Bingung mau mulai darimana, ternyata tiga bulan itu waktu yang
singkat ya kalau dijalanin dengan hati? Kenapa begitu? Harusnya gitu ya?
Tapi, Aku maunya nggak begitu.
Aku maunya tetap sama mereka, ketawa
sama mereka, capek sama mereka, sedih, galau, ngegaje sama mereka.
Pokoknya sama mereka aja. Tapi gimana? Waktu nggak ngizinin. Bingung
Aku. Nggak rela Aku. Tapi kayaknya waktu nggak peduli tentang ketidak
relaan Aku itu. Kasian ya?
Besok dan seterusnya, Aku nggak akan
denger celotehan Mbak Ani lagi, ini yang berat. Mbak Ani itu kayak
'mpok' sendiri. Nggak akan liat kekonyolan Mas Uke sama Pak Sodik,
keresean Mas Ami. Nggak ada lagi tuh aksi ribut, debat, ngecengin Mbak
Fitri di ruang Bu Ros, antara Aku, Mbak Fitri sama Mbak Ila. Nggak ada
lagi aksi nonton Youtube sama maen catur dikomputer antara Aku sama Pak
Ryan kalo lagi nggak ada Dirut. Nggak ada lagi cerita-ceritanya Bu Yani
tentang Maul anaknya, hehehe.
Nggak ketemu Bu Yanti, Bu Yetti. Yang
udah ngizinin Aku belajar di HIK. Mereka bener-bener udah kayak
keluarga. Nggak ada lagi aksi berjejer di depan Teller antara Aku sama
Bella, buat ngeresein Mbak Ila, maap ya Mbak, hehehe.
Nggak ada lagi
acara ngecengin Uus bareng-bareng. Ngegalau, main game sama dengerin
lagu pake speaker. Nggak ada lagi tuh acara bejubel di kamar mandi kalo
mau pulang. Nggak akan ada lagi gelar-gelar karpet buat tiduran, eh buat
ngerjain berkas maksudnya, hahaha. Nggak akan ada lagi yang protes kalo
Aku lagi nyanyi lagu Sayangku *lirik Mbak Ani*
Aku pasti kangen
kalian, kalian udah ngajarin Aku banyak hal. Dunia kerja itu bukan buat
seneng-seneng. Kalian udah kasian moment terbaik selama Aku magang di
HIK. Kalian juga udah bersikap baik sama Aku, dan anggep Aku kayak adik
sendiri. Makasih. Aku nggak bisa bales, biar Allah aja yang bales, ya?
*kedip kedip mata*
Pokoknya, cuma bisa bilang Terima Kasih banyak.
Pelajaran dari kalian pasti sangat bermanfaat buat Aku. Bermanfaat
banget. Aslinya bener-bener Spechless pas mau pulang tadi. (Kamis,
28/03/13)
Desember
Diposting oleh: devyrahmawati.blogspot.com - Sabtu, 30 Maret 2013
Hujan lebat mengguyur ibukota sore ini. Aku masih mematri diriku di
sebuah toko buku lumayan besar itu usai pulang dari kantor. Entah sejak
kapan Aku mulai menyukai tempat ini, tempat yang mungkin membosankan
bagi lelaki sebayaku yang lainnya. Aku mengambil sebuah buku biografi
seorang seniman musik. Bryan Adams.
“Masa iya buku kayak gitu nggak ada lagi, Mbak?” suara itu menarik perhatianku.
Aku menyapu pandanganku, ku dapati ada seseorang-entah perempuan atau lelaki-mengenakan kupluk hitam. Ujung rambutnya yang hitam legam menjulur keluar.
“Maaf, stok kami memang sedang habis” kasir itu menyahut.
“Mbak, tapi saya butuh buku itu sekarang, saya nggak mungkin cari di toko lain, kan?” gadis itu tampak gemas. “Di luar hujan!” katanya lagi.
Karena merasa terganggu, Aku pun menuju kasir, membayar buku yang ku ambil, dan segera enyah dari tempat ini.
“Mbak, saya ambil yang ini” Aku menyodorkan buku itu kepada kasir.
“Ditunggu ya, Mas” sahut kasir itu.
Aku melirik orang yang ada disebelahku. Raut wajahnya tampak kesal bercampur penyesalan dan kesedihan. Apa yang membuatnya seperti itu?
“Mbak, buku itu di kasih ke dia aja” Aku menunjuk orang di sebelahku dengan ibu jariku.
Orang itu tampak bingung, celingukan mencari sesuatu. Apa ada orang lagi disini? Kurasa hanya ada Aku, dia, dan kasir.
“Ini buku yang anda cari” kata kasir itu, menyodorkan buku yang sudah diberi plastik pada orang itu.
“Buat saya?” orang itu menunjuk dirinya sendiri. Kasir itu mengangguk dibarengi senyum ramah.
“Tapi...”
“Biar saya cari buku yang lain, kamu butuh buku itu kan?” tanyaku, memasukkan dompetku kedalam kantung celanaku.
Orang itu masih terpaku, pura-pura tak mengerti atau memang tak mengerti sama sekali. Entah.
“Permisi” Aku melenggang pergi dari tempat itu.
Selang beberapa menit, ku pikir hujan sudah reda. Ternyata masih lebat. Lalu untuk apa Aku menunggu di luar seperti ini? Bukankah lebih baik di dalam, membaca buku-buku itu. Di luar seperti ini hanya membuat tulangku mati rasa. Dingin.
“Masa iya buku kayak gitu nggak ada lagi, Mbak?” suara itu menarik perhatianku.
Aku menyapu pandanganku, ku dapati ada seseorang-entah perempuan atau lelaki-mengenakan kupluk hitam. Ujung rambutnya yang hitam legam menjulur keluar.
“Maaf, stok kami memang sedang habis” kasir itu menyahut.
“Mbak, tapi saya butuh buku itu sekarang, saya nggak mungkin cari di toko lain, kan?” gadis itu tampak gemas. “Di luar hujan!” katanya lagi.
Karena merasa terganggu, Aku pun menuju kasir, membayar buku yang ku ambil, dan segera enyah dari tempat ini.
“Mbak, saya ambil yang ini” Aku menyodorkan buku itu kepada kasir.
“Ditunggu ya, Mas” sahut kasir itu.
Aku melirik orang yang ada disebelahku. Raut wajahnya tampak kesal bercampur penyesalan dan kesedihan. Apa yang membuatnya seperti itu?
“Mbak, buku itu di kasih ke dia aja” Aku menunjuk orang di sebelahku dengan ibu jariku.
Orang itu tampak bingung, celingukan mencari sesuatu. Apa ada orang lagi disini? Kurasa hanya ada Aku, dia, dan kasir.
“Ini buku yang anda cari” kata kasir itu, menyodorkan buku yang sudah diberi plastik pada orang itu.
“Buat saya?” orang itu menunjuk dirinya sendiri. Kasir itu mengangguk dibarengi senyum ramah.
“Tapi...”
“Biar saya cari buku yang lain, kamu butuh buku itu kan?” tanyaku, memasukkan dompetku kedalam kantung celanaku.
Orang itu masih terpaku, pura-pura tak mengerti atau memang tak mengerti sama sekali. Entah.
“Permisi” Aku melenggang pergi dari tempat itu.
Selang beberapa menit, ku pikir hujan sudah reda. Ternyata masih lebat. Lalu untuk apa Aku menunggu di luar seperti ini? Bukankah lebih baik di dalam, membaca buku-buku itu. Di luar seperti ini hanya membuat tulangku mati rasa. Dingin.
“Duh, masih hujan lagi, gimana bisa pulang!” gumam seseorang. Aku menoleh sebentar. Orang itu lagi.
Aku kembali menatap percikan hujan lebat itu. Hanyut dalam pikiran macam-macam. Tentang kantor, tentang meeting, dan tentang-tentang lainnya. Kenapa hidup tak pernah sebebas percikan air hujan itu? Yang bisa terus menari di atas tempat yang ia inginkan. Aku menghela napas lelah. Ku pikir menjadi seorang pemimpin di perusahaan sendiri itu tak seburuk ini. Ternyata Aku salah. Salah besar. Waktuku tersita di dalam ruangan besar, disertai setumpuk pekerjaan ini dan itu.
“By the way, terima kasih ya bukunya” suara itu membuyarkan lamunanku.
Aku gelagapan. Bingung harus menjawab apa. “Iya” kata itu saja yang terlontar dari bibirku.
Ku dapati orang di sebelahku itu tersenyum. Begitu manis. Hey, dia itu perempuan atau laki-laki?
“Sorry, kamu perempuan atau...” Aku memberanikan diri bertanya.
“Perempuan” jawabnya singkat.
Aku mengangguk. Pantas, dia memiliki wajah yang cantik, meskipun caranya berpenampilan sangat maskulin.
“Penggemar Bryan Adams juga?” tanyaku lagi.
“Ya, seniman musik yang hebat!” sahutnya.
Aku hanya mengulum senyum tanpa membalas pandangannya. Gadis yang supel.
“Oh iya, Aku mau kok minjemin buku ini ke kamu, kalau kamu mau” katanya lagi.
Aku terkekeh. Gadis itu tampak bingung.
“Kamu pikir kita akan bertemu lagi?” tanyaku dengan sisa-sisa tawaku.
“Nggak ada yang nggak mungkin, kan?” ia membela diri.
“Ya ya ya” Aku manggut-manggut.
Gadis itu tak menyahut lagi. Ia merapatkan jaketnya, sesekali membenarkan kupluknya.
“Hey, maaf telat yah” seorang lelaki muncul membawa payung. Terlihat sangat akrab.
“Bete tau nungguinnya!” gerutu gadis itu.
“Maaf, yuk pulang!” lelaki itu menarik tangan gadis itu.
“Oh iya, Aku pelanggan toko buku ini, setiap sore pasti aku kesini” katanya padaku. “Aku duluan ya!” pamitnya kemudian pergi bersama lelaki itu, menerobos hujan.
“Jadi udah punya pacar?” gumamku, sedikit kecewa.
Aku kembali menatap percikan hujan lebat itu. Hanyut dalam pikiran macam-macam. Tentang kantor, tentang meeting, dan tentang-tentang lainnya. Kenapa hidup tak pernah sebebas percikan air hujan itu? Yang bisa terus menari di atas tempat yang ia inginkan. Aku menghela napas lelah. Ku pikir menjadi seorang pemimpin di perusahaan sendiri itu tak seburuk ini. Ternyata Aku salah. Salah besar. Waktuku tersita di dalam ruangan besar, disertai setumpuk pekerjaan ini dan itu.
“By the way, terima kasih ya bukunya” suara itu membuyarkan lamunanku.
Aku gelagapan. Bingung harus menjawab apa. “Iya” kata itu saja yang terlontar dari bibirku.
Ku dapati orang di sebelahku itu tersenyum. Begitu manis. Hey, dia itu perempuan atau laki-laki?
“Sorry, kamu perempuan atau...” Aku memberanikan diri bertanya.
“Perempuan” jawabnya singkat.
Aku mengangguk. Pantas, dia memiliki wajah yang cantik, meskipun caranya berpenampilan sangat maskulin.
“Penggemar Bryan Adams juga?” tanyaku lagi.
“Ya, seniman musik yang hebat!” sahutnya.
Aku hanya mengulum senyum tanpa membalas pandangannya. Gadis yang supel.
“Oh iya, Aku mau kok minjemin buku ini ke kamu, kalau kamu mau” katanya lagi.
Aku terkekeh. Gadis itu tampak bingung.
“Kamu pikir kita akan bertemu lagi?” tanyaku dengan sisa-sisa tawaku.
“Nggak ada yang nggak mungkin, kan?” ia membela diri.
“Ya ya ya” Aku manggut-manggut.
Gadis itu tak menyahut lagi. Ia merapatkan jaketnya, sesekali membenarkan kupluknya.
“Hey, maaf telat yah” seorang lelaki muncul membawa payung. Terlihat sangat akrab.
“Bete tau nungguinnya!” gerutu gadis itu.
“Maaf, yuk pulang!” lelaki itu menarik tangan gadis itu.
“Oh iya, Aku pelanggan toko buku ini, setiap sore pasti aku kesini” katanya padaku. “Aku duluan ya!” pamitnya kemudian pergi bersama lelaki itu, menerobos hujan.
“Jadi udah punya pacar?” gumamku, sedikit kecewa.
☺☺☺
Seminggu telah berlalu, Aku kembali mengunjungi toko buku itu, kali ini Aku datang saat senja mulai berpendar. Karena memang di kantor sedang sibuk. Ah iya, bagaimana kabar gadis itu? Apa ia berada ditoko buku itu hari ini? Entahlah.
Aku memarkirkan mobilku di pelataran toko buku itu. Kemudian melenggang masuk ke toko buku itu. Dan, apa yang ku lihat? Gadis itu sedang mengitari deretan rak-rak buku itu. Dan ia mengenakan kupluk lagi, tapi dengan warna berbeda.
“Hey!” sapaku menghampirinya.
“Oh hey!” sahutnya, meletakkan buku yang di pegangnya.
“Cari buku apa?” Aku berbasa-basi.
“Nggak tau yah, bingung” Ia nyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang rata.
“Di deket sini ada cafe kan? Kesana yuk!” tawarku, Aku tak basa-basi lagi.
“Tapi....”
“Ayolah, biar lebih akrab” paksaku. “Takut pacar kamu jemput?” tanyaku.
Ia menyatukan ujung alisnya. “Pacar?” gumamnya.
“Sebentar aja, ok!” kataku, belum menyerah.
“Ok” katanya. Aku menarik tangannya keluar dari toko buku itu.
☺☺☺
Aku keluar dari cafe bersama gadis itu. Kemudian melirik jam yang melingkar di lengan kiriku. Cukup lama juga ternyat Aku mengobrol dengannya. Gadis itu benar-benar menarik perhatianku. Entah apa yang membuatku berminat mengenal gadis itu lebih jauh.
“Wah, udah malem ya” gumamnya.
“Kita ke toko buku itu lagi, mungkin pacar kamu udah nunggu disana” kataku, berjalan mendahuluinya. Ia justru tertawa, seraya menggelengkan kepalanya.
“Ada yang lucu?” Aku berhenti, ia juga berhenti.
“Nggak ada, tapi pengen aja ketawa, nggak boleh?” sahutnya.
Aku berjalan lagi, dan ia mengikutiku. Derap langkah kami terdengar bebarengan.
“Kamu dari mana aja si? Bikin khawatir aja!” seru seorang lelaki saat kami tiba di pelataran toko buku, yang tak asing bagiku. Matanya menatap gadis di sebelahku. Ia lelaki yang Aku lihat seminggu yang lalu.
“Abis dari cafe” jawab gadis itu.
Aku melirik gadis itu, tatapan matanya sedikit sayu, bibirnya memutih, kantung matanya agak menghitam. Apa yang terjadi? Kenapa wajahnya berubah dalam sekejap?
Seminggu telah berlalu, Aku kembali mengunjungi toko buku itu, kali ini Aku datang saat senja mulai berpendar. Karena memang di kantor sedang sibuk. Ah iya, bagaimana kabar gadis itu? Apa ia berada ditoko buku itu hari ini? Entahlah.
Aku memarkirkan mobilku di pelataran toko buku itu. Kemudian melenggang masuk ke toko buku itu. Dan, apa yang ku lihat? Gadis itu sedang mengitari deretan rak-rak buku itu. Dan ia mengenakan kupluk lagi, tapi dengan warna berbeda.
“Hey!” sapaku menghampirinya.
“Oh hey!” sahutnya, meletakkan buku yang di pegangnya.
“Cari buku apa?” Aku berbasa-basi.
“Nggak tau yah, bingung” Ia nyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang rata.
“Di deket sini ada cafe kan? Kesana yuk!” tawarku, Aku tak basa-basi lagi.
“Tapi....”
“Ayolah, biar lebih akrab” paksaku. “Takut pacar kamu jemput?” tanyaku.
Ia menyatukan ujung alisnya. “Pacar?” gumamnya.
“Sebentar aja, ok!” kataku, belum menyerah.
“Ok” katanya. Aku menarik tangannya keluar dari toko buku itu.
☺☺☺
Aku keluar dari cafe bersama gadis itu. Kemudian melirik jam yang melingkar di lengan kiriku. Cukup lama juga ternyat Aku mengobrol dengannya. Gadis itu benar-benar menarik perhatianku. Entah apa yang membuatku berminat mengenal gadis itu lebih jauh.
“Wah, udah malem ya” gumamnya.
“Kita ke toko buku itu lagi, mungkin pacar kamu udah nunggu disana” kataku, berjalan mendahuluinya. Ia justru tertawa, seraya menggelengkan kepalanya.
“Ada yang lucu?” Aku berhenti, ia juga berhenti.
“Nggak ada, tapi pengen aja ketawa, nggak boleh?” sahutnya.
Aku berjalan lagi, dan ia mengikutiku. Derap langkah kami terdengar bebarengan.
“Kamu dari mana aja si? Bikin khawatir aja!” seru seorang lelaki saat kami tiba di pelataran toko buku, yang tak asing bagiku. Matanya menatap gadis di sebelahku. Ia lelaki yang Aku lihat seminggu yang lalu.
“Abis dari cafe” jawab gadis itu.
Aku melirik gadis itu, tatapan matanya sedikit sayu, bibirnya memutih, kantung matanya agak menghitam. Apa yang terjadi? Kenapa wajahnya berubah dalam sekejap?
“Kita pulang sekarang yah” lelaki itu menarik tangan gadis itu. Wajahnya terlihat panik.
“Tunggu!” Aku menghampiri gadis yang mulai menjauh itu. “Nama kamu?” tanyaku dengan lugunya, namanya sangat ku butuhkan.
“Sebegitu pentingkah arti nama buat lelaki seperti kamu?” ia menyunggingkan bibirnya.
“Ya, tentu saja!” kataku.
“Nama aku nggak akan penting buat kamu” katanya lagi. Kali ini Aku mendengar suaranya agak bergetar.
“Tapi....”
“Kita bisa berteman kan? Tanpa tahu nama satu sama lain?” tanyanya.
Aku mengernyit. Aku tahu, ada yang tak beres dengan gadis itu. “Baik, kalau itu mau kamu” kataku mengalah.
“Aku harus pulang” katanya, beringsut masuk ke dalam mobil.
Aku menghampiri mobilku, beringsut masuk, lalu pergi dari toko buku itu.
☺☺☺
Minggu ketiga di bulan Desember, dan seminggu lagi akan datang tahun yang baru. Sudah tiga minggu pula Aku mengenal gadis itu. Tanpa tahu siapa namanya. Tapi kami banyak menghabiskan waktu bersama di bulan terakhir tahun ini. Desember.
Aku masih berada di toko buku siang itu untuk kesekian kalinya menunggu gadis itu, seminggu ini ia sama sekali tak mengunjungi toko buku ini, memang di toko buku inilah Aku biasa menunggunya. Tapi, sudah berjam-jam menunggu, gadis itu tak muncul juga. Padahal ini hari minggu, tak mungkin jika ia kuliah, atau bekerja mungkin. Entahlah. Aku tak tahu banyak tentang gadis itu. Tapi cukup menarik minatku.
“Mbak yakin kalau perempuan yang biasa pakai kupluk itu udah seminggu nggak kesini?” tanyaku pada kasir untuk kesekian kali.
“Tidak, Mas” lagi-lagi jawabannya mengecewakan.
Aku menghela napas lelah, kemana gadis itu? Apa yang membuatnya tak sempat mengunjungi toko buku ini? Aku mencoba berpikir positif. Mungkin ia sibuk.
☺☺☺
Desember mulai memasuki minggu ke empat, itu sama saja minggu terakhir. Dan lagi-lagi gadis itu belum juga muncul. Padahal Aku ingin mengajaknya merayakan pesta malam tahun baru bersama di tempat yang telah ku tentukan. Dan, Aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi apa? Lagi-lagi, Aku harus kecewa.
“Tunggu!” Aku menghampiri gadis yang mulai menjauh itu. “Nama kamu?” tanyaku dengan lugunya, namanya sangat ku butuhkan.
“Sebegitu pentingkah arti nama buat lelaki seperti kamu?” ia menyunggingkan bibirnya.
“Ya, tentu saja!” kataku.
“Nama aku nggak akan penting buat kamu” katanya lagi. Kali ini Aku mendengar suaranya agak bergetar.
“Tapi....”
“Kita bisa berteman kan? Tanpa tahu nama satu sama lain?” tanyanya.
Aku mengernyit. Aku tahu, ada yang tak beres dengan gadis itu. “Baik, kalau itu mau kamu” kataku mengalah.
“Aku harus pulang” katanya, beringsut masuk ke dalam mobil.
Aku menghampiri mobilku, beringsut masuk, lalu pergi dari toko buku itu.
☺☺☺
Minggu ketiga di bulan Desember, dan seminggu lagi akan datang tahun yang baru. Sudah tiga minggu pula Aku mengenal gadis itu. Tanpa tahu siapa namanya. Tapi kami banyak menghabiskan waktu bersama di bulan terakhir tahun ini. Desember.
Aku masih berada di toko buku siang itu untuk kesekian kalinya menunggu gadis itu, seminggu ini ia sama sekali tak mengunjungi toko buku ini, memang di toko buku inilah Aku biasa menunggunya. Tapi, sudah berjam-jam menunggu, gadis itu tak muncul juga. Padahal ini hari minggu, tak mungkin jika ia kuliah, atau bekerja mungkin. Entahlah. Aku tak tahu banyak tentang gadis itu. Tapi cukup menarik minatku.
“Mbak yakin kalau perempuan yang biasa pakai kupluk itu udah seminggu nggak kesini?” tanyaku pada kasir untuk kesekian kali.
“Tidak, Mas” lagi-lagi jawabannya mengecewakan.
Aku menghela napas lelah, kemana gadis itu? Apa yang membuatnya tak sempat mengunjungi toko buku ini? Aku mencoba berpikir positif. Mungkin ia sibuk.
☺☺☺
Desember mulai memasuki minggu ke empat, itu sama saja minggu terakhir. Dan lagi-lagi gadis itu belum juga muncul. Padahal Aku ingin mengajaknya merayakan pesta malam tahun baru bersama di tempat yang telah ku tentukan. Dan, Aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi apa? Lagi-lagi, Aku harus kecewa.
31 Desember ~
Aku mengunjungi toko buku itu sekali lagi, kesempatan sekali yang Aku janjikan pada diriku sendiri. Jika gadis itu tak datang juga, Aku tak kan lagi mengunjungi toko buku itu. Dan melupakan apa yang pernah terjadi padaku dan gadis itu.
Aku menyapu pandanganku ke seluruh sudut toko buku malam itu. Dan lagi-lagi Aku harus kecewa. Mendapati tak ada gadis itu yang biasa berdiri di salah satu rak buku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dua minggu terakhir ini ia tak mengunjungi tempat ini?
“Mbak, perempuan yang biasa pakai kupluk itu pernah kesini seminggu ini?” tanyaku pada kasir.
“Tidak, Mas” kata 'Tidak' seakan mematikan harapanku.
“Terima kasih, Mbak” Aku pergi dari hadapan kasir.
“Baik, ini terakhir kalinya Aku berdiri disini menunggu kamu, besok dan seterusnya, Aku anggap tidak pernah terjadi apapun di sini” Aku menghela napas panjang, kemudian mendorong pintu, dan keluar dari tempat itu.
Aku menatap nanar toko buku itu sebelu masuk ke dalam mobilku. Meyakinkan diriku kalau Aku tak akan lagi datang ke toko buku ini, dan menganggap tak terjadi apapun.
“Hey!” seru seseorang, menepuk bahuku.
Aku terkesiap. “Ya?” tanyaku, menoleh ke arah sumber suara. Ku dapati seorang lelaki yang tak asing bagiku.
“Kamu temennya perempuan ini?” tanyanya, menyodorkan selembar foto. Aku menerimanya. Foto gadis itu dengan kupluknya.
“Iya, ada perlu apa?” tanyaku.
“Bisa kita ngobrol sebentar?” lelaki itu balik bertanya.
“Ok, dekat sini ada cafe, kita ngobrol disana!” usulku, di barengi anggukannya.
☺☺☺
Aku dan lelaki itu duduk di cafe yang pernah Aku kunjungi bersama gadis itu. Cukup lama kami saling diam, entah apa yang akan di bicarakan lelaki di depanku ini. Ada hubungannyakah dengan gadis itu?
“Sebelumnya, Saya mau berterima kasih sama kamu” ia mendehem. “Karena, sejak adik saya mengenal kamu, ia kembali bisa menikmati hidupnya, menata hari-harinya yang sempat berlalu dengan sia-sia” jelasnya.
“Adik?” tanyaku bingung.
“Ya, perempuan yang kamu kenal itu adik saya” katanya.
Aku terperangah, jadi selama ini Aku salah berpresepsi? Tapi, kenapa gadis itu tak menjelaskannya padaku? Jadi, ini alasan kenapa ia selalu tertawa jika Aku bilang lelaki didepanku ini adalah pacarnya. Sial.
Aku mengunjungi toko buku itu sekali lagi, kesempatan sekali yang Aku janjikan pada diriku sendiri. Jika gadis itu tak datang juga, Aku tak kan lagi mengunjungi toko buku itu. Dan melupakan apa yang pernah terjadi padaku dan gadis itu.
Aku menyapu pandanganku ke seluruh sudut toko buku malam itu. Dan lagi-lagi Aku harus kecewa. Mendapati tak ada gadis itu yang biasa berdiri di salah satu rak buku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dua minggu terakhir ini ia tak mengunjungi tempat ini?
“Mbak, perempuan yang biasa pakai kupluk itu pernah kesini seminggu ini?” tanyaku pada kasir.
“Tidak, Mas” kata 'Tidak' seakan mematikan harapanku.
“Terima kasih, Mbak” Aku pergi dari hadapan kasir.
“Baik, ini terakhir kalinya Aku berdiri disini menunggu kamu, besok dan seterusnya, Aku anggap tidak pernah terjadi apapun di sini” Aku menghela napas panjang, kemudian mendorong pintu, dan keluar dari tempat itu.
Aku menatap nanar toko buku itu sebelu masuk ke dalam mobilku. Meyakinkan diriku kalau Aku tak akan lagi datang ke toko buku ini, dan menganggap tak terjadi apapun.
“Hey!” seru seseorang, menepuk bahuku.
Aku terkesiap. “Ya?” tanyaku, menoleh ke arah sumber suara. Ku dapati seorang lelaki yang tak asing bagiku.
“Kamu temennya perempuan ini?” tanyanya, menyodorkan selembar foto. Aku menerimanya. Foto gadis itu dengan kupluknya.
“Iya, ada perlu apa?” tanyaku.
“Bisa kita ngobrol sebentar?” lelaki itu balik bertanya.
“Ok, dekat sini ada cafe, kita ngobrol disana!” usulku, di barengi anggukannya.
☺☺☺
Aku dan lelaki itu duduk di cafe yang pernah Aku kunjungi bersama gadis itu. Cukup lama kami saling diam, entah apa yang akan di bicarakan lelaki di depanku ini. Ada hubungannyakah dengan gadis itu?
“Sebelumnya, Saya mau berterima kasih sama kamu” ia mendehem. “Karena, sejak adik saya mengenal kamu, ia kembali bisa menikmati hidupnya, menata hari-harinya yang sempat berlalu dengan sia-sia” jelasnya.
“Adik?” tanyaku bingung.
“Ya, perempuan yang kamu kenal itu adik saya” katanya.
Aku terperangah, jadi selama ini Aku salah berpresepsi? Tapi, kenapa gadis itu tak menjelaskannya padaku? Jadi, ini alasan kenapa ia selalu tertawa jika Aku bilang lelaki didepanku ini adalah pacarnya. Sial.
“Hey, kenapa bengong?” tanyanya, Aku tersentak.
“Maaf” kataku. “Lalu, sekarang dia ada dimana?” tanyaku, rasa ingin tahu itu cukup besar.
“Kenapa sudah dua minggu ia tak berkunjung ke toko buku itu?” tanyaku.
Aku mendapati sebuah keraguan dimata lelaki hitam manis itu. Apa yang membuatnya ragu?
“Sepulang dari bertemu dengan kamu terakhir kali itu, dia ambruk dan harus di larikan
kerumah sakit” jelasnya. Dan sungguh Aku tak mengerti.
“Mungkin emang sulit memahami keadaan adik saya yang sebenarnya” katanya, seakan tahu pikiranku. “Tapi, saya yakin, dia pengen ketemu kamu” katanya.
“Dia sakit apa?” tanyaku, melawan ketakutanku.
“Dia pasti jelasin ke kamu” katanya.
“Lalu saya harus apa?” tanyaku.
“Temui dia, untuk yang terakhir kalinya” wajahnya tampak memohon.
Rahangku mengatup seketika. Pikiranku terpatri tentang gadis itu. Apa yang terjadi? Baik-baik saja kah ia? Perasaan tak karuan berkecamuk dalam benakku.
“Kita nggak punya waktu banyak, ayo!” lelaki itu berdiri. Aku tak bergeming.
“Hey!” sentak lelaki itu.
Aku berdiri, berjalan pergi meninggalkan cafe bersama lelaki itu.
☺☺☺
Aku menatap nanar seorang gadis yang terbaring tak berdaya di tempat tidur rumah sakit. Selang oksigen itu menutup rapat hidung dan mulutnya. Ku lihat beberapa kabel di masukkan ke dalam dadanya. Pendeteksi detak jantungnya. Kantung matanya menghitam. Ya Tuhan, kenapa gadis itu terlihat sangat rapuh saat ini. Sulit di percaya, padahal saat bertemu dengannya, ia tampak seperti perempuan kuat dan tegar. Tapi sekarang?
“Sebentar lagi dia pasti bangun, dia cuma tidur” ucap seseorang. Aku menunduk.
“Jadi dua minggu terakhir, dia terbaring seperti ini?” tanyaku.
“Ya, kemoterapi membuatnya tak sadarkan diri” jawabnya.
Aku menelan ludah pahit. Serapuh inikah gadis yang mulai membuatku tergantung ini.
“Hey, Aku disini, dan bawa kejutan buat kamu!” lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
“Maaf” kataku. “Lalu, sekarang dia ada dimana?” tanyaku, rasa ingin tahu itu cukup besar.
“Kenapa sudah dua minggu ia tak berkunjung ke toko buku itu?” tanyaku.
Aku mendapati sebuah keraguan dimata lelaki hitam manis itu. Apa yang membuatnya ragu?
“Sepulang dari bertemu dengan kamu terakhir kali itu, dia ambruk dan harus di larikan
kerumah sakit” jelasnya. Dan sungguh Aku tak mengerti.
“Mungkin emang sulit memahami keadaan adik saya yang sebenarnya” katanya, seakan tahu pikiranku. “Tapi, saya yakin, dia pengen ketemu kamu” katanya.
“Dia sakit apa?” tanyaku, melawan ketakutanku.
“Dia pasti jelasin ke kamu” katanya.
“Lalu saya harus apa?” tanyaku.
“Temui dia, untuk yang terakhir kalinya” wajahnya tampak memohon.
Rahangku mengatup seketika. Pikiranku terpatri tentang gadis itu. Apa yang terjadi? Baik-baik saja kah ia? Perasaan tak karuan berkecamuk dalam benakku.
“Kita nggak punya waktu banyak, ayo!” lelaki itu berdiri. Aku tak bergeming.
“Hey!” sentak lelaki itu.
Aku berdiri, berjalan pergi meninggalkan cafe bersama lelaki itu.
☺☺☺
Aku menatap nanar seorang gadis yang terbaring tak berdaya di tempat tidur rumah sakit. Selang oksigen itu menutup rapat hidung dan mulutnya. Ku lihat beberapa kabel di masukkan ke dalam dadanya. Pendeteksi detak jantungnya. Kantung matanya menghitam. Ya Tuhan, kenapa gadis itu terlihat sangat rapuh saat ini. Sulit di percaya, padahal saat bertemu dengannya, ia tampak seperti perempuan kuat dan tegar. Tapi sekarang?
“Sebentar lagi dia pasti bangun, dia cuma tidur” ucap seseorang. Aku menunduk.
“Jadi dua minggu terakhir, dia terbaring seperti ini?” tanyaku.
“Ya, kemoterapi membuatnya tak sadarkan diri” jawabnya.
Aku menelan ludah pahit. Serapuh inikah gadis yang mulai membuatku tergantung ini.
“Hey, Aku disini, dan bawa kejutan buat kamu!” lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
Matanya mulai bergerak sedikit demi sedikit, merespon ucapan sang kakak. Aku mematung ditempatku berdiri.
Lelaki itu tersenyum saat di dapati adiknya sudah membuka matanya. Gadis itu juga tersenyum.
“Coba tebak, apa yang Aku bawa?” tanyanya pada gadis itu.
Gadis itu menggeleng, matanya memancarkan keceriaan. Aku rasa ia memang suka kejutan.
“Hey!” sapaku, berjalan mendekati tempat tidur itu.
Wajahnya berubah, tak ada keceriaan di sorot matanya. Apa ia tak suka Aku ada disini mengunjunginya?
“Kak Rio bawa dia kesini?” suaranya samar-samar.
“Ya, Aku pengen lihat kamu ngobrol, ketawa dan senang-senang!” jawabnya. “Aku tahu, kamu kangen kan sama dia?” lelaki bernama Rio itu menyeringai.
“Tapi, Kak....”
“Aku mau kamu bahagia, itu aja” Rio tersenyum.
“Sekarang tanggal berapa, Kak?” tanya gadis itu.
“Tiga puluh satu Desember, malam tahun baru” jawab Rio.
“Oh ya? Aku tidurnya lama banget ya, kak. Sampe nggak sadar udah malam tahun baru” gadis itu tampak menyesal.
Rio mengulum senyum, membelai rambut adiknya itu. “Kamu mau ngerayain malam tahun baru?” tanyanya.
“Siapa si Kak yang nggak mau ngerayain pergantian tahun?” gadis itu tampak gemas.
“Ok, sebentar lagi Ayah sama Bunda dateng, kita rayakan sama mereka” kata Rio.
Gadis itu mengangguk riang. “Kak, boleh Aku keluar sama dia?” tanyanya, melirikku.
“Boleh, tapi pakai ini!” kata Rio, menunjuk kursi roda di sebelah ranjang.
“Kak, Aku nggak lumpuh, Aku masih bisa jalan, sama kayak kakak!” tolaknya. Rio sepertinya enggan berkomentar lagi.
Suster datang tak lama setelah Rio memijit alarm yang ada di kamar itu.
“Sus, dia pengen keluar, tolong dilepas peralatan medisnya” perintah Rio. Suster itu langsung melakukannya.
Usai semuanya terlepas, gadis itu bangun dari baringannya dibantu suster dan Rio.
“Aku jelek ya kalau nggak pakai kupluk?” gadis itu menyeringai kepadaku.
Aku menggeleng seraya tersenyum. “Justru sangat cantik!” batinku.
Lelaki itu tersenyum saat di dapati adiknya sudah membuka matanya. Gadis itu juga tersenyum.
“Coba tebak, apa yang Aku bawa?” tanyanya pada gadis itu.
Gadis itu menggeleng, matanya memancarkan keceriaan. Aku rasa ia memang suka kejutan.
“Hey!” sapaku, berjalan mendekati tempat tidur itu.
Wajahnya berubah, tak ada keceriaan di sorot matanya. Apa ia tak suka Aku ada disini mengunjunginya?
“Kak Rio bawa dia kesini?” suaranya samar-samar.
“Ya, Aku pengen lihat kamu ngobrol, ketawa dan senang-senang!” jawabnya. “Aku tahu, kamu kangen kan sama dia?” lelaki bernama Rio itu menyeringai.
“Tapi, Kak....”
“Aku mau kamu bahagia, itu aja” Rio tersenyum.
“Sekarang tanggal berapa, Kak?” tanya gadis itu.
“Tiga puluh satu Desember, malam tahun baru” jawab Rio.
“Oh ya? Aku tidurnya lama banget ya, kak. Sampe nggak sadar udah malam tahun baru” gadis itu tampak menyesal.
Rio mengulum senyum, membelai rambut adiknya itu. “Kamu mau ngerayain malam tahun baru?” tanyanya.
“Siapa si Kak yang nggak mau ngerayain pergantian tahun?” gadis itu tampak gemas.
“Ok, sebentar lagi Ayah sama Bunda dateng, kita rayakan sama mereka” kata Rio.
Gadis itu mengangguk riang. “Kak, boleh Aku keluar sama dia?” tanyanya, melirikku.
“Boleh, tapi pakai ini!” kata Rio, menunjuk kursi roda di sebelah ranjang.
“Kak, Aku nggak lumpuh, Aku masih bisa jalan, sama kayak kakak!” tolaknya. Rio sepertinya enggan berkomentar lagi.
Suster datang tak lama setelah Rio memijit alarm yang ada di kamar itu.
“Sus, dia pengen keluar, tolong dilepas peralatan medisnya” perintah Rio. Suster itu langsung melakukannya.
Usai semuanya terlepas, gadis itu bangun dari baringannya dibantu suster dan Rio.
“Aku jelek ya kalau nggak pakai kupluk?” gadis itu menyeringai kepadaku.
Aku menggeleng seraya tersenyum. “Justru sangat cantik!” batinku.
Gadis itu mengenakan kupluk hitamnya.
Jaket berbahan sweter yang dipakainya itu terlihat agak berantakan.
Mungkin karena dipakai tidur. Tapi, pesona gadis itu tetap menarik
minatku.
“Maaf ya Aku berantakan, bau obat, bau infus, bau ini bau itu, soalnya Aku....”
“Tak masalah, kamu tetap cantik meskipun bau!” Aku berbisik tepat ditelinganya.
Ia meninju lenganku pelan seraya tersenyum. Aku pun mengajaknya keluar dari ruangan itu.
☺☺☺
Aku dan gadis itu duduk di bangku taman yang ada di belakang rumah sakit. Melihat bintang di hari terakhir bulan Desember. Aku menoleh ke arah gadis yang ada di sebelahku.
“Nggak nyangka, kita kenal udah satu bulan, tapi kamu nggak boleh tau namaku” Ia tersenyum tipis, binar matanya memiliki sorot yang tak Aku mengerti.
“Kamu tau kenapa Aku hoby banget pakai kupluk?” tanyanya.
Aku menggeleng tepat saat ia menoleh kearahku. Ia menyunggingkan bibirnya.
“Aku jelek kalau nggak pakai kupluk” katanya. Tapi, itu bukan jawaban pas untukku, melainkan hanya lelucon.
“Pasti kamu nggak percaya” katanya. “Iya kan?” ia menyenggol lenganku dengan sikunya.
“Ya nggak lah” jawabku sekenanya. “Perempuan mutlak cantik, meskipun tak banyak yang bisa melihatnya” kataku. Ia tertawa. Aku mengernyit.
Gadis itu membuka kupluknya. Memperlihatkan rambutnya yang pendek seperti lelaki.
“Perempuan itu lebih cantik berambut panjang, kan?” tanyanya. “Tapi, Aku nggak punya rambut panjang itu” katanya.
“Kamu pikir perempuan harus berambut panjang agar terlihat cantik?” tanyaku. “Menurutku tidak, perempuan akan lebih cantik jika hatinya juga cantik, rambut hanya mahkota” jelasku.
Gadis itu menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Aku memperhatikannya dengan baik. Ku lihat ada air mata menggenang di bola mata bening itu. Gadis itu menangis? Tapi, kenapa?
“Maaf ya Aku berantakan, bau obat, bau infus, bau ini bau itu, soalnya Aku....”
“Tak masalah, kamu tetap cantik meskipun bau!” Aku berbisik tepat ditelinganya.
Ia meninju lenganku pelan seraya tersenyum. Aku pun mengajaknya keluar dari ruangan itu.
☺☺☺
Aku dan gadis itu duduk di bangku taman yang ada di belakang rumah sakit. Melihat bintang di hari terakhir bulan Desember. Aku menoleh ke arah gadis yang ada di sebelahku.
“Nggak nyangka, kita kenal udah satu bulan, tapi kamu nggak boleh tau namaku” Ia tersenyum tipis, binar matanya memiliki sorot yang tak Aku mengerti.
“Kamu tau kenapa Aku hoby banget pakai kupluk?” tanyanya.
Aku menggeleng tepat saat ia menoleh kearahku. Ia menyunggingkan bibirnya.
“Aku jelek kalau nggak pakai kupluk” katanya. Tapi, itu bukan jawaban pas untukku, melainkan hanya lelucon.
“Pasti kamu nggak percaya” katanya. “Iya kan?” ia menyenggol lenganku dengan sikunya.
“Ya nggak lah” jawabku sekenanya. “Perempuan mutlak cantik, meskipun tak banyak yang bisa melihatnya” kataku. Ia tertawa. Aku mengernyit.
Gadis itu membuka kupluknya. Memperlihatkan rambutnya yang pendek seperti lelaki.
“Perempuan itu lebih cantik berambut panjang, kan?” tanyanya. “Tapi, Aku nggak punya rambut panjang itu” katanya.
“Kamu pikir perempuan harus berambut panjang agar terlihat cantik?” tanyaku. “Menurutku tidak, perempuan akan lebih cantik jika hatinya juga cantik, rambut hanya mahkota” jelasku.
Gadis itu menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Aku memperhatikannya dengan baik. Ku lihat ada air mata menggenang di bola mata bening itu. Gadis itu menangis? Tapi, kenapa?
“Lihat!” gadis itu mengangkat tangan
kirinya yang penuh dengan rambut. “Rambut Aku rontok, sebentar lagi Aku
pasti botak!” ia menyeka air matanya yang menetes dengan tangan kirinya,
kemudian tertawa.
Aku menatapnya dengan tatapan miris. Ya tuhan, apa yang terjadi pada gadis ini? Tawanya membuat hatiku semakin tak karuan.
“Memangnya ada lelaki yang mau sama perempuan botak kayak Aku?” tanyanya lugu, membuang rambut di tangan kirinya.
“Ada!” jawabku. Gadis itu menatapku. “Aku!” kataku lagi.
Gadis itu menunduk. Kemudian tertawa terbahak-bahak. Kenapa gadis ini seakan-akan seperti mempermainkan Aku?
“Bohong! Iya kamu bohong! Mereka bilang perempuan botak itu jelek, kayak biksu!” celotehnya.
“Mereka?” gumamku.
“Iya mereka, sepupu-sepupuku yang masih SD bilang gitu!” sahutnya.
“Aku nggak bohong, Aku serius!” sentakku, agar ia berhenti bicara. Dan mendengarkan Aku.
“Apa? Serius apa?” Aku tahu ia pura-pura.
“Aku serius mau menerima kamu dalam keadaan apapun!” kataku, menggenggam jemarinya, meyakinkannya.
Ia menepis genggamanku, kemudian tersenyum sinis. “Aku nggak pantes buat kamu, nggak akan pernah pantes!” katanya.
Aku melihat kesedihan mendalam di mata itu. Gadis itu menangis lagi.
“Mana mungkin kamu mau menerimaku, sedangkan kita belum lama kenal” katanya. “Kamu nggak ngerti siapa Aku, begitu sebaliknya!” lanjutnya.
“Apa cinta butuh alasan?” tanyaku.
“Untuk perempuan seperti Aku, semua perlu alasan!” Ia menyeka air matanya. “Aku tahu, kamu bilang seperti itu karena pengen buat Aku seneng, kan?” Ia tertawa kecil. “Kak Rio selalu bilang gitu” katanya.
“Tolong, biarkan Aku memahamimu, menerimamu dan mencintaimu dengan caraku sendiri!” Aku tetap pada pendirianku. “Cinta memang hadir saat kita tak menginginkannya!” kataku.
Gadis itu memakai kupluknya lagi. Kemudian menatapku nanar. Air matanya menggenang.
“Apa kamu nggak ngerti? Aku ini sebentar lagi mati!” tandasnya.
“Aku nggak peduli!” kataku.
“Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih cantik, lebih sehat dari Aku!” katanya.
Aku menatapnya dengan tatapan miris. Ya tuhan, apa yang terjadi pada gadis ini? Tawanya membuat hatiku semakin tak karuan.
“Memangnya ada lelaki yang mau sama perempuan botak kayak Aku?” tanyanya lugu, membuang rambut di tangan kirinya.
“Ada!” jawabku. Gadis itu menatapku. “Aku!” kataku lagi.
Gadis itu menunduk. Kemudian tertawa terbahak-bahak. Kenapa gadis ini seakan-akan seperti mempermainkan Aku?
“Bohong! Iya kamu bohong! Mereka bilang perempuan botak itu jelek, kayak biksu!” celotehnya.
“Mereka?” gumamku.
“Iya mereka, sepupu-sepupuku yang masih SD bilang gitu!” sahutnya.
“Aku nggak bohong, Aku serius!” sentakku, agar ia berhenti bicara. Dan mendengarkan Aku.
“Apa? Serius apa?” Aku tahu ia pura-pura.
“Aku serius mau menerima kamu dalam keadaan apapun!” kataku, menggenggam jemarinya, meyakinkannya.
Ia menepis genggamanku, kemudian tersenyum sinis. “Aku nggak pantes buat kamu, nggak akan pernah pantes!” katanya.
Aku melihat kesedihan mendalam di mata itu. Gadis itu menangis lagi.
“Mana mungkin kamu mau menerimaku, sedangkan kita belum lama kenal” katanya. “Kamu nggak ngerti siapa Aku, begitu sebaliknya!” lanjutnya.
“Apa cinta butuh alasan?” tanyaku.
“Untuk perempuan seperti Aku, semua perlu alasan!” Ia menyeka air matanya. “Aku tahu, kamu bilang seperti itu karena pengen buat Aku seneng, kan?” Ia tertawa kecil. “Kak Rio selalu bilang gitu” katanya.
“Tolong, biarkan Aku memahamimu, menerimamu dan mencintaimu dengan caraku sendiri!” Aku tetap pada pendirianku. “Cinta memang hadir saat kita tak menginginkannya!” kataku.
Gadis itu memakai kupluknya lagi. Kemudian menatapku nanar. Air matanya menggenang.
“Apa kamu nggak ngerti? Aku ini sebentar lagi mati!” tandasnya.
“Aku nggak peduli!” kataku.
“Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih cantik, lebih sehat dari Aku!” katanya.
“Yang bisa memberikanmu kebahagiaan sempurna!” katanya lagi, menunduk.
“Tapi kebahagiaanku ada bersama kamu!” kataku, terus meyakinkannya.
Ia menoleh ke arahku. Ku dapati darah segar mengalir dari lubang hidungnya.
“Aku sakit, hidupku hanya tinggal menunggu waktu!” katanya. Aku merogoh kantung celanaku, mencari sapu tangan.
“Sst...” Aku mengusapkan sapu tangan itu tepat di atas bibirnya yang berlumur darah.
“Benar kan, Aku hanya bisa menyusahkan kamu, kalau Aku bersamamu, Aku akan terus membuat sapu tanganmu kotor!” katanya, mendorong tanganku agar menjauh dari wajahnya.
“Kamu pikir Aku peduli? Aku hanya ingin kamu menjadi milikku sebelum saat itu tiba! Itu cukup untukku” kataku.
“Hey, Aku tak punya waktu untuk hal cinta, Aku takut menyakitimu!” Ia bersikeras lagi. “Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur, meminum obat, mengganti selang infus, waktuku habis untuk itu semua!” katanya. “Bahkan terkadang mengganti pakaian pun Aku perlu bantuan!” Ia menangis, sangat jelas. Kali ini dadaku terasa sesak.
“Aku mohon, biarkan Aku mencintaimu dengan sisa waktumu” pintaku, sangat memohon, menatap bintang di langit.
Ia tak menjawab, Aku menoleh ke arahnya. Ia sibuk membersihkan darah segar yang mengalir di hidungnya.
“Kenapa nggak mau berhenti ngalir sih!” Ia tampak bingung, tangannya penuh darah, jaket abu-abunya itu pun penuh bercak darah. Tapi Aku yakin, ia mendengarku.
Aku merengkuh bahunya, kemudian menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapanku. Ia sempat mengelak. Tapi, beberapa detik kemudian, Ia meletakkan kepalanya di bahuku. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Apa harapan kamu di bulan Januari besok?” Ia bertanya.
“Dapat memiliki kamu, menjagamu, dan mencintaimu!” jawabku.
“Tapi, Aku tak janji bisa membalasnya!” katanya, sedikit terbatuk.
“Tak apa, asal kamu membiarkan Aku tetap mencintaimu, itu cukup bagiku” jelasku, tulus dari hati.
“Terima kasih, itu Aku anggap janji darimu” katanya.
Aku tersenyum, ada sedikit rasa lega di hatiku sekarang.
“Tapi kebahagiaanku ada bersama kamu!” kataku, terus meyakinkannya.
Ia menoleh ke arahku. Ku dapati darah segar mengalir dari lubang hidungnya.
“Aku sakit, hidupku hanya tinggal menunggu waktu!” katanya. Aku merogoh kantung celanaku, mencari sapu tangan.
“Sst...” Aku mengusapkan sapu tangan itu tepat di atas bibirnya yang berlumur darah.
“Benar kan, Aku hanya bisa menyusahkan kamu, kalau Aku bersamamu, Aku akan terus membuat sapu tanganmu kotor!” katanya, mendorong tanganku agar menjauh dari wajahnya.
“Kamu pikir Aku peduli? Aku hanya ingin kamu menjadi milikku sebelum saat itu tiba! Itu cukup untukku” kataku.
“Hey, Aku tak punya waktu untuk hal cinta, Aku takut menyakitimu!” Ia bersikeras lagi. “Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur, meminum obat, mengganti selang infus, waktuku habis untuk itu semua!” katanya. “Bahkan terkadang mengganti pakaian pun Aku perlu bantuan!” Ia menangis, sangat jelas. Kali ini dadaku terasa sesak.
“Aku mohon, biarkan Aku mencintaimu dengan sisa waktumu” pintaku, sangat memohon, menatap bintang di langit.
Ia tak menjawab, Aku menoleh ke arahnya. Ia sibuk membersihkan darah segar yang mengalir di hidungnya.
“Kenapa nggak mau berhenti ngalir sih!” Ia tampak bingung, tangannya penuh darah, jaket abu-abunya itu pun penuh bercak darah. Tapi Aku yakin, ia mendengarku.
Aku merengkuh bahunya, kemudian menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapanku. Ia sempat mengelak. Tapi, beberapa detik kemudian, Ia meletakkan kepalanya di bahuku. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Apa harapan kamu di bulan Januari besok?” Ia bertanya.
“Dapat memiliki kamu, menjagamu, dan mencintaimu!” jawabku.
“Tapi, Aku tak janji bisa membalasnya!” katanya, sedikit terbatuk.
“Tak apa, asal kamu membiarkan Aku tetap mencintaimu, itu cukup bagiku” jelasku, tulus dari hati.
“Terima kasih, itu Aku anggap janji darimu” katanya.
Aku tersenyum, ada sedikit rasa lega di hatiku sekarang.
Setidaknya, perasaanku telah lega
sekarang. Meskipun gadis itu tak memberi jawaban pasti. Aku hanya ingin
ada di sampingnya, sampai.... Entahlah.
“Boleh Aku cerita sedikit?” tanyanya. Aku memperhatikannya. Wajah kami cukup dekat. Pandangan kami bertemu.
Aku membersihkan darah yang mengalir itu dengan sapu tanganku. “Boleh” kataku.
“Aku beruntung punya Kak Rio, Bunda, dan Ayah” katanya. “Mereka orang yang paling Aku sayangi melebihi apapun!” lanjutnya. Aku mendehem.
“Tapi apa yang Aku bisa berikan ke mereka? Aku yang tak berdaya, Aku yang rapuh, Aku yang tak sama dengan mereka diluar sana, Aku yang....” tangisnya pecah.
Aku mengusap lengan bagian atasnya. “Tapi bagi mereka, kamu tetap berharga!” kataku.
“Itu yang membuatku bertahan sampai sekarang, karena mereka!” katanya, menyeka air matanya.
Aku mengeratkan dekapanku, Aku tahu gadis ini menggigil. Malam mulai larut. “Kita kembali ke kamar ya?” tawarku.
“Aku mau melihat pesta kembang api, sebentar lagi kan?” tolaknya.
“Tapi....”
“Aku mau tidur sebentar sambil menunggu pesta kembang api” selanya, membenahi kepalanya.
Aku mengangguk pasrah. “Aku mencintaimu” bisikku.
“Terima kasih” suaranya pelan namun berarti.
☺☺☺
Dua jam Aku lalui dengan menatap langit yang mulai ditinggalkan bintang-bintang itu. Tampak meredup tak ada cahaya. Sesekali mulutku bersenandung kecil. Memang benar, langit tak lengkap tanpa bintang-bintang itu.
Gadis itu masih terlelap dibahuku. Aku melirik jam yang melingkar di lengan kiriku. Dua belas tepat. Ku lihat langit telah di penuhi kembang api yang meletup mencakar langit. Suasana tahun baru. Dan, Desember telah berakhir.
“Hey, pesta kembang apinya sudah dimulai, ayo bangun!” Aku mengguncang tubuh mungil itu.
“Kamu bilang mau melihatnya, kan? Ayo bangun!” Aku menepuk pelan pipinya. Tak ada respon. Perasaanku mulai tak enak.
“Hey!” Aku mengangkat kepalanya, meletakannya di lenganku. Bibirnya memucat, tangannya dingin.
“Hey! Bangun, kembang apinya sudah mulai!” Aku mulai panik, menarik tubuh gadis itu ke pangkuanku.
“Boleh Aku cerita sedikit?” tanyanya. Aku memperhatikannya. Wajah kami cukup dekat. Pandangan kami bertemu.
Aku membersihkan darah yang mengalir itu dengan sapu tanganku. “Boleh” kataku.
“Aku beruntung punya Kak Rio, Bunda, dan Ayah” katanya. “Mereka orang yang paling Aku sayangi melebihi apapun!” lanjutnya. Aku mendehem.
“Tapi apa yang Aku bisa berikan ke mereka? Aku yang tak berdaya, Aku yang rapuh, Aku yang tak sama dengan mereka diluar sana, Aku yang....” tangisnya pecah.
Aku mengusap lengan bagian atasnya. “Tapi bagi mereka, kamu tetap berharga!” kataku.
“Itu yang membuatku bertahan sampai sekarang, karena mereka!” katanya, menyeka air matanya.
Aku mengeratkan dekapanku, Aku tahu gadis ini menggigil. Malam mulai larut. “Kita kembali ke kamar ya?” tawarku.
“Aku mau melihat pesta kembang api, sebentar lagi kan?” tolaknya.
“Tapi....”
“Aku mau tidur sebentar sambil menunggu pesta kembang api” selanya, membenahi kepalanya.
Aku mengangguk pasrah. “Aku mencintaimu” bisikku.
“Terima kasih” suaranya pelan namun berarti.
☺☺☺
Dua jam Aku lalui dengan menatap langit yang mulai ditinggalkan bintang-bintang itu. Tampak meredup tak ada cahaya. Sesekali mulutku bersenandung kecil. Memang benar, langit tak lengkap tanpa bintang-bintang itu.
Gadis itu masih terlelap dibahuku. Aku melirik jam yang melingkar di lengan kiriku. Dua belas tepat. Ku lihat langit telah di penuhi kembang api yang meletup mencakar langit. Suasana tahun baru. Dan, Desember telah berakhir.
“Hey, pesta kembang apinya sudah dimulai, ayo bangun!” Aku mengguncang tubuh mungil itu.
“Kamu bilang mau melihatnya, kan? Ayo bangun!” Aku menepuk pelan pipinya. Tak ada respon. Perasaanku mulai tak enak.
“Hey!” Aku mengangkat kepalanya, meletakannya di lenganku. Bibirnya memucat, tangannya dingin.
“Hey! Bangun, kembang apinya sudah mulai!” Aku mulai panik, menarik tubuh gadis itu ke pangkuanku.
Tapi lagi-lagi tak ada respon. Tubuh
gadis itu semakin dingin. Aku menggenggam lengan kirinya, mengecek
nadinya. Dan... Memang tak ada kehidupan lagi ditubuh gadis itu. Nadinya
sudah berhenti. Aku panik bukan main.
“Kembang apinya sudah mulai, kamu harus melihatnya, Januari telah tiba!” Aku menatap nanar wajah pucat itu.
Aku menyeka hidungku, menyeka peluh yang menetes karena panik. Aku mengangkat tubuh gadis itu.
“Tuhan, Kau mau mengambilnya?” Aku bersimpuh diatas rumput yang agak basah itu, menatap langit. “Ambil Tuhan! Aku tahu Kau lebih menyayanginya, dan bisa menjaganya! Ambil Tuhan!” Aku berteriak, seakan Tuhan ada di antara letupan kembang api itu.
Aku menidurkan gadis itu di atas rumput itu. Aku duduk di sebelahnya. Tak peduli apa pendapat orang yang melihatku.
“Kamu tahu? Aku merasa sudah berhasil mencintaimu, dan memilikimu” kataku, menangis dalam hati. “Walau hanya sebentar, tapi sangat berkesan untukku!” Aku menangis tanpa suara. Aku pantas dicap lelaki lemah.
“Terima kasih banyak telah membiarkan Aku mencintaimu!” Aku mengecup kening gadis itu.
Aku memandang langit yang mulai hening, letupan kembang api itu telah usai. Dan Januari baru telah hadir. Aku menelan ludah pahit, Aku telah kehilangan Desember, dan kehilangannya.
“Tuhan? Apa bisa Aku memintaMu untuk menambah hari di bulan Desember? Aku ingin terus bersamanya!” Aku menatap gadis di hadapanku yang terbaring tak berdaya. “Aku harus apa sekarang?!” Aku berteriak dalam hati.
“Desember telah berakhir, dan kebahagiaanku pun ikut berakhir!” Aku mengangkat tubuh gadis itu. Membawanya berjalan di lorong rumah sakit. “Aku pasti akan membaik lagi, ingat itu!” Aku bersumpah pada gadis itu.
“Kembang apinya sudah mulai, kamu harus melihatnya, Januari telah tiba!” Aku menatap nanar wajah pucat itu.
Aku menyeka hidungku, menyeka peluh yang menetes karena panik. Aku mengangkat tubuh gadis itu.
“Tuhan, Kau mau mengambilnya?” Aku bersimpuh diatas rumput yang agak basah itu, menatap langit. “Ambil Tuhan! Aku tahu Kau lebih menyayanginya, dan bisa menjaganya! Ambil Tuhan!” Aku berteriak, seakan Tuhan ada di antara letupan kembang api itu.
Aku menidurkan gadis itu di atas rumput itu. Aku duduk di sebelahnya. Tak peduli apa pendapat orang yang melihatku.
“Kamu tahu? Aku merasa sudah berhasil mencintaimu, dan memilikimu” kataku, menangis dalam hati. “Walau hanya sebentar, tapi sangat berkesan untukku!” Aku menangis tanpa suara. Aku pantas dicap lelaki lemah.
“Terima kasih banyak telah membiarkan Aku mencintaimu!” Aku mengecup kening gadis itu.
Aku memandang langit yang mulai hening, letupan kembang api itu telah usai. Dan Januari baru telah hadir. Aku menelan ludah pahit, Aku telah kehilangan Desember, dan kehilangannya.
“Tuhan? Apa bisa Aku memintaMu untuk menambah hari di bulan Desember? Aku ingin terus bersamanya!” Aku menatap gadis di hadapanku yang terbaring tak berdaya. “Aku harus apa sekarang?!” Aku berteriak dalam hati.
“Desember telah berakhir, dan kebahagiaanku pun ikut berakhir!” Aku mengangkat tubuh gadis itu. Membawanya berjalan di lorong rumah sakit. “Aku pasti akan membaik lagi, ingat itu!” Aku bersumpah pada gadis itu.
Dalam Desember, Aku melihatnya..
Kemudian mengenalnya..
Setelah itu mulai mengerti sikap dan perangainya..
Tapi, dalam Desember yang singkat itulah Aku juga kehilangannya..
Kehilangan senyum dan tawanya. Semuanya!
Apa semua kebahagiaan baruku harus berakhir bersama berakhirnya bulan Desember?
Dan menjalani Januari yang baru tanpa secuilpun kebahagiaan tentangnya?
Lalu, apa maksudnya Tuhan mempertemukanku dengannya?
Jika pada akhirnya harus dipisahkan?
Apa Tuhan ingin mempermainkan hati dan perasaanku?
Sesingkat itukah pertemuanku dengannya?
Baik, Desember telah sepenuhnya berakhir.
Meninggalkan secuil kenangan yang indah dan kelabu.
Sekarang, tergantikan dengan Januari yang baru.
Dan Aku akan kembali seperti semula, saat belum mengenalnya.
Menjalani hari-hariku seperti biasanya.
Tak ada lagi tawa dan senyumnya.
Semua itu telah berlalu bersama Desember.
Dan semua akan kembali baik-baik saja, dan hanya satu yang berbuah, bahwa Aku pernah mengenalnya.
Dan sekarang, besok, lusa dan seterusnya, Aku hanya akan mengenangnya sebagai Desember yang indah ~
--SELESAI--
Kemudian mengenalnya..
Setelah itu mulai mengerti sikap dan perangainya..
Tapi, dalam Desember yang singkat itulah Aku juga kehilangannya..
Kehilangan senyum dan tawanya. Semuanya!
Apa semua kebahagiaan baruku harus berakhir bersama berakhirnya bulan Desember?
Dan menjalani Januari yang baru tanpa secuilpun kebahagiaan tentangnya?
Lalu, apa maksudnya Tuhan mempertemukanku dengannya?
Jika pada akhirnya harus dipisahkan?
Apa Tuhan ingin mempermainkan hati dan perasaanku?
Sesingkat itukah pertemuanku dengannya?
Baik, Desember telah sepenuhnya berakhir.
Meninggalkan secuil kenangan yang indah dan kelabu.
Sekarang, tergantikan dengan Januari yang baru.
Dan Aku akan kembali seperti semula, saat belum mengenalnya.
Menjalani hari-hariku seperti biasanya.
Tak ada lagi tawa dan senyumnya.
Semua itu telah berlalu bersama Desember.
Dan semua akan kembali baik-baik saja, dan hanya satu yang berbuah, bahwa Aku pernah mengenalnya.
Dan sekarang, besok, lusa dan seterusnya, Aku hanya akan mengenangnya sebagai Desember yang indah ~
--SELESAI--
Kejutan Buat Bunda | Part 1
Diposting oleh: devyrahmawati.blogspot.com -
“Dhasa Deriel, ayo cepet sarapannya dihabisin, nanti telat lho!” seru
wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda tanpa poni, menuruni anak
tangga sambil membawa dua buah tas yang sama persis.
“Kalian dimana sih?” tanya wanita bernama Mita itu, pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Mita menghela napas berat melihat kedua piring yang masih terisi utuh roti selai coklat diatas meja makan itu. Ia yakin, kedua putra kembarnya itu belum menyentuhnya.
“Kalian mau main-main sama Bunda?” Mita berseru lagi, dan lagi-lagi tak ada jawaban.
Dua bocah lelaki terlihat duduk di bawah meja makan itu, sibuk dengan mainannya, tanpa mengindahkan seruan ibunya.
“Ok, Bunda kunci pintunya, ya!” Mita berjalan menuju pintu depan. “Jangan salahin Bunda kalau kalian didatangi orang jahat!” Mita memutar gagang pintu. Cara ampuhnya untuk membuat kedua putranya keluar dari tempat persembunyiannya.
“Bunda!” seru Dhasa dan Deriel, putra kembar Mita, berlari menghampiri Mita.
Mita tersenyum saat kedua putra kembarnya itu berlari manja ke arahnya. Ia yakin, mereka takut dengan ucapannya tadi.
“Ini tasnya Dhasa” Mita menyematkan salah satu tas itu di bahu Dhasa, anak bungsunya.
“Ini tasnya Deriel” Mita melakukan hal yang sama pada Deriel, putra sulungnya.
“Sekarang kita berangkat!” Mita menuntun kedua putranya itu ke mobil.
“Aku duduk di depan!” seru Dhasa.
“Aku! Kamu kan kemarin udah!” protes Deriel tak terima.
“Pokoknya Aku!” Dhasa ngotot.
“Aku!” Deriel tetap tak mau kalah.
“Cukup!” Mita menengahi. “Nggak ada yang duduk di depan, semua duduk di belakang!” perintah Mita.
“Tapi, Bunda....” elak Dhasa.
“Dhasa, kamu pilih duduk di belakang atau Bunda tinggal?” tanya Mita.
Dhasa akhirnya menurut, di antara kedua putranya, memang Dhasa-lah yang paling nakal dan sulit diatur. Mita selalu kewalahan menghadapi anaknya yang satu itu. Maklum saja, Dhasa memang lahir beberapa menit setelah Deriel, kakaknya.
♫♫♫
“Inget, nggak boleh nakal, ya!” pesan Mita pada kedua putranya sebelum masuk kelas.
Dhasa dan Deriel mengangguk kompak.
“Kalian dimana sih?” tanya wanita bernama Mita itu, pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Mita menghela napas berat melihat kedua piring yang masih terisi utuh roti selai coklat diatas meja makan itu. Ia yakin, kedua putra kembarnya itu belum menyentuhnya.
“Kalian mau main-main sama Bunda?” Mita berseru lagi, dan lagi-lagi tak ada jawaban.
Dua bocah lelaki terlihat duduk di bawah meja makan itu, sibuk dengan mainannya, tanpa mengindahkan seruan ibunya.
“Ok, Bunda kunci pintunya, ya!” Mita berjalan menuju pintu depan. “Jangan salahin Bunda kalau kalian didatangi orang jahat!” Mita memutar gagang pintu. Cara ampuhnya untuk membuat kedua putranya keluar dari tempat persembunyiannya.
“Bunda!” seru Dhasa dan Deriel, putra kembar Mita, berlari menghampiri Mita.
Mita tersenyum saat kedua putra kembarnya itu berlari manja ke arahnya. Ia yakin, mereka takut dengan ucapannya tadi.
“Ini tasnya Dhasa” Mita menyematkan salah satu tas itu di bahu Dhasa, anak bungsunya.
“Ini tasnya Deriel” Mita melakukan hal yang sama pada Deriel, putra sulungnya.
“Sekarang kita berangkat!” Mita menuntun kedua putranya itu ke mobil.
“Aku duduk di depan!” seru Dhasa.
“Aku! Kamu kan kemarin udah!” protes Deriel tak terima.
“Pokoknya Aku!” Dhasa ngotot.
“Aku!” Deriel tetap tak mau kalah.
“Cukup!” Mita menengahi. “Nggak ada yang duduk di depan, semua duduk di belakang!” perintah Mita.
“Tapi, Bunda....” elak Dhasa.
“Dhasa, kamu pilih duduk di belakang atau Bunda tinggal?” tanya Mita.
Dhasa akhirnya menurut, di antara kedua putranya, memang Dhasa-lah yang paling nakal dan sulit diatur. Mita selalu kewalahan menghadapi anaknya yang satu itu. Maklum saja, Dhasa memang lahir beberapa menit setelah Deriel, kakaknya.
♫♫♫
“Inget, nggak boleh nakal, ya!” pesan Mita pada kedua putranya sebelum masuk kelas.
Dhasa dan Deriel mengangguk kompak.
“Nggak boleh jajan sembarangan, harus makan bekal yang Bunda siapin, ngerti?” jelas Mita lagi.
“Iya, Bunda!” sahut mereka lagi.
“Jangan kemana-mana sebelum Ayah jemput” kata Mita lagi.
“Iya, Bunda!” sahut mereka.
“Ok!” Mita menunjuk kedua pipinya. Dhasa dan Deril mengerti, mereka mengecup pipi ibunya itu sebelum akhirnya masuk kelas.
Mita melenggang pergi dari sekolah itu, setelah ia yakin kedua putranya itu aman di dalam kelasnya.
Mita memang tak pernah menyangka akan mendapatkan anugerah lebih dari Tuhan yaitu berupa dua anak lelaki kembar sekaligus dalam satu kali proses kelahiran normal. Kebahagiaannya memang sempurna di setiap detik hidupnya atas kehadiran dua malaikat kecil itu. Sebagai seorang wanita karier seperti dirinya, Mita memang bisa dikatakan sempurna. Ia memiliki seorang suami yang tampan serta mapan, ditambah dengan dua malaikat kecil yang lucu dan menyayanginya. Benar-benar sempurna.
“Yu, jangan lupa nanti jemput anak-anak, ya” Mita menghubungi suaminya saat mobil itu melaju keluar dari pelataran TK itu.
“Iya” sahut pria diseberang sana.
Mita menutup teleponnya, melajukan mobilnya menuju perusahaan tempatnya bekerja.
♫♫♫
Mita memutar kunci rumahnya sore itu, ia dan Wahyu, suaminya memang menyimpan kunci rumah. Supaya tidak repot nantinya. Mita memang tak pernah pulang malam, itu karena ia harus mengurus kedua putranya. Untung saja bosnya tak pernah memberinya jam lembur sampai larut malam. Jadi, ia bisa memberi waktunya hanya untuk Dhasa dan Deriel.
“Dhasa Deriel!” seru Mita, menyapu pandangan. Namun tak ada jawaban.
Mita meletakkan handbagnya di sofa ruang tengah. Kemudian berjalan ke halaman belakang, ia yakin kedua anaknya itu sedang bermain di halaman belakang setiap sorenya.
Mita kaget bukan main saat didapatinya taman belakang itu becek tergenang air yang mengalir dari selang yang ada di sebelah kolam renang itu. Dan itu semua ulah anak-anaknya.
“Iya, Bunda!” sahut mereka lagi.
“Jangan kemana-mana sebelum Ayah jemput” kata Mita lagi.
“Iya, Bunda!” sahut mereka.
“Ok!” Mita menunjuk kedua pipinya. Dhasa dan Deril mengerti, mereka mengecup pipi ibunya itu sebelum akhirnya masuk kelas.
Mita melenggang pergi dari sekolah itu, setelah ia yakin kedua putranya itu aman di dalam kelasnya.
Mita memang tak pernah menyangka akan mendapatkan anugerah lebih dari Tuhan yaitu berupa dua anak lelaki kembar sekaligus dalam satu kali proses kelahiran normal. Kebahagiaannya memang sempurna di setiap detik hidupnya atas kehadiran dua malaikat kecil itu. Sebagai seorang wanita karier seperti dirinya, Mita memang bisa dikatakan sempurna. Ia memiliki seorang suami yang tampan serta mapan, ditambah dengan dua malaikat kecil yang lucu dan menyayanginya. Benar-benar sempurna.
“Yu, jangan lupa nanti jemput anak-anak, ya” Mita menghubungi suaminya saat mobil itu melaju keluar dari pelataran TK itu.
“Iya” sahut pria diseberang sana.
Mita menutup teleponnya, melajukan mobilnya menuju perusahaan tempatnya bekerja.
♫♫♫
Mita memutar kunci rumahnya sore itu, ia dan Wahyu, suaminya memang menyimpan kunci rumah. Supaya tidak repot nantinya. Mita memang tak pernah pulang malam, itu karena ia harus mengurus kedua putranya. Untung saja bosnya tak pernah memberinya jam lembur sampai larut malam. Jadi, ia bisa memberi waktunya hanya untuk Dhasa dan Deriel.
“Dhasa Deriel!” seru Mita, menyapu pandangan. Namun tak ada jawaban.
Mita meletakkan handbagnya di sofa ruang tengah. Kemudian berjalan ke halaman belakang, ia yakin kedua anaknya itu sedang bermain di halaman belakang setiap sorenya.
Mita kaget bukan main saat didapatinya taman belakang itu becek tergenang air yang mengalir dari selang yang ada di sebelah kolam renang itu. Dan itu semua ulah anak-anaknya.
Didapatinya Dhasa dan Deriel sedang asik bermain air dari selang itu hingga pakaian mereka basah kuyup.
“Kalian lagi apa?” tanya Mita, menahan emosinya.
Dhasa dan Deriel terperangah. “Bunda?” kedua bocah itu berdiri dari jongkoknya.
“Kalian nakal, yah?” Mita mendekati kedua anaknya itu. Dhasa dan Deriel saling senggol.
“Kenapa main air? Siapa yang suruh?” Mita meletakkan kedua tangannya diantara dada dan perutnya.
“Deriel, Bun yang ngajakin!” Dhasa buka suara.
“Bohong, Bun!” elak Deriel.
“Iya kamu!” Dhasa memelototi Deriel.
“Kamu!” Deriel tampang garang.
“Dhasa Deriel!” bentak Mita, kedua anaknya sontak mengatupkan rahang.
“Sekarang mandi!” Mita menuntun kedua anaknya itu masuk ke dalam rumah.
♫♫♫
Dhasa dan Deriel duduk sejajar di sofa ruang tengah usai mandi sore itu, sesekali mereka melirik Bundanya yang duduk tak jauh dari mereka sambil membaca majalah. Dhasa dan Deriel tahu betul, Bundanya itu sedang marah.
Mita mendongakkan kepalanya sedikit, didapatinya kedua anaknya itu sedang sibuk dengan permainan jarinya. Ia sengaja melakukan hal ini-membiarkan Dhasa dan Deriel-dengan harapan mereka bisa berpikir apa kesalahan mereka. Tapi apa, ia selalu gagal. Kedua anaknya itu memiliki beribu cara untuk menghindari kemarahannya, salah satunya dengan sibuk sendiri.
“Bunda nggak ngerti ya harus gimana lagi nasihatin kalian!” Mita menutup majalahnya, meletakkannya di atas meja.
Dhasa dan Deriel menyudahi permainnya, menunduk. Mita menatap kedua anaknya itu dengan seksama.
“Ada apa ini?” seseorang berseru. Mita menoleh, didapatinya Wahyu berdiri disisinya sambil melepaskan dasi dengan satu tangannya.
“Tanya aja sama anak-anak kamu itu!” Mita mengambil alih tas yang ada di tangan Wahyu, membawanya ke ruang kerja milik Wahyu.
“Kenapa?” Wahyu duduk disebelah kedua anaknya itu.
“Bunda marah-marah terus, Yah!” jawab Deriel, dibarengi anggukan Dhasa.
“Kalian pasti bandel, iya kan?” tanya Wahyu. Dhasa dan Deriel tak menjawab. “Ayah bener, kan?” tanya Wahyu. Dhasa dan Deriel saling bertatapan.
“Kalian lagi apa?” tanya Mita, menahan emosinya.
Dhasa dan Deriel terperangah. “Bunda?” kedua bocah itu berdiri dari jongkoknya.
“Kalian nakal, yah?” Mita mendekati kedua anaknya itu. Dhasa dan Deriel saling senggol.
“Kenapa main air? Siapa yang suruh?” Mita meletakkan kedua tangannya diantara dada dan perutnya.
“Deriel, Bun yang ngajakin!” Dhasa buka suara.
“Bohong, Bun!” elak Deriel.
“Iya kamu!” Dhasa memelototi Deriel.
“Kamu!” Deriel tampang garang.
“Dhasa Deriel!” bentak Mita, kedua anaknya sontak mengatupkan rahang.
“Sekarang mandi!” Mita menuntun kedua anaknya itu masuk ke dalam rumah.
♫♫♫
Dhasa dan Deriel duduk sejajar di sofa ruang tengah usai mandi sore itu, sesekali mereka melirik Bundanya yang duduk tak jauh dari mereka sambil membaca majalah. Dhasa dan Deriel tahu betul, Bundanya itu sedang marah.
Mita mendongakkan kepalanya sedikit, didapatinya kedua anaknya itu sedang sibuk dengan permainan jarinya. Ia sengaja melakukan hal ini-membiarkan Dhasa dan Deriel-dengan harapan mereka bisa berpikir apa kesalahan mereka. Tapi apa, ia selalu gagal. Kedua anaknya itu memiliki beribu cara untuk menghindari kemarahannya, salah satunya dengan sibuk sendiri.
“Bunda nggak ngerti ya harus gimana lagi nasihatin kalian!” Mita menutup majalahnya, meletakkannya di atas meja.
Dhasa dan Deriel menyudahi permainnya, menunduk. Mita menatap kedua anaknya itu dengan seksama.
“Ada apa ini?” seseorang berseru. Mita menoleh, didapatinya Wahyu berdiri disisinya sambil melepaskan dasi dengan satu tangannya.
“Tanya aja sama anak-anak kamu itu!” Mita mengambil alih tas yang ada di tangan Wahyu, membawanya ke ruang kerja milik Wahyu.
“Kenapa?” Wahyu duduk disebelah kedua anaknya itu.
“Bunda marah-marah terus, Yah!” jawab Deriel, dibarengi anggukan Dhasa.
“Kalian pasti bandel, iya kan?” tanya Wahyu. Dhasa dan Deriel tak menjawab. “Ayah bener, kan?” tanya Wahyu. Dhasa dan Deriel saling bertatapan.
“Ayo jelasin” pinta Wahyu lembut.
“Dhasa sama Deriel cuma main air dari selang yang ada dideket kolam sampai tanahnya becek, itu aja kok, Yah!” jelas Deriel.
Wahyu tersenyum. “Jelaslah Bunda marah, kalian main air” komentarnya. “Bunda nggak mau kalau kalian sampai sakit” kata Wahyu.
“Tapi, Yah....” desah Dhasa.
Wahyu berdiri dari duduknya, kemudian mengecup kening kedua putranya itu, lalu pergi meninggalkannya. Dhasa dan Deriel pun merebahkan tubuhnya di sofa besar itu, sibuk dengan pikiran masing-masing.
♫♫♫
Mita duduk disebelah Wahyu yang sedang santai di sofa ruang tengah itu, usai menidurkan Dhasa dan Deriel.
“Anak-anak udah tidur?” tanya Wahyu.
“Udah” jawab Mita, lalu menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
“Mit,” Wahyu membenarkan posisi duduknya, menghadap istrinya. “Pakai jasa Babysitter aja, yah?” tawar Wahyu untuk kesekian kalinya.
“Yu,” Mita bangkit dari bersandarnya. “Aku udah bilang kan, Aku mau mendidik anak-anakku dengan caraku sendiri” kata Mita, meyakinkan suaminya kalau ia bisa tanpa seorang babysitter.
“Tapi, Mita....”
“Aku mau mereka terbiasa sama Aku, ibunya sendiri” Mita menggenggam jemari Wahyu.
Wahyu mengulum senyum maklum, tak salah ia menjadikan Mita sebagai istrinya.
“Ok” Wahyu mengacak rambut istrinya itu. “Tapi nanti yang ada, anak-anak Aku kamu marahin terus” seringai Wahyu. Mita memelototi suaminya itu.
“Jangan galak-galak dong, Sayang” ujar Wahyu, menyeringai jahil.
“Wahyu!” Mita melotot. “Aku galak juga karena anak kamu nakal!” Mita mencubit pinggang suaminya itu.
“Mereka juga anak kamu tahu!” Wahyu meringis kesakitan. Mita tertawa riang. Semua penatnya hari ini seakan musnah begitu saja ketika ia sedang bersama Wahyu seperti saat ini. Karena disaat bersama Wahyu-lah, Mita merasa hidupnya benar-benar sempurna. Tentunya bertambah lengkap dengan kehadiran dua malaikat kecil di tengah-tengah mereka.
“Tidur yuk!” Wahyu beranjak dari duduknya, diikuti Mita.
Wahyu merangkul istrinya itu menuju kamar. Melepas penat tentunya.
“Dhasa sama Deriel cuma main air dari selang yang ada dideket kolam sampai tanahnya becek, itu aja kok, Yah!” jelas Deriel.
Wahyu tersenyum. “Jelaslah Bunda marah, kalian main air” komentarnya. “Bunda nggak mau kalau kalian sampai sakit” kata Wahyu.
“Tapi, Yah....” desah Dhasa.
Wahyu berdiri dari duduknya, kemudian mengecup kening kedua putranya itu, lalu pergi meninggalkannya. Dhasa dan Deriel pun merebahkan tubuhnya di sofa besar itu, sibuk dengan pikiran masing-masing.
♫♫♫
Mita duduk disebelah Wahyu yang sedang santai di sofa ruang tengah itu, usai menidurkan Dhasa dan Deriel.
“Anak-anak udah tidur?” tanya Wahyu.
“Udah” jawab Mita, lalu menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
“Mit,” Wahyu membenarkan posisi duduknya, menghadap istrinya. “Pakai jasa Babysitter aja, yah?” tawar Wahyu untuk kesekian kalinya.
“Yu,” Mita bangkit dari bersandarnya. “Aku udah bilang kan, Aku mau mendidik anak-anakku dengan caraku sendiri” kata Mita, meyakinkan suaminya kalau ia bisa tanpa seorang babysitter.
“Tapi, Mita....”
“Aku mau mereka terbiasa sama Aku, ibunya sendiri” Mita menggenggam jemari Wahyu.
Wahyu mengulum senyum maklum, tak salah ia menjadikan Mita sebagai istrinya.
“Ok” Wahyu mengacak rambut istrinya itu. “Tapi nanti yang ada, anak-anak Aku kamu marahin terus” seringai Wahyu. Mita memelototi suaminya itu.
“Jangan galak-galak dong, Sayang” ujar Wahyu, menyeringai jahil.
“Wahyu!” Mita melotot. “Aku galak juga karena anak kamu nakal!” Mita mencubit pinggang suaminya itu.
“Mereka juga anak kamu tahu!” Wahyu meringis kesakitan. Mita tertawa riang. Semua penatnya hari ini seakan musnah begitu saja ketika ia sedang bersama Wahyu seperti saat ini. Karena disaat bersama Wahyu-lah, Mita merasa hidupnya benar-benar sempurna. Tentunya bertambah lengkap dengan kehadiran dua malaikat kecil di tengah-tengah mereka.
“Tidur yuk!” Wahyu beranjak dari duduknya, diikuti Mita.
Wahyu merangkul istrinya itu menuju kamar. Melepas penat tentunya.
***
Mita sibuk membuat nasi goreng pagi itu, untuk sarapan keluarganya. Sementara itu, Dhasa dan Deriel sibuk memakai sepatu sambil menunggu sarapan siap. Sedangkan Wahyu masih dikamar, bersiap-siap ke kantor.
“Bunda, tali sepatu Dhasa yang kiri kenapa nggak ada?” seru Dhasa dari ruang tengah.
“Bunda nggak tahu, Sayang. Coba kamu cari lagi!” sahut Mita yang sedang sibuk menuangkan nasi goreng ke setiap piring di meja makan itu.
“Dhasa udah cari, tapi nggak ketemu!” suara Dhasa terdengar panik.
“Yaudah, Dhasa ambil tali sepatu yang lain aja, atau ganti sepatu yang nggak perlu pakai tali!” perintah Mita.
“Nggak mau, Dhasa mau pake sepatu ini, Dhasa juga mau pake tali itu!” tolak Dhasa jengkel.
Mita menggelengkan kepala, kewalahan menghadapi sikap Dhasa yang keras kepala dan sulit dibantah. Sikapnya memang persis seperti Wahyu. Tak seperti Deriel yang memang lebih cenderung seperti Mita, cuek dan apa adanya.
“Dhasa si, kalau lepas sepatu talinya di lepas juga!” komentar Deriel.
“Biarin, emang kenapa? Itu sepatu Aku, bukan sepatu kamu! Jadi terserah Aku!” omel Dhasa.
“Dhasa nyebelin!” Deriel berkacak pinggang sebal.
Dhasa merengut kesal. “Biarin!” komentarnya.
Mita yang mendengar pertengkaran kedua putranya itu hanya menghela napas maklum, baginya pertengkaran antara Dhasa dan Deriel adalah salah satu bagian dari hidupnya. Dan, itulah yang selalu membuatnya rindu pada kedua anaknya saat dikantor.
“Bunda, Deriel yang udah ambil tali sepatu Dhasa!” tuduh Dhasa kemudian.
“Dhasa bohong, Bun!” elak Deriel.
“Emang aku nggak tau, kamu itu kan nyebelin!” sahut Dhasa.
“Jangan asal nuduh!” Deriel tak terima.
“Aku nggak nuduh!” bela Dhasa.
Tanpa mereka sadari, Wahyu sudah berdiri di antara kedua putranya itu.
“Apa buktinya?” tanya Deriel.
“Waktu itu kamu pernah nyembunyiin mainan aku, pasti tali sepatu aku kamu juga yang ambil!” jelas Dhasa.
“Ehem...” Wahyu mendehem.
“Ayah, Deriel nyebelin!” seru Dhasa saat menyadari kehadiran Wahyu.
“Dhasa yang nyebelin, Yah!” Deriel tak mau kalah.
Mita sibuk membuat nasi goreng pagi itu, untuk sarapan keluarganya. Sementara itu, Dhasa dan Deriel sibuk memakai sepatu sambil menunggu sarapan siap. Sedangkan Wahyu masih dikamar, bersiap-siap ke kantor.
“Bunda, tali sepatu Dhasa yang kiri kenapa nggak ada?” seru Dhasa dari ruang tengah.
“Bunda nggak tahu, Sayang. Coba kamu cari lagi!” sahut Mita yang sedang sibuk menuangkan nasi goreng ke setiap piring di meja makan itu.
“Dhasa udah cari, tapi nggak ketemu!” suara Dhasa terdengar panik.
“Yaudah, Dhasa ambil tali sepatu yang lain aja, atau ganti sepatu yang nggak perlu pakai tali!” perintah Mita.
“Nggak mau, Dhasa mau pake sepatu ini, Dhasa juga mau pake tali itu!” tolak Dhasa jengkel.
Mita menggelengkan kepala, kewalahan menghadapi sikap Dhasa yang keras kepala dan sulit dibantah. Sikapnya memang persis seperti Wahyu. Tak seperti Deriel yang memang lebih cenderung seperti Mita, cuek dan apa adanya.
“Dhasa si, kalau lepas sepatu talinya di lepas juga!” komentar Deriel.
“Biarin, emang kenapa? Itu sepatu Aku, bukan sepatu kamu! Jadi terserah Aku!” omel Dhasa.
“Dhasa nyebelin!” Deriel berkacak pinggang sebal.
Dhasa merengut kesal. “Biarin!” komentarnya.
Mita yang mendengar pertengkaran kedua putranya itu hanya menghela napas maklum, baginya pertengkaran antara Dhasa dan Deriel adalah salah satu bagian dari hidupnya. Dan, itulah yang selalu membuatnya rindu pada kedua anaknya saat dikantor.
“Bunda, Deriel yang udah ambil tali sepatu Dhasa!” tuduh Dhasa kemudian.
“Dhasa bohong, Bun!” elak Deriel.
“Emang aku nggak tau, kamu itu kan nyebelin!” sahut Dhasa.
“Jangan asal nuduh!” Deriel tak terima.
“Aku nggak nuduh!” bela Dhasa.
Tanpa mereka sadari, Wahyu sudah berdiri di antara kedua putranya itu.
“Apa buktinya?” tanya Deriel.
“Waktu itu kamu pernah nyembunyiin mainan aku, pasti tali sepatu aku kamu juga yang ambil!” jelas Dhasa.
“Ehem...” Wahyu mendehem.
“Ayah, Deriel nyebelin!” seru Dhasa saat menyadari kehadiran Wahyu.
“Dhasa yang nyebelin, Yah!” Deriel tak mau kalah.
Wahyu tak berkomentar, membiarkan
kedua anaknya itu. Hingga akhirnya, adu mulut antara mereka terus
berlanjut. Wahyu memasukkan ibu jarinya ke kantung celananya seraya
tersenyum melihat tingkah kedua putranya yang menggemaskan itu.
“Udah, berantemnya nanti lagi” Wahyu menengahi. “Sekarang kita sarapan dulu, yuk!” Wahyu meraih tangan kedua anaknya, membawanya ke meja makan. Dhasa dan Deriel menurut.
♫♫♫
“Dhasa kenapa belum pakai sepatu?” tanya Mita pada anaknya saat berkumpul di teras. Bersiap pergi usai sarapan.
“Dhasa nggak mau pake sepatu lain, maunya sepatu itu!” Dhasa menunjuk sepatu yang tergeletak di bawah kursi yang ada di teras.
“Tapi sepatu itu nggak ada talinya, kan?” Mita tampak gemas. Dhasa mengangguk.
“Yaudah pakai sepatu yang lain aja, ya?” bujuk Mita.
“Nggak mau, Dhasa mau pake sepatu itu, sama tali itu!” elaknya keukeuh.
“Pakai sepatu yang lain aja ya, Sayang” timpal Wahyu, mendekat, dan bersimpuh menyamai tinggi badan Dhasa. Dhasa merengut kesal.
“Nggak mau, Ayah!” tolak Dhasa.
“Dhasa!” Mita mendelik kesal. Dhasa melengos tak peduli.
“Nanti pulang sekolah kita beli ice cream deh yang banyak!” rajuk Wahyu.
“Nggak mau, Ayah!” tolaknya lagi.
“Ke toko mainan, deh!” Wahyu belum menyerah.
“Nggak mau, Ayah!” lagi-lagi Dhasa menolak.
Wahyu menghela napas, kewalahan membujuk salah satu putranya itu. Ia menatap Mita, istrinya. Meminta pendapat, tapi Mita mengangkat bahu, tanda ia juga tak tahu harus bagaimana lagi.
“Ayo dong Sayang, udah siang nih!” Mita tampak putus asa.
“Enggak!” sahut Dhasa, tetap pada pendiriannya.
Wahyu menatap malaikat kecil di depannya itu, bingung harus bagaimana lagi membujuk Dhasa agar mau memakai sepatu yang lain. Namun sepertinya keinginan Dhasa itu tak terbantahkan lagi.
“Persis kan kayak kamu, keras kepala dan nggak bisa dibantah!” tandas Mita, melirik Wahyu.
Wahyu mengerling jahil menatap Mita, ia selalu melakukan itu jika Mita sedang marah dengan suatu hal.
“Dhasa, ayo dong!” rajuk Wahyu lagi.
“Deriel, ayo kita berangkat!” Mita menarik tangan Deriel yang sedari tak berkomentar apaun.
“Tapi, Bun....”
“Nggak usah mikirin Dhasa, ok!” potong Mita lembut.
Deriel menurut, ia masuk ke dalam mobil, di ikuti Mita. Ia benar-benar putus asa membujuk Dhasa. Karena ia tahu, Dhasa hanya luluh dengan Wahyu, ayahnya.
“Nah, Dhasa mau apa sekarang? Nggak ke sekolah?” tanya Wahyu. Mobil Mita melaju meninggalkan pelataran rumah itu. Dhasa merengut kesal.
“Dhasa sebel sama Ayah, sama Bunda, sama Deriel!” celetuk Dhasa jengkel.
“Ayah sama Bunda salah apa?” tanya Wahyu. “Deriel juga salah apa?”
“Ayah, Bunda sama Deriel nggak mau bantuin Dhasa cari tali sepatu itu!” jelasnya. Wahyu menautkan alisnya.
“Dhasa nggak mau ke sekolah!” Dhasa merengut sebal. Wahyu membuang napas lelah.
“Ok” Wahyu berdiri, membuka pintu rumah itu. “Sekarang Ayah temenin Dhasa dirumah” Wahyu menuntun Dhasa ke dalam rumah. Dhasa menurut.
♫♫♫
Deriel tiba di rumah tepat pukul dua belas siang dengan di jemput Wahyu. Sepanjang perjalanan tadi, Deriel menanyakan alasan Dhasa tak mau ke sekolah. Dan Wahyu menjelaskannya.
“Deriel, adik kamu mana?” tanya Wahyu pada Deriel yang sedang menonton televisi usai mengganti pakaiannya.
“Tidur, Yah” jawabnya singkat.
Wahyu mendatangi kamar Dhasa yang juga kamar Deriel, semua barang yang ada dikamar itu sama. Mulai dari lemari, tempat tidur, sampai koleksi dan mainan mereka semuanya sama.
Wahyu kembali menutup pintu kamar itu. Di dapatinya Dhasa sedang tertidur. Wahyu duduk di sebelahnya.
“Dhasa...” Wahyu membelai pipi putranya itu. Ia merasa suhu tubuh Dhasa agak meninggi.
“Dhasa...” Wahyu mencoba membangunkan Dhasa. Dhasa membuka matanya perlahan.
“Dhasa demam?” tanya Wahyu, nada suaranya khawatir.
“Kepala Dhasa pusing, Yah” keluhnya.
Wahyu sibuk mengurus Dhasa yang sedang demam, terpaksa Deriel hanya makan siang sendiri di meja makan. Dhasa baru saja selesai makan siang ditemani Wahyu yang duduk di sebelahnya. Wahyu membuatkan nasi goreng untuk kedua anaknya. Karena hanya itu yang ia bisa.
“Udah, berantemnya nanti lagi” Wahyu menengahi. “Sekarang kita sarapan dulu, yuk!” Wahyu meraih tangan kedua anaknya, membawanya ke meja makan. Dhasa dan Deriel menurut.
♫♫♫
“Dhasa kenapa belum pakai sepatu?” tanya Mita pada anaknya saat berkumpul di teras. Bersiap pergi usai sarapan.
“Dhasa nggak mau pake sepatu lain, maunya sepatu itu!” Dhasa menunjuk sepatu yang tergeletak di bawah kursi yang ada di teras.
“Tapi sepatu itu nggak ada talinya, kan?” Mita tampak gemas. Dhasa mengangguk.
“Yaudah pakai sepatu yang lain aja, ya?” bujuk Mita.
“Nggak mau, Dhasa mau pake sepatu itu, sama tali itu!” elaknya keukeuh.
“Pakai sepatu yang lain aja ya, Sayang” timpal Wahyu, mendekat, dan bersimpuh menyamai tinggi badan Dhasa. Dhasa merengut kesal.
“Nggak mau, Ayah!” tolak Dhasa.
“Dhasa!” Mita mendelik kesal. Dhasa melengos tak peduli.
“Nanti pulang sekolah kita beli ice cream deh yang banyak!” rajuk Wahyu.
“Nggak mau, Ayah!” tolaknya lagi.
“Ke toko mainan, deh!” Wahyu belum menyerah.
“Nggak mau, Ayah!” lagi-lagi Dhasa menolak.
Wahyu menghela napas, kewalahan membujuk salah satu putranya itu. Ia menatap Mita, istrinya. Meminta pendapat, tapi Mita mengangkat bahu, tanda ia juga tak tahu harus bagaimana lagi.
“Ayo dong Sayang, udah siang nih!” Mita tampak putus asa.
“Enggak!” sahut Dhasa, tetap pada pendiriannya.
Wahyu menatap malaikat kecil di depannya itu, bingung harus bagaimana lagi membujuk Dhasa agar mau memakai sepatu yang lain. Namun sepertinya keinginan Dhasa itu tak terbantahkan lagi.
“Persis kan kayak kamu, keras kepala dan nggak bisa dibantah!” tandas Mita, melirik Wahyu.
Wahyu mengerling jahil menatap Mita, ia selalu melakukan itu jika Mita sedang marah dengan suatu hal.
“Dhasa, ayo dong!” rajuk Wahyu lagi.
“Deriel, ayo kita berangkat!” Mita menarik tangan Deriel yang sedari tak berkomentar apaun.
“Tapi, Bun....”
“Nggak usah mikirin Dhasa, ok!” potong Mita lembut.
Deriel menurut, ia masuk ke dalam mobil, di ikuti Mita. Ia benar-benar putus asa membujuk Dhasa. Karena ia tahu, Dhasa hanya luluh dengan Wahyu, ayahnya.
“Nah, Dhasa mau apa sekarang? Nggak ke sekolah?” tanya Wahyu. Mobil Mita melaju meninggalkan pelataran rumah itu. Dhasa merengut kesal.
“Dhasa sebel sama Ayah, sama Bunda, sama Deriel!” celetuk Dhasa jengkel.
“Ayah sama Bunda salah apa?” tanya Wahyu. “Deriel juga salah apa?”
“Ayah, Bunda sama Deriel nggak mau bantuin Dhasa cari tali sepatu itu!” jelasnya. Wahyu menautkan alisnya.
“Dhasa nggak mau ke sekolah!” Dhasa merengut sebal. Wahyu membuang napas lelah.
“Ok” Wahyu berdiri, membuka pintu rumah itu. “Sekarang Ayah temenin Dhasa dirumah” Wahyu menuntun Dhasa ke dalam rumah. Dhasa menurut.
♫♫♫
Deriel tiba di rumah tepat pukul dua belas siang dengan di jemput Wahyu. Sepanjang perjalanan tadi, Deriel menanyakan alasan Dhasa tak mau ke sekolah. Dan Wahyu menjelaskannya.
“Deriel, adik kamu mana?” tanya Wahyu pada Deriel yang sedang menonton televisi usai mengganti pakaiannya.
“Tidur, Yah” jawabnya singkat.
Wahyu mendatangi kamar Dhasa yang juga kamar Deriel, semua barang yang ada dikamar itu sama. Mulai dari lemari, tempat tidur, sampai koleksi dan mainan mereka semuanya sama.
Wahyu kembali menutup pintu kamar itu. Di dapatinya Dhasa sedang tertidur. Wahyu duduk di sebelahnya.
“Dhasa...” Wahyu membelai pipi putranya itu. Ia merasa suhu tubuh Dhasa agak meninggi.
“Dhasa...” Wahyu mencoba membangunkan Dhasa. Dhasa membuka matanya perlahan.
“Dhasa demam?” tanya Wahyu, nada suaranya khawatir.
“Kepala Dhasa pusing, Yah” keluhnya.
Wahyu sibuk mengurus Dhasa yang sedang demam, terpaksa Deriel hanya makan siang sendiri di meja makan. Dhasa baru saja selesai makan siang ditemani Wahyu yang duduk di sebelahnya. Wahyu membuatkan nasi goreng untuk kedua anaknya. Karena hanya itu yang ia bisa.
Deriel muncul dari balik pintu, ia
masih harus berjinjit untuk menggapai gagang pintu, ia berjalan masuk,
kemudian mengambil posisi di sisi Ayahnya. Wahyu menyambutnya dengan
senyum.
“Deriel udah makan?” tanya Wahyu yang dijawab anggukan Deriel.
Handphone Wahyu berdering. Nama Mita tertera di layar LCD-nya. Wahyu menekan tombol answered.
“Iya, Mit?” tanya Wahyu.
“Dhasa demam?” Mita balik tanya dengan nada suara panik. Wahyu memang memberitahunya beberapa menit lalu.
“Iya, tapi....”
“Udah kamu kasih obatnya, kan? Terus udah di cek suhu badannya? Jangan lupa paksa dia buat makan, kalau suhu badannya tinggi banget, langsung dibawa ke dokter ya!” cerocos Mita. Wahyu tersenyum maklum, ia tahu Mita sedang panik.
“Udah enakan kok, Sayang!” sahut Wahyu. “Sekarang Aku lagi di kamar mereka, nemenin mereka” katanya lagi.
“Huh, syukurlah!” Mita menghela napas.
“Kamu nggak ke kantor?” Mita bertanya lagi.
“Nggak. Mana bisa, Mit? Dhasa juga nggak mau ke sekolah” jelas Wahyu.
“Aku izin pulang aja deh, ya? Biar kamu bisa ke kantor!” usul Mita.
“Nggak perlu, Mit. Mereka biar sama Aku aja, di kantor ada sekretarisku yang urus!” tolak Wahyu.
“Yakin?” tanya Mita.
“Yakin!” sahut Wahyu.
“Ok, kamu jangan lupa makan siang, ya!” nasihat Mita.
“Iya istriku!” Wahyu menyeringai. Mita terkekeh pelan. Tapi cukup terdengar olehnya. Mita pun menutup teleponnya.
Wahyu melirik kedua putranya. Deriel sedang asik bermain PSP di sisi kanannya, sedangkan Dhasa memainkan jemari Ayahnya itu di sisi kirinya, sesekali berhenti lalu memejamkan matanya. Mungkin efek dari obat yang di minumnya tadi.
“Kalian tahu besok hari apa?” tanya Wahyu.
“Hari dimana Bunda pasti pulang malem!” jawab Dhasa asal. Wahyu tersenyum kecil.
Deriel menyudahi permainannya. “Emang kenapa, Yah?” tanyanya menimpali.
“Besok itu Bunda ulang tahun!” jawab Wahyu.
“Hah?” Dhasa dan Deriel kaget.
“Iya, kalian mau kasih hadiah apa buat Bunda?” tanya Wahyu.
“Apa ya?” Deriel tampak berpikir.
“Yang cocok apa yah? Bunda kan udah punya semuanya!” Dhasa menjawab dengan mimik wajah bingung.
“Yah, besok beliin Deriel donat yang banyak ya!” pinta Deriel kemudian, membuat Wahyu dan Dhasa bingung.
“Buat apa? Dikulkas masih banyak makanan kan?” tanya Wahyu, Dhasa mengangguk.
“Pokoknya beliin aja ya, Yah!” Deriel memohon.
“Yaudah iya!” kata Wahyu tanpa rasa curiga sedikitpun.
Deriel tersenyum senang, sedangkan Dhasa masih sibuk dengan pikirannya. Bingung dengan sikap Deriel, kakaknya.
“Deriel udah makan?” tanya Wahyu yang dijawab anggukan Deriel.
Handphone Wahyu berdering. Nama Mita tertera di layar LCD-nya. Wahyu menekan tombol answered.
“Iya, Mit?” tanya Wahyu.
“Dhasa demam?” Mita balik tanya dengan nada suara panik. Wahyu memang memberitahunya beberapa menit lalu.
“Iya, tapi....”
“Udah kamu kasih obatnya, kan? Terus udah di cek suhu badannya? Jangan lupa paksa dia buat makan, kalau suhu badannya tinggi banget, langsung dibawa ke dokter ya!” cerocos Mita. Wahyu tersenyum maklum, ia tahu Mita sedang panik.
“Udah enakan kok, Sayang!” sahut Wahyu. “Sekarang Aku lagi di kamar mereka, nemenin mereka” katanya lagi.
“Huh, syukurlah!” Mita menghela napas.
“Kamu nggak ke kantor?” Mita bertanya lagi.
“Nggak. Mana bisa, Mit? Dhasa juga nggak mau ke sekolah” jelas Wahyu.
“Aku izin pulang aja deh, ya? Biar kamu bisa ke kantor!” usul Mita.
“Nggak perlu, Mit. Mereka biar sama Aku aja, di kantor ada sekretarisku yang urus!” tolak Wahyu.
“Yakin?” tanya Mita.
“Yakin!” sahut Wahyu.
“Ok, kamu jangan lupa makan siang, ya!” nasihat Mita.
“Iya istriku!” Wahyu menyeringai. Mita terkekeh pelan. Tapi cukup terdengar olehnya. Mita pun menutup teleponnya.
Wahyu melirik kedua putranya. Deriel sedang asik bermain PSP di sisi kanannya, sedangkan Dhasa memainkan jemari Ayahnya itu di sisi kirinya, sesekali berhenti lalu memejamkan matanya. Mungkin efek dari obat yang di minumnya tadi.
“Kalian tahu besok hari apa?” tanya Wahyu.
“Hari dimana Bunda pasti pulang malem!” jawab Dhasa asal. Wahyu tersenyum kecil.
Deriel menyudahi permainannya. “Emang kenapa, Yah?” tanyanya menimpali.
“Besok itu Bunda ulang tahun!” jawab Wahyu.
“Hah?” Dhasa dan Deriel kaget.
“Iya, kalian mau kasih hadiah apa buat Bunda?” tanya Wahyu.
“Apa ya?” Deriel tampak berpikir.
“Yang cocok apa yah? Bunda kan udah punya semuanya!” Dhasa menjawab dengan mimik wajah bingung.
“Yah, besok beliin Deriel donat yang banyak ya!” pinta Deriel kemudian, membuat Wahyu dan Dhasa bingung.
“Buat apa? Dikulkas masih banyak makanan kan?” tanya Wahyu, Dhasa mengangguk.
“Pokoknya beliin aja ya, Yah!” Deriel memohon.
“Yaudah iya!” kata Wahyu tanpa rasa curiga sedikitpun.
Deriel tersenyum senang, sedangkan Dhasa masih sibuk dengan pikirannya. Bingung dengan sikap Deriel, kakaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)

