Misteri Sekolah Chapter 3 (Ending)



                 
                   Wahyu, Ikmal, dan Icez menyusuri lorong kecil yang akan menghantarkan mereka ke sebuah ruangan kecil yang disebut gudang disekolahnya itu, Ikmal yang berjalan paling depan sambil memegang senter pun sedikit merasa iseng. Wahyu yang berjalan paling belakang memang harus ekstra hati-hati, takut-takut sesuatu nanti terjadi pada ia dan kedua sahabatnya itu. Lorong kecil itu memang gelap, hanya ada lampu ala kadarnya yang sama sekali tidak dapat membantu penerangan dilorong itu.
                “Kalo sampe Mita nggak ketemu gimana?” tanya Icez yang membuat kedua sahabatnya berhenti melangkah.
                “Cez loe nggak usah nurunin kadar keoptimisan gue kenapa sih?” Wahyu tampak sebal.
                “Tau nih,” Ikmal menimpali.
                “Udah ayo cepet jalan,” Wahyu memberi komando. “Hampir jam satu nih,” Wahyu melirik jam dilengan kirinya.
                “Brak!” suara keras itu membuat ketiga sekawan itu menoleh ke belakang dengan kaget. Suara itu bersumber dari salah satu pintu toilet yang ada dilorong itu.
                “Apaan tuh?” tanya Ikmal was-was.
                “Cek, Yu.” Icez mendorong Wahyu.
                “Gue?” tanya Wahyu dengan tampang lugu.
                “Iyalaaaah, loe kan didepan sekarang,” ujar Ikmal dan Icez.
                “Ok,” Wahyu pun berjalan mendekati salah satu toilet itu, ia dekati salah satu pintu yang terbuka. Kemudian ia sembulkan kepalanya kedalam toilet itu. “Nggak ada apa-apa,” Wahyu menatap kedua sahabatnya yang ada tak jauh darinya itu.
                “Yakin loe?” tanya Icez. Kejadian seperti inilah yang selalu ia alami beberapa hari terakhir ini. Dan hal aneh ini terjadi lagi sekarang. Ia pandangi Wahyu yang masuk kedalam toilet itu, kemudian ia dekati toilet itu diikuti Ikmal dari belakangnya. “Yu,” gumam Icez.
                “Kenapa?” tanya Wahyu.
                “Ngapain?” Icez menyapu pandangan ke penjuru toilet berukuran kecil itu.
                “Matiin kran aer,” jawab Wahyu polos. “Kran aernya tadi kebuka,” katanya lagi.
                “Tapi nggak ada orang?” tanya Icez.
                “Ada,” jawab Wahyu. Icez mengerutkan dahinya. “Gue,” timpalnya kemudian. “Gue kan orang, apa loe pikir gue ini setan?” tanya Wahyu yang membuat Ikmal terkikik geli dibelakang Icez.
                “Wahyu mana bisa loe begoin sih, Cez?” Ikmal tertawa geli. Icez merengut kesal kemudian menoyor kepala Ikmal.
                “Iya ok,” Icez mengalah kemudian ia pandangi lagi toilet itu, ia dongakkan kepalanya ke atas menatap langit-langit toilet itu, dan saat itu pula matanya menangkap sosok tak biasa. Seorang wanita dengan rambut panjang yang menatap Icez tajam. Icez bergidik ngeri.
                “Yu,” suara Icez sedikit gemetar. “Ada....adaa...” Icez menunjuk ke atas. Wahyu menatap Icez heran. “Itu, Yuuuu...” Icez menunjuk lagi ke atas.
                Ikmal yang menyadari gelagat Icez yang tak biasa pun mendekati toilet itu lalu menyapu pandangannya keseluruh penjuru ruangan itu. Ikmal kaget bukan main saat mendapati wanita yang ada diatas toilet itu. Ia ingat, itu adalah wanita yang ia liat tadi didekat tangga menuju lantai dua.
                “Ada apa sih?” Wahyu mendongakkan kepalanya ke atas.
                “Kabuuuuuurrrr,” Ikmal memberi aba-aba sambil berlari terbirit-birit. Icez pun langsung enyah secepat mungkin dari tempat itu. Sedangkan Wahyu malah sibuk menutup pintu toilet itu dengan gerakan pelan, kemudian tanpa pikir panjang lagi ia pun berlari menyusul kedua sahabatnya yang sudah berlari jauh meninggalkannya.
                “Heh, Wahyu mana?” Icez yang menyadari Wahyu tak dibelakangnya pun berhenti berlari. Ikmal masih berlari cepat didepannya tanpa mempedulikan seruan Icez. “Ikmaaaal!” seru Icez.
                Ikmal yang mendengar suara Icez memanggilnya pun berhenti lalu menoleh ke belakang. “Ngapain berhenti sih, Cez?” tanya Ikmal. “Kalo tu hantu ngejar kita gimana?” Ikmal tampak panik dengan napas tersengal. “Ayo cepetan kita pergi dari sini,” ia tatap Icez yang sedang mengatur napasnya.
                “Wahyu mana bego?” tanya Icez kemudian.
                “Bukannya dia lari dibelakang kita tadi?” Ikmal menyapu pandangan ke lorong yang ia lewati itu. Sepi dan gelap.
                “Haaaah...” Icez tampak frustrasi. “Sekarang Wahyu gitu yang ilang? Mita aja belom ketemu, jangan sampe Wahyu ilang juga,” Icez melirik Ikmal yang tampak bingung.
                “Heh!” seseorang berseru dengan keras dari lorong gelap dan sepi itu, Ikmal dan Icez menoleh menatap bayangan yang berdiri tak jauh darinya itu. Ikmal dan Icez hendak berlari lagi, namun tiba-tiba, “ Ngapain ninggalin gue sih?” Wahyu berjalan tergopoh-gopoh menghampiri dua sahabatnya itu. Ikmal dan Icez tampak lega. “Capek nih ngejar-ngejar loe bedua,” Wahyu tampak begitu lelah.
                “Gila, gue kira loe hantu, Yu.” Ikmal berceletuk seenak udel.
                “Sial,” Wahyu menggerutu.
                “Gue pikir loe lari dibelakang kita, Yu.” Icez menimpali.
                “Haaahhh...” Wahyu menghela napas lelah. “Emang dasarnya kalian penakut,” celetuk Wahyu cengengesan. “Baru liat cewek rambut panjang aja kalangkabut,” ujar Wahyu.
                “Masalahnya tu cewek kaga ada cantik-cantiknya, Yu.” Ikmal tampak kecewa. “Kalo cantik dan dia manusia juga gue mau,” celetuk Ikmal yang membuat Wahyu dan Icez terkikik geli.
                “Heh udah-udah, kenapa jadi bahas tu hantu cewek sih?” Icez tampak sebal. “Mendingan kita lanjut lagi cari Mita, sebleum Mita kenapa-napa,” kata Icez.
                “Oh iya, ade gue kan belom ketemu,” Wahyu menepuk dahinya. “Ayo kita lanjut lagi,” komandonya. Kedua sahabatnya itu pun mengiyakan.
***
                “Nggak bisa dibuka,” Ikmal memutar-mutar knop pintu ruangan yang ada dibelakang sekolah itu.
                “Coba minggir,” Icez mendorong Ikmal agar menjauh dari depan ruangan yang depannya remang-remang itu. Icez mencoba membuka pintu itu dengan caranya. “Dikunci,” kata Icez.
                “Kita dobrak aja,” usul Wahyu. “Buat mastiin Mita ada didalem atau enggak,” Wahyu menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian.
                “Hey,” Wahyu, Ikmal dan Icez menoleh ke belakang. Seorang gadis berkupluk hitam berdiri tak jauh dari mereka.
                “Mita?” gumam Wahyu.
                “Loe dari mana sih, Mit?” tanya Ikmal. “Kita pusing banget tau nggak nyariin loe,” celoteh Ikmal.
                “Loe gapapa kan?” tanya Wahyu, mendekati gadis itu. “Loe nggak ketemu hantu kan?” tambahnya. “Loe nggak diganggu sama hantu-hantu disini kan?” Wahyu menatap Mita yang menatapnya dengan tatapan dingin dan kosong itu. “Mita!” Wahyu menyentuh bahu Mita. “Jawab dong,” katanya.
                “Yu,” seru Icez. Wahyu menoleh. “Dia bukan Mita bego,” kata Icez. Wahyu mengerutkan dahinya bingung.
                “Mit?” Wahyu kembali menatap gadis didepannya. “Loe Mita kan?” tanyanya. “Mita ade gue?” tegas Wahyu.
                “Mundur, Yu. Dia bukan Mita!” seru Icez.
                “Mit, please!” desak Wahyu pada gadis itu.
                “Yu!” kini Ikmal yang tampak panik. “Cepet kesini, dia bukan Mita!” katanya yang baru menyadari keanehan gadis yang dianggap Mita itu.
                “Dia ini Mita,” Wahyu menatap kedua sahabatnya yang menatapnya kesal.
                “Kayak gitu loe bilang Mita?” tanya Ikmal sambil menunjuk gadis yang ada didepan Wahyu. Wahyu menoleh lagi menatap gadis dihadapannya. Dan yang ia lihat bukan lagi Mita yang menggunakan kupluk hitmanya, yang ada malah seorang wanita berambut panjang yang menatapnya tajam. Wahyu menelan ludah getir. Sungguh ia sangat dekat dengan wanita bermata seram ini.
                Wahyu mundur beberapa langkah, ia benar-benar bingung dengan apa yang baru saja ia lihat, sangat dekat dan sangat menakutkan. Bagaimana kalau sampai Mita yang diganggu oleh wanita seram itu? Mita tak akan bisa berlari sama sekali, ia akan diam mematung dan mulutnya tak bisa bicara, hingga akhirnya ia pingsan. Itu yang tejadi pada Mita jika adiknya itu sampai diganggu wanita seram itu. Wahyu benar-benar takut kalau sampai Mita pingsan ditempat yang ia tak tahu.
                “Kita harus secepatnya cari Mita,” napas Wahyu memburu. “Gue takut dia juga diganggu sama hantu itu,” kata Wahyu.
                “Dimana?” tanya Ikmal.
                Wahyu mendekati gudang itu, ia putar knop pintu yang hampir copot itu dengan keras. “Mita, loe didalem?” Wahyu mengetuk pintu itu dengan keras. “Mita?” seru Wahyu. “Loe didalem?” tanyanya dengan suara keras.
                “Pak Tharas guys,” kata Ikmal panik. Icez mendapati pria paruhbaya yang hendak berjalan mendekati mereka. “Mending sekarang juga loe dobrak deh, Yu.” Ikmal memberi komnado pada Wahyu yang berdiri tepat didepan pintu.
                “Dobrak, Yu.” Icez menambahkan.
                “Ok,” Wahyu mundur beberapa langkah. Kemudian ia maju dan menghantam pintu itu dengan keras. Dan pintu itu berhasil terbuka. “Cepetan masuk,” komando Wahyu pada Ikmal dan Icez. Ikmal dan Icez masuk dengan cepat dan di ikuti Wahyu. Wahyu pun menutup pintu itu sebelum Pak Tharas melihatnya.
                “Mit?” Icez menyerukan nama Mita saat berada didalam ruangan yang penuh dengan bangku dan meja yang sudah rusak itu. “Mita?” seru Icez lagi. Ikmal berjalan dibelakangnya sambil memegang senter.
                Wahyu yang berjalan dipaling belakang menyapu pandangannya keseluruh penjuru ruangan gelap dan sesak karena banyak sekali tumpukan kertas-kertas yang tak terpakai yang dipenuhi debu itu. Mita alergi debu, ia akan terus bersin jika menghirup debu terlalu banyak. Ia takut tak bisa menemukan adiknya itu, masalahnya Mita adalah anak kesayangan keluarga, kalau sampai gadis manja itu hilang karena ikut dengan dirinya, ia yang akan kena marah habis-habisan oleh orangtuanya itu. Wahyu tak bisa membayangkan kalau sampai orangtuanya itu mengamuk karena anak kesayangannya telah dihilangkan oleh kakaknya sendiri. Wahyu bergidik ngeri.
                “Mita kayaknya nggak disini deh guys,” kata Icez yang sedari tadi tak menemukan tanda-tanda keberadaan Mita diruangan remang-remang itu.
                “Loe yakin?” tanya Ikmal yang kini ada disebelah Icez. Icez mengangguk lemah. “Astaga...” Ikmal menepuk dahinya.
                Wahyu menangkap sesuatu bergerak dibalik tumpukan kardus kosong yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri itu, karena penasaran, ia dekati tumpukan kardus besar itu, ia yakin ada sesuatu dibalik tumpukan kardus itu. “Mit?” gumam Wahyu sambil menyingkirkan tumpukan kardus itu ke tempat lain. Ikmal dan Icez mendekati Wahyu.
                “Mita?” Wahyu mendapati Mita yang duduk dengan tangan dan kaki yang terikat dengan sebuah tali, mulut gadis itu ditutup dengan sebuah kain panjang yang diikat kebelakang. Pantas saja Mita tak bisa mengeluarkan suara apapun. “Loe gapapa?” tanya Wahyu sambil melepas kain yang menutup mulut Mita. Ikmal dan Icez membantu melepaskan ikatan yang ada dikaki dan tangan Mita.
                “Loe gapapa kan, Mit?” tanya Icez saat tali dikaki Mita sudah terlepas.
                “Sejak kapan loe ada disini?” tanya Ikmal.
                Mita menatap ketiga sahabatnya itu. “Yu,” kata pertama yang terlontar dari mulutnya. Wahyu langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya. Mita merasa tenang sekarang, semua sesak didadanya seakan menguap seketika saat Wahyu memeluknya. “Gue takut, Yu.” suara Mita bergetar.
                “Tenang aja, Mit. Gue disini sekarang,” Wahyu mengusap punggung Mita. “Loe baik-baik aja kan sekarang?” tanya Wahyu. Mita mengangguk.
                “Kenapa loe bisa ada disini sih, Mit?” tanya Icez yang duduk bersandar di dinding, ia lelah karena terus berlari tidak jelas sejak tadi.
                “Gue nggak tau kenapa gue bisa ada disini,” Mita keluar dari pelukan Wahyu, Ikmal yang sedari hanya berjongkok pun ikut duduk bersandar disebelah Icez.
                “Maksud loe?” tanya Wahyu yang duduk dihadapan Mita.
                “Yang gue inget, gue jalan dibelakang Wahyu pas kita mau turun dari lantai tiga, tapi tiba-tiba semuanya gelap, dan pas gue sadar, gue ada disini dengan keadaan mengenaskan, kaki sama tangan gue di iket, mulut gue ditutup juga, kepala gue juga sakit banget, gue pikir gue udah mati tadi,” cerita Mita yang membuat Wahyu, Icez dan Ikmal melongo.
                “Mungkin nggak sih kalo Mita dipukul dari belakang?” tanya Icez yang membuat ketiga sahabatnya agak heran. “Bisa aja kan?” timpalnya.
                “Bisa aja sih,” Wahyu mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
                “Setelah dipukul, gue dibawa kesini tanpa sepengetahuan kalian gitu?” tanya Mita. Icez mengangguk. “Tapi kenapa gue?” tanya Mita.
                “Ya gue nggak tau,” Icez mengangkat bahunya. “Mungkin karena posisi loe yang mudah dijangkau,” kata Icez memberi pendapatnya.
                “Udahlaaah...” Wahyu mendekati Mita yang masih tampak pucat dan berkeringat itu. “Yang penting Mita udah ketemu,” katanya sambil mengusap punggung adiknya itu. “Tugas kita sekarang adalah cari cara buat keluar dari sini tanpa sepengetahuan Pak Tharas,” lanjut Wahyu.
                “Pak Tharas lagi menuju kesini,” Ikmal mendesah pelan. “Kita nggak punya harapan,” Ikmal mengacak rambutnya.
                “Jadi kita bakal kejebak disini?” tanya Mita.
                “Enggak, kita pasti bisa keluar,” kata Wahyu.
                “Tapi Pak Tharas pasti bakal tau kalo kita masih disini,” Icez tampak tak yakin.
                “Kalian tunggu disini, biar gue cek dulu keluar, kalo aman kita keluar dari sini,” kata Wahyu sambil berdiri dari duduknya.
                “Yu,” Mita menarik lengan Wahyu yang hendak meningglkannya itu. Wahyu menatap adiknya itu. “Ati-ati,” kata Mita dengan tatapan khawatir. Wahyu mengangguk seraya tersenyum, Mita pun melepaskan lengan Wahyu.
                “Harusnya gue emang nggak usah ngajak kalian kesini,” sesal Icez saat Wahyu sudah pergi meninggalkan mereka.
                “Udahlah, Cez.” Ikmal mengusap punggung Icez yang duduk disebelahnya. “Buat pengalaman,” Ikmal tersenyum.
                “Tapi kan semuanya kacau, Mita disekap, kita diganggu terus sama hantu cewek itu, sampe akhirnya kitaaa....”
                “Yaelah, Cez. Santai aja kali,” Mita tersenyum. “Loe kenapa jadi melow gini sih?” Mita terkekeh. “Loe nggak salah, kita yang salah karena dengan begonya kita nerima ajakan loe buat nyelidikin nih sekolah,” Mita mencoba tertawa untuk mencairkan suasana.
                “Setuju sama Mita,” Ikmal terkekeh. Icez pun mengulas senyum tipis.
                “Guys,” Mita, Ikmal, dan Icez menoleh ke arah seseorang yag berdiri disekitar mereka.
                “Kenapa, Yu?” tanya Mita.
                “Pintunya kekunci dari luar,” jawab Wahyu dengan suara lemah. “Kita nggak ada harapan buat keluar dari sini,” kata Wahyu. “Ada yang sengaja ngunci tu pintu,” Wahyu menunduk lemah.
                “Apa?!” Mita, Icez, dan Ikmal melongo kaget.
                “Kita nggak akan bisa keluar,” kata Wahyu seraya duduk disebelah Mita.
                “Pak Tharas yang ngunci tu pintu?” tanya Mita.
                Wahyu hendak menjawab, tapi tiba-tiba terdengar pintu itu dibuka dengan keras. Empat sekawan itu menoleh ke arah pintu bebarengan.
                “Mita!” teriak seseorang dari luar ruangan itu.
                “Itu suara Pak Tharas,” kata Mita panik yang membuat ketiga sahabatnya bingung. “Pak Tharas yang udah nyekap gue disini,” Mita mengakui semuanya. Ia baru ingat, sebelum ketiga sahabatnya itu datang, Tharas datang menemuinya. “Dan dia ngamuk sama gue,” suara Mita semakin seperti bisikan.
                “Apa?” Wahyu menatap gadis disebelahnya. “Jadi Pak Tharas yang udah bikin loe hampir mati?” tanya Wahyu.
                Mita mengangguk. “Dan sekarang dia pasti mau nemuin gue lagi,” kata Mita.
                “Kita ngumpet,” usul Ikmal. Semua menatapanya bingung. “Ya kita harus ngumpet sebelum Pak Tharas liat kita,” katanya.
                “Loe tumpuk semua kardus itu kayak semula, Yu.” Ikmal memberi komando dan Wahyu melakukaannya. “Mit, loe duduk ditempat semula,” kata Ikmal. “Dan loe Icez,” Ikmal menatap tali yang tadi digunakan untuk mengikat Mita. “Loe iket Mita kayak tadi,” komandonya.
                “Terus abis ini, kita bertiga ngumpet dan biarin Mita disini dengan keadaan kaki sama tangan ke iket dan mulut yang juga ditutup,” kata Wahyu yang seakan paham dengan rencana Ikmal. “Kalo saatnya udah tepat, kita tangkep Pak Tharas,” kata Wahyu dengan suara pelan.
                “Wahyu bener!” kata Ikmal.
                “Ok,” kata Icez. “Udah beres,” Icez telah selesai mengikat kaki dan tangan Mita dan juga menutup mulutnya.
                “Sekarang kita ngumpet,” kata Ikmal seraya menarik tangan Icez dan mengajaknya bersembunyi dibalik sebuah rak buku yang sudah tidak terpakai disudut ruangan itu.
                “Gue janji loe bakal baik-baik aja,” Wahyu berjongkok dihadapan Mita. “Gue janji!” Wahyu mengacak pelan rambut Mita seraya tersenyum. Mita mengangguk saja. “Gue tinggal ya,” Wahyu berdiri dari duduknya lalu meninggalkan Mita, ia hampiri Icez dan Ikmal ditempat persembunyian mereka.
                “Loe yakin kita akan berhasil?” tanya Icez pelan.
                “Yakin!” kata Wahyu seraya  mengukir senyum.
                “Hallo gadis kecil,” seorang pria berdiri dihadapan Mita sambil menggenggam sebuah besi panjang. Mita menatap tajam ke arah pria bernama Tharas itu. Ia sama sekali tidak takut sekarang. “Semua teman-teman kamu sudah tidak ada disini, mereka sepertinya sudah pulang dan sama sekali tidak mempedulikan kamu,” katanya sambil tersenyum sinis. “Kasihan sekali kamu,” tambahnya. “Dasar anak-anak bodoh,” Tharas makin menjadi. Ia dekati gadis berkupluk itu, lalu ia cengkram dagu Mita dengan keras. “Ternyata mudah sekali membodohi kalian,” Tharas menatap Mita yang juga menatapnya. Mita ingin sekali tertawa sekeras mungkin mendengar penuturan Tharas, jelas-jelas ketiga sahabatnya sedang berada sangat dekat dengannya sekarang. Ketiga sahabatnya itu tidak bodoh seperti yang Tharas pikir.  “Ok, saya biarkan mereka bertiga lolos, tapi saya tidak akan membiarkan kamu lolos dari saya,” Tharas menatap Mita tajam. “Mita Damara!” katanya lalu melepaskan cengkramannya dari dagu Mita. “Tadinya saya ingin menangkap kedua anak Damara sekaligus, tapi saya hanya berhasil menangkap kamu,” katanya.
                Mita menatap Tharas tajam, apa maksudnya? Kenapa Tharas menyebut-nyebut nama Damara, dan dari mana Tharas tahu nama lengkapnya? Apa hubungan ini semua dengan Damara, Ayahnya? Dan kenapa Tharas ingin menangkap kedua anak Damara? Apa hubungan Tharas dengan Ayahnya?
                “Kamu bingung kan?” Tharas tersenyum sinis. Napas Mita memburu. “Mau saya jelaskan semuanya?” tanya Tharas dengan tawa paling licik yang pernah Mita lihat. Mita enggan mendengar celotehan pria itu. “Tapi saya pikir tidak perlu kamu tahu tentang hal ini, Mita.” Tharas kembali menatapnya. “Karena itu nggak penting buat kamu!” Tharas memukul dinding itu dengan keras menggunakan tongkat besinya itu. Mita shock bukan main saat ia pikir Tharas akan memukulnya. “Jadisekarang saya bisa...”
                “Bisa apa?” Wahyu keluar dari tempat persembunyiannya tanpa memberi aba-aba pada kedua sahabatnya.
                “Yu,” bisik Icez.
                Tharas tampak kaget saat mendapati Wahyu berdiri tak jauh darinya. “Hallo Wahyu Damara,” Tharas tersenyum sinis padanya. “Kamu lihat, Mita?” Tharas menoleh kearah Mita. “Tanpa saya perlu menyeretnya kesini, dia datang dengan sendirinya,” Tharas tampak sangat bangga. Mita tengah sibuk membuka tali yang mengikat tangannya, Icez memang sengaja tidak mengikatnya dengan erat, jadi tali itu sangat mudah terlepas.
                “Apa hubungan Bapak dengan Ayah saya?” tanya Wahyu geram.
                “Tenang dulu,” kata Tharas santai.
                “Apa hubungan Bapak dengan Ayah saya?!” tanya Wahyu sekali lagi tanpa mengindahkan ucapa Tharas.
                “Kamu persis Ayah kamu,” kata Tharas. “Tidak sabaran,” tambahnya dengan senyum sinis.
                Mita berhasil membuka semua tali yang mengikat kaki dan tangannya, ia pun langsung membuka penutup mulutnya, tanpa pikir panjang, ia meraih kayu balok besar yang ada tak jauh darinya, kayu itu tadinya akan dibawa Wahyu, tapi sepertinya Wahyu lupa membawanya.
                “Oh Bapak mau main-main sama saya?” tanya Wahyu.
                “Bukan saya yang main-main dengan kamu, tapi Ayah kamu yang main-main dengan saya!” Tharas berjalan mendekati Wahyu sambil mengayunkan tongkat besinya. Wahyu tak bergerak ditempatnya. “Jadi kalian lah yang harus menanggung semua kesalahan Damara, Ayah kalian!” Tharas tertawa. Wahyu menatapnya tanpa garang. “Jadi sebaiknya siapa dulu yang harus mati?” tanya Tharas. “Kamu atau adik kamu yang penakut itu, hah?!” suara Tharas terdengar lantang.
                “Sebelum Bapak membunuh saya dan adik saya, saya yang akan membunuh Bapak terlebih dulu,” Wahyu tersenyum sinis.
                “Oh ya?” Tharas semakin mendekat. Tapi Wahyu sama sekali tak bergerak dari tempatnya. “Ok, kalau begitu kamu yang akan lebih dulu saya kirim ke neraka...” Tharas mengayunkan tongkat besinya dan hendak memukul Wahyu, tapi tiba-tiba ada seseorang yang memukul keras punggung Tharas dari belakang hingga membuat pria itu ambruk.
                “Mita?” Wahyu menatap adiknya yang berdiri dengan napas memburu, tangannya menggenggam balok besar. “Loe gapapa?” Wahyu melangkahi tubuh Tharas yang terkapar, ia dekati adiknya yang seperti orang ketakutan.
                “Guys,” Ikmal dan Icez keluar dari tempat persembunyian mereka. “Kalian gapapa kan?” tanya Ikmal.
                “Sumpah gue takut banget tadi,” Icez menambahkan dengan suara bergetar.
                “Mita, loe baik-baik aja kan?” tanya Wahyu saat Mita sudah menjatuhkan kayu yang ada ditangannya itu.
Mita mengangguk kemudian memeluk Wahyu erat. “Gue takut bego,” suara Mita serak. “Gue takut kita bakal mati disini,” kata Mita yang masih sedikit shock itu.
“Gue kan udah janji kalo kita bakal baik-baik aja,” Wahyu mengusap punggung Mita. “Gue pasti tepatin janji gue lah, Mit.” Wahyu mencoba tersenyum.
“Terus sekarang kita harus gimana?” tanya Ikmal sambil menatap tubuh Tharas yang terkapar dihadapannya itu.
“Lapor polisi,” kata Icez.
“Mending sekarang kita keluar dulu,” kata Wahyu, melepaskan pelukan Mita.
“Ok,” kata Ikmal. “Yuk!” komandonya.
Wahyu menggandeng tangan Mita saat hendak keluar dari tempat itu, Icez dan Ikmal mengikuti dari belakang. Ada perasaan lega dari hati mereka karena telah berhasil membuat Tharas tak berdaya. Tharas yang selalu menatap Mita dengan tatapan ingin membunuh. Baik Mita ataupun Wahyu sama sekali tak tahu apa hubungan Tharas dan Ayahnya. Yang jelas sekarang semuanya sudah beres. Dan sekarang mereka hanya perlu keluar dari ruangan itu. Setelah itu Mita dan Wahyu akan menanyakan hal ini pada Ayahnya. Dan saat mereka hampir dekat dengan pintu ruangan itu, tiba-tiba saja pintu itu tertutup dengan keras. Membuat keempatnya kaget bukan main.  Wahyu mendekati pintu itu, ia coba buka namun tidak bisa.
“Gimana, Yu?” tanya Mita.
“Nggak bisa kebuka,” jawab Wahyu dengan suara lemah.
“Apa?!” Mita, Icez dan Ikmal melongo kaget.

TAMAT...
@DevyMrz

0 komentar:

Posting Komentar