepuk bahu Wahyu. Wahyu tersentak.
“Mita, bikin kaget aja” tukas Wahyu yang sedari tadi masih duduk didepan perpustakaan itu.
Mita hanya tersenyum seraya duduk disebelah Wahyu. Ia menarik napas dalam saat angin berhembus.
“Soal seminggu yang lalu, gua....”
“Gua udah lupa!” celetuk Wahyu.
Mita terperangah, semudah itu Wahyu melupakannya? Mustahil.
“Bohong!” semprot Mita.
Wahyu menutup buku yang dibukanya tanpa dibaca itu. Membuat Mita agak tersentak.
“Lupain masalah itu, karena itu loe nangis karena gua” pinta Wahyu.
“Tapi, gua emang....”
“Gua nggak peduli, setega apapun loe sama gua, loe tetep sahabat gua, itu kan janji persahabatan kita?” tegas Wahyu seraya menatap dalam mata Mita.
Deg!
Jantung Mita serasa ingin melesat keluar dari dadanya. Ucapan Wahyu benar-benar berhasil membuatnya diam seribu bahasa. Setega itukah dirinya? Membohongi sahabatnya sendiri? Batin Mita benar-benar menjerit pilu kali ini, haruskah ia jujur dengan keadaan sebenarnya? Tapi, ia takut! Takut dikasihani... Tidak!
“Amanda sama Dio mau maafin loe, kok” Wahyu mengalihkan pembicaraan.
Mita membulatkan matanya, memandangi Wahyu, tak percaya dengan ucapannya.
“Tapi ada syaratnya” lanjut Wahyu.
Mita masih dalam diamnya, menutup mulutnya serapat mungkin.
“Pulang sekolah nanti, mereka mau battle basket, dua lawan dua” jelas Wahyu.
“Kalau mereka yang menang, mereka nggak mau maafin loe, dan kalo kita yang menang, mereka akan maafin loe” lanjut Wahyu.
Basket?
Mita tertegun, masih sanggupkah kedua kakinya berlari? Masih sanggupkah kedua kakinya membantunya melompat dan memasukkan bola ke dalam ring dan mencetak poin? Dokter bilang, kanker itu mulai menjalar menujur betisnya, dan harus segera amputasi agar tak menyebar ke anggota tubuh yang lainnya. Mita pun harus mengurangi aktivitas yang berhubungan dengan kakinya.
“Mita?” seru Wahyu.
“Ya?” sahut Mita tergagap.
“Bisa?” tanya Wahyu.
“Bisa, pasti bisa!” jawab Mita berusaha melawan rasa takutnya.
Wahyu tersenyum, senyuman yang tak pernah berubah dengan senyumannya saat ia kecil dulu.
***
Mita, Wahyu, Amanda dan Dio berkumpul dilapangan basket yang ada disekolahnya siang itu, sepulang sekolah. Cuaca tak secerah biasanya, hari ini terlihat mendung, awan hitam mulai membentuk gumpalan-gumpalan besar.
“Battlenya besok aja, cuaca nggak mendukung!” ujar Wahyu.
“Nggak perlu, kita tanding hari ini juga!” tolak Mita tegas.
“Mit?” bisik Wahyu lirih.
“Lupain masalah itu, karena itu loe nangis karena gua” pinta Wahyu.
“Tapi, gua emang....”
“Gua nggak peduli, setega apapun loe sama gua, loe tetep sahabat gua, itu kan janji persahabatan kita?” tegas Wahyu seraya menatap dalam mata Mita.
Deg!
Jantung Mita serasa ingin melesat keluar dari dadanya. Ucapan Wahyu benar-benar berhasil membuatnya diam seribu bahasa. Setega itukah dirinya? Membohongi sahabatnya sendiri? Batin Mita benar-benar menjerit pilu kali ini, haruskah ia jujur dengan keadaan sebenarnya? Tapi, ia takut! Takut dikasihani... Tidak!
“Amanda sama Dio mau maafin loe, kok” Wahyu mengalihkan pembicaraan.
Mita membulatkan matanya, memandangi Wahyu, tak percaya dengan ucapannya.
“Tapi ada syaratnya” lanjut Wahyu.
Mita masih dalam diamnya, menutup mulutnya serapat mungkin.
“Pulang sekolah nanti, mereka mau battle basket, dua lawan dua” jelas Wahyu.
“Kalau mereka yang menang, mereka nggak mau maafin loe, dan kalo kita yang menang, mereka akan maafin loe” lanjut Wahyu.
Basket?
Mita tertegun, masih sanggupkah kedua kakinya berlari? Masih sanggupkah kedua kakinya membantunya melompat dan memasukkan bola ke dalam ring dan mencetak poin? Dokter bilang, kanker itu mulai menjalar menujur betisnya, dan harus segera amputasi agar tak menyebar ke anggota tubuh yang lainnya. Mita pun harus mengurangi aktivitas yang berhubungan dengan kakinya.
“Mita?” seru Wahyu.
“Ya?” sahut Mita tergagap.
“Bisa?” tanya Wahyu.
“Bisa, pasti bisa!” jawab Mita berusaha melawan rasa takutnya.
Wahyu tersenyum, senyuman yang tak pernah berubah dengan senyumannya saat ia kecil dulu.
***
Mita, Wahyu, Amanda dan Dio berkumpul dilapangan basket yang ada disekolahnya siang itu, sepulang sekolah. Cuaca tak secerah biasanya, hari ini terlihat mendung, awan hitam mulai membentuk gumpalan-gumpalan besar.
“Battlenya besok aja, cuaca nggak mendukung!” ujar Wahyu.
“Nggak perlu, kita tanding hari ini juga!” tolak Mita tegas.
“Mit?” bisik Wahyu lirih.
“Ayo kita mulai pertandingannya!” ajak Mita tanpa menghiraukan Wahyu.
“Ok!” sahut Amanda setuju.
Mita mendribble bolanya, tatapannya garang tanpa gentar. Setelah mendribble bolanya, Mita pun menggiringnya menuju ring lawan. Amanda dan Dio mencoba merebut bola itu, tapi selalu gagal. Dengan hati-hati, Mita pun melompat tinggi lalu memasukkan bolanya ke dalam ring, dan mencetak poin. Tapi sayang, bola itu berhasil direbut Amanda dan digiring menuju ringnya. Wahyu tak tinggal diam, ia berusaha menghalangi Amanda.
Pertandingan pun terus memanas, meskipun hari semakin terlihat gelap karena awan hitam itu. Kedua tim itu selalu berusaha mencetak poin, tak peduli tali persahabatan yang menaungi mereka.
Saat ditengah pertandingan, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Hujan turun dengan lebat dibarengi kilat dan petir. Membuat suasana semakin memanas. Tapi, pertandingan itu tetap berlanjut.
“Mita!” seru Wahyu saat berlari disamping Mita yang sedang mendribble dan menggiring bolanya.
Mita menoleh, senyumannya terlihat samar dibawah guyuran hujan itu.
“Gua nggak nyangka, loe masih mau pake kalung itu!” lanjut Wahyu.
“Ini?” tanya Mita seraya menunjukkan emas putih yang menggantung dilehernya.
“Iya, gua kira loe udah nggak pake!” seru Wahyu lagi seraya terus berlari.
“Cuma ini yang bisa ngobatin kangen gua sama loe! Dan cuma ini yang bikin gua yakin kalo loe pasti balik ke gua!” aku Mita masih terus berlari dibawah guyuran hujan.
Wahyu berhenti usai mendengar pengakuan Mita barusan, tertegun dibawah guyuran hujan, ia bingung dengan ucapan Mita barusan. Tak peduli dengan Amanda dan Dio yang tetap mencoba merebut bola yang sedang Mita giring menuju ring.
“Tuhan, bantu aku” batin Mita sebelum akhirnya memasukkan bola itu kedalam ring dengan baik.
“Yes! Gua menang!” sorak Mita sumringah dibawah guyuran hujan, sambil mengangkat tinggi kedua tangannya.
Amanda dan Dio berhenti, memandangi Mita yang kegirangan atas kemenangannya. Kemampuan Mita dalam berbasket memang tak perlu diragukan, Amanda dan Dio tau itu.
“Ok!” sahut Amanda setuju.
Mita mendribble bolanya, tatapannya garang tanpa gentar. Setelah mendribble bolanya, Mita pun menggiringnya menuju ring lawan. Amanda dan Dio mencoba merebut bola itu, tapi selalu gagal. Dengan hati-hati, Mita pun melompat tinggi lalu memasukkan bolanya ke dalam ring, dan mencetak poin. Tapi sayang, bola itu berhasil direbut Amanda dan digiring menuju ringnya. Wahyu tak tinggal diam, ia berusaha menghalangi Amanda.
Pertandingan pun terus memanas, meskipun hari semakin terlihat gelap karena awan hitam itu. Kedua tim itu selalu berusaha mencetak poin, tak peduli tali persahabatan yang menaungi mereka.
Saat ditengah pertandingan, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Hujan turun dengan lebat dibarengi kilat dan petir. Membuat suasana semakin memanas. Tapi, pertandingan itu tetap berlanjut.
“Mita!” seru Wahyu saat berlari disamping Mita yang sedang mendribble dan menggiring bolanya.
Mita menoleh, senyumannya terlihat samar dibawah guyuran hujan itu.
“Gua nggak nyangka, loe masih mau pake kalung itu!” lanjut Wahyu.
“Ini?” tanya Mita seraya menunjukkan emas putih yang menggantung dilehernya.
“Iya, gua kira loe udah nggak pake!” seru Wahyu lagi seraya terus berlari.
“Cuma ini yang bisa ngobatin kangen gua sama loe! Dan cuma ini yang bikin gua yakin kalo loe pasti balik ke gua!” aku Mita masih terus berlari dibawah guyuran hujan.
Wahyu berhenti usai mendengar pengakuan Mita barusan, tertegun dibawah guyuran hujan, ia bingung dengan ucapan Mita barusan. Tak peduli dengan Amanda dan Dio yang tetap mencoba merebut bola yang sedang Mita giring menuju ring.
“Tuhan, bantu aku” batin Mita sebelum akhirnya memasukkan bola itu kedalam ring dengan baik.
“Yes! Gua menang!” sorak Mita sumringah dibawah guyuran hujan, sambil mengangkat tinggi kedua tangannya.
Amanda dan Dio berhenti, memandangi Mita yang kegirangan atas kemenangannya. Kemampuan Mita dalam berbasket memang tak perlu diragukan, Amanda dan Dio tau itu.
“Wahyu! Kita menang!” teriak Mita kepada Wahyu yang masih mematung.
“Ok, loe berdua menang!” seru Dio mengakui kemenangan Mita dan Wahyu.
Amanda langsung pergi meninggalkan lapangan, disusul Dio yang juga ikut meninggalkan lapangan.
Mita merasakan kepalanya yang pening, kedua kakinya terasa sangat linu, pandangannya pun mulai kabur. Mita memegangi kepalanya yang pening.
“Yu...” seru Mita pelan.
Wahyu tersadar dari lamunannya, kemudian memperhatikan Mita dari posisinya yang berada ditengah lapangan.
“Loe hebat, Mit!” seru Wahyu diiringi senyum khasnya.
Tubuh Mita ambruk seketika, dibawah guyuran hujan siang itu. Wahyu sontak kaget, kemudian berlari mendekati Mita yang terkapar.
“Amanda, Dio!” teriak Wahyu seraya meletakkan kepala Mita dibahunya.
Tak ada jawaban dari Amanda atau Dio. Usai meninggalkan lapangan, mereka langsung on the way pulang.
“Mit, Mitaaa!” seru Wahyu seraya menepuk-nepuk kedua pipi gadis mungil yang ada didekapannya itu.
“Mitaaa! Please, open your eyes!”
***
Wahyu duduk dikursi yang ada disebelah ranjang diruangan rumah sakit, menunggui seorang gadis yang sedang terbaring tak sadarkan diri diranjang itu. Yah, Wahyu memang membawa Mita kerumah sakit, karena insiden dilapangan tadi. Bahkan, Wahyu tak sempat mengganti bajunya yang basah. Ia tak peduli, yang ia khawatirkan hanyalah keadaan Mita.
Wahyu sesekali meremas tangan Mita yang dingin itu. Berharap Mita bisa merasa lebih hangat dan akan segeran terbangun dari tidurnya.
“Wahyu” ucap seseorang dari balik pintu.
“Tante Maia?” gumam Wahyu yang tahu betul siapa yang memanggilnya.
“Bisa jelasin, apa yang terjadi sampai Mita begini?” tanya wanita paruhbaya yang masih sangat cantik itu.
Wahyu menarik napas dalam, kemudian menceritak apa yang baru saja terjadi tadi, sampai akhirnya Mita harus terbaring ditempat tidur itu. Dan bagaimana Wahyu membawanya kesini.
“Makasih banyak ya, Yu” ujar Maia lembut.
“Sama-sama, Tante” komentar Wahyu.
“Sekarang, biar tante aja yang nunggu Mita. Kamu pulang ya, udah sore” lanjutnya.
“Tapi... Tante” sela Wahyu.
“Kalau Mita udah baikan, tante pasti minta Mita untuk hubungi kamu” potong wanita paruhbaya itu.
“Yaudah tante, Wahyu pamit ya” ujar Wahyu akhirnya seraya beranjak dari duduknya.
“Ok, loe berdua menang!” seru Dio mengakui kemenangan Mita dan Wahyu.
Amanda langsung pergi meninggalkan lapangan, disusul Dio yang juga ikut meninggalkan lapangan.
Mita merasakan kepalanya yang pening, kedua kakinya terasa sangat linu, pandangannya pun mulai kabur. Mita memegangi kepalanya yang pening.
“Yu...” seru Mita pelan.
Wahyu tersadar dari lamunannya, kemudian memperhatikan Mita dari posisinya yang berada ditengah lapangan.
“Loe hebat, Mit!” seru Wahyu diiringi senyum khasnya.
Tubuh Mita ambruk seketika, dibawah guyuran hujan siang itu. Wahyu sontak kaget, kemudian berlari mendekati Mita yang terkapar.
“Amanda, Dio!” teriak Wahyu seraya meletakkan kepala Mita dibahunya.
Tak ada jawaban dari Amanda atau Dio. Usai meninggalkan lapangan, mereka langsung on the way pulang.
“Mit, Mitaaa!” seru Wahyu seraya menepuk-nepuk kedua pipi gadis mungil yang ada didekapannya itu.
“Mitaaa! Please, open your eyes!”
***
Wahyu duduk dikursi yang ada disebelah ranjang diruangan rumah sakit, menunggui seorang gadis yang sedang terbaring tak sadarkan diri diranjang itu. Yah, Wahyu memang membawa Mita kerumah sakit, karena insiden dilapangan tadi. Bahkan, Wahyu tak sempat mengganti bajunya yang basah. Ia tak peduli, yang ia khawatirkan hanyalah keadaan Mita.
Wahyu sesekali meremas tangan Mita yang dingin itu. Berharap Mita bisa merasa lebih hangat dan akan segeran terbangun dari tidurnya.
“Wahyu” ucap seseorang dari balik pintu.
“Tante Maia?” gumam Wahyu yang tahu betul siapa yang memanggilnya.
“Bisa jelasin, apa yang terjadi sampai Mita begini?” tanya wanita paruhbaya yang masih sangat cantik itu.
Wahyu menarik napas dalam, kemudian menceritak apa yang baru saja terjadi tadi, sampai akhirnya Mita harus terbaring ditempat tidur itu. Dan bagaimana Wahyu membawanya kesini.
“Makasih banyak ya, Yu” ujar Maia lembut.
“Sama-sama, Tante” komentar Wahyu.
“Sekarang, biar tante aja yang nunggu Mita. Kamu pulang ya, udah sore” lanjutnya.
“Tapi... Tante” sela Wahyu.
“Kalau Mita udah baikan, tante pasti minta Mita untuk hubungi kamu” potong wanita paruhbaya itu.
“Yaudah tante, Wahyu pamit ya” ujar Wahyu akhirnya seraya beranjak dari duduknya.