Bangau Kertas | Chapter 4

Back To School ...

“Wahyu!” seru Mita saat keluar dari mobil hitam yang ditumpanginya bersama sang Bunda yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah pagi itu.

“Hey!” sahut Wahyu tersenyum.

“Hati-hati ya, sayang!” seru sang Bunda dari balik kaca mobil.

“Iya, Bunda!” sahut Mita kemudian menghampiri Wahyu.

“Gua kira loe belum pulang dari rumah sakit” Wahyu membuka pembicaraan.

Mita hanya tersenyum tipis disebelah Wahyu, sahabat yang amat dicintainya.

“Apa kata dokter?” tanyanya lagi.

“Cuma terlalu capek!” jawab Mita berdusta.

“Sorry ya, nggak bisa nemenin loe di rumah sakit” lanjut Wahyu.

“No problem” komentar Mita.

Wahyu mengacak rambut Mita yang hitam legam itu.

“Yu, jangan cerita ke Amanda atau Dio ya, soal gue yang masuk rumah sakit” ujar Mita.

“Kenapa?” tanya Wahyu.

“Gua nggak mau mereka khawatir, apalagi mereka baru aja maafin gua, ya?” jelas Mita memohon.
“Ok!”

Mita dan Wahyu tiba di kelas, kemudian duduk ditempat mereka, tepatnya dibelakang meja Amanda dan Dio.

“Kebetulan kalian udah dateng, ada berita heboh nih!” celoteh Amanda langsung tanpa basa-basi.
Dio hanya manggut-manggut dengan wajah serius.

“Berita apaan?” tanya Wahyu dengan gaya sok ingin tahunya.

   Mita tersenyum simpul, benar-benar seperti melihat Amanda dan Dio yang ia kenal. Sahabatnya yang paling bisa membuatnya tertawa terpingkal-pingkal hingga sakit perut. Harinya seperti hidup kembali dengan kembalinya Amanda dan Dio yang selalu bersikap hangat padanya dan Wahyu. Walaupun terkadang gila!

“Bu Sheila di pecat!” jawab Amanda dengan senyum merekah.

“Lho? Kok bisa?!” tanya Wahyu kaget, ini benar-benar kaget.

“Bu Sheila yang pembina ekskul modeling itu? Yang kalau dandan selalu berlebihan itu, iya?” tanya Mita berapi-api.

“Yap, intinya sih kayak badut ancol!” lanjut Dio santai.

“Yap, Bu Sheila pembina ekskul modeling itu!” sahut Amanda.

“Alasannya dia di pecat apa?” tanya Wahyu masih penasaran diiringi anggukan Mita dan Dio.

“Kalian nggak tau?!” tanya Amanda jengkel.

Mita, Wahyu dan Dio menggeleng.

“Satu sekolah udah tau kalau dia korupsi anggaran dana ekskul model itu, buat kepentingan pribadi gitu deh!” jelas Amanda dengan gaya seperti narator yang sedang membaca sebuah cerita.

“Oh gitu!” ujar Mita, Wahyu dan Dio yang asik duduk di atas meja.

“Eh, ada guru! Turun-turun!” seru Amanda yang membuat ketiga sahabatnya itu panik.

Mita duduk di sebelah Wahyu seraya tersenyum, apalagi jika mengingat pembahasan mereka barusan. Benar-benar obrolan ala anak SMA.

“Guru killer!” bisik Amanda pada Dio dilanjutkan kepada Mita dan Wahyu.

***
Seperti Bangau Yang Terlupakan ...

Mita memperhatikan orang-orang disekitarnya, saat ini ia berada disebuah sekolah khusus untuk orang-orang yang memiliki keterbelakangan fisik atau disebut cacat fisik. Mita datang bersama sang Bunda, karena beliau menjemputnya saat pulang sekolah. Mita juga terpaksa harus menolak ajakan Wahyu yang mengajaknya futsal dan ke toko buku.

“Siang, Bu” sapa salah seorang gadis cantik dengan kedua kruk di tangannya.

“Siang” sahut Maia, ibunda Mita.

Mita hanya melontarkan senyum pada gadis itu. Kemudian, Maia kembali mengajaknya berjalan lagi.
Mita dan Maia pun menyusuri setiap koridor kelas. Miris hati Mita, melihat teman-teman sebaya itu harus rela hidup dengan keterbelakangan fisik. Bundanya bilang, mereka bersekolah di sekolah khusus ini karena di sekolah yang sebelumnya mereka di anggap memperlambat pelajaran, hanya karena mereka berbeda. Itu tak adil. Semua orang mempunyai hak yang sama!

“Bunda, apa di sekolah ini menerima para tunanetra?” tanya Mita.

“Tentu, sekolah ini tak membatasi, semua berhak mendapatkan haknya untuk mendapat pendidikan yang sama!” jawab Maia dibarengi senyum.

Mita ikut tersenyum, ia bangga pada wanita yang ada di sebelahnya ini. Wanita tertangguh yang pernah ia kenal dan miliki. Dan... Ia mencintainya.

Mita memperhatikan seorang gadis duduk di koridor kelas, gadis itu sedang menyantap makan siangnya. Dan yang membuat hati Mita terenyuh adalah, gadis itu tak memiliki tangan kanan. Sangat memprihatinkan.

Tapi, Mita bisa melihat betapa besarnya usaha gadis itu untuk tetap makan menggunakan tangan kirinya yang pendek. Mita juga tahu, gadis itu tak ingin merepotkan orang lain. Oh Tuhan!

“Ya Tuhan, mereka semua seperti sekumpulan bangau yang terlupakan atau mungkin terabaikan dari dunianya” batin Mita miris.

“Yang Aku tahu, mereka semua hebat, lebih hebat dari mereka yang memiliki fisik sempurna. Dan yang Aku tahu, sempurna itu tak harus sama dengan yang lain” batin Mita lagi.

“Ibu Maia, ditunggu ketua yayasan di kantornya” ucapan seseorang membuat perjalanan Mita dan Maia terhenti.

“Ya, terima kasih” ucap Maia pada anak laki-laki yang membawa perintah itu.

Laki-laki yang duduk di kursi roda itu pun pergi meninggalkan Mita dan Maia.

“Bunda mau pergi?” tanya Mita.

“Iya, gapapa kalo Bunda tinggal?” jawab Maia seraya bertanya.

“Gapapa” jawab Mita tersenyum.

“Yaudah, Bunda tinggal ya” pamit Maia pada putrinya lalu pergi.

Mita melanjutkan perjalanannya menyusuri sekolah khusus ini. Benar-benar serba sederhana, Mita bisa merasakan itu semua.

***

Mita pergi meninggalkan kantin yang terdapat di sekolah khusus itu. Usai menyusuri sekolah itu, ia memang menghabiskan waktu di kantin sambil menunggu sang Bunda. Mita berjalan menuju gerbang sekolah itu. Tapi, tiba-tiba ada yang membuat langkahnya terhenti.

“Hey, tunggu!” seru seseorang.

Mita berbalik, seorang anak laki-laki seumuran dengannya duduk di kursi roda. Dan tak memiliki kedua kaki.

“Loe manggil gue?” tanya Mita seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Iya” jawabnya seraya mendekati Mita.

“Ini punya loe, kan?” tanya laki-laki itu seraya menyerahkan buku bermotif England berwarna merah hitam itu.

“Wah iya, thanks banget!” jawab Mita seraya tersenyum dan menerima buku itu.

“Ah, dasar pelupa! Untung loe temuin” Mita memaki dirinya sendiri.

“Lain kali jangan teledor, itu buku diary kan?” tanya laki-laki itu.

“Hehe... Iya. Makasih ya” jawab Mita.

Laki-laki itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang diberi kawat gigi.

“Sebagai rasa terima kasih, loe gua traktir deh. Disini ada cafe?” tanya Mita.

“Ada, nggak jauh kok dari sini” jawabnya.

“Ok, loe mau kan temenin gua kesana?” tanya Mita agak berharap.

“Ok deh” jawab laki-laki itu.

Mita tersenyum senang, kemudian berjalan ke belakang kursi roda laki-laki itu, berniat mendorongnya.

“Eh nggak perlu, ini otomatis kok!” cegah laki-laki berkawat gigi itu dengan senyum.

“Oh sorry, gua nggak tau” ucap Mita gugup.

***

“Loe anaknya Bu Maia, ya?” tanya laki-laki bernama Radja itu saat berada di dalam cafe mini itu.

“Iya, kok loe tau?” tanya Mita.

“Tadi, gua liat loe sama Bu Maia jalan-jalan di koridor kelas, lagipula beliau pernah cerita kalau beliau punya dua anak perempuan. Dan yang satu itu tomboy!” jelas Radja.

Mita manggut-manggut mengerti, kemudian menyuapkan sesendok moccachino ke mulutnya.

“Oh ya, kalau gua boleh tau, kenapa sama kedua kaki loe?” tanya Mita penasaran.

Radja meletakkan sendoknya disebelah gelas berisi capuchino pesanannya. Kemudian memandangi Mita, gadis yang baru saja dikenalnya.

“Kanker tulang” jawab Radja yang raut wajahnya berubah agak muram.

Mita hampir tersedak mendengar ucapan Radja barusan. Kanker tulang?

“Setahun yang lalu, dokter memvonis gua mengidap kanker yang menggrogoti kaki gua ini” jelas Radja.
Mita menata dalam mata Radja, mencoba merasakan apa yang Radja rasakan.

“Belum ada obat untuh nyembuhin kanker yang gua derita. Satu-satunya cara supaya kanker itu nggak terus-menerus menggrogoti kaki gua ya cuma dengan amputasi” lanjut Radja kemudian menunduk.

“Amputasi?” gumam Mita dalam hati.

“Mita, are you okey?” tanya Radja.

Mita tersentak, kemudian mengulum senyum.

“Sejak kapan loe sekolah di sekolah itu?” tanya Mita lagi.

“Sejak kaki gua di amputasi, tapi awalnya orangtua gua nggak izinin” jawab Radja tanpa raut wajah menyesal.

Mita menghela napas berat, berusaha agar air matanya tak tumpah saat itu juga.

“Tapi, setelah gua bujuk, mereka akhirnya setuju” lanjut Radja yang masih tetap tegar.

“Apa penderita kanker tulang harus diamputasi?” tanya Mita agak gemetar.

“Yah, cuma itu cara supaya kanker itu nggak terus menyebar ke anggota tubuh lainnya” jawab Radja.

Mita seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar penuturan Radja. Air mata yang sedari tadi ditahannya pun menetes juga.

“Mit, loe nangis?” tanya Radja kaget.

“Nggak” jawab Mita seraya menyeka air matanya.

“Oh ya, udah sore nih. Gua pamit, takut ditunggu Bunda” lanjut Mita seraya beranjak dari duduknya.
“Mita..” ucap Radja.

“Ya?” tanya Mita.

“Sorry kalau ada ucapan gua yang nyinggung loe” jawab Radja merasa bersalah.

“Nggak ada yang salah, kok. Loe orang yang asik, thanks udah mau nemenin gua. Bye!” ujar Mita lalu pergi.

***

Bunda, Apa Mita Akan Seperti Radja? ...

Mita menghapus air matanya sebelum masuk ke dalam mobil agar sang Bunda tak melihatnya menangis. Mita tak mau membebani pikiran wanita yang amat di cintainya itu.

“Bunda, maaf Mita buat Bunda nunggu” ucap Mita saat masuk ke dalam mobil.

“Nggak kok, bunda juga baru keluar dari sekolah. Kamu dari mana?” tanya Maia.

“Cafe yang ada disekitar sini” jawab Mita.

“Kamu abis nangis, ya?” tanya Maia saat melihat mata putrinya itu sembab.

“Nggak, tadi kelilipan, Bun!” dusta Mita.

“Mita, kamu nggak bisa bohong sama Bunda” desak Maia penasaran.

Mita menunduk, kemudian menghela napas.

“Bunda kenal sama Radja?” tanya Mita.

“Ya kenal, dia salah satu siswa berprestasi di sekolah ini, kenapa?” jelas Maia kemudian bertanya.

“Bunda tau, tadi Mita ngobrol sama Radja di cafe. Dia laki-laki yang baik dan asik diajak ngobrol” jelas Mita dibarengi senyum.

“Heemm, kamu jatuh cinta sama dia?” tanya Maia di iringi seringaian. Tapi, Mita justru terdiam.

“Apa Mita akan seperti Radja, Bunda?” tanya Mita tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
“Maksud kamu?” tanya Maia bingung.
 
“Apa Mita akan kehilangan kedua kaki Mita, Bunda?” tanya Mita lagi seraya menatap mata ibunya.
Maia belum menjawab, pertanyaan putrinya itu sama sekali tak pernah ia harapkan.

“Apa Mita akan duduk dikursi roda yang sama seperti Radja?” Mita terus mengajukan pertanyaan.

Maia masih belum mau menjawab.

“Duduk di kursi roda tanpa kedua kaki selamanya?” Mita akhirnya meneteskan air mata.

Maia menatap mata putrinya yang basah. Membuatnya sedikit terenyuh.

“Nggak ada basket, nggak ada futsal, nggak ada teater. Mita nggak akan bisa melakukan semua itu lagi kan, Bunda?!” tanya Mita yang tangisnya pecah.

“Mita! Dengerin Bunda!” ujar Maia yang telah habis kesabarannya seraya menggenggam kedua tangan Mita.

“Kamu nggak akan seperti Radja, Bunda jamin itu! Bunda yakin kamu pasti sembuh, Bunda akan terus cari obatnya. Dan berapa pun harganya, Bunda nggak peduli. Kamu denger itu!” tegas Maia menahan tangis.

“Tapi Radja bilang, belum ada obat buat nyembuhin penyakit itu, Bunda!” komentar Mita yang masih menangis.
“Mita, kamu harus percaya, Tuhan punya rencana yang lebih indah dari segala cobaan ini, kamu inget itu!” tukas Maia meyakinkan putri sulungnya itu.

Mita menangis tersedu-sedu tanpa mengomentari ucapan ibunya.

“Dan Bunda janji, kamu akan tetap sehat, kamu akan kuliah dan mendapat gelar sesuai dengan keinginan kamu. Dan yang paling kamu inginkan adalah kamu akan menggelar pertunjukan teater yang kamu dan Wahyu impikan sejak kecil” celoteh Maia mencoba tegar didepan Mita.

“Semua itu akan terwujud, Sayang!” lanjut Maia. Mita masih menangis.

“Dan kamu akan merayakan pesta pernikahan impian kamu bersama orang yang paling kamu cintai!” ucapan Maia yang satu ini membuat Mita langsung memeluknya erat.

“Bunda jamin itu!” bisik Maia.

***

Sesuatu Yang Membuatku Tegar ...

Mita duduk ditepi kolam renang yang ada dihalaman belakang rumahnya malam itu. Kedua kakinya sengaja ia biarkan terendam air kolam yang dingin itu. Hatinya masih terlalu perih untuk mengingat kembali obrolannya dengan Radja, teman barunya, siang tadi. ‘Seorang penderita kanker tulang harus diamputasi’ kalimat itu masih terngiang jelas ditelinganya. Bukankah lebih baik mati, daripada harus hidup tapi tak memiliki kaki?

“Kak?” suara itu membuat Mita tersentak.

“Kamu, Ra.” sahut Mita seraya menyeka air matanya yang sedari tadi di biarkan menetes.

“Kakak nangis?” tanya Dara.

Mita tak menjawab, ia mengayunkan kedua kakinya yang ada didalam air itu, matanya memperhatikan air yang bergerak karena ayunan kakinya.

“Kak!” seru Dara yang masih menatap kakak yang amat dicintainya itu.

“Ra, tadi kakak ke Yayasan tempat Bunda ngajar. Kamu tau, kakak ketemu siapa?” tukas Mita memulai ceritanya.

“Siapa, Kak?” tanya Dara.

“Namanya Radja, dia seumuran sama Kakak. Dia cowok yang baik dan asik diajak ngobrol” lanjut Mita seraya menatap Dara.

“Oh ya? Lebih dari kak Wahyu?” tanya Dara menyeringai.

“Mereka berdua punya kelebihan masing-masing, Dara” komentar Mita tersenyum.

Dara mengulum senyum, memperlihatkan gigi gingsulnya itu.

“Dan kamu tau, Ra?” tanya Mita lagi, suaranya kembali bergetar.

“Apa, Kak?” tanya Dara penasaran.

“Radja nggak punya kedua kaki, Ra” ucap Mita disertai air mata yang menetes.

Dara terperangah, ucapan Mita membuatnya mati kutu.

“Radja menderita kanker tulang, sama seperti kakak” lanjut Mita lagi.

Dara menunduk, merasakan dadanya yang teramat sesak. Seperti ada yang menekannya kuat-kuat.

“Dan penderita kanker tulang harus diamputasi, cuma itu satu-satunya cara supaya kanker itu nggak terus-menerus menggrogoti organ tubuh lain” Mita mengulangi ucapan Radja.

Dara memeluk erat kakaknya itu, mencoba merasakan apa yang kakaknya rasakan. Ia benar-benar tak sanggup melihat kakaknya menderita.

“Dara yakin, kakak pasti sembuh. Kakak nggak akan seperti Radja, Dara yakin!” ucap Dara sengit disela tangisnya.

“Bunda juga bilang gitu” sahut Mita menahan tangis.

“Kak Mita akan tetap jalan disamping Dara setiap hari, dan kak Mita akan berlari disamping Dara setiap jogging. Kakak akan selalu seperti itu!” pungkas Dara.

“Sampai kapanpun!” lanjut Dara terisak.

Mita tak menyahut, semuanya terasa sangat pahit untuk ia terima dan jalani. Terlebih, ia harus melihat adiknya terus menangis saat ia bercerita mengenai kanker itu.

“Kak Mita akan wisuda, kakak juga akan menyelenggarakan pentas teater bersama kak Wahyu. Dan kakak akan melaksanakan pesta pernikahan impian kakak bersama orang yang kakak cintai!” celoteg Dara yang masih dalam pelukan Mita, kakaknya.

“Tanpa kursi roda. Karena kakak akan tetap berdiri disamping Dara, Bunda dan juga Ayah!” lanjut Dara.
Mita mempererat pelukannya, air mata tak mampu ia tahan. Ia menangis. Lagi.

“Tuhan, terima kasih telah memberikanku keluarga yang begitu menyayangiku” batin Mita pilu.
Yah, keluarga adalah peran terpenting dalam hidupnya. Itu alasan Mita mampu bertahan sampai saat ini. Semua karena keluarganya.

0 komentar:

Posting Komentar