Serpihan Sesal




Mita berjalan riang menyusuri area parkir rumah sakit siang itu, tangannya menggenggam sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan yang ia lakukan. Siang itu ia mendapat kabar hebat. Kabar yang selalu ia tunggu setiap harinya. Ia hamil. Sudah masuk usia tiga minggu. Dan ia tak sabar ingin segera menyampaikan berita hebat itu pada suaminya.

"Ya, Ma?" Mita menempelkan ponsel di telinga kirinya, tangan kanannya menggenggam amplop putih itu sembari membuka pintu mobilnya.

"Kamu dimana?" tanya sang Mama dari seberang. "Mama lagi bikin kue nih, main dong kesini," katanya, terdengar antusias.

"Mita lagi mau jalan ke kantornya Wahyu, Ma." Mita beringsut masuk ke dalam mobilnya. "Ada hal penting yang mau Mita omongin sama Wahyu," Mita meletakkan amplop itu di jok sebelahnya, lalu sibuk memasang sabuk pengamannya.

"Yaudah kalau gitu nanti sore aja, ajak Wahyu sekalian," sahut Mamanya.

"Iya, Ma, Mita usahain," ujar Mita seraya menstarter mobilnya. "Mita jalan dulu ya, Ma." katanya lalu memutus sambungan telfonnya.

Mobil Mita pun melaju meninggalkan area parkir itu. Membelah jalanan yang cukup padat siang itu. Siang itu agak mendung, mungkin karena sudah masuk musim penghujan.
***

Mita urung membuka pintu ruangan Wahyu. Sejak tadi, ia hanya menyentuh knopnya tanpa ia putar agar pintu terbuka. Entah apa yang membuatnya takut seperti ini. Sekretaris Wahyu bilang, suaminya itu sedang ada tamu, tapi sektetaris itu tidak menyebutkan siapa tamu suaminya itu.

Mita menarik napas panjang, menahannya sebentar lalu menghembuskannya, ia mencoba menarik sudut bibirnya, mengukir senyum. Tanpa pikir panjang lagi, Mita putar knop pintu itu. Pintu terbuka tak terlalu lebar, tapi cukup jelas memperlihatkan siapa saja yang ada diruangan itu. Suaminya itu sedang mengecup kening seorang wanita cantik yang tak ia kenal sama sekali. Pelan-pelan, jantung Mita seperti melorot turun, dadanya sesak. Tangannya terlepas dari knop pintu itu. Untuk kesekian kali, ia kembali melihat Wahyu asik berduaan dengan wanita lain.

"Mita...." suara Wahyu terdengar samar di telinga Mita.

Mita berbalik sebelum air matanya tumpah dan Wahyu akan melihatnya. Langkahnya cepat menembus karyawan-karyawan perusahaan yang sedang berlalu lalang itu. Mita tahu Wahyu mengejarnya, bahkan ketika ia sampai parkiran pun ia tahu Wahyu masih mengejarnya.

"Mita!" seru Wahyu, ia berhenti, ia pandangi Mita yang mendekati mobilnya.

Mita enggan menoleh, ia hendak membuka pintu mobil itu, tapi tiba-tiba, "Kamu mau kemana?" tanya Wahyu, menggenggam lengan Mita yang sedikit gempal itu.

Mita berusaha menepisnya, sekuat tenaga masih ia tahan emosi serta air mata yang bergerumul di balik matanya. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang baru saja ia lihat.

"Mita...." Wahyu mengendurkan genggamannya ketika Mita sama sekali tak merespons-nya dan hanya diam bersandar di badan mobil itu.

Mita menepis pelan genggaman Wahyu. Dengan gerakan pelan, Mita membuka pintu mobilnya lalu beringsut masuk dan menutup pintunya dengan kasar. Ia pasang seatbelt-nya lalu menstarter mobilnya tanpa mempedulikan Wahyu yang berdiri mematung disebelah mobilnya itu. Ia benci dengan pria itu. Sangat membencinya. Mita menginjak gasnya hingga membuat mobilnya melasat pergi. Dan saat itu juga air mata menetes dari pelupuk matanya, air mata yang ia tahan sejak tadi.

Mita membasahi bibirnya, menghapus air matanya dengan kasar. Sungguh ia benar-benar marah, sangat marah pada pria bernama Wahyu itu. Pria yang selama ini amat ia cintai, amat ia sayangi, amat ia hargai, dan amat ia butuhkan dalam keadaan apapun itu tega melukai hatinya, menyayat nadinya dengan cara menjijikkan seperti itu. Sementara ia selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Wahyu. Lalu inikah balasan Wahyu?

Mita menepikan mobilnya disebuah pinggiran taman kota, ia lepas seatbelt-nya lalu keluar dari mobilnya itu. Mita memilih duduk di salah satu bangku taman itu, sendirian. Ia pandangi orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. Mendung semakin gelap. Dan Mita seakan tak peduli ketika tetesan air hujan jatuh di atas kemeja hitamnya itu. Ia mendongak sebentar menatap langit yang siap mengeluarkan ribuan tetes air hujan itu, kemudian ia pandangi orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh itu.

"Yu, kenapa kamu setega itu?" gumam Mita berbarengan dengan air matanya yang mengalir di pipi. "Salah aku apa?" Mita terisak bebarengan dengan air hujan yang kian deras itu hingga membasahi tubuhnya.

Mita menelan ludah getir. Semua rasa bahagianya seakan menguap tanpa sisa. Semua rasa antusiasnya ketika ingin bertemu Wahyu tadi seperti lenyap diterpa rasa kagetnya melihat Wahyu bersama wanita lain. Seperti ada yang menekan dadanya kuat. Sangat kuat. Sampai ia harus mencari celahnya sendiri untuk tetap bisa bernapas. Andai Wahyu tahu apa tujuannya datang ke kantor, apa pria itu akan mengurungkan niatnya untuk berselingkuh?

***

Wahyu menatap lurus ke luar jendela yang dibasahi air hujan. Ia terperangah ketika mendapati sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah itu, hujan lebat masih saja mengguyur bumi sampai detik itu. Ia pandangi Mita yang keluar dari dalam mobil, berlari menembus hujan sampai teras depan rumah. Wahyu tersenyum tipis, ia bergerak dari tempatnya, dan disaat yang bersamaan, pintu terbuka dan Mita muncul dari sana. Senyum Wahyu pudar demi melihat betapa berantakkannya Mita, bibirnya pucat, pakaian dan rambutnya setengah basah, kelopak matanya sayu. Apa yang terjadi dengan istrinya itu?

"Mit...." sekuat hati ia memberanikan diri menyebut nama itu.

Mita diam tak menjawab, ia tatap Wahyu sebentar lalu pergi meninggalkannya.

Wahyu tak menyerah, ia kejar Mita yang masuk ke dalam kamar. Wanita itu kini duduk didepan meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tatapannya kosong. Wahyu dekati wanita itu.

"Mit," Wahyu menyentuh bahu Mita. Dan dengan cepat Mita menepisnya. "Aku minta maaf," kata Wahyu pelan seperti bisikan.

Mita bergeming. Suara Wahyu terdengar samar ditelinganya. Ia pandangi pantulan diri Wahyu dari cermin didepannya. Semua membuatnya sakit. Amat sakit. Sampai ia tak tahu bagaimana cara mendefinisikan rasa sakit itu.

"Aku bisa jelasin semuanya," Wahyu bicara lagi.

Mita melepaskan handuk digenggamannya, ia remas amplop putih ditangan kirinya dengan mata terpejam, amplop itu tidak lagi mampu membuatnya bahagia, amplop putih itu tak lagi bisa membuktikan kalau Wahyu benar-benar mencintainya. Mita menarik napas panjang, menahan air matanya kuat-kuat agar tidak menetes.

"Aku sama dia cuma sebatas rekan kerja, Mit." gumam Wahyu. "Selebihnya, dia temen lamaku saat SMA dulu, wajar kan kalau kita deket, dan...." Wahyu menggantung kalimatnya ketika Mita berdiri dari duduknya dan menatapnya nanar.

"Wajar kalau sampe cium segala?!" napas Mita memburu.

"Bukan gitu maksud aku.." suara Wahyu mulai meninggi.

"Maksud kamu apa?!" Mita diambang batas kesabarannya. "Sengaja berbuat seperti itu?" dada Mita naik turun. "Sengaja mau nyakitin aku?!" Mita menunjuk dadanya sendiri. "Iya?!" Mita garang menatap Wahyu.

Wahyu diam saja. Ia tahu ia salah. Ia tak akan membela diri. Ia memang salah. Salah besar menyakiti Mita.

"Sebenernya artinya aku buat kamu itu apa?" Mita tak bisa lagi menahan gejolak di hatinya, ia memang harus menangis.

Wahyu menunduk. Diam tak bersuara. Hatinya seperti luluh lantak melihat air mata yang mengalir di kedua pelupuk mata wanita didepannya. Apa yang sudah ia lakukan sampai Mita menangis sehebat itu? Air mata itu membuat hatinya pilu.

"Aku benci sama kamu!" Mita mengusap air matanya dengan kasar, bergegas pergi dari hadapan Wahyu, ia keluarkan koper dari lemari pakaiannya kemudian memasukkan beberapa pakaian yang ia ambil sekenanya dari dalam lemari itu kedalam koper berukuran sedang itu.

"Hey, kamu mau kemana?" Wahyu mendekati wanita yang siap menarik kopernya itu. "Diluar hujan," kata Wahyu, berusaha mencegah Mita.

"Kamu boleh temui aku setelah kamu bisa benar-benar mengerti apa kesalahan kamu!" Mita susah payah menarik kopernya.

"Tapi, Mit..." seruan Wahyu hanya dihadiahi suara keras dari pintu yang dibanting Mita. "Mita!" Wahyu mengejar istrinya itu. "Kamu mau kemana?" tanya Wahyu.

"Aku nggak mau lagi tinggal sama kamu!" jawab Mita sembari membuka pintu itu dan keluar sambil menarik kopernya diikuti Wahyu.

Wahyu hanya bisa menatap nanar kepergian Mita. Dibawah derasnya hujan, ia tahu betapa dalam luka yang telah ia toreh dihati Mita. Andai semua bisa ia ulangi. Andai.

***

Wahyu menyipitkan matanya menatap seorang wanita yang duduk di sebuah bangku di taman rumah sakit itu. Disebelah wanita itu duduk ada sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu. Dada Wahyu bergetar ketika melihat wajah wanita berambut hitam legam itu tampak pucat dan tak bersemangat dengan perutnya yang sedikit membesar. Lima bulan ia mencari tahu dimana Mita. Setelah sekian lama semua orang yang mengetahui keberadaan Mita itu bungkam, akhirnya Mama Mita mengatakan dimana keberadaan Mita. Pertengakaran malam itu benar-benar pukulan telak baginya. Satu hal lagi yang membuatnya seperti terhempas sekeras-kerasnya adalah tak lama setelah Mita pergi, ia tahu bahwa istrinya itu tengah mengandung. Betapa jahat dirinya tega melukai wanita yang amat ia cintai itu. Masih bolehkah ia duduk disebelah wanita itu dan melipur laranya? Masihkah Mita mau menerimanya?

Wahyu menatap nanar sebucket mawar merah digenggamannya, bunga favorit Mita. Ia tarik napas dalam-dalam lalu dengan segenap keberaniannya ia dekati Mita. Langkahnya terhenti ketika Mita bergerak hendak berdiri dari duduknya. Miris hatinya memandangi betapa rapuhnya saat ini, susah payah wanita itu hendak berdiri. Wahyu mendekat, ia takut terjadi sesuatu dengan Mita.

"Mita...." panggil Wahyu pelan. Dalam hati ia takut, takut kalau Mita akan mengusirnya.

Mita mengangkat wajahnya, cukup kaget mendapati Wahyu berdiri didepannya. "Kamu?" Mita menyibak rambutnya yang kian memanjang itu ke belakang, makin memperjelas setiap inci wajahnya yang pucat pasi.

"Apa kabar?" tanya Wahyu, mengukir seulas senyum.

"Baik," jawab Mita dengan senyum tipisnya. "Kamu apa kabar?" Mita balik bertanya.

"Buruk," jawab Wahyu seraya maju beberapa langkah mendekati Mita.

"Kenapa?" tanya Mita.

"Buruk tanpa kamu," jawab Wahyu.

Mita menarik sudut bibirnya, tersenyum getir demi mengingat kembali lima bulan yang ia lalui tanpa Wahyu. Hanya seorang diri. Jatuh bangun merawat kandungannya sendirian. Tanpa bantuan suaminya itu. Tak terhitung sudah berapa kali ia harus masuk rumah sakit karena kandungannya bermasalah selama lima bulan terakhir ini. Wahyu tak akan lebih buruk darinya.

"Itu bunga buat aku?" Mita melirik sebucket mawar merah digenggaman Wahyu.

"Ya," Wahyu memberikan bunga itu pada Mita dan ia cukup lega ketika Mita menerimanya dengan baik. "Masih suka mawar merah, kan?" tanyanya.

"Masih," Mita tersenyum dan kembali duduk, memeluk bunga itu sambil menatap lurus ke depan. Angin di akhir musim penghujan itu menerbangkan setiap helai rambutnya.

Wahyu ikut duduk di sebelah Mita. Menarik napas dalam-dalam. Semuanya seperti terasa ringan didadanya ketika ia kembali bisa melihat Mita, senyumnya, suaranya, semua yang ada pada Mita amat ia rindukan.

"Maafin aku, Mit." Wahyu menghela napas pendek. "Aku tahu terlalu banyak luka yang aku toreh dihati kamu," timpalnya. "Maafin aku," Wahyu menatap Mita nanar. Sungguh, ia akan selalu membutuhkan cinta dan kasih sayang dari Mita.

"Aku udah maafin," Mita mengulum senyum getir. "Aku nggak ngerti kenapa selalu ada maaf buat kamu di hati aku," Mita menarik napas panjang, berusaha membiarkan setiap beban dibahunya menjauh pergi. "Sebesar apapun kesalahan kamu, aku nggak pernah bisa benci sama kamu," Mita menatap setiap kelopak beberapa tangkai mawar yang ada dipangkuannya itu. Semuanya tampak segar, tidak ada yang tampak layu. Mita yakin, Wahyu pasti sengaja membelinya sebelum datang kesini.

"Kenapa kamu masih mau menerima aku, Mit?" tanya Wahyu. "Aku sering nyakitin kamu, bikin kamu marah, kecewa, sedih dan terluka," paparnya.

"Anak aku akan selalu membutuhkan kamu," Mita menoleh, menatap Wahyu yang juga menatapnya. "Harus ada sosok Ayah disampingnya sampai kapanpun," bibir pucat Mita mengulas senyum.

Wahyu menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Mita terlalu tangguh untuk diruntuhkan begitu saja. Ia selalu tampak hebat dibalik sikap cuek dan sederhananya. Tak ada yang tahu jika begitu banyak beban yang ada dibahu wanita itu. Demi apapun di dunia, Wahyu berjanji tidak akan menyakiti hati Mita lagi, ia tidak akan melukai hati wanita yang selalu membuatnya gila itu. Mita terlalu sempurna untuk dipatahkan hatinya.

"Aku pikir aku bisa tanpa kamu, tapi aku rasa aku nggak sekuat saat ada sama kamu, Yu." Mita menyandarkan kepalanya dibahu Wahyu.

Wahyu usap kepala Mita, satu tangannya meremas jemari Mita yang agak dingin itu. Selalu ada celah yang Mita berikan untuknya. Selalu ada ruang dihati Mita yang memang Mita sediakan khusus untuknya. Dan selalu ada maaf yang Mita beri untuk setiap kesalahannya. Lantas kenapa ia masih saja tega menyakiti wanita seperti Mita? Membiarkan Mita berjuang sendirian merawat kandungannya. Seketika serpihan sesal itu kembali menghujam jantungnya pilu.

"Setelah ini kamu masih mau, kan pulang ke rumah kita?" tanya Wahyu.

Mita mengangkat kepalanya, ia tatap Wahyu dengan mata sayunya, kemudian ia mengangguk.

Wahyu kecup kening Mita. Ia usap pipinya dengan lembut. Demi apapun didunia, ia tidak akan lagi membiarkan Mita sendirian menghadapi semuanya. Tak akan lagi ia lukai hati Mita. Ia janji. Pada Tuhan serta dirinya sendiri.

TAMAT 

@DevyMrz 

Sempurna Bukan Milik Mita

Beberapa hari ini lagi muak banget buka Twitter. Bukan karena lemot atau apa koneksinya, terlebih kepada fansnya The Virgin lagi sakit jiwa semua. Lagi pada ngoceh nggak jelas cuma karena ada provokator kelas kakap. Masalahnya nggak jauh-jauh dari masalah 'itu'. Kuping gue kebal coy denger para haters berkedok fans yang bilang Mita Dara begitulah. Untuk masalah itu gue kebal dengernya.

Tapi sekarang, disini yang tersudut si Mita. Lagi. Nggak ngerti kadang-kadang sama orang yang suka ngomong asal tentang orang lain. Komentar tentang hidup orang lain. Kayak hidupnya udah bener dan sempurna aja.

Yang bikin gue ngelus dada tuh kenapa Mita terus yang jadi sasaran para haters berkedok fans itu. Dikit-dikit Mita. Apa-apa Mita. Yang salah Mita. The Virgin kenapa-kenapa yang kena Mita. The Virgin itu Mita sama Dara. Bukan cuma Mita. Atau bukan cuma Dara.

Guys, coba kalian pikir, Mita ngerugiin apa buat hidup kalian? Dia manusia biasa, yang bisa salah, bisa khilaf. Manusiawi. Tapi kenapa seakan-akan kalian anggepnya Mita itu paling salah? Mita nggak pernah ngajak kalian berbuat jelek, kan? Mita malah ngajarin kalian buat jadi fans yang bisa ambil positifnya Mita, buang negatifnya. Bisa nggak jangan lihat manusia dari sisi positifnya? Jangan negatifnya melulu? Nggak bisa?

Ok, gue bukan mau sok menggurui. Tapi mending buat kalian yang nggak tahu apa-apa tentang Mita mending diem aja. Nggak usah malah ikutan ngebacot karena di komporin sama provokator. Sadar, sikap kalian itu justru bakalan ngancurin diri kalian sendiri. Cuma mau ingetin aja, kalau bicara hati-hati, jangan sampe ada hati yang merasa disakiti. Karena Allah nggak akan diem aja mendengar salah satu doa hambanya yang di fitnah.

Kalau memang Mita buruk ya emang kenapa? Bukan kalian yang nyatet amal buruknya kan? Kenapa ribet sih? Jangan tuntut Mita jadi sempurna dan harus ikutin apa yang ada di otak sakit kalian para haters. Allah SWT aja nggak pernah nuntut hambaNya buat sempurna kok. Toh, nerakanya Mita bukan urusan loe semua, surga juga belum tentu jadi tempat kalian. Nggak usah sombong, kalian napas aja gratis, apa-apa minta sama Allah. Jadi nggak usah sok nyeramahin hidup orang. Benerin aja hidup sendiri. Baik buruknya manusia cuma Allah yang berhak menghakimi. Bukan kalian!

Allah itu Maha Segalanya. Maha Besar. Maha Tahu. Jadi ati-ati kalau mau ngomen buruk orang lain. Kalian tahu apa tentang Mita? Udah ngerasa lebih dari Mita? Udah ngerasa hebat dari Mita? Suatu saat nanti, fans yang beneran tulus bakal keliatan, dan yang busuk bakal ancur. Semua cuma soal waktu. Sekarang, silakan kalau masih mau ngomong jelek tentang Mita. Silakan. Gue mau jadi fans bijak aja, nggak suka boleh ngomel. Gue nggak peduli, gue cuma bisa nyampein ini. Semoga kalian sadar. Gitu aja. Gue apa atuh, cuma fansnya Mita yang nggak terima liat Mita disalahin melulu. Makin Mita dibully, dicaci, dimaki, dihina, seakan dijatuhin, gue malah makin sayang sama tuh cewek. Semoga dengan semua ucapan buruk kalian, Allah malah bakalan ngangkat derajat Mita. Ngejadiin Mita manusia yg lebih bijak lagi ngadepin semuanya. Fans itu nggak pamrih coy. Dan nggak akan goyah karena provokator. Semuanya balik ke diri loe semua masing-masing. Masih mau bertahan support Mita atau mau mundur. Kalo mau mundur mending dari sekarang, biar nggak malu-maluin, hehe. Mita nggak akan nangis kehilangan fans yang pikirannya sakit semua kayak kalian. Calm down, Mita masih punya fans yang mau terima dan sayang dia apa adanya. Dikit asalkan berotak waras semua lebih baik daripada banyak tapi sakit semua otaknya. Kalau Mita salah biar Allah yang negor. Gitu aja.

Keep Calm Down, Guys. Semua sama dimata Tuhan ;)

Bohong!

Kalian pernah mendengar kata bohong? Kalau pernah, apa yang langsung terpikirkan di kepala kalian?

Lalu, kalian pernah dibohongi? Atau membohongi mungkin?

Kata bohong adalah kata yang paling tidak saya sukai. Apalagi jika kata bohong itu sudah berubah menjadi 'dibohongi'. Kalian pernah di dibohongi? Saya pernah :)

Bagaimana rasanya dibohongi? Saya akan menceritakannya sedikit.

Rasanya seperti dianggap bodoh dan tolol. Dengan mudahnya dibohongi. Saya memang terlalu mudah percaya, tapi bukan berarti saya bodoh dan mudah dibohongi. Kalian tahu bagaimana rasanya dibohongi dan dipermainkan oleh orang yang sangat kalian percaya? Rasanya aneh. Dikepala hanya ada dua kata; Kok bisa? Hanya itu.

Saya bukan pendendam. Tapi saya bukan manusia yang mudah melupakan. Dendam hanya akan membuat saya susah sendiri.

Kalian pernah berharap kan? Lalu bagaimana rasanya ditengah kalian berharap, harapan kalian hanya dianggap lelucon tak penting? Rasanya seperti terbang lalu dihempaskan sekeras-kerasnya. Kalian definisiksan sendiri bagaimana rasanya.

Kalian boleh sebut saya sok bijak, atau apalah. Hanya hanya ingin membagi kisah yang lumayan berhasil membuat saya banyak berpikir. Kenapa saya bodoh? Kenapa saya terlalu mudah percaya? Dan kenapa saya bisa di bohongi?

Ini bukan kebohongan sepele, kebohongan ini sudah berhasil merusak harapan saya. Itu yang membuat saya kecewa dan selalu berpikir dua kali sebelum mempercayai orang yang baru saya kenal.

Selamat malam, semoga kalian memahami maksud tulisan aneh saya malam ini ;)

@DevyMrz

Kerinduan

Selamat siang semuanya. Fyuh, saya pikir tempat ini sudah bersarang laba-laba karena saking lamanya tidak saya kunjungi. Omong-omong bagaimana kabar kalian semua hari ini? Sehatkah? Kalau sehat, bersyukurlah ;)

Hmmm, saya mau bercerita tentang banyak hal hari ini. Masih berkaitan dengan hobby menulis saya. Kalian pernah bermimpi menjadi penulis? Lalu tulisan kalian berhasil menjadi best seller? Saya sedang memimpikannya sekarang. Jika dibayangkan memang sepertinya sangat menyenangkan. Ketika tulisan kita ditunggu banyak orang, banyak kalangan, semuanya. Membayangkannya saja sudah cukup membuat hati senang, bagaimana merasakannya secara nyata.

Saya bukan penulis hebat seperti Tere Liye atau Andrea Hirata yang semua tulisannya mampu menjadi sejarah hebat. Saya hanya seorang amatiran yang sedang dilanda rindu, hehe. Lama saya tidak menulis. Padahal banyak yang ingin saya tulis. Banyak kisah yang ingin saya bagi. Tapi entah kenapa setiap saya mulai ingin menulis lagi, kadar keoptimisan saya menurun. Saya tidak sepercaya diri seperti dulu. Dan saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu.

Rindu. Satu kata itu selalu saja tersemat dihati saya. Saya rindu menulis seperti dulu, saya rindu berimajinasi, saya rindu berpetualang didunia saya sendiri. Dan saya rindu menciptakan kalimat-kalimat aneh saya menjadi sebuah cerpen atau apalah namanya. Menulis selalu membuat saya rindu.

Berhenti. Pernah berfikir untuk berhenti menulis. Tapi saya tidak bisa. Tenyata menulis sudah menjadi bagian dalam diri saya. Dan saya bersyukur karena Tuhan memberi bakat seperti ini pada saya. Menjadi seorang imajiner. Dan saya putuskan saya akan terus menulis. Sampai saya mati.

Siang ini saya punya satu pesan untuk kalian yang senang menulis. Menulis itu hal yang akan membuat kalian ketagihan. Menulis itu menyenangkan, selain mampu menghibur diri sendiri, menulis juga bisa menjadi media yang mengasikkan. Dengan menulis kalian akan tahu karakter kalian sendiri dibalik setiap kalimat yang kalian tulis. Hebat kan?

Satu lagi, menulis akan selalu berhasil membuat otak kita terus berpikir.

So, let's take a papper and write your imagination. Kalian akan tahu betapa menyenangkannya menulis.


Yuks saling sharing:  devyrahmawati18@yahoo.co.id

Corat-Coret



        Sedikit mau bicara tentang sesuatu hal yang saya miliki dulu
        Tentang persahabatan yang kemudian seperti keluarga
        Lama kami semua bersama
        Berbagi kisah dalam setiap kesempatan
        Berbaggi tawa dan cerita-cerita lucu
        Pada akhirnya saya sampai di titik ini
        Titik dimana saya harus mengerti semuanya tak ada yang abadi
        Awalnya hanya satu yang hilang
        Tapi kemudian jadi dua yang hilang
        Saya bertahan
        Terus bertahan dengan hal yang semakin hari semakin menyakiti saya
        Hal yang pelan-pelan membuat saya sakit sendiri
        Ok, ini bukan cerpen atau cerita bersambung seperti yang sering saya tulis dulu
        Ini kisah saya dan kalian
        Kisah yang sudah berakhir dan saya lah orang terakhir yang terluka

        Saya pikir dengan saya bertahan semua akan baik-baik saja
        Tapi ternyata sama saja
        Semakin hari semua yang saya anggap seperti keluarga menjelma menjadi orang asing yang tidak bisa saya kenali lagi
        Seperti dipojokkan
        Seperti diabaikan
        Seperti dianggap tidak ada
        Itulah yang saya rasakan
        Entah siapa yang harus disalahkan
        Entah siapa yang harus meminta maaf duluan
        Satu hal yang saya tahu, kalian tidak sama seperti yang saya kenal dulu
        Berubah mungkin
        Sekarang saatnya saya pasrah
        Tak ada yang harus saya pertahankan lagi
        Tak ada yang harus saya perjuangkan lagi
        Dan tak ada yang harus saya hargai lagi
        Kadang Saya berpikir
        Untuk apa bertahan ditempat yang tak layak lagi untuk dipijak?
        Mungkin saya yang berubah
        Tapi mungkin saja kalian
        Tapi satu hal yang saya tahu
        Sekarang saya berani pergi dari tempat saya berdiri
        Dari kalian yang melukai banyak orang