Kejutan Buat Bunda | Part 1

           “Dhasa Deriel, ayo cepet sarapannya dihabisin, nanti telat lho!” seru wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda tanpa poni, menuruni anak tangga sambil membawa dua buah tas yang sama persis.

      “Kalian dimana sih?” tanya wanita bernama Mita itu, pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Mita menghela napas berat melihat kedua piring yang masih terisi utuh roti selai coklat diatas meja makan itu. Ia yakin, kedua putra kembarnya itu belum menyentuhnya.

        “Kalian mau main-main sama Bunda?” Mita berseru lagi, dan lagi-lagi tak ada jawaban.
Dua bocah lelaki terlihat duduk di bawah meja makan itu, sibuk dengan mainannya, tanpa mengindahkan seruan ibunya.

       “Ok, Bunda kunci pintunya, ya!” Mita berjalan menuju pintu depan. “Jangan salahin Bunda kalau kalian didatangi orang jahat!” Mita memutar gagang pintu. Cara ampuhnya untuk membuat kedua putranya keluar dari tempat persembunyiannya.

        “Bunda!” seru Dhasa dan Deriel, putra kembar Mita, berlari menghampiri Mita.
Mita tersenyum saat kedua putra kembarnya itu berlari manja ke arahnya. Ia yakin, mereka takut dengan ucapannya tadi.

      “Ini tasnya Dhasa” Mita menyematkan salah satu tas itu di bahu Dhasa, anak bungsunya.

      “Ini tasnya Deriel” Mita melakukan hal yang sama pada Deriel, putra sulungnya.

      “Sekarang kita berangkat!” Mita menuntun kedua putranya itu ke mobil.

       “Aku duduk di depan!” seru Dhasa.

       “Aku! Kamu kan kemarin udah!” protes Deriel tak terima.

       “Pokoknya Aku!” Dhasa ngotot.

       “Aku!” Deriel tetap tak mau kalah.

       “Cukup!” Mita menengahi. “Nggak ada yang duduk di depan, semua duduk di belakang!” perintah Mita.

       “Tapi, Bunda....” elak Dhasa.

        “Dhasa, kamu pilih duduk di belakang atau Bunda tinggal?” tanya Mita.

          Dhasa akhirnya menurut, di antara kedua putranya, memang Dhasa-lah yang paling nakal dan sulit diatur. Mita selalu kewalahan menghadapi anaknya yang satu itu. Maklum saja, Dhasa memang lahir beberapa menit setelah Deriel, kakaknya.

                                                                   ♫♫♫

             “Inget, nggak boleh nakal, ya!” pesan Mita pada kedua putranya sebelum masuk kelas.

               Dhasa dan Deriel mengangguk kompak.

         “Nggak boleh jajan sembarangan, harus makan bekal yang Bunda siapin, ngerti?” jelas Mita lagi.
         “Iya, Bunda!” sahut mereka lagi.

         “Jangan kemana-mana sebelum Ayah jemput” kata Mita lagi.

         “Iya, Bunda!” sahut mereka.

         “Ok!” Mita menunjuk kedua pipinya. Dhasa dan Deril mengerti, mereka mengecup pipi ibunya itu sebelum akhirnya masuk kelas.

         Mita melenggang pergi dari sekolah itu, setelah ia yakin kedua putranya itu aman di dalam kelasnya.

        Mita memang tak pernah menyangka akan mendapatkan anugerah lebih dari Tuhan yaitu berupa dua anak lelaki kembar sekaligus dalam satu kali proses kelahiran normal. Kebahagiaannya memang sempurna di setiap detik hidupnya atas kehadiran dua malaikat kecil itu. Sebagai seorang wanita karier seperti dirinya, Mita memang bisa dikatakan sempurna. Ia memiliki seorang suami yang tampan serta mapan, ditambah dengan dua malaikat kecil yang lucu dan menyayanginya. Benar-benar sempurna.

     “Yu, jangan lupa nanti jemput anak-anak, ya” Mita menghubungi suaminya saat mobil itu melaju keluar dari pelataran TK itu.

     “Iya” sahut pria diseberang sana.
Mita menutup teleponnya, melajukan mobilnya menuju perusahaan tempatnya bekerja.

                                                                       ♫♫♫

       Mita memutar kunci rumahnya sore itu, ia dan Wahyu, suaminya memang menyimpan kunci rumah. Supaya tidak repot nantinya. Mita memang tak pernah pulang malam, itu karena ia harus mengurus kedua putranya. Untung saja bosnya tak pernah memberinya jam lembur sampai larut malam. Jadi, ia bisa memberi waktunya hanya untuk Dhasa dan Deriel.

       “Dhasa Deriel!” seru Mita, menyapu pandangan. Namun tak ada jawaban.
 
        Mita meletakkan handbagnya di sofa ruang tengah. Kemudian berjalan ke halaman belakang, ia yakin kedua anaknya itu sedang bermain di halaman belakang setiap sorenya.
       Mita kaget bukan main saat didapatinya taman belakang itu becek tergenang air yang mengalir dari selang yang ada di sebelah kolam renang itu. Dan itu semua ulah anak-anaknya.

        Didapatinya Dhasa dan Deriel sedang asik bermain air dari selang itu hingga pakaian mereka basah kuyup.

          “Kalian lagi apa?” tanya Mita, menahan emosinya.

          Dhasa dan Deriel terperangah. “Bunda?” kedua bocah itu berdiri dari jongkoknya.

         “Kalian nakal, yah?” Mita mendekati kedua anaknya itu. Dhasa dan Deriel saling senggol.

         “Kenapa main air? Siapa yang suruh?” Mita meletakkan kedua tangannya diantara dada dan perutnya.

          “Deriel, Bun yang ngajakin!” Dhasa buka suara.

          “Bohong, Bun!” elak Deriel.

          “Iya kamu!” Dhasa memelototi Deriel.

          “Kamu!” Deriel tampang garang.

          “Dhasa Deriel!” bentak Mita, kedua anaknya sontak mengatupkan rahang.

          “Sekarang mandi!” Mita menuntun kedua anaknya itu masuk ke dalam rumah.

                                                              ♫♫♫

             Dhasa dan Deriel duduk sejajar di sofa ruang tengah usai mandi sore itu, sesekali mereka melirik Bundanya yang duduk tak jauh dari mereka sambil membaca majalah. Dhasa dan Deriel tahu betul, Bundanya itu sedang marah.

            Mita mendongakkan kepalanya sedikit, didapatinya kedua anaknya itu sedang sibuk dengan permainan jarinya. Ia sengaja melakukan hal ini-membiarkan Dhasa dan Deriel-dengan harapan mereka bisa berpikir apa kesalahan mereka. Tapi apa, ia selalu gagal. Kedua anaknya itu memiliki beribu cara untuk menghindari kemarahannya, salah satunya dengan sibuk sendiri.

         “Bunda nggak ngerti ya harus gimana lagi nasihatin kalian!” Mita menutup majalahnya, meletakkannya di atas meja.
         Dhasa dan Deriel menyudahi permainnya, menunduk. Mita menatap kedua anaknya itu dengan seksama.

        “Ada apa ini?” seseorang berseru. Mita menoleh, didapatinya Wahyu berdiri disisinya sambil melepaskan dasi dengan satu tangannya.

         “Tanya aja sama anak-anak kamu itu!” Mita mengambil alih tas yang ada di tangan Wahyu, membawanya ke ruang kerja milik Wahyu.

         “Kenapa?” Wahyu duduk disebelah kedua anaknya itu.

         “Bunda marah-marah terus, Yah!” jawab Deriel, dibarengi anggukan Dhasa.

        “Kalian pasti bandel, iya kan?” tanya Wahyu. Dhasa dan Deriel tak menjawab. “Ayah bener, kan?” tanya Wahyu. Dhasa dan Deriel saling bertatapan.

        “Ayo jelasin” pinta Wahyu lembut.

       “Dhasa sama Deriel cuma main air dari selang yang ada dideket kolam sampai tanahnya becek, itu aja kok, Yah!” jelas Deriel.

       Wahyu tersenyum. “Jelaslah Bunda marah, kalian main air” komentarnya. “Bunda nggak mau kalau kalian sampai sakit” kata Wahyu.

        “Tapi, Yah....” desah Dhasa.

        Wahyu berdiri dari duduknya, kemudian mengecup kening kedua putranya itu, lalu pergi meninggalkannya. Dhasa dan Deriel pun merebahkan tubuhnya di sofa besar itu, sibuk dengan pikiran masing-masing.

                                                                     ♫♫♫

        Mita duduk disebelah Wahyu yang sedang santai di sofa ruang tengah itu, usai menidurkan Dhasa dan Deriel.

       “Anak-anak udah tidur?” tanya Wahyu.

      “Udah” jawab Mita, lalu menyandarkan punggungnya disandaran sofa.

      “Mit,” Wahyu membenarkan posisi duduknya, menghadap istrinya. “Pakai jasa Babysitter aja, yah?” tawar Wahyu untuk kesekian kalinya.

      “Yu,” Mita bangkit dari bersandarnya. “Aku udah bilang kan, Aku mau mendidik anak-anakku dengan caraku sendiri” kata Mita, meyakinkan suaminya kalau ia bisa tanpa seorang babysitter.

      “Tapi, Mita....”

      “Aku mau mereka terbiasa sama Aku, ibunya sendiri” Mita menggenggam jemari Wahyu.
Wahyu mengulum senyum maklum, tak salah ia menjadikan Mita sebagai istrinya.

      “Ok” Wahyu mengacak rambut istrinya itu. “Tapi nanti yang ada, anak-anak Aku kamu marahin terus” seringai Wahyu. Mita memelototi suaminya itu.

      “Jangan galak-galak dong, Sayang” ujar Wahyu, menyeringai jahil.

       “Wahyu!” Mita melotot. “Aku galak juga karena anak kamu nakal!” Mita mencubit pinggang suaminya itu.

      “Mereka juga anak kamu tahu!” Wahyu meringis kesakitan. Mita tertawa riang. Semua penatnya hari ini seakan musnah begitu saja ketika ia sedang bersama Wahyu seperti saat ini. Karena disaat bersama Wahyu-lah, Mita merasa hidupnya benar-benar sempurna. Tentunya bertambah lengkap dengan kehadiran dua malaikat kecil di tengah-tengah mereka.

     “Tidur yuk!” Wahyu beranjak dari duduknya, diikuti Mita.

     Wahyu merangkul istrinya itu menuju kamar. Melepas penat tentunya.

***

       Mita sibuk membuat nasi goreng pagi itu, untuk sarapan keluarganya. Sementara itu, Dhasa dan Deriel sibuk memakai sepatu sambil menunggu sarapan siap. Sedangkan Wahyu masih dikamar, bersiap-siap ke kantor.

     “Bunda, tali sepatu Dhasa yang kiri kenapa nggak ada?” seru Dhasa dari ruang tengah.

    “Bunda nggak tahu, Sayang. Coba kamu cari lagi!” sahut Mita yang sedang sibuk menuangkan nasi goreng ke setiap piring di meja makan itu.

       “Dhasa udah cari, tapi nggak ketemu!” suara Dhasa terdengar panik.

       “Yaudah, Dhasa ambil tali sepatu yang lain aja, atau ganti sepatu yang nggak perlu pakai tali!” perintah Mita.

       “Nggak mau, Dhasa mau pake sepatu ini, Dhasa juga mau pake tali itu!” tolak Dhasa jengkel.

       Mita menggelengkan kepala, kewalahan menghadapi sikap Dhasa yang keras kepala dan sulit dibantah. Sikapnya memang persis seperti Wahyu. Tak seperti Deriel yang memang lebih cenderung seperti Mita, cuek dan apa adanya.

      “Dhasa si, kalau lepas sepatu talinya di lepas juga!” komentar Deriel.

      “Biarin, emang kenapa? Itu sepatu Aku, bukan sepatu kamu! Jadi terserah Aku!” omel Dhasa.

      “Dhasa nyebelin!” Deriel berkacak pinggang sebal.

       Dhasa merengut kesal. “Biarin!” komentarnya.

      Mita yang mendengar pertengkaran kedua putranya itu hanya menghela napas maklum, baginya pertengkaran antara Dhasa dan Deriel adalah salah satu bagian dari hidupnya. Dan, itulah yang selalu membuatnya rindu pada kedua anaknya saat dikantor.

     “Bunda, Deriel yang udah ambil tali sepatu Dhasa!” tuduh Dhasa kemudian.

     “Dhasa bohong, Bun!” elak Deriel.

     “Emang aku nggak tau, kamu itu kan nyebelin!” sahut Dhasa.

     “Jangan asal nuduh!” Deriel tak terima.

     “Aku nggak nuduh!” bela Dhasa.

     Tanpa mereka sadari, Wahyu sudah berdiri di antara kedua putranya itu.

    “Apa buktinya?” tanya Deriel.

    “Waktu itu kamu pernah nyembunyiin mainan aku, pasti tali sepatu aku kamu juga yang ambil!” jelas Dhasa.

    “Ehem...” Wahyu mendehem.

    “Ayah, Deriel nyebelin!” seru Dhasa saat menyadari kehadiran Wahyu.

    “Dhasa yang nyebelin, Yah!” Deriel tak mau kalah.

     Wahyu tak berkomentar, membiarkan kedua anaknya itu. Hingga akhirnya, adu mulut antara mereka terus berlanjut. Wahyu memasukkan ibu jarinya ke kantung celananya seraya tersenyum melihat tingkah kedua putranya yang menggemaskan itu.

   “Udah, berantemnya nanti lagi” Wahyu menengahi. “Sekarang kita sarapan dulu, yuk!” Wahyu meraih tangan kedua anaknya, membawanya ke meja makan. Dhasa dan Deriel menurut.

                                                                      ♫♫♫

    “Dhasa kenapa belum pakai sepatu?” tanya Mita pada anaknya saat berkumpul di teras. Bersiap pergi usai sarapan.

          “Dhasa nggak mau pake sepatu lain, maunya sepatu itu!” Dhasa menunjuk sepatu yang tergeletak di bawah kursi yang ada di teras.

         “Tapi sepatu itu nggak ada talinya, kan?” Mita tampak gemas. Dhasa mengangguk.

        “Yaudah pakai sepatu yang lain aja, ya?” bujuk Mita.

        “Nggak mau, Dhasa mau pake sepatu itu, sama tali itu!” elaknya keukeuh. 

        “Pakai sepatu yang lain aja ya, Sayang” timpal Wahyu, mendekat, dan bersimpuh menyamai tinggi badan Dhasa. Dhasa merengut kesal.

        “Nggak mau, Ayah!” tolak Dhasa.

        “Dhasa!” Mita mendelik kesal. Dhasa melengos tak peduli.

        “Nanti pulang sekolah kita beli ice cream deh yang banyak!” rajuk Wahyu.

       “Nggak mau, Ayah!” tolaknya lagi.

       “Ke toko mainan, deh!” Wahyu belum menyerah.

       “Nggak mau, Ayah!” lagi-lagi Dhasa menolak.

       Wahyu menghela napas, kewalahan membujuk salah satu putranya itu. Ia menatap Mita, istrinya. Meminta pendapat, tapi Mita mengangkat bahu, tanda ia juga tak tahu harus bagaimana lagi.

        “Ayo dong Sayang, udah siang nih!” Mita tampak putus asa.
 
        “Enggak!” sahut Dhasa, tetap pada pendiriannya.

         Wahyu menatap malaikat kecil di depannya itu, bingung harus bagaimana lagi membujuk Dhasa agar mau memakai sepatu yang lain. Namun sepertinya keinginan Dhasa itu tak terbantahkan lagi.
“Persis kan kayak kamu, keras kepala dan nggak bisa dibantah!” tandas Mita, melirik Wahyu.
Wahyu mengerling jahil menatap Mita, ia selalu melakukan itu jika Mita sedang marah dengan suatu hal.

        “Dhasa, ayo dong!” rajuk Wahyu lagi.

        “Deriel, ayo kita berangkat!” Mita menarik tangan Deriel yang sedari tak berkomentar apaun.

        “Tapi, Bun....”

       “Nggak usah mikirin Dhasa, ok!” potong Mita lembut.

       Deriel menurut, ia masuk ke dalam mobil, di ikuti Mita. Ia benar-benar putus asa membujuk Dhasa. Karena ia tahu, Dhasa hanya luluh dengan Wahyu, ayahnya.

      “Nah, Dhasa mau apa sekarang? Nggak ke sekolah?” tanya Wahyu. Mobil Mita melaju meninggalkan pelataran rumah itu. Dhasa merengut kesal.

     “Dhasa sebel sama Ayah, sama Bunda, sama Deriel!” celetuk Dhasa jengkel.

     “Ayah sama Bunda salah apa?” tanya Wahyu. “Deriel juga salah apa?”

     “Ayah, Bunda sama Deriel nggak mau bantuin Dhasa cari tali sepatu itu!” jelasnya. Wahyu menautkan alisnya.

     “Dhasa nggak mau ke sekolah!” Dhasa merengut sebal. Wahyu membuang napas lelah.

     “Ok” Wahyu berdiri, membuka pintu rumah itu. “Sekarang Ayah temenin Dhasa dirumah” Wahyu menuntun Dhasa ke dalam rumah. Dhasa menurut.


                                                                            ♫♫♫

     Deriel tiba di rumah tepat pukul dua belas siang dengan di jemput Wahyu. Sepanjang perjalanan tadi, Deriel menanyakan alasan Dhasa tak mau ke sekolah. Dan Wahyu menjelaskannya.

    “Deriel, adik kamu mana?” tanya Wahyu pada Deriel yang sedang menonton televisi usai mengganti pakaiannya.

     “Tidur, Yah” jawabnya singkat.

     Wahyu mendatangi kamar Dhasa yang juga kamar Deriel, semua barang yang ada dikamar itu sama. Mulai dari lemari, tempat tidur, sampai koleksi dan mainan mereka semuanya sama.
Wahyu kembali menutup pintu kamar itu. Di dapatinya Dhasa sedang tertidur. Wahyu duduk di sebelahnya.

      “Dhasa...” Wahyu membelai pipi putranya itu. Ia merasa suhu tubuh Dhasa agak meninggi.

     “Dhasa...” Wahyu mencoba membangunkan Dhasa. Dhasa membuka matanya perlahan.

     “Dhasa demam?” tanya Wahyu, nada suaranya khawatir.

     “Kepala Dhasa pusing, Yah” keluhnya.

       Wahyu sibuk mengurus Dhasa yang sedang demam, terpaksa Deriel hanya makan siang sendiri di meja makan. Dhasa baru saja selesai makan siang ditemani Wahyu yang duduk di sebelahnya. Wahyu membuatkan nasi goreng untuk kedua anaknya. Karena hanya itu yang ia bisa.

       Deriel muncul dari balik pintu, ia masih harus berjinjit untuk menggapai gagang pintu, ia berjalan masuk, kemudian mengambil posisi di sisi Ayahnya. Wahyu menyambutnya dengan senyum.

        “Deriel udah makan?” tanya Wahyu yang dijawab anggukan Deriel.

       Handphone Wahyu berdering. Nama Mita tertera di layar LCD-nya. Wahyu menekan tombol answered.
     “Iya, Mit?” tanya Wahyu.

      “Dhasa demam?” Mita balik tanya dengan nada suara panik. Wahyu memang memberitahunya beberapa menit lalu.
 
      “Iya, tapi....”

      “Udah kamu kasih obatnya, kan? Terus udah di cek suhu badannya? Jangan lupa paksa dia buat makan, kalau suhu badannya tinggi banget, langsung dibawa ke dokter ya!” cerocos Mita. Wahyu tersenyum maklum, ia tahu Mita sedang panik.

      “Udah enakan kok, Sayang!” sahut Wahyu. “Sekarang Aku lagi di kamar mereka, nemenin mereka” katanya lagi.

       “Huh, syukurlah!” Mita menghela napas.

      “Kamu nggak ke kantor?” Mita bertanya lagi.

      “Nggak. Mana bisa, Mit? Dhasa juga nggak mau ke sekolah” jelas Wahyu.

      “Aku izin pulang aja deh, ya? Biar kamu bisa ke kantor!” usul Mita.

     “Nggak perlu, Mit. Mereka biar sama Aku aja, di kantor ada sekretarisku yang urus!” tolak Wahyu.

    “Yakin?” tanya Mita.

    “Yakin!” sahut Wahyu.

   “Ok, kamu jangan lupa makan siang, ya!” nasihat Mita.

   “Iya istriku!” Wahyu menyeringai. Mita terkekeh pelan. Tapi cukup terdengar olehnya. Mita pun menutup teleponnya.

     Wahyu melirik kedua putranya. Deriel sedang asik bermain PSP di sisi kanannya, sedangkan Dhasa memainkan jemari Ayahnya itu di sisi kirinya, sesekali berhenti lalu memejamkan matanya. Mungkin efek dari obat yang di minumnya tadi.

    “Kalian tahu besok hari apa?” tanya Wahyu.

    “Hari dimana Bunda pasti pulang malem!” jawab Dhasa asal. Wahyu tersenyum kecil.
Deriel menyudahi permainannya. “Emang kenapa, Yah?” tanyanya menimpali.

    “Besok itu Bunda ulang tahun!” jawab Wahyu.

    “Hah?” Dhasa dan Deriel kaget.

   “Iya, kalian mau kasih hadiah apa buat Bunda?” tanya Wahyu.

   “Apa ya?” Deriel tampak berpikir.

   “Yang cocok apa yah? Bunda kan udah punya semuanya!” Dhasa menjawab dengan mimik wajah bingung.

    “Yah, besok beliin Deriel donat yang banyak ya!” pinta Deriel kemudian, membuat Wahyu dan Dhasa bingung.

    “Buat apa? Dikulkas masih banyak makanan kan?” tanya Wahyu, Dhasa mengangguk.

    “Pokoknya beliin aja ya, Yah!” Deriel memohon.

     “Yaudah iya!” kata Wahyu tanpa rasa curiga sedikitpun.

     Deriel tersenyum senang, sedangkan Dhasa masih sibuk dengan pikirannya. Bingung dengan sikap  Deriel, kakaknya.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Part 1 doang ya ini? Panjang yeeee hihihhi

Posting Komentar