Pesta pernikahan megah itu telah usai.Ya,usai dgn kata
Kenangan Indah untukku dan Wahyu Sudiro,Suamiku.
Walau seakan hanya berlangsung beberapa detik saja.
Tapi aku sama sekali tak menikmati pesta yg hanya akan aku lakukan sekali seumur hidupku itu.Entahlah.
Aku berdiri mematung didepan cermin kamarku untuk membersihkan sisa make up yg ada diwajahku.
Entah apa yg ada dalam pikiranku.Aku merasa tak bahagia dgn pernikahan ini.Padahal Aku sangat mencintai lelaki yg telah jadi suamiku itu.
Aku ingat satu hal,orangtua Wahyu memang tak pernah menyetujui hubungan kami.
Alasannya tak lain karena status sosial kami.Ya,sebelum Aku menikah dgn Wahyu yg jelas-jelas seorang pengusaha sukses,Aku hanyalah seorang penyanyi café.
Dan tentunya berpenampilan seadanya.
“Cepet tidur.Kamu pasti capek!”perintah Wahyu dingin.
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur yg dibalut sprei berwarna merah favoritku.
“Kamu mau kemana?”tanyaku saat Wahyu membuka pintu kamar.
“Aku tidur diruang tengah”jawabnya seraya mendekatiku.
“Kenapa?”tanyaku lagi.
“Aku gak suka kalo kamu banyak tanya”jawabnya ketus seraya mengecup keningku.Aku memejamkan mata saat bibir Wahyu menempel dikeningku.Aku merasakan getaran cinta yg luarbiasa dalam hati kecil Wahyu.
“Mimpi indah ya Sayang”bisiknya lalu pergi.
Mita bingung dgn sikap suaminya itu.Padahal ini adalah malam pertama bagi kami.Aku menghela napas bingung.
Walau seakan hanya berlangsung beberapa detik saja.
Tapi aku sama sekali tak menikmati pesta yg hanya akan aku lakukan sekali seumur hidupku itu.Entahlah.
Aku berdiri mematung didepan cermin kamarku untuk membersihkan sisa make up yg ada diwajahku.
Entah apa yg ada dalam pikiranku.Aku merasa tak bahagia dgn pernikahan ini.Padahal Aku sangat mencintai lelaki yg telah jadi suamiku itu.
Aku ingat satu hal,orangtua Wahyu memang tak pernah menyetujui hubungan kami.
Alasannya tak lain karena status sosial kami.Ya,sebelum Aku menikah dgn Wahyu yg jelas-jelas seorang pengusaha sukses,Aku hanyalah seorang penyanyi café.
Dan tentunya berpenampilan seadanya.
“Cepet tidur.Kamu pasti capek!”perintah Wahyu dingin.
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur yg dibalut sprei berwarna merah favoritku.
“Kamu mau kemana?”tanyaku saat Wahyu membuka pintu kamar.
“Aku tidur diruang tengah”jawabnya seraya mendekatiku.
“Kenapa?”tanyaku lagi.
“Aku gak suka kalo kamu banyak tanya”jawabnya ketus seraya mengecup keningku.Aku memejamkan mata saat bibir Wahyu menempel dikeningku.Aku merasakan getaran cinta yg luarbiasa dalam hati kecil Wahyu.
“Mimpi indah ya Sayang”bisiknya lalu pergi.
Mita bingung dgn sikap suaminya itu.Padahal ini adalah malam pertama bagi kami.Aku menghela napas bingung.
*
Keesokan harinya Aku telat bangun pagi.Kebiasaan burukku yg tak pernah bisa Aku musnahkan.
Keesokan harinya Aku telat bangun pagi.Kebiasaan burukku yg tak pernah bisa Aku musnahkan.
“Maaf Yu telat bangun.Kamu mau sarapan apa?”tanyaku pada Wahyu yg sdg duduk
dimeja makan.
“Gak papa.Aku udah sarapan roti kok”jawabnya lalu beranjak.
“Tunggu.Aku siapin nasi goreng ya buat nanti dikantor”paparku.
“Tapi kan kamu gak bisa masak”ujar Wahyu.
“Kalo nasi goreng Aku si bisa”tukasku sambil menyiapkan bahan2 untuk membuat nasi goreng.
Wahyu menunggu dgn sabar didepan rumah.
Sepuluh menit kemudian Aku keluar membawa sekotak nasi goreng untuk Wahyu.
“Nih nasi gorengnya”kataku menyerahkan kotak makan itu pada Wahyu.
“Yaudah Aku pergi dulu yah”pamitnya lalu pergi.
“Gak papa.Aku udah sarapan roti kok”jawabnya lalu beranjak.
“Tunggu.Aku siapin nasi goreng ya buat nanti dikantor”paparku.
“Tapi kan kamu gak bisa masak”ujar Wahyu.
“Kalo nasi goreng Aku si bisa”tukasku sambil menyiapkan bahan2 untuk membuat nasi goreng.
Wahyu menunggu dgn sabar didepan rumah.
Sepuluh menit kemudian Aku keluar membawa sekotak nasi goreng untuk Wahyu.
“Nih nasi gorengnya”kataku menyerahkan kotak makan itu pada Wahyu.
“Yaudah Aku pergi dulu yah”pamitnya lalu pergi.
Seusai Wahyu pergi,Aku membersihkan rumah dan kemudian
mandi.
Seusai mandi Aku pun sarapan nasi goreng sisa yg Aku buat untuk Wahyu tadi.
Tibatiba terdengar suara bel rumahku berbunyi.
Aku segera menuju pintu,dan membukanya.
“Ibu”
Wanita paruhbaya itu adalah mertuaku,Mulan namanya.
Ia pun masuk dgn angkuhnya kedalam rumahku.
“Mau minum apa Bu?”tanyaku saat ia duduk disofa ruang tamu.
“Gak usah!”tolaknya ketus.
Aku duduk disofa tak jauh darinya.
“Kamu tau kan dari awal saya gak pernah menyetujui hubungan kamu dgn anak saya?”tanyanya ketus.
Aku mengangguk.
“Kenapa kamu masih saja mau dinikahi anak saya?Kamu tau dirilah,kamu tuh siapa!”bentaknya.
Aku diam tak bergeming.
“Kamu hanya seorang penyanyi café murahan! Setiap malam bekerja,apa pantas seorang perempuan berkeluyuran setiap malam.Hah?”sentaknya.
Aku bagaikan tersambar dipagi yg cerah itu.
“Jangan-jangan harga diri kamu sbg perempuan sudah tidak ada.Kamu tau,kamu sama seperti perempuan nakal yg dgn mudahnya ditiduri beberapa lelaki dalam satu malam,dan dibayar dgn uang tak seberapa.Memalukan!”tegasnya seakan-akan jijik padaku.
Tapi Aku tetap tak bergeming.Pipiku pun terasa hangat.Ternyata,airmata itu telah menetes dari pelupuk mataku.
“Saya tak pernah sudi memiliki menantu seperti kamu!”tegasnya lalu pergi.
Seusai mandi Aku pun sarapan nasi goreng sisa yg Aku buat untuk Wahyu tadi.
Tibatiba terdengar suara bel rumahku berbunyi.
Aku segera menuju pintu,dan membukanya.
“Ibu”
Wanita paruhbaya itu adalah mertuaku,Mulan namanya.
Ia pun masuk dgn angkuhnya kedalam rumahku.
“Mau minum apa Bu?”tanyaku saat ia duduk disofa ruang tamu.
“Gak usah!”tolaknya ketus.
Aku duduk disofa tak jauh darinya.
“Kamu tau kan dari awal saya gak pernah menyetujui hubungan kamu dgn anak saya?”tanyanya ketus.
Aku mengangguk.
“Kenapa kamu masih saja mau dinikahi anak saya?Kamu tau dirilah,kamu tuh siapa!”bentaknya.
Aku diam tak bergeming.
“Kamu hanya seorang penyanyi café murahan! Setiap malam bekerja,apa pantas seorang perempuan berkeluyuran setiap malam.Hah?”sentaknya.
Aku bagaikan tersambar dipagi yg cerah itu.
“Jangan-jangan harga diri kamu sbg perempuan sudah tidak ada.Kamu tau,kamu sama seperti perempuan nakal yg dgn mudahnya ditiduri beberapa lelaki dalam satu malam,dan dibayar dgn uang tak seberapa.Memalukan!”tegasnya seakan-akan jijik padaku.
Tapi Aku tetap tak bergeming.Pipiku pun terasa hangat.Ternyata,airmata itu telah menetes dari pelupuk mataku.
“Saya tak pernah sudi memiliki menantu seperti kamu!”tegasnya lalu pergi.
Aku menangis atas semua ucapan mertuaku yg menyakitkan itu.Serendah itukah Aku dimata mertuaku?
Air mata tak henti-hentinya mengalir dipipiku.Ya,hatiku terasa perih.
Aku tersentak saat ada seseorang yg duduk dihadapanku.
“Mit”serunya.
Aku mendongakkan kepala.Wahyu?Kenapa dia ada disini?
“Hey kamu nangis ya?”tanyanya lembut.
Aku secepat mungkin menghapus airmataku.Kemudian tersenyum.
“Gak.Kamu kenapa pulang lagi?”tanyaku mengalihkan.
“Ada yg ketinggalan.Kamu gak lagi bohongkan sama aku?”selidiknya.
“Enggak.Oh iya Mama kamu titip salam buat kamu”ucapku datar.
“Tadi Mama dateng?”
“Iya”
“Dia ngomong apa aja sama kamu?”tanyanya lagi.
“Kita ngobrol biasa aja”dustaku.
Untuk kesekian kalinya Aku membohongi suamiku sendiri.
“Bohong!”ceplosnya yg membuatku terdiam.
Aku tertegun mendengar ucapan Wahyu.
Memang.Hanya Wahyulah yg paling mengertiku.Ya,dia suamiku.
Aku semakin terisak,membuat Wahyu refleks dan memelukku erat.Hangat.
“Aku marah kalau kamu gak cerita”bisiknya.
“Maaf”ucapku sesenggukan.
“Aku gak suka liat kamu nangis”bisiknya lagi.
Wahyu melepaskan pelukannya dariku kemudian beranjak pergi.Meninggalkanku yg masih terisak.
Wahyu berjalan perlahan menuju pintu.Saat tiba diambang pintu tiba-tiba ia kembali menghampiriku dan kembali memelukku yg masih terisak dgn erat.
“Tolong jgn buat aku bingung Sayang”bisiknya lembut.
Ya,Aku memang rapuh bila dihadapan Wahyu.Sebab Aku begitu menyayangi dan mencintainya.
Tangisku mulai reda saat Wahyu menenggelamkan wajahku didadanya.
Dengan segenap keberanianku.Aku pun menceritakan semua yg mertuaku katakan padaku tadi.
Benar dugaanku Wahyu marah besar.
Ini yg tak Aku suka dari Wahyu.Tempramental.Itu sebabnya Aku enggan menceritakan hal ini padanya.
“Kamu mau kemana?”tanyaku saat Wahyu beranjak pergi menuju pintu keluar.
“Nemuin Mama.Dia udah keterlaluan sama kamu”jawabnya.
Tangisku semakin menjadi mendengar jawaban Wahyu.
Aku memeluk kedua lututku dan terus terisak.
Tapi Wahyu tak peduli,ia tetap pergi kerumah orangtuanya.
Cukup lama aku menunggu,akhirnya Wahyu kembali dgn wajah yg terlihat kesal.
“Kamu terlalu berlebihan Yu.Aku gak suka!”sentakku.
“Aku gak suka kamu dihina.Meskipun dia Mama aku sendiri!”tegasnya geram.
Aku beranjak.Dan masuk kedalam kamar dan membanting pintu.
Seusai mengambil berkas yg tertinggal Wahyu duduk diranjang tepat dihadapanku.
“Maafin aku.Aku salah”ucapnya.
Aku membuang muka tak peduli.
“Aku nyesel cerita kekamu.Karna kamu gak bisa nahan emosi kamu”ujarku lirih.
Wahyu mendekat kearahku berusaha memelukku.
Tapi Aku menepisnya.
“Cairkan dulu hati kamu yg beku itu.Lalu kamu boleh melakukan apapun ke Aku”ucapku lalu pergi meninggalkannya yg sdg duduk mematung.
“Aku ke kantor lagi ya”pamitnya seraya mendekatiku yg sdg duduk dibangku teras.
Aku tak berkomentar.
Entahlah.Aku masih kecewa dgn sikapnya tadi.
Memang.Hanya Wahyulah yg paling mengertiku.Ya,dia suamiku.
Aku semakin terisak,membuat Wahyu refleks dan memelukku erat.Hangat.
“Aku marah kalau kamu gak cerita”bisiknya.
“Maaf”ucapku sesenggukan.
“Aku gak suka liat kamu nangis”bisiknya lagi.
Wahyu melepaskan pelukannya dariku kemudian beranjak pergi.Meninggalkanku yg masih terisak.
Wahyu berjalan perlahan menuju pintu.Saat tiba diambang pintu tiba-tiba ia kembali menghampiriku dan kembali memelukku yg masih terisak dgn erat.
“Tolong jgn buat aku bingung Sayang”bisiknya lembut.
Ya,Aku memang rapuh bila dihadapan Wahyu.Sebab Aku begitu menyayangi dan mencintainya.
Tangisku mulai reda saat Wahyu menenggelamkan wajahku didadanya.
Dengan segenap keberanianku.Aku pun menceritakan semua yg mertuaku katakan padaku tadi.
Benar dugaanku Wahyu marah besar.
Ini yg tak Aku suka dari Wahyu.Tempramental.Itu sebabnya Aku enggan menceritakan hal ini padanya.
“Kamu mau kemana?”tanyaku saat Wahyu beranjak pergi menuju pintu keluar.
“Nemuin Mama.Dia udah keterlaluan sama kamu”jawabnya.
Tangisku semakin menjadi mendengar jawaban Wahyu.
Aku memeluk kedua lututku dan terus terisak.
Tapi Wahyu tak peduli,ia tetap pergi kerumah orangtuanya.
Cukup lama aku menunggu,akhirnya Wahyu kembali dgn wajah yg terlihat kesal.
“Kamu terlalu berlebihan Yu.Aku gak suka!”sentakku.
“Aku gak suka kamu dihina.Meskipun dia Mama aku sendiri!”tegasnya geram.
Aku beranjak.Dan masuk kedalam kamar dan membanting pintu.
Seusai mengambil berkas yg tertinggal Wahyu duduk diranjang tepat dihadapanku.
“Maafin aku.Aku salah”ucapnya.
Aku membuang muka tak peduli.
“Aku nyesel cerita kekamu.Karna kamu gak bisa nahan emosi kamu”ujarku lirih.
Wahyu mendekat kearahku berusaha memelukku.
Tapi Aku menepisnya.
“Cairkan dulu hati kamu yg beku itu.Lalu kamu boleh melakukan apapun ke Aku”ucapku lalu pergi meninggalkannya yg sdg duduk mematung.
“Aku ke kantor lagi ya”pamitnya seraya mendekatiku yg sdg duduk dibangku teras.
Aku tak berkomentar.
Entahlah.Aku masih kecewa dgn sikapnya tadi.
**
Tepat pukul 7 malam Wahyu tiba dirumah.
Aku sedang duduk disofa ruang tengah.Wahyu berlalu masuk ke dalam kamar.
Setelah lima belas menit Wahyu keluar dari kamar.Sepertinya ia baru selesai mandi.
Wahyu pun duduk disebelahku.Tapi Aku tetap cuek.
“Ada hal penting yg mau aku omongin”ujarnya pelan.
Aku tetap diam tak menjawab.
“Mit!”sentaknya.
Aku menoleh kearah Wahyu kesal.
“Ok maaf aku kasar”ucapnya.
Sunyi sesaat.
“Mau ngomong apa?”tanyaku kemudian.
“Aku mau kita gak sama-sama dulu untuk sementara waktu.Karena Mamaku benar-benar menentang pernikahan kita”jawabnya.
Aku tersentak.Aku menoleh kearah Wahyu yg menunduk.
“Kita cerai?”tebakku.
“Tidak.Aku sudah berjanji kan tak akan menceraikan kamu apapun yg terjadi.Aku mau kita tidak bersama untuk sementara waktu.Ngerti?”sentaknya.
Aku mengangguk pelan.Berat memang menerima kenyataan ini.Tapi.Apa boleh buat?
Aku masuk kamarku dan mengemasi semua barang-barangku ke koper.
“Mita”seru Wahyu diambang pintu.
Aku tak menghiraukannya dan tetap sibuk mengemas barang-barangku.
Aku berjalan menuju pintu untuk keluar sambil menarik koperku.
Tiba-tiba Wahyu memelukku.Tapi Aku tak meresponnya.
“Aku sayang kamu.Aku janji kita gak akan lama seperti ini”bisiknya.
Aku melepaskan pelukan hangat itu lalu pergi tanpa berkata apapun.
Hujan turun dgn lebat malam itu.Aku bingung.Aku pun pergi tanpa tujuan.
Aku berharap Wahyu membatalkan permintaan konyolnya ini.
Aku berjalan ditengah derasnya hujan malam itu.
Aku pun meneduhkan tubuhku disebuah Taman Kanak-kanak.Gelap.Sepi.Ya,Aku takut gelap dan sepi.
Tapi apa boleh buat?Tak ada lagi tempat layak untuk berteduh malam itu.
Aku mengganti pakaianku dikamar mandi yg ada.Aku pun duduk dikoridor kelas dan berusaha memejamkan mataku agar semua masalah hidup yg menderaku bisa kulupakan sejenak dgn tidur.
Apa Wahyu memikirkanku?Entahlah.
Saat Aku keluar dari rumah itu.Aku telah bertekad untuk tidak menanyakan apakah Wahyu memikirkanku atau tidak.Aku tak mau lagi peduli.
Aku pun terlelap walaupun angin malam benar-benar menusuk tulang belulangku.
Tepat pukul 7 malam Wahyu tiba dirumah.
Aku sedang duduk disofa ruang tengah.Wahyu berlalu masuk ke dalam kamar.
Setelah lima belas menit Wahyu keluar dari kamar.Sepertinya ia baru selesai mandi.
Wahyu pun duduk disebelahku.Tapi Aku tetap cuek.
“Ada hal penting yg mau aku omongin”ujarnya pelan.
Aku tetap diam tak menjawab.
“Mit!”sentaknya.
Aku menoleh kearah Wahyu kesal.
“Ok maaf aku kasar”ucapnya.
Sunyi sesaat.
“Mau ngomong apa?”tanyaku kemudian.
“Aku mau kita gak sama-sama dulu untuk sementara waktu.Karena Mamaku benar-benar menentang pernikahan kita”jawabnya.
Aku tersentak.Aku menoleh kearah Wahyu yg menunduk.
“Kita cerai?”tebakku.
“Tidak.Aku sudah berjanji kan tak akan menceraikan kamu apapun yg terjadi.Aku mau kita tidak bersama untuk sementara waktu.Ngerti?”sentaknya.
Aku mengangguk pelan.Berat memang menerima kenyataan ini.Tapi.Apa boleh buat?
Aku masuk kamarku dan mengemasi semua barang-barangku ke koper.
“Mita”seru Wahyu diambang pintu.
Aku tak menghiraukannya dan tetap sibuk mengemas barang-barangku.
Aku berjalan menuju pintu untuk keluar sambil menarik koperku.
Tiba-tiba Wahyu memelukku.Tapi Aku tak meresponnya.
“Aku sayang kamu.Aku janji kita gak akan lama seperti ini”bisiknya.
Aku melepaskan pelukan hangat itu lalu pergi tanpa berkata apapun.
Hujan turun dgn lebat malam itu.Aku bingung.Aku pun pergi tanpa tujuan.
Aku berharap Wahyu membatalkan permintaan konyolnya ini.
Aku berjalan ditengah derasnya hujan malam itu.
Aku pun meneduhkan tubuhku disebuah Taman Kanak-kanak.Gelap.Sepi.Ya,Aku takut gelap dan sepi.
Tapi apa boleh buat?Tak ada lagi tempat layak untuk berteduh malam itu.
Aku mengganti pakaianku dikamar mandi yg ada.Aku pun duduk dikoridor kelas dan berusaha memejamkan mataku agar semua masalah hidup yg menderaku bisa kulupakan sejenak dgn tidur.
Apa Wahyu memikirkanku?Entahlah.
Saat Aku keluar dari rumah itu.Aku telah bertekad untuk tidak menanyakan apakah Wahyu memikirkanku atau tidak.Aku tak mau lagi peduli.
Aku pun terlelap walaupun angin malam benar-benar menusuk tulang belulangku.
*
Matahari pagi membuatku harus segera bangun dari tidur lelahku setelah semalaman menahan dinginnya udara karna hujan.
Aku melihat sekeliling.TK itu masih sepi.Benar saja karna memang hari masih pagi.06.00.
Aku merapikan alas yg Aku pakai untuk tidur semalam.Aku duduk dikursi yg ada disekitar depan kelas.Menunggu seseorang datang.Entah penjaga TK,atau pemilik TK sekalipun.Untuk sekadar meminta maaf telah menumpang tidur di TK ini.
Tiga puluh menit berlalu.Para guru mulai berdatangan dan tentunya saat melihatku mereka heran.
“Maaf Bu ruang pemilik TK ini dimana ya?”tanyaku pada salah guru satu yg lewat didepanku duduk.
“Itu disebelah kelas Merpati”jawabnya seraya menunjuk ruangan yg ada diujung gedung.
“Oh.Makasih Bu”ucapku.
Ibu itu mengangguk lalu pamit pergi.
Aku bergegas menuju ruang Pemilik TK itu sambil menarik koperku.
Aku mengetuk pintunya perlahan.
“Masuk”terdengar suara dari dalam.
Aku pun masuk dan mendekati wanita paruhbaya yg terlihat anggun dgn jilbabnya.
“Iya ada perlu apa?”tanyanya.
“Maaf Bu saya hanya ingin meminta maaf pada Ibu”jawabku.
“Untuk?”tanyanya bingung.
“Semalam saya menggunakan saung TK ini untuk tidur”
“Oh.Tak apa.Memangnya anda hendak pergi kemana?Kenapa membawa koper besar?”tanyanya.
“Saya sdg ada masalah Bu.Saya berniat mencari pekerjaan.Tapi entahlah saya saja hanya lulusan SMA”jawabku.
“Apa kamu bisa bernyanyi atau memainkan alat musik?”tanyanya.
“Saya bisa bernyanyi dan bermain gitar”tegasku.
“Bagus.Kebetulan TK ini sdg mencari guru musik.Apa kamu mau menjadi guru musik di TK ini?”tanyanya.
Aku tertegun.Guru bukanlah profesi yg Aku minati sejak dulu.Apalagi guru TK.Karena Aku memang bukan tipe orang yg sabar menghadapi kejailan atau kenakalan anak-anak kecil.Aku tau tak semua anak kecil itu jail dan nakal.Tapi setahuku anak-anak memang bersifat nakal dan jail.
Aku menghela napas lagi.
Wanita paruhbaya itu menatapku dgn tatapan penuh tanda tanya.
“Baiklah Bu saya mau menjadi guru musik di TK ibu ini”kataku memberi keputusan.
Wanita itu tersenyum puas.
“Ok.Siapa nama kamu?”
“Mita”
Matahari pagi membuatku harus segera bangun dari tidur lelahku setelah semalaman menahan dinginnya udara karna hujan.
Aku melihat sekeliling.TK itu masih sepi.Benar saja karna memang hari masih pagi.06.00.
Aku merapikan alas yg Aku pakai untuk tidur semalam.Aku duduk dikursi yg ada disekitar depan kelas.Menunggu seseorang datang.Entah penjaga TK,atau pemilik TK sekalipun.Untuk sekadar meminta maaf telah menumpang tidur di TK ini.
Tiga puluh menit berlalu.Para guru mulai berdatangan dan tentunya saat melihatku mereka heran.
“Maaf Bu ruang pemilik TK ini dimana ya?”tanyaku pada salah guru satu yg lewat didepanku duduk.
“Itu disebelah kelas Merpati”jawabnya seraya menunjuk ruangan yg ada diujung gedung.
“Oh.Makasih Bu”ucapku.
Ibu itu mengangguk lalu pamit pergi.
Aku bergegas menuju ruang Pemilik TK itu sambil menarik koperku.
Aku mengetuk pintunya perlahan.
“Masuk”terdengar suara dari dalam.
Aku pun masuk dan mendekati wanita paruhbaya yg terlihat anggun dgn jilbabnya.
“Iya ada perlu apa?”tanyanya.
“Maaf Bu saya hanya ingin meminta maaf pada Ibu”jawabku.
“Untuk?”tanyanya bingung.
“Semalam saya menggunakan saung TK ini untuk tidur”
“Oh.Tak apa.Memangnya anda hendak pergi kemana?Kenapa membawa koper besar?”tanyanya.
“Saya sdg ada masalah Bu.Saya berniat mencari pekerjaan.Tapi entahlah saya saja hanya lulusan SMA”jawabku.
“Apa kamu bisa bernyanyi atau memainkan alat musik?”tanyanya.
“Saya bisa bernyanyi dan bermain gitar”tegasku.
“Bagus.Kebetulan TK ini sdg mencari guru musik.Apa kamu mau menjadi guru musik di TK ini?”tanyanya.
Aku tertegun.Guru bukanlah profesi yg Aku minati sejak dulu.Apalagi guru TK.Karena Aku memang bukan tipe orang yg sabar menghadapi kejailan atau kenakalan anak-anak kecil.Aku tau tak semua anak kecil itu jail dan nakal.Tapi setahuku anak-anak memang bersifat nakal dan jail.
Aku menghela napas lagi.
Wanita paruhbaya itu menatapku dgn tatapan penuh tanda tanya.
“Baiklah Bu saya mau menjadi guru musik di TK ibu ini”kataku memberi keputusan.
Wanita itu tersenyum puas.
“Ok.Siapa nama kamu?”
“Mita”