Bangau Kertas | Chapter 5

Cinta Itu Hadir Lagi ...

   Wahyu berjalan menyusuri koridor kelas saat jam istirahat, tujuannya hanya satu, ke perpustakaan untuk mencari buku-buku mengenai seni teater. Sampai saat ini ia belum menemukan ide yang tepat untuk tema naskah pagelaran teater sebentar lagi. Ia terlalu sibuk dengan tugas-tugas di kelasnya. Wajah Pak Tora, pembina ekskul teater sekaligus piminan produksi, terlintas dipikirannya. Wahyu tahu betul, Pak Tora bukan orang yang mudah memaklumi, beliau orang yang tegas dan disiplin.
   Wahyu menghentikan langkahnya saat melewati taman sekolah, taman dimana para siswa menghabiskan waktu istirahatnya termasuk Mita, sahabatnya. Ya, Mita ada di salah satu kursi taman itu sendirian. Asik dengan kesibukannya membuat sesuatu dengan kertas origaminya.
 
  Wahyu memperhatikan Mita dari tempatnya berdiri. Memandangi gadis tomboy itu dari kejauhan seperti sekarang, membuat hatinya tenang dan nyaman.
“Tuhan, kenapa Aku merasa ada kesedihan yang teramat dalam dimata bening itu? Adakah sesuatu yang melukai hati peri kecilku itu?” batin Wahyu.
“Wahyu!” seruan itu membuyarkan lamunannya. Wahyu tersentak kaget.
“Loe, Ri. Ada apa?” tanya Wahyu pada gadis bernama Riana itu.
“Ke Auditorium sekarang, ada rapat teater dadakan nih, ayo!” jelas Riana.
“Ada apa yah? Jangan-jangan Pak Tora mau minta tema naskahnya, baru mau gua cari” cerocos Wahyu panik.
“Eh udah, ke auditorium dulu aja, yuk!” ajak Riana kemudian berjalan mendahului Wahyu.
Wahyu kembali memperhatikan gadis tomboy yang mampu membuatnya bergantung itu.
“Mitaaa!” seru Wahyu.
Mita yang sedang duduk itu menoleh ke arah sumber suara. Di dapatinya sepasang mata teduh milik Wahyu.
“Apa?” tanya Mita menyeringai.
Wahyu menulis sesuatu di selembar kertas yang dibawanya dari kelas untuk dibawa ke perpustakaan. Usai menulis sesuatu, ia meremas kertas itu, lalu melemparkannya pada Mita.
See you...” ujar Wahyu sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Mita mengambil kertas itu lalu membukanya. Senyum kecil terukir dibibir tipisnya.

~ Hari ini, loe harus nemenin kemanapun gua mau, full day and full time, nggak ada penolakan ~
Itu pesan singkat yang tertera di kertas itu. Mita tersenyum lagi.
“Dasar Wahyu!” gumam Mita kemudian menyelipkan kertas itu di salah satu bukunya.
Sikap hangat Wahyu terhadapnya, membuat cinta di hati Mita tumbuh semakin besar. Hadir lagi, lagi dan lagi. Semakin ingin ia melupakan perasaan itu, semakin sakit hatinya. Cinta itu menjerat hatinya kuat. Justru, cinta itu semakin kuat, kuat dan kuat. Bukan berkurang tapi bertambah. Mita terlalu takut mencampur adukkan urusan cinta ke dalam persahabatan yang ia bina sejak kecil itu. Mita tak mau hal bernama cinta itu nantinya akan merusak semuanya. Biarkan semuanya berjalan seiring dengan waktu yang terus berjalan tanpa henti. Dan biarkan, Mita tetap mencintai Wahyu dengan caranya sendiri, dengan membiarkan Wahyu bebas melabuhkan hatinya dengan siapa nantinya. Ia siap dengan segala sakit yang akan mengusik hatinya. Tapi ia tak kan siap dan terima jika persahabatannya hancur hanya karena cinta yang ia simpan untuk Wahyu. Cinta yang ia simpan serapat mungkin.
***
“Kalian tahu, kenapa saya meminta kalian berkumpul dadakan disini?” tanya seorang pria berkemeja putih dan berdasi berwarna senada dengan celananya yang berwarna hitam, yang terlihat gagah itu di Auditorium.
“Nggak, Pak!” sahut para siswa yang notabenenya adalah anggota ekskul teater.
“Ada berita bagus untuk pagelaran teater yang akan kita selenggarakan” pria bernama Tora itu bicara lagi.
Wahyu membenarkan posisi duduknya, ia duduk di sebelah Riana.
“Ada salah satu siswa dari sekolah ini yang dengan senang hati menyumbangkan sebuah naskah kepada saya, dan setelah saya baca, ceritanya sangat menarik” cerita Pak Tora.
“Dan kamu Wahyu...” Pak Tora mengarahkan pandangannya pada Wahyu.
“Iya, Pak?” sahut Wahyu kikuk.
“Saya mau kamu yang menjadi sutradara dalam pagelaran teater akhir tahun ini” lanjut Pak Tora tegas.
“Saya, Pak?” Wahyu agak shock.
“Iya kamu, kenapa? Nggak bisa?” tanya Pak Tora.

“Kesempatan bagus, Yu. Jangan loe sia-siain!” bisik Riana.
“Bisa, Pak!” jawab Wahyu lantang.
“Bagus! Kamu tahu kan apa saja tugas sutradara?” tanyanya lagi.
Wahyu mengangguk mantap, menjadi sutradara memang keinginannya sejak menjadi anggota teater disekolahnya. Selama ini, ia selalu menjabat sebagai penulis skenario, terkadang sekaligus menjadi penata musik bersama Riana.
“Baik, apa saja yang harus kalian kerjakan ada disini” jelas Pak Tora seraya menunjukkan map berisi beberapa lembar kertas.
“Dan kepala sekolah memberi kita perpanjangan waktu selama dua bulan” lanjut Pak Tora.
“Bekerjalah sebaik mungkin, gunakan waktu yang ini untuk berlatih dan mempersiapkan segalanya!” tegas Pak Tora.
“Dan naskah ini, saya serahkan kepada kamu, Wahyu. Pahami dengan baik, lakukan tugas kamu!” ucap Pak Tora.
“Baik, Pak!” sahut Wahyu seraya menerima lembaran kertas yang telah terjilid rapi itu.
“Ok, ada pertanyaan?” tanya Pak Tora.
“Kalau boleh tahu, siapa siswa yang membuat naskah ini, Pak?” tanya Wahyu dengan rasa penasaran.
“Kalian pasti kenal” jawab Pak Tora. Wahyu menghela napas kecewa.
“Ok, saya rasa cukup, bekerjalah dengan baik. Dan buat para penonton kalian terkesima” ucap Pak Tora lalu pergi.
“Ok guys, gua bacain ya pembagian tugas untuk pertunjukkan teater dua bulan lagi” seru gadis manis bernama Riana yang berdiri diatas stage.
“Ok!” sahut siswa lain.
“Pimpinan produksi dan Sutradara kalian udah tau siapa. Gua bacain yang lain!” lanjut Riana tegas.
“Eris, tugas loe disini bendahara, Trisa loe seperti biasa jadi make uper, dan loe Reno, tugas loe diurusan ticketing. Trus kalo urusan perlengkapan gua serahin ke Arga. Trus....” Riana terus membagi tugas itu.
Wahyu sibuk membaca naskah yang baru saja diterimanya.
Stage manager kita dipegang sama Vino...” suara Riana terdengar nyaring.
“Dan gua sendiri diutus sebagai penata musik lagi...” lanjut Riana.
Wahyu semakin penasaran dengan penulis naskah yang baru saja diterimanya. Siapa kira-kira penulis naskah itu?

***
Mengenang Masa Lalu ...
   Mita dan Wahyu duduk di kursi taman favorit mereka saat masih kecil dulu. Usai pulang sekolah tadi, Wahyu langsung membawa Mita ke taman itu. Taman yang memiliki banyak kenangan manis diantara kedua sejoli itu. Taman yang hanya terjamah oleh Mita dan Wahyu.

Mita menghirup udara segar yang sedang berhembus memanjakannya. Udara yang selalu ia hirup setiap duduk ditaman itu. Aroma tumbuhan yang sama, Mita sangat menyukainya.
“Taman ini nggak banyak berubah, ya?” ujar Wahyu memecah hening.
“Ya, tapi taman ini berubah saat loe pergi” komentar Mita.
“Maksud loe?” tanya Wahyu tanpa menoleh ke arah Mita yang duduk disebelahnya. Matanya lurus ke depan.
“Semenjak loe pergi, gua nggak pernah sekalipun dateng kesini, taman ini seakan mati seperti pada awalnya” jelas Mita, kali ini memandangi Wahyu.
Wahyu terkekeh, entah apa yang lucu, Mita tak mengerti.
“Kenapa loe nggak pernah dateng ketaman ini semenjak gua pergi?” tanya Wahyu seraya membalas pandangan Mita.
“Loe lupa? Kita pernah janji, kalau kita akan dateng ke taman ini berdua, selalu berdua, nggak boleh salah satu” sergah Mita tersenyum kecut.
“Gua kira loe lupa sama janji itu” komentar Wahyu.
Mita tak menjawab, kenangan masa kecil itu masih tergambar jelas di benaknya, sedikitpun tak ada yang luput dari ingatannya. Mita rindu masa-masa menyenangkan itu, masa dimana ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang layak di dapatkan oleh anak seusianya.
“Empat tahun nggak sama loe, loe banyak berubah ya, Mit” Wahyu memulai pembicaraan. Mita tersentak.
“Berubah gimana maksud loe?” tanya Mita agak tak mengerti.
Wahyu tersenyum dingin, sangat dingin.
“Gua merasa banyak hal yang gua nggak tau tentang loe selama kita nggak sama-sama!” kalimat Wahyu ini membuat Mita bingung dan merasa terpojok.
“Gua merasa, banyak hal yang loe tutup rapat-rapat dari gua, yang gua sendiri nggak tau!” lanjut Wahyu.
Hati Mita seperti di tusuk ribuan pisau, sakit bukan main. Setega itukah ia, sampai-sampai sahabat yang teramat ia sayangi ia bohongi.

“Loe nggak se terbuka dulu sama gua, tertutup dan cenderung pendiam” lanjut Wahyu dingin.
“Tuhan, bisakah Kau meminta Wahyu untuk tak melanjutkan kata-katanya. Hatiku sakit!” batin Mita.
“Inget nggak janji kita dulu?” tanya Wahyu seraya menatap mata Mita.
“Saling terbuka dan tak saling melupakan satu sama lain” jawab Mita lirih. Wahyu tersenyum simpul.
Mita menunduk, hatinya terasa sangat sakit usai mengingat dan mengucapkan janji itu.
“Mit, loe akan tetap ke taman ini sama gua kan? Tetep nemenin gua kalo gue pengen kesini?” tanya Wahyu, pandangannya lurus ke depan.
“Janji, loe akan terus ke taman ini berdua sama gua?” tanya Wahyu lagi.
Janji? Mita tak pernah bisa menjamin berapa lama lagi ia akan hidup dan tetap berdiri di samping Wahyu. Tuhan bisa saja mengambil nyawanya sekarang, besok atau mungkin detik ini. Jadi, Mita tak bisa sembarangan mengucapkan janji yang belum tentu bisa ia tepati.
“Mita?” Wahyu menoleh ke arah Mita.
“Yu, kita nggak pernah tahu kan, kapan Tuhan akan mencabut nyawa kita? Gua nggak mau janji itu nantinya nggak bisa gua tepatin” jelas Mita tanpa membalas pandangan Wahyu. Wahyu menyatukan alis.
“Selama gua bisa, gua akan terus ke taman ini sama loe!” lanjut Mita seraya tersenyum.
“Omongan loe aneh, gua kurang suka!” Wahyu tersenyum dingin.
Mita tak menjawab, senyuman itu membuatnya beku.
***
Peri Kecil Yang Malang ....
Hujan siang itu membuat seluruh siswa di sekolah itu mengurungkan niatnya untuk segera pulang kerumah masing-masing termasuk Amanda, Dio dan Mita. Mereka bertiga memang tak berada di tempat yang sama. Mita lebih memilih duduk di dalam perpustakaan dan berkutat dengan origami-origaminya. Perpustakaan itu memang tak terlalu ramai, hanya ada dirinya dan dua siswa lainnya. Sementara Amanda dan Dio lebih memilih duduk di koridor kelas. Dan Wahyu, seharian ini Mita sama sekali tak bertemu Wahyu. Wahyu memang hadir ke sekolah. Tapi Amanda bilang, Wahyu sibuk mengurus pagelaran teater. Maka dari itu Wahyu sama sekali tak muncul dan ikut pelajaran di kelas.

“Mit, perpus udah mau dikunci nih!” seru salah seorang siswa yang memang bertugas memegang kunci perpustakaan.
“Oh, ok!” sahut Mita seraya menyudahi kegiatannya, lalu memasukkan kertas-kertas origaminya ke dalam tasnya seraya tersenyum.
Mita pun berdiri dari duduknya, matanya melirik sebuah buku berjudul “Penyakit Kanker Tulang”.
“Mita!” siswa perempuan itu berseru lagi.
“Eh iya, sorry!” sahut Mita seraya mengambil buku itu lalu berjalan keluar.
“Gua pinjem buku ini, ya!” ujar Mita seraya menunjukkan buku yang ia ambil tadi kemudian pergi tanpa menunggu jawaban siswa itu.
“Hei” sapa Mita pada Amanda dan Dio saat tiba di koridor kelas.
“Kemana aja si loe, pulang yuk!” ajak Amanda.
“Ehmmm...” Mita menyapu pandangannya keseluruh penjuru gedung sekolahnya. “Loe duluan aja deh sama Dio, gua mau Auditorium” lanjut Mita seraya meringis, memperlihatkan deretan giginya yang rapi itu.
“Yaudah deh, gua sama Dio balik ya. Laper!” ujar Amanda to the point.
“Dasar tukang makan, ayo!” sembur Dio seraya menarik tangan Amanda.
“Bye, Mita!” Amanda melambaikan tangannya, begitu pun Dio.
Mita berjalan menyusuri koridor kelas, sekolah mulai sepi saat hujan mulai reda. Mungkin hanya anggota ekskul teater yang masih ada di sekolah ini.
Mita membuka pintu Auditorium, benar dugaannya, anggota ekskul teater masih berkutat dengan rapatnya.
Mita berjalan di tengah deretan kursi merah yang berjejer rapi khas Auditorium, kemudian duduk tak jauh dari siswa-siswa yang mengikuti rapat itu. Wahyu berdiri di atas stage, memimpin rapat itu bersama Riana, asisten produksi. Terlihat gagah.
“Hai” Mita melambaikan tangannya saat Wahyu menyadari kehadirannya.
Wahyu tersenyum simpul, kemudian melanjutkan pidatonya, entah apa itu namanya, Mita tak tahu.
Tiga puluh menit berlalu, Mita sudah membaca buku yang di pinjamnya itu separuh. Tapi, rapat itu belum juga berakhir. Mita melihat orang yang berdiri di stage, bukan lagi Wahyu. Di dapatinya sosok Wahyu duduk di belakang piano klasik yang ada disisi kanan stage.

Mita beranjak dari duduknya, membiarkan tas dan bukunya tergeletak di kursi itu, ia sudah tak tahan ingin segera ke toilet.
“Wah! Kebetulan banget nih, orang yang kita cari ada disini!” seru seorang siswa laki-laki di depan toilet pria.
Mita tak mempedulikannya, ia tahu betul siapa lelaki itu. Lelaki itu adalah Ramon dan kedua temannya, genk yang terkenal sadis pada orang yang berani mengusiknya. Tapi, Mita tak pernah takut pada Ramon. Dengan cueknya, Mita tetap masuk ke toilet itu, dan tidak mempedulikan Ramon.
“Woy Mita! Keluar loe!” suara Ramon terdengar nyaring seraya menggedor pintu toilet itu.
Mita membuka pintu dengan cuek dan tanpa rasa takut.
“Apa?!” tanya Mita garang.
“Loe apain Alexa gua, hah?!” tanya Ramon tanpa basa-basi.
“Gua jambak rambutnya, trus gua siram mukanya pake jus alpukat! Kenapa? Nggak suka?” jawab Mita cuek.
“Sialan loe!” Ramon meninju pintu toilet itu. Mita sedikit tersentak.
“Jangan loe pikir gua takut ya sama loe!” lanjut Ramon seraya mencengkram leher Mita dengan keras.
Mita tak berontak sama sekali, ia tahan rasa sakit itu.
“Banci loe!” tandas Mita dengan suara serak. Mata Ramon membulat.
“Cewek nggak tau di untung! Loe pantes masuk sini!” Ramon memasukkan Mita ke dalam toilet itu dengan paksa.
“Gua nggak pernah takut sama loe, Ramon!” tukas Mita seraya membuang air liurnya di depan Ramon.
“Cewek sialan!” Ramon menampar keras pipi kiri Mita hingga meninggalkan bekas kemerahan, kemudian keluar dari toilet itu dan mengunci toilet itu.
“Ramon! Buka!” seru Mita seraya menggedor pintu toilet itu dari dalam.
Ramon dan kedua temannya terkekeh seraya membuang kunci pintu itu ke tempat sampah.
“Mampus loe! Jangan kurang ajar sama Ramon!” seru Ramon membanggakan diri lalu pergi. Benar-benar pergi.
“Ramon!” teriak Mita keras.
Tapi percuma, tak ada siapapun di toilet itu.

Bangau Kertas | Chapter 4

Back To School ...

“Wahyu!” seru Mita saat keluar dari mobil hitam yang ditumpanginya bersama sang Bunda yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah pagi itu.

“Hey!” sahut Wahyu tersenyum.

“Hati-hati ya, sayang!” seru sang Bunda dari balik kaca mobil.

“Iya, Bunda!” sahut Mita kemudian menghampiri Wahyu.

“Gua kira loe belum pulang dari rumah sakit” Wahyu membuka pembicaraan.

Mita hanya tersenyum tipis disebelah Wahyu, sahabat yang amat dicintainya.

“Apa kata dokter?” tanyanya lagi.

“Cuma terlalu capek!” jawab Mita berdusta.

“Sorry ya, nggak bisa nemenin loe di rumah sakit” lanjut Wahyu.

“No problem” komentar Mita.

Wahyu mengacak rambut Mita yang hitam legam itu.

“Yu, jangan cerita ke Amanda atau Dio ya, soal gue yang masuk rumah sakit” ujar Mita.

“Kenapa?” tanya Wahyu.

“Gua nggak mau mereka khawatir, apalagi mereka baru aja maafin gua, ya?” jelas Mita memohon.
“Ok!”

Mita dan Wahyu tiba di kelas, kemudian duduk ditempat mereka, tepatnya dibelakang meja Amanda dan Dio.

“Kebetulan kalian udah dateng, ada berita heboh nih!” celoteh Amanda langsung tanpa basa-basi.
Dio hanya manggut-manggut dengan wajah serius.

“Berita apaan?” tanya Wahyu dengan gaya sok ingin tahunya.

   Mita tersenyum simpul, benar-benar seperti melihat Amanda dan Dio yang ia kenal. Sahabatnya yang paling bisa membuatnya tertawa terpingkal-pingkal hingga sakit perut. Harinya seperti hidup kembali dengan kembalinya Amanda dan Dio yang selalu bersikap hangat padanya dan Wahyu. Walaupun terkadang gila!

“Bu Sheila di pecat!” jawab Amanda dengan senyum merekah.

“Lho? Kok bisa?!” tanya Wahyu kaget, ini benar-benar kaget.

“Bu Sheila yang pembina ekskul modeling itu? Yang kalau dandan selalu berlebihan itu, iya?” tanya Mita berapi-api.

“Yap, intinya sih kayak badut ancol!” lanjut Dio santai.

“Yap, Bu Sheila pembina ekskul modeling itu!” sahut Amanda.

“Alasannya dia di pecat apa?” tanya Wahyu masih penasaran diiringi anggukan Mita dan Dio.

“Kalian nggak tau?!” tanya Amanda jengkel.

Mita, Wahyu dan Dio menggeleng.

“Satu sekolah udah tau kalau dia korupsi anggaran dana ekskul model itu, buat kepentingan pribadi gitu deh!” jelas Amanda dengan gaya seperti narator yang sedang membaca sebuah cerita.

“Oh gitu!” ujar Mita, Wahyu dan Dio yang asik duduk di atas meja.

“Eh, ada guru! Turun-turun!” seru Amanda yang membuat ketiga sahabatnya itu panik.

Mita duduk di sebelah Wahyu seraya tersenyum, apalagi jika mengingat pembahasan mereka barusan. Benar-benar obrolan ala anak SMA.

“Guru killer!” bisik Amanda pada Dio dilanjutkan kepada Mita dan Wahyu.

***
Seperti Bangau Yang Terlupakan ...

Mita memperhatikan orang-orang disekitarnya, saat ini ia berada disebuah sekolah khusus untuk orang-orang yang memiliki keterbelakangan fisik atau disebut cacat fisik. Mita datang bersama sang Bunda, karena beliau menjemputnya saat pulang sekolah. Mita juga terpaksa harus menolak ajakan Wahyu yang mengajaknya futsal dan ke toko buku.

“Siang, Bu” sapa salah seorang gadis cantik dengan kedua kruk di tangannya.

“Siang” sahut Maia, ibunda Mita.

Mita hanya melontarkan senyum pada gadis itu. Kemudian, Maia kembali mengajaknya berjalan lagi.
Mita dan Maia pun menyusuri setiap koridor kelas. Miris hati Mita, melihat teman-teman sebaya itu harus rela hidup dengan keterbelakangan fisik. Bundanya bilang, mereka bersekolah di sekolah khusus ini karena di sekolah yang sebelumnya mereka di anggap memperlambat pelajaran, hanya karena mereka berbeda. Itu tak adil. Semua orang mempunyai hak yang sama!

“Bunda, apa di sekolah ini menerima para tunanetra?” tanya Mita.

“Tentu, sekolah ini tak membatasi, semua berhak mendapatkan haknya untuk mendapat pendidikan yang sama!” jawab Maia dibarengi senyum.

Mita ikut tersenyum, ia bangga pada wanita yang ada di sebelahnya ini. Wanita tertangguh yang pernah ia kenal dan miliki. Dan... Ia mencintainya.

Mita memperhatikan seorang gadis duduk di koridor kelas, gadis itu sedang menyantap makan siangnya. Dan yang membuat hati Mita terenyuh adalah, gadis itu tak memiliki tangan kanan. Sangat memprihatinkan.

Tapi, Mita bisa melihat betapa besarnya usaha gadis itu untuk tetap makan menggunakan tangan kirinya yang pendek. Mita juga tahu, gadis itu tak ingin merepotkan orang lain. Oh Tuhan!

“Ya Tuhan, mereka semua seperti sekumpulan bangau yang terlupakan atau mungkin terabaikan dari dunianya” batin Mita miris.

“Yang Aku tahu, mereka semua hebat, lebih hebat dari mereka yang memiliki fisik sempurna. Dan yang Aku tahu, sempurna itu tak harus sama dengan yang lain” batin Mita lagi.

“Ibu Maia, ditunggu ketua yayasan di kantornya” ucapan seseorang membuat perjalanan Mita dan Maia terhenti.

“Ya, terima kasih” ucap Maia pada anak laki-laki yang membawa perintah itu.

Laki-laki yang duduk di kursi roda itu pun pergi meninggalkan Mita dan Maia.

“Bunda mau pergi?” tanya Mita.

“Iya, gapapa kalo Bunda tinggal?” jawab Maia seraya bertanya.

“Gapapa” jawab Mita tersenyum.

“Yaudah, Bunda tinggal ya” pamit Maia pada putrinya lalu pergi.

Mita melanjutkan perjalanannya menyusuri sekolah khusus ini. Benar-benar serba sederhana, Mita bisa merasakan itu semua.

***

Mita pergi meninggalkan kantin yang terdapat di sekolah khusus itu. Usai menyusuri sekolah itu, ia memang menghabiskan waktu di kantin sambil menunggu sang Bunda. Mita berjalan menuju gerbang sekolah itu. Tapi, tiba-tiba ada yang membuat langkahnya terhenti.

“Hey, tunggu!” seru seseorang.

Mita berbalik, seorang anak laki-laki seumuran dengannya duduk di kursi roda. Dan tak memiliki kedua kaki.

“Loe manggil gue?” tanya Mita seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Iya” jawabnya seraya mendekati Mita.

“Ini punya loe, kan?” tanya laki-laki itu seraya menyerahkan buku bermotif England berwarna merah hitam itu.

“Wah iya, thanks banget!” jawab Mita seraya tersenyum dan menerima buku itu.

“Ah, dasar pelupa! Untung loe temuin” Mita memaki dirinya sendiri.

“Lain kali jangan teledor, itu buku diary kan?” tanya laki-laki itu.

“Hehe... Iya. Makasih ya” jawab Mita.

Laki-laki itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang diberi kawat gigi.

“Sebagai rasa terima kasih, loe gua traktir deh. Disini ada cafe?” tanya Mita.

“Ada, nggak jauh kok dari sini” jawabnya.

“Ok, loe mau kan temenin gua kesana?” tanya Mita agak berharap.

“Ok deh” jawab laki-laki itu.

Mita tersenyum senang, kemudian berjalan ke belakang kursi roda laki-laki itu, berniat mendorongnya.

“Eh nggak perlu, ini otomatis kok!” cegah laki-laki berkawat gigi itu dengan senyum.

“Oh sorry, gua nggak tau” ucap Mita gugup.

***

“Loe anaknya Bu Maia, ya?” tanya laki-laki bernama Radja itu saat berada di dalam cafe mini itu.

“Iya, kok loe tau?” tanya Mita.

“Tadi, gua liat loe sama Bu Maia jalan-jalan di koridor kelas, lagipula beliau pernah cerita kalau beliau punya dua anak perempuan. Dan yang satu itu tomboy!” jelas Radja.

Mita manggut-manggut mengerti, kemudian menyuapkan sesendok moccachino ke mulutnya.

“Oh ya, kalau gua boleh tau, kenapa sama kedua kaki loe?” tanya Mita penasaran.

Radja meletakkan sendoknya disebelah gelas berisi capuchino pesanannya. Kemudian memandangi Mita, gadis yang baru saja dikenalnya.

“Kanker tulang” jawab Radja yang raut wajahnya berubah agak muram.

Mita hampir tersedak mendengar ucapan Radja barusan. Kanker tulang?

“Setahun yang lalu, dokter memvonis gua mengidap kanker yang menggrogoti kaki gua ini” jelas Radja.
Mita menata dalam mata Radja, mencoba merasakan apa yang Radja rasakan.

“Belum ada obat untuh nyembuhin kanker yang gua derita. Satu-satunya cara supaya kanker itu nggak terus-menerus menggrogoti kaki gua ya cuma dengan amputasi” lanjut Radja kemudian menunduk.

“Amputasi?” gumam Mita dalam hati.

“Mita, are you okey?” tanya Radja.

Mita tersentak, kemudian mengulum senyum.

“Sejak kapan loe sekolah di sekolah itu?” tanya Mita lagi.

“Sejak kaki gua di amputasi, tapi awalnya orangtua gua nggak izinin” jawab Radja tanpa raut wajah menyesal.

Mita menghela napas berat, berusaha agar air matanya tak tumpah saat itu juga.

“Tapi, setelah gua bujuk, mereka akhirnya setuju” lanjut Radja yang masih tetap tegar.

“Apa penderita kanker tulang harus diamputasi?” tanya Mita agak gemetar.

“Yah, cuma itu cara supaya kanker itu nggak terus menyebar ke anggota tubuh lainnya” jawab Radja.

Mita seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar penuturan Radja. Air mata yang sedari tadi ditahannya pun menetes juga.

“Mit, loe nangis?” tanya Radja kaget.

“Nggak” jawab Mita seraya menyeka air matanya.

“Oh ya, udah sore nih. Gua pamit, takut ditunggu Bunda” lanjut Mita seraya beranjak dari duduknya.
“Mita..” ucap Radja.

“Ya?” tanya Mita.

“Sorry kalau ada ucapan gua yang nyinggung loe” jawab Radja merasa bersalah.

“Nggak ada yang salah, kok. Loe orang yang asik, thanks udah mau nemenin gua. Bye!” ujar Mita lalu pergi.

***

Bunda, Apa Mita Akan Seperti Radja? ...

Mita menghapus air matanya sebelum masuk ke dalam mobil agar sang Bunda tak melihatnya menangis. Mita tak mau membebani pikiran wanita yang amat di cintainya itu.

“Bunda, maaf Mita buat Bunda nunggu” ucap Mita saat masuk ke dalam mobil.

“Nggak kok, bunda juga baru keluar dari sekolah. Kamu dari mana?” tanya Maia.

“Cafe yang ada disekitar sini” jawab Mita.

“Kamu abis nangis, ya?” tanya Maia saat melihat mata putrinya itu sembab.

“Nggak, tadi kelilipan, Bun!” dusta Mita.

“Mita, kamu nggak bisa bohong sama Bunda” desak Maia penasaran.

Mita menunduk, kemudian menghela napas.

“Bunda kenal sama Radja?” tanya Mita.

“Ya kenal, dia salah satu siswa berprestasi di sekolah ini, kenapa?” jelas Maia kemudian bertanya.

“Bunda tau, tadi Mita ngobrol sama Radja di cafe. Dia laki-laki yang baik dan asik diajak ngobrol” jelas Mita dibarengi senyum.

“Heemm, kamu jatuh cinta sama dia?” tanya Maia di iringi seringaian. Tapi, Mita justru terdiam.

“Apa Mita akan seperti Radja, Bunda?” tanya Mita tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
“Maksud kamu?” tanya Maia bingung.
 
“Apa Mita akan kehilangan kedua kaki Mita, Bunda?” tanya Mita lagi seraya menatap mata ibunya.
Maia belum menjawab, pertanyaan putrinya itu sama sekali tak pernah ia harapkan.

“Apa Mita akan duduk dikursi roda yang sama seperti Radja?” Mita terus mengajukan pertanyaan.

Maia masih belum mau menjawab.

“Duduk di kursi roda tanpa kedua kaki selamanya?” Mita akhirnya meneteskan air mata.

Maia menatap mata putrinya yang basah. Membuatnya sedikit terenyuh.

“Nggak ada basket, nggak ada futsal, nggak ada teater. Mita nggak akan bisa melakukan semua itu lagi kan, Bunda?!” tanya Mita yang tangisnya pecah.

“Mita! Dengerin Bunda!” ujar Maia yang telah habis kesabarannya seraya menggenggam kedua tangan Mita.

“Kamu nggak akan seperti Radja, Bunda jamin itu! Bunda yakin kamu pasti sembuh, Bunda akan terus cari obatnya. Dan berapa pun harganya, Bunda nggak peduli. Kamu denger itu!” tegas Maia menahan tangis.

“Tapi Radja bilang, belum ada obat buat nyembuhin penyakit itu, Bunda!” komentar Mita yang masih menangis.
“Mita, kamu harus percaya, Tuhan punya rencana yang lebih indah dari segala cobaan ini, kamu inget itu!” tukas Maia meyakinkan putri sulungnya itu.

Mita menangis tersedu-sedu tanpa mengomentari ucapan ibunya.

“Dan Bunda janji, kamu akan tetap sehat, kamu akan kuliah dan mendapat gelar sesuai dengan keinginan kamu. Dan yang paling kamu inginkan adalah kamu akan menggelar pertunjukan teater yang kamu dan Wahyu impikan sejak kecil” celoteh Maia mencoba tegar didepan Mita.

“Semua itu akan terwujud, Sayang!” lanjut Maia. Mita masih menangis.

“Dan kamu akan merayakan pesta pernikahan impian kamu bersama orang yang paling kamu cintai!” ucapan Maia yang satu ini membuat Mita langsung memeluknya erat.

“Bunda jamin itu!” bisik Maia.

***

Sesuatu Yang Membuatku Tegar ...

Mita duduk ditepi kolam renang yang ada dihalaman belakang rumahnya malam itu. Kedua kakinya sengaja ia biarkan terendam air kolam yang dingin itu. Hatinya masih terlalu perih untuk mengingat kembali obrolannya dengan Radja, teman barunya, siang tadi. ‘Seorang penderita kanker tulang harus diamputasi’ kalimat itu masih terngiang jelas ditelinganya. Bukankah lebih baik mati, daripada harus hidup tapi tak memiliki kaki?

“Kak?” suara itu membuat Mita tersentak.

“Kamu, Ra.” sahut Mita seraya menyeka air matanya yang sedari tadi di biarkan menetes.

“Kakak nangis?” tanya Dara.

Mita tak menjawab, ia mengayunkan kedua kakinya yang ada didalam air itu, matanya memperhatikan air yang bergerak karena ayunan kakinya.

“Kak!” seru Dara yang masih menatap kakak yang amat dicintainya itu.

“Ra, tadi kakak ke Yayasan tempat Bunda ngajar. Kamu tau, kakak ketemu siapa?” tukas Mita memulai ceritanya.

“Siapa, Kak?” tanya Dara.

“Namanya Radja, dia seumuran sama Kakak. Dia cowok yang baik dan asik diajak ngobrol” lanjut Mita seraya menatap Dara.

“Oh ya? Lebih dari kak Wahyu?” tanya Dara menyeringai.

“Mereka berdua punya kelebihan masing-masing, Dara” komentar Mita tersenyum.

Dara mengulum senyum, memperlihatkan gigi gingsulnya itu.

“Dan kamu tau, Ra?” tanya Mita lagi, suaranya kembali bergetar.

“Apa, Kak?” tanya Dara penasaran.

“Radja nggak punya kedua kaki, Ra” ucap Mita disertai air mata yang menetes.

Dara terperangah, ucapan Mita membuatnya mati kutu.

“Radja menderita kanker tulang, sama seperti kakak” lanjut Mita lagi.

Dara menunduk, merasakan dadanya yang teramat sesak. Seperti ada yang menekannya kuat-kuat.

“Dan penderita kanker tulang harus diamputasi, cuma itu satu-satunya cara supaya kanker itu nggak terus-menerus menggrogoti organ tubuh lain” Mita mengulangi ucapan Radja.

Dara memeluk erat kakaknya itu, mencoba merasakan apa yang kakaknya rasakan. Ia benar-benar tak sanggup melihat kakaknya menderita.

“Dara yakin, kakak pasti sembuh. Kakak nggak akan seperti Radja, Dara yakin!” ucap Dara sengit disela tangisnya.

“Bunda juga bilang gitu” sahut Mita menahan tangis.

“Kak Mita akan tetap jalan disamping Dara setiap hari, dan kak Mita akan berlari disamping Dara setiap jogging. Kakak akan selalu seperti itu!” pungkas Dara.

“Sampai kapanpun!” lanjut Dara terisak.

Mita tak menyahut, semuanya terasa sangat pahit untuk ia terima dan jalani. Terlebih, ia harus melihat adiknya terus menangis saat ia bercerita mengenai kanker itu.

“Kak Mita akan wisuda, kakak juga akan menyelenggarakan pentas teater bersama kak Wahyu. Dan kakak akan melaksanakan pesta pernikahan impian kakak bersama orang yang kakak cintai!” celoteg Dara yang masih dalam pelukan Mita, kakaknya.

“Tanpa kursi roda. Karena kakak akan tetap berdiri disamping Dara, Bunda dan juga Ayah!” lanjut Dara.
Mita mempererat pelukannya, air mata tak mampu ia tahan. Ia menangis. Lagi.

“Tuhan, terima kasih telah memberikanku keluarga yang begitu menyayangiku” batin Mita pilu.
Yah, keluarga adalah peran terpenting dalam hidupnya. Itu alasan Mita mampu bertahan sampai saat ini. Semua karena keluarganya.

Bangau Kertas | Chapter 3

   Wahyu berdiri didekat salah satu rak buku yang berisi buku-buku bertema kesenian diperpustakaan sekolahnya. Ia sedang mencari referensi untuk ekskul teater yang ia urus. Karena, dua minggu again, ia beserta anggota teaternya lainnya akan menyelenggarakan sebuah pertunjukan. Wahyu yang notabenenya adalah ketua dari ekskul teater memiliki tugas paling berat dibandingkan anggota-anggota lainnya. Salah satunya membuat proposal untuk diserahkan pada pimpinan produksi teater, Pak Tora.

“Woy, ngapain loe?” tanya seseorang seraya menepuk bahunya pelan, Amanda.

“Ssst, berisik loe! Gua lagi nyari ide buat tema pertunjukan teater dua minggu lagi” jelas Wahyu berbisik.

“Oh gitu” ujar Amanda manggut-manggut.

“Loe ngapain?” tanya Wahyu seraya berjalan meninggalkan rak buku itu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya, lalu duduk disalah satu rak-rak buku.

“Cari buku biologi, buat tugas” jawab Amanda pelan seraya duduk disebelah Wahyu yang hanya manggut-manggut mengerti.

“Kemaren, loe nganterin Mita pulang, ya?” tanya Amanda pelan.

“Iya, kenapa?” Wahyu balik tanya.

“Loe nggak marah sama kelakuan dia yang keterlaluan itu?” tanya Amanda.

“Marah? Buat apa, gua tau kok Mita bukan tipe orang yang rela ninggalin sekolah demi ikut tugas” jelas Wahyu santai.

“Loe yakin banget, kalau seminggu dia nggak ke Bandung, menurut loe dia dimana?!” sanggah Amanda ketus.

“Nggak tau” jawab Wahyu enteng.

Amanda membuang napas kesal, lalu membuka buku yang dicarinya, buku biologi.

“Gua mau loe sma Dio maafin Mita” Wahyu memulai lagi.

“Apa?!” tanya Amanda, kali ini suaranya benar-benar keras.

“Hei, kalian berdua, keluar!” perintah penjaga perpustakaan pada Wahyu dan Amanda yang telah membuat keributan diperpustakaan itu.

“Ah, loe si” gerutu Wahyu jengkel seraya menyenggol siku Amanda.

Wahyu dan Amanda keluar dari perpustakaan itu, kemudian duduk dikursi panjang yang ada didepan perpustakaan itu.

“Loe mau gua maafin Mita?” Amanda bertanya soal ucapan Wahyu tadi.

“Iya, mau kan?” jawab Wahyu.

“Nggak semudah itu, Mita udah keterlaluan, Yu” sungut Amanda.

“Tapi, gua yakin bukan itu alasan Mita menghilang selama seminggu” elak Wahyu.

“Apa si yang bikin loe yakin, kalau bukan itu alasan Mita menghilang selama seminggu?” tanya Amanda.

“Loe lupa? Gua sama Mita udah temenan sejak kecil, jadi otomatis gua tau sifat Mita gimana. Dan Mita nggak mungkin ninggalin sekolah demi hal kurang penting itu!” jelas Wahyu seraya menutup bukunya.

Amanda tak berkomentar apapun, ucapan Wahyu memang ada benarnya.

“Gua yakin, Dio juga pasti mau maafin Mita” lanjut Wahyu yakin.

“Yu, Dio kalau udah terlanjur marah, dia bakal susah buat maafin, sama sahabatnya sendiri pun!” tukas gadis berambut sebahu dan berwajah imut dan manis itu.

Wahyu terdiam, ia paham semua karakter sahabatnya, tapi ia paling tau karakter Mita, sahabat kecilnya.
“Battle!” celetuk Amanda.

“Maksud loe?” tanya Wahyu.

“Ya, kita berempat tanding basket, loe sama Mita, gua sama Dio, gimana?” jelas Amanda.
“Terus?”

“Kalau loe berdua menang, gua sama Dio akan maafin Mita, tapi kalo gua sama Dio yang menang, gua sama Dio nggak akan maafin Mita” lanjut Amanda.

Wahyu memandangi Amanda, sahabatnya yang satu ini memang terkadang gila!

“Deal?” tanya Amanda.

“Ok, deal!” sahut Wahyu.

“Ok, gua cabut dulu, mau kasih tau Din dikelas” pamit Amanda seraya berdiri dari duduknya.

“Hey, kita tanding kapan?” tanya Wahyu.

“Hari ini, pas pulang sekolah!” seru Amanda kemudian berlalu pergi.

***
Four Years Ago...

“Wahyu beneran harus pindah?” tanya seorang gadis kecil berambut bondol dan hitam lurus itu kepada sahabatnya saat mereka sedang menikmati ice cream favorit mereka dibangku taman kompleks.

“Iya, Papa Aku pindah tugas didaerah lain, lagipula Papa udah beli rumah baru disana” jawab seorang bocah lelaki berhidung mancung dan berwajah tampan itu, siapa lagi kalau bukan Wahyu.

“Tapi, sekolahnya nggak pindah, kan?” tanya gadis kecil itu lagi.

“Pindah, jadi selama SMP kita nggak bisa sama-sama. Papa udah daftarin Aku disekolah lain” jelasnya.

“Yaaah...” desah gadis kecil itu.

“Kamu tenang aja, kita masih bisa sering ketemu, kok” ujar Wahyu kecil.

“Oh ya? Caranya?” tanya si polos Mita.

“Kalau liburan sekolah, Ak pasti ajak Papa sama Mama main kerumah kamu” jawab Wahyu sambil menjilati ice cream rasa coklat favoritnya.

“Iya, kamu bener juga” komentar Mita seraya tersenyum.

“Nah, gitu dong, harus tetep senyum” balas Wahyu dibarengi cengiran.

Mita tersenyum lagi, kemudian berdiri dari duduknya.

“Udah sore, pulang yuk!” ajak Mita pada sahabatnya, Wahyu.

“Ok” kata Wahyu seraya berdiri dari duduknya.

“Oh iya, Aku lagi belajar buat bangau kertas lho” Mita memulai pembicaraan saat mereka mulai berjalan menyusuri setiap deretan rumah dikompleks itu.

“Oh ya? Belajar dimana?” tanya Wahyu antusias.

“Belajar sama Bunda” jawab Mita.

Wahyu tak berkomentar, karena sibuk menghabiskan ice creamnya. Padahal, Mita sudah menghabiskan ice creamnya sejak tadi.

“Wahyu kebiasaan, kalau makan ice cream pasti lama abisnya” komentar Mita kecil sambil memanyunkan bibirnya.

“Biarin” balas Wahyu santai.

Kedua bocah itu terdiam, menikmati semilir angin yang berhembus lembut sore itu, mengiringi langkah mereka menuju rumah.

“Pokoknya, suatu hari nanti kamu harus kasih bangau kertas buatan kamu ke Aku, ok” ujar Wahyu usai menghabiskan ice creamnya.

Mita kira, Wahyu sudah melupakan hal itu, ternyata tidak. Ya, Mita tahu, Wahyu bukan tipe orang yang mudah melupakan.

“Ok, mau berapa?” tanya Mita.

“Ehmmm, sebanyak-banyaknya” jawab Wahyu menantang.

“Oke, tapi buat apa bangau kertas sebanyak itu?” tanya Mita ingin tahu.

“Buat Aku buang ke sungai” jawab Wahyu.

“Ih, Wahyu jahaaat!” seru Mita.

Tetapi, Wahyu sudah berlari kencang dari tempat itu, dengan sigap, Mita pun berlari mengejar sahabatnya itu.

“Didaerah sini kan nggak ada sungai” lanjut Mita disela larinya mengejar Wahyu.

“Emaaang! Kamu ketipu!” balas Wahyu dibarengi tawa terpingkal.

“Wahyuuu!” suara Mita menggema diseluruh deretan rumah yang mereka lewati. Dan derap langkah mereka melengkapi suasana sore itu.

***
Sebuah Perpisahan ...

Pagi itu langit terlihat cerah, burung-burung kecil dengan antusiasnya berkicau menyemarakkan pagi itu. Yah, benar-benar pagi yang indah bagi siapapun yang bisa menikmatinya.
Tapi, tidak akan indah bagi Mita. Karena pagi itu, ia harus merelakan sahabat yang selalu memberi warna dihari-harinya pergi dari rumah yang sudah dua belas tahun ditempatinya. Tentu saja banyak kenangan indah dirumah sahabatnya itu. Apalagi, Mita memang lebih sering menghabiskan masa kecilnya dirumah Wahyu yang berada tepat disebelah rumahnya. Lagipula, orangtua Wahyu jarang berada dirumah, mereka sibuk bekerja, dan Wahyu hanya ditemani Bi Inah, pembantu setia keluarganya. Terkadang, Mita juga tak sungkan menginap dirumah Wahyu. Baginya, apa yang menjadi milik Wahyu adalah miliknya, begitupun sebaliknya. Itu komitmen persahabatan mereka.

“Mita cengeng!” celetuk Wahyu saat melihat Mita menangis saat ia dan keluarganya berpamitan.

Mita langsung memeluk Wahyu erat, menumpahkan duka terdalamnya dipelukan Wahyu.

“Aku cuma pindah, bukan meninggal atau pergi yang jauh, Mita” ujar Wahyu lembut seraya membelai rambut Mita.

“Iya Aku tau, tapi... Aku nggak bisa biarin kamu pergi” ucap Mita disela tangisnya.

“Aku kan udah janji, kalau libur sekolah, Aku pasti kesini” lanjut Wahyu.

“Aku mohon, tetep disini, jadi tetangga sekaligus jadi sahabat Aku” desak Mita.

Wahyu mengendurkan pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Mita.

“Aku tetep sahabat kamu, sekarang, besok dan selamanya. Tanpa harus jadi seorang tetangga” komentar bocah lelaki itu dengan lembut.

Mita menyeka air matanya, kemudian menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan.

“Janji?” tanya Mita seraya tersenyum datar, kemudian mengacungkan jari kelingkingnya.

“Janji” tegas Wahyu seraya mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Mita.

Mita tersenyum, benar-benar tersenyum. Wahyu pun kembali memeluk gadis mungil nan tomboy itu.

“Wahyu tetep sahabat Mita, dan Mita tetep sahabat Wahyu!” bisik Mita tepat ditelinga Wahyu.

Wahyu melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum simpul.

“Always, and forever!” lanjut Wahyu.

“Janji ya, harus sering kirim surat atau telepon Aku, ok!” ujar Mita.

“Janji! Sekarang Aku harus pergi, jaga diri baik-baik ya” kata Wahyu seraya menyalami Mita.

“Wahyu! Ayo sayang!” seru sang Mama dari dalam mobil.

“Bye, Mit! Dipake selalu ya kalungnya, Aku janji, kita pasti ketemu lagi!” ujar Wahyu kemudian pergi menghampiri orangtuanya dimobil.

“Suatu hari nanti” lanjut Wahyu sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.

Mita membuka kepalan tangannya, sebuah kalung emas putih berbandul hati, Wahyu berikan untuknya. Mita tersenyum, tapi air matanya tak mampu ia bendung. Ia terharu.

“Masuk yuk, Sayang!” ajak sang Bunda pada gadis kecilnya itu.

“Bunda, Wahyu kasih Mita ini” ucap Mita seraya menunjukkan kalung itu pada ibunya.

“Wah, simpan baik-baik ya, Bunda yakin kamu pasti dipertemukan lagi sama Wahyu, yuk!” komentarnya seraya mengajak putrinya masuk.

“Mita mau pake kalung ini setiap hari” kata gadis kecil itu saat masuk kedalam rumahnya.

Sang Bunda hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya itu. Kemudian kembali ke dapur, untuk memasak bersama pembantu.

“Bun, Mita belum beli pita buat orientasi besok!” seru Mita dari ruang tengah.

***
Wahyu tersenyum kecil saat mengingat kejadian empat tahun silam, saat dirinya dan Mita masih lugu dan polos, dan hanya mengerti senang-senang. Berbeda dengan sekarang, sahabat kecilnya kini telah menjadi gadis yang dewasa dan cantik. Meskipun penampilannya bak seorang laki-laki. Tapi, Wahyu bisa melihat sisi manja dan rapuh dari gadis tomboy itu.

“Hei” sapa seseorang seraya menepuk bahu Wahyu. Wahyu tersentak.

“Mita, bikin kaget aja” tukas Wahyu yang sedari tadi masih duduk didepan perpustakaan itu.

Mita hanya tersenyum seraya duduk disebelah Wahyu. Ia menarik napas dalam saat angin berhembus.
“Soal seminggu yang lalu, gua....”

“Gua udah lupa!” celetuk Wahyu.
 
Mita terperangah, semudah itu Wahyu melupakannya? Mustahil.

“Bohong!” semprot Mita.

Wahyu menutup buku yang dibukanya tanpa dibaca itu. Membuat Mita agak tersentak.

“Lupain masalah itu, karena itu loe nangis karena gua” pinta Wahyu.

“Tapi, gua emang....”

“Gua nggak peduli, setega apapun loe sama gua, loe tetep sahabat gua, itu kan janji persahabatan kita?” tegas Wahyu seraya menatap dalam mata Mita.

Deg!
Jantung Mita serasa ingin melesat keluar dari dadanya. Ucapan Wahyu benar-benar berhasil membuatnya diam seribu bahasa. Setega itukah dirinya? Membohongi sahabatnya sendiri? Batin Mita benar-benar menjerit pilu kali ini, haruskah ia jujur dengan keadaan sebenarnya? Tapi, ia takut! Takut dikasihani... Tidak!

“Amanda sama Dio mau maafin loe, kok” Wahyu mengalihkan pembicaraan.

Mita membulatkan matanya, memandangi Wahyu, tak percaya dengan ucapannya.

“Tapi ada syaratnya” lanjut Wahyu.

Mita masih dalam diamnya, menutup mulutnya serapat mungkin.

“Pulang sekolah nanti, mereka mau battle basket, dua lawan dua” jelas Wahyu.

“Kalau mereka yang menang, mereka nggak mau maafin loe, dan kalo kita yang menang, mereka akan maafin loe” lanjut Wahyu.

Basket?
Mita tertegun, masih sanggupkah kedua kakinya berlari? Masih sanggupkah kedua kakinya membantunya melompat dan memasukkan bola ke dalam ring dan mencetak poin? Dokter bilang, kanker itu mulai menjalar menujur betisnya, dan harus segera amputasi agar tak menyebar ke anggota tubuh yang lainnya. Mita pun harus mengurangi aktivitas yang berhubungan dengan kakinya.

“Mita?” seru Wahyu.

“Ya?” sahut Mita tergagap.

“Bisa?” tanya Wahyu.

“Bisa, pasti bisa!” jawab Mita berusaha melawan rasa takutnya.

Wahyu tersenyum, senyuman yang tak pernah berubah dengan senyumannya saat ia kecil dulu.

***
Mita, Wahyu, Amanda dan Dio berkumpul dilapangan basket yang ada disekolahnya siang itu, sepulang sekolah. Cuaca tak secerah biasanya, hari ini terlihat mendung, awan hitam mulai membentuk gumpalan-gumpalan besar.

“Battlenya besok aja, cuaca nggak mendukung!” ujar Wahyu.

“Nggak perlu, kita tanding hari ini juga!” tolak Mita tegas.

“Mit?” bisik Wahyu lirih.

“Ayo kita mulai pertandingannya!” ajak Mita tanpa menghiraukan Wahyu.

“Ok!” sahut Amanda setuju.

Mita mendribble bolanya, tatapannya garang tanpa gentar. Setelah mendribble bolanya, Mita pun menggiringnya menuju ring lawan. Amanda dan Dio mencoba merebut bola itu, tapi selalu gagal. Dengan hati-hati, Mita pun melompat tinggi lalu memasukkan bolanya ke dalam ring, dan mencetak poin. Tapi sayang, bola itu berhasil direbut Amanda dan digiring menuju ringnya. Wahyu tak tinggal diam, ia berusaha menghalangi Amanda.
Pertandingan pun terus memanas, meskipun hari semakin terlihat gelap karena awan hitam itu. Kedua tim itu selalu berusaha mencetak poin, tak peduli tali persahabatan yang menaungi mereka.
Saat ditengah pertandingan, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Hujan turun dengan lebat dibarengi kilat dan petir. Membuat suasana semakin memanas. Tapi, pertandingan itu tetap berlanjut.

“Mita!” seru Wahyu saat berlari disamping Mita yang sedang mendribble dan menggiring bolanya.
Mita menoleh, senyumannya terlihat samar dibawah guyuran hujan itu.

“Gua nggak nyangka, loe masih mau pake kalung itu!” lanjut Wahyu.

“Ini?” tanya Mita seraya menunjukkan emas putih yang menggantung dilehernya.

“Iya, gua kira loe udah nggak pake!” seru Wahyu lagi seraya terus berlari.

“Cuma ini yang bisa ngobatin kangen gua sama loe! Dan cuma ini yang bikin gua yakin kalo loe pasti balik ke gua!” aku Mita masih terus berlari dibawah guyuran hujan.

Wahyu berhenti usai mendengar pengakuan Mita barusan, tertegun dibawah guyuran hujan, ia bingung dengan ucapan Mita barusan. Tak peduli dengan Amanda dan Dio yang tetap mencoba merebut bola yang sedang Mita giring menuju ring.

“Tuhan, bantu aku” batin Mita sebelum akhirnya memasukkan bola itu kedalam ring dengan baik.

“Yes! Gua menang!” sorak Mita sumringah dibawah guyuran hujan, sambil mengangkat tinggi kedua tangannya.

Amanda dan Dio berhenti, memandangi Mita yang kegirangan atas kemenangannya. Kemampuan Mita dalam berbasket memang tak perlu diragukan, Amanda dan Dio tau itu.

“Wahyu! Kita menang!” teriak Mita kepada Wahyu yang masih mematung.

“Ok, loe berdua menang!” seru Dio mengakui kemenangan Mita dan Wahyu.

Amanda langsung pergi meninggalkan lapangan, disusul Dio yang juga ikut meninggalkan lapangan.
Mita merasakan kepalanya yang pening, kedua kakinya terasa sangat linu, pandangannya pun mulai kabur. Mita memegangi kepalanya yang pening.

“Yu...” seru Mita pelan.

Wahyu tersadar dari lamunannya, kemudian memperhatikan Mita dari posisinya yang berada ditengah lapangan.

“Loe hebat, Mit!” seru Wahyu diiringi senyum khasnya.

Tubuh Mita ambruk seketika, dibawah guyuran hujan siang itu. Wahyu sontak kaget, kemudian berlari mendekati Mita yang terkapar.

“Amanda, Dio!” teriak Wahyu seraya meletakkan kepala Mita dibahunya.

Tak ada jawaban dari Amanda atau Dio. Usai meninggalkan lapangan, mereka langsung on the way pulang.

“Mit, Mitaaa!” seru Wahyu seraya menepuk-nepuk kedua pipi gadis mungil yang ada didekapannya itu.

“Mitaaa! Please, open your eyes!”

***

Wahyu duduk dikursi yang ada disebelah ranjang diruangan rumah sakit, menunggui seorang gadis yang sedang terbaring tak sadarkan diri diranjang itu. Yah, Wahyu memang membawa Mita kerumah sakit, karena insiden dilapangan tadi. Bahkan, Wahyu tak sempat mengganti bajunya yang basah. Ia tak peduli, yang ia khawatirkan hanyalah keadaan Mita.
Wahyu sesekali meremas tangan Mita yang dingin itu. Berharap Mita bisa merasa lebih hangat dan akan segeran terbangun dari tidurnya.

“Wahyu” ucap seseorang dari balik pintu.
 
“Tante Maia?” gumam Wahyu yang tahu betul siapa yang memanggilnya.

“Bisa jelasin, apa yang terjadi sampai Mita begini?” tanya wanita paruhbaya yang masih sangat cantik itu.
Wahyu menarik napas dalam, kemudian menceritak apa yang baru saja terjadi tadi, sampai akhirnya Mita harus terbaring ditempat tidur itu. Dan bagaimana Wahyu membawanya kesini.

“Makasih banyak ya, Yu” ujar Maia lembut.

“Sama-sama, Tante” komentar Wahyu.

“Sekarang, biar tante aja yang nunggu Mita. Kamu pulang ya, udah sore” lanjutnya.

“Tapi... Tante” sela Wahyu.

“Kalau Mita udah baikan, tante pasti minta Mita untuk hubungi kamu” potong wanita paruhbaya itu.

“Yaudah tante, Wahyu pamit ya” ujar Wahyu akhirnya seraya beranjak dari duduknya.