Mita menatap nanar rintik-rintik hujan yang tengah membasahi kaca jendela kamarnya malam itu. Ia lirik sekali lagi jam tangan yang melingkar apik di lengan kirinya. Semakin larut. Mita menatap rintik-rintik hujan itu lagi. “Kenapa kamu belum pulang juga?” gumam Mita. Ia mendesah pelan, jujur ia sudah lelah menunggu.
Mita
membalikkan tubuhnya kemudian keluar dari kamar itu dengan langkah pelan. Lampu
rumahnya itu masih menyala semua, itu menandakan kalau ia belum tertidur. Mita
mendekati pintu depan, ia sentuh gagang pintu yang dingin itu. Tapi kemudian ia
turunkan lagi tangannya dari gagang pintu itu. Ia menarik napas panjang sekali
lagi kemudian berjalan menjauhi pintu itu, dan ia memilih duduk disofa ruang
tengahnya.
Mita
menyambar ponselnya yang tergeletak dimeja yang ada didepannya duduk sekarang.
Ia tatap layar ponsel itu, tak ada apapun yang ditunjukkan oleh benda mungil
itu. Mita menempelkan ponsel itu ke telinganya. Nada sambung pertama mulai
terdengar.
“Angkat,
Yu.” gumam Mita sambil menggigit bibir bawahnya.
“Ya
hallo?” seseorang dari seberang merespon panggilannya.
“Kamu
dimana?” tanya Mita.
“Aku
masih dijalan,” sahutnya. “Kamu belum tidur?” tanyanya kemudian.
“Aku
nungguin kamu,” sahut Mita.
“Oh,”
katanya. Mita menelan ludah getir. “Aku pulang agak telat, kamu tidur duluan
aja ya,” katanya kemudian.
“Tapi...”
telepon terputus. Mita tersenyum kecut sambil menurunkan ponsel itu dari
telinganya. “Ok kalau itu yang kamu mau, Yu.” Mita menyandarkan punggungnya
disandaran sofa.
‡‡‡
“Mit...” Wahyu menyentuh
pipi wanita yang tengah terlelap disofa ruang tengah rumah itu. Ia baru saja
menyalakan lampu dan mendapati Mita, istrinya tengah tertidur. Mita sering
sekali melakukan hal ini ketika menunggunya pulang.
Mita bergerak, perlahan
matanya terbuka. Samar-samar ia melihat seseorang berdiri di dekatnya. Ia
beringsut duduk. “Kamu udah pulang?” Mita mengukir sebuah senyum tipis.
“Kamu nunggu aku lagi?”
tanya Wahyu yang duduk disofa sebelahnya. Mita mengangguk saja. “Aku kan udah
bilang kamu nggak perlu nunggu aku,” timpalnya.
“Kenapa?” tanya Mita.
“Aku nggak mau kamu nunggu
aku sampe ketiduran,” jawab Wahyu, menatap istrinya itu.
“Gapapa,” Mita menarik
sudut bibirnya membentuk senyum. “Aku nggak masalah,” Mita menambahkan.
“Mita....”
“Kenapa?” tanya Mita
memotong ucapan Wahyu. “Kamu nggak suka kalo aku nunggu kamu?” tambahnya,
menatap pria berkemeja putih itu.
“Mita, ka...”
“Ya udah,” Mita mengukir
senyum tipis. “Aku nggak akan nunggu kamu lagi besok,” Mita berdiri dari
duduknya.
Wahyu berdiri dari
duduknya, berdiri tepat dihadapan istrinya itu. Ia tatap wanita yang sangat
dicintainya itu. Sungguh ia sama sekali tak berniat membohongi istrinya itu. Ia
tak berniat menyakiti istrinya itu. Tapi ia juga tak mengerti apa yang sedang
ia rasakan sekarang. Ia tidak mau melukai wanita dihadapannya ini.
“Yu, boleh aku tanya satu
hal sama kamu?” tanya Mita.
“Apa?” tanya Wahyu.
“Apa ada wanita lain yang
kamu cintai selain aku?” tanya Mita, menatap mata teduh itu dengan tatapan
nanar.
“Maksud kamu?” tanya
Wahyu.
“Apa ada wanita lain
diluar sana yang selalu kamu temui tanpa sepengetahuan aku?” tanya Mita lagi
dengan pertanyaan lainnya.
“Mita...”
“Jawab aja,” sela Mita.
“Aku harus jawab apa?”
tanya Wahyu bingung.
“Yu,” Mita tampak memohon.
“Aku mau kamu jujur,” ia mencoba mencari kejujuran dimata pria dihadapannya
itu. “Apa ada wanita lain diluar sana yang berhasil merebut perhatian kamu dari
aku?” tanya Mita untuk kesekian kalinya.
Wahyu mendesah pelan,
pertanyaan-pertanyaan Mita membuatnya bingung. Ini yang ia takutkan, tapi
inilah saat yang tepat untuk mengakui semuanya pada Mita. Semua yang ia alami,
semua yang ia rasakan, dan semua yang membuatnya merasa takut menyakiti Mita,
istrinya.
“Yu?” Mita menyentuh
lengan Wahyu.
“Maaf, Mit.” Wahyu menatap
mata bening milik Mita itu. “Aku...”
“Bener?” tanya Mita.
Mita memang sudah beberapa
kali memergoki suaminya itu duduk berdua dengan seorang wanita disebuah cafe,
restaurant atau bar. Mita pikir wanita itu hanya partner kerja suaminya, tapi
lama kelamaan presepsi Mita berubah, terlebih saat ia menanyakan tentang wanita
itu pada sekretaris Wahyu dikantor, dan sekretaris Wahyu bilang wanita itu
memang sering datang ke kantor hanya untuk menemui Wahyu. Distulah ia mulai
merasa takut kehilangan Wahyu.
“Mit,” Wahyu hendak
menjelaskannya.
“Siapa wanita itu?” tanya
Mita.
“Biar aku jelasin dulu ke
kamu yang sebenarnya, tolong dengerin aku du...”
“Apa perlu aku temuin
wanita yang udah berani-beraninya merebut semua perhatian kamu dari aku itu,
hah?” tanya Mita dengan napas memburu. “Apa perlu aku bunuh dia supaya dia
nggak bisa ketemu lagi sama kamu?” timpal Mita. “Harus aku ngelakuin itu?”
tanya Mita.
“Nggak perlu,” sahut
Wahyu. “Kamu nggak perlu melakukan itu, Mit.” Wahyu menatap Mita dengan tatapan
sendu.
“Kenapa?” tanya Mita.
“Karena dia nggak akan
pernah lagi ketemu sama aku,” jawab Wahyu.
“Masud kamu?” napas Mita
mulai kembali normal.
“Maka dari itu aku mohon
kamu dengerin dulu semua penjelasan aku, Mit.” Wahyu menatap mata Mita.
“Apa kamu tahu gimana
perasaan aku pas aku tahu kalo banyak hal yang kamu sembunyiin dari aku?” suara
Mita melemah. “Kamu mau tahu?” Mita menahan semua amarahnya.
“Mita, aku mohon dengerin
aku dulu,” rajuk Wahyu.
“Selama ini aku nunggu
kamu jelasin semuanya sama aku tentang wanita itu,” Mita menatap Wahyu nanar. “Karena tadinya aku pikir dia cuma
partner kerja kamu,” tambah Mita. Wahyu memilih diam terlebih dulu, ia akan
membiarkan Mita mengeluarkan semua isi hatinya itu. Karena bicara sekarang pun
tidak akan ada gunanya. “Semenjak kamu kenal sama wanita itu kamu berubah, Yu.”
Mita menatap Wahyu yang juga menatapnya. “Kamu sering pulang malem, kamu sering
nggak ngerespon semua telepon-teleponku, kamu nggak peduli lagi sama aku,” Mita
merasakan dadanya yang sakit.
“Mita!” sentak Wahyu.
“Apa?” tanya Mita dengan
suara bergetar, ia menangis.
“Kamu salah kalau kamu
bilang aku nggak peduli lagi sama kamu,” Wahyu berusaha menguasai dirinya. “Aku
selalu peduli sama kamu,” katanya.
Mita tak menyahut, ia bergeming dengan air mata yang
ia biarkan mengalir dari pelupuk matanya itu. Ia sungguh sudah lelah dengan
keadaan ini, ia bingung harus bagaimana lagi bicara pada Wahyu. Kalau bisa ia
ingin pergi dari semua ini. Ia benci ketidakjujuran seperti ini.
“Mita,” Wahyu sedih melihat Mita yang seperti ini. Ia
dekati wanita itu, kemudian ia dekap tubuh wanita itu dengan erat dan seakan
tidak akan pernah lagi membiarkannya terluka. “Maafin aku, Mit.” Wahyu mengecup
pipi kanan Mita dengan lembut.
“Kenapa, Yu?” tanya Mita lemah.
“Aku nggak akan pernah menemui wanita itu lagi,” bisik
Wahyu. “Karena...” ucapan Wahyu menggantung. “Aku yang meminta wanita itu untuk
tidak menemuiku lagi,” lanjut Wahyu.
“Begitu?” tanya Mita, melepas pelukan Wahyu lalu
menatap pria dihadapannya itu.
“Ya,” Wahyu menyibak rambut istrinya itu lalu
tersenyum.
“Kenapa?” tanya Mita.
“Karena kamu,” Wahyu mengecup kening istrinya itu.
Mita memejamkan matanya seraya tersenyum, perlakuan seperti ini selalu membuatnya
seperti melayang.
‡‡‡
Mita menutup buku hariannya lalu meletakkannya
disebelah ia duduk, ia sedang asik duduk disebuah ayunan yang ada dihalaman
belakang rumahnya malam itu, mengingat semua kejadian indah yang ia lalui
bersama Wahyu, suaminya. Begitu banyak cerita yang ia torehkan dibuku harian
kesayangannya itu, tentang Wahyu, tentang cintanya, tentang hatinya yang hanya
ia serahkan pada Wahyu. Ia merasa takdir seakan mempermainkan hatinya, tapi ia
salah.
Mita menatap langit yang dipenuhi bintang gemintang
itu dengan takzim, diantara ribuan bintang-bintang itu ia yakin Wahyu ada
diantaranya. Menatap dirinya dari atas sana, tempat dimana seharusnya Wahyu
berada. Sungguh ia amat sangat merindukan suaminya itu, ingin rasanya ia
memeluk pria yang selalu berhasil membuatnya gila itu. Pria yang seakan
melebihi malaikat dari surga, pria yang seakan selalu berhasil melipur lara
hatinya. Dan pria yang seakan mampu melindunginya.
Mita ingat betul saat Wahyu berusaha menutupi semua
dari dirinya, tentang wanita yang selalu ia temui tanpa sepengetahuannya.
Wanita yang ternyata memiliki peran besar bagi Wahyu. Seharusnya ia tak boleh
egois saat itu, seharusnya ia dengar dulu semua penjelasan Wahyu. Ia terlalu
egois saat itu.
Dan ingatannya kembali pada saat ia menemukan Wahyu
tak sadarkan diri di ayunan ini dengan wajah pucat pasi, dan seluruh tubuhnya
yang dingin. Mita tak suka dengan moment pahit itu. Wahyu yang bak malaikat
baginya itu justru terlihat sangat menyedihkan dengan wajah pucat dan tangan
yang dingin. Keadaan itu membuatnya seakan beku. Wahyu yang beberapa menit
sebelumnya masih mendekapnya erat dengan kedua tangannya yang kokoh bak karang
itu. Mita menelan ludah pahit mengingat itu semua.
“Begitu banyak hal yang aku nggak ngerti tentang semua
ini, Yu.” Mita tersenyum lemah. “Tentang kamu yang pergi gitu aja, tentang kamu
yang seakan menutup rapat semuanya dari aku, dan tentang kamu yang....” Mita
menghapus air matanya dengan kasar. “Seakan nggak menganggapku ada,” Mita
mengulas senyuman miris.
Angin berhembus perlahan, menerbangkan setiap helai
rambutnya yang mulai memanjang itu, luka dihatinya kembali terbuka, dan terasa
sangat perih saat semua hal tentang Wahyu mencoba mengganggunya. Mita
bergeming, tatapannya sendu, lidahnya seakan kelu, semua persendiannya seakan
melemah. Ia memang lemah tanpa Wahyu. Sangat lemah, seperti sebuah daun kering
yang tertiup angin kencang.
“Aku capek, Yu.” Mita berbisik lemah. “Capek
bergantung sama kamu,” katanya lirih. “Kenapa mencintaimu harus menjadi selemah
ini?” tanya Mita. Perlahan hatinya mulai lega, seakan semuanya menguap begitu
saja, kini semuanya terasa hangat, sangat hangat, seperti ada sesuatu yang
mendekapnya dengan lembut. Wahyu kah itu?
TAMAT....
Ini sebenernya
Cerpen iseng, gak nyangka kalo bisa kelar, hehe. Cerpen ini mau aku
dedikasiin buat Teteh kesayanganaku yang ulang tahun tanggal 2 Juli
lalu. Telat yah? Maaf yah baru sempet. Maaf ya teh telat kadonya, haha.
Maaf juga kalo jelek, gak genah dsb *hiks. Ini cerpen seadanya banget.
Kalo nggak suka langsung buang aja hapenya yaa *lho
Sekali lagi Happy
Birthday ya, Teh. Semoga sehat selalu, makin murah rezekinya, cepet
dapet jodoh, makin dewasa, sayang keluarga. Sayang juga sama aku *plak.
Aku cuma bisa kasih ini nggak lebih, karena aku cuma bisa ini aja, huhu.
Semoga suka yaa kamuuuu. Loveyou :* ☺☻
@DevyMrz ☺☻

0 komentar:
Posting Komentar