“Aw,” Mita melepaskan pisau yang ada
ditangannya secara reflex, jari telunjuk kirinya mengeluarkan darah segar yang
cukup banyak. Mita cepat-cepat menuju westafel yang ada dibelakangnya berdiri
untuk mencuci darah ditangannya.
“Kenapa,
Mit?” seorang wanita paruhbaya muncul dengan mimik wajah khawatir seraya
mendekati Mita yang sedang sibuk diwestafel.
“Gapapa,
Ma, Cuma kena pisau aja sedikit,” Mita menyudahi kesibukannya seraya menutup
keran air diwestafel itu kemudian menghadap kearah wanita paruhbaya itu.
“Yakin
gapapa?” tanya ibunya itu. Mita mengangguk. “Lain kali ati-ati dong, Mit,”
katanya lagi. “Yaudah obatin sana biar nggak infeksi,” imbuhnya lagi.
“Iya,
Ma,” sahut Mita kemudian meninggalkan ibunya untuk mengambil box P3K diruang
tengah, ibunya pun mengikutinya dari belakang.
“Kenapa
sampe bisa kena pisau sih, Mit?” ibunya membalut luka dijari telunjuk Mita
dengan kain kasa dan sedikit plester disofa ruang tengah itu.
“Nggak
tahu, Ma,” jawab Mita sambil memandangi luka yang sudah tertutup rapat itu.
“Ngelamun
lagi?” tanya ibunya seraya merapikan kotak P3K itu.
Mita
tak menyahut, apa iya ia sedang melamun saat sedang memotong-motong sayuran
tadi? Hampir empat bulan ia tak pernah bertemu dengan Rey, putra
sematawayangnya yang tinggal bersama suaminya usai insiden perceraian itu
terjadi. Mita rindu Rey, apa kabar ia sekarang? Bagaimana sekolahnya? Siapa
yang membuatkannya sarapan setiap paginya? Siapa yang membacakan buku dongeng
sebelum ia tidur? Ah, Mita ingin memeluk malaikat kecilnya itu sekarang. Tapi
sayang, Wahyu, mantan suaminya, tak pernah mengizinkan ia bertemu dengan Rey
barang sedetik, alasannya klasik, mantan suaminya itu belum bisa melupakan
semua yang terjadi, sesuatu yang menghancurkan rumah tangga mereka, suatu kejadian
yang akhirnya memisahkan ia dan Rey.
“Mit?”
tangannya disentuh dengan lembut. Mita tersadar dari lamunannya. “Kenapa?”
tanya ibunya.
“Kangen
aja sama Rey, Ma,” Mita tersenyum kecut. “Lagi apa ya dia sekarang?” Mita
menatap jam besar yang ada tepat disebelah televisi. “Biasanya kalo jam segini
pasti dia lagi main PS sama Ayahnya,” Mita mengamati jarum jam yang tak pernah
berhenti berputar itu. Pukul lima sore.
“Telepon
sana,” sahut ibunya. “Mama juga kangen sama dia,” tambah ibunya.
“Percuma,
Ma,” Mita menghela napas lelah. “Wahyu pasti nggak izinin aku ngobrol sama Rey
walaupun sebentar,” Mita menelan ludah getir.
“Mit,
kamu ibunya, dan kamu berhak atas Rey,” komentar ibunya seraya meremas jemari
Mita.
Pandangan
Mita lurus kedepan, menatap televisi didepannya yang mati. Kalau saja Wahyu mau
mengerti semua itu, ia tidak akan repot jika ingin bertemu Rey. Mita lelah
dengan semua ini. Sangat lelah. Ia harus menerima semua kenyataan pahit dari
perbuatan yang tak pernah ia perbuat. Mita benci keadaan ini. “Tapi, Wahyu yang
memenangkan hak asuh Rey, Ma,” Mita enggan berharap lagi dapat bertemu Rey.
“Wahyu punya hak penuh atas hal itu,” jelas Mita datar.
“Sabar
ya sayang,” ibunya itu mengusap rambutnya dengan lembut. “Tuhan punya rencana
lain dibalik ini semua,” hibur ibunya. “Sekarang kamu focus aja sama kerjaan
kamu dikantor,” ujar ibunya.
“Iya,
Ma,” Mita mengangguk. Dengan begitu, ia akan lupa pada Rey, walaupun tak
sepenuhnya, tapi setidaknya saat bekerja, ia bisa sedikit meminimalisir rasa
kerinduannya pada Rey.
“Mita
harus kuat,” kata ibunya tersenyum simpul. Mita pun membalas senyuman itu, dan
itu senyum ketulusan.
₯₯₯
Mita menatap monitor computer didepannya
siang itu, banyak sekali berkas yang harus ia serahkan pada Bossnya, jam sudah
menunjukkan pukul dua belas siang, tapi ia masih enggan beranjak dari tempatnya
duduk, baginya sekarang waktu adalah uang. Sebenarnya Mita tak perlu bekerja
keras seperti ini, karena orangtuanya termasuk orang yang berkecukupan, Ayah
Mita seorang Direktur disebuah perusahaan, apapun yang ia mau pasti bisa ia
dapatkan. Tapi itu tidak pernah berlaku lagi semenjak ia menikah dengan Wahyu
Damara, yang sekarang mantan suaminya, saat menikah dengan Wahyu, Mita bukanlah
tanggung jawab orangtuanya lagi, ia sepenuhnya tanggung jawab Wahyu, tapi
setelah bercerai, Mita tak lantas ingin menyusahkan orangtuanya lagi, ia sudah
terbiasa mandiri dengan cara menghidupi dirinya dengan hasil kerja kerasnya
sendiri. Itu sudah membuat Mita bahagia meskipun tanpa sosok suami disisinya.
Rey adalah kekuatannya untuk tetap bertahan sampai detik ini, Rey motivasi
hidupnya disela kehancuran rumah tangganya dengan Wahyu.
“Mit, makan siang, yuk!” suara Eris
membuat Mita mengalihkan pandangannya dari computer didepannya. “Udah siang
banget nih,” katanya lagi.
“Duluan aja, Ris, gue lagi nanggung
nih,” Mita kembali memusatkan perhatiannya pada monitor.
“Ntar maag loe kambuh lagi gimana?” Eris
tampak khawatir melihat temannya yang terlalu memforsir tenaganya itu. “Gue
beliin ya?” tanyanya.
“Nggak usah, bentar lagi juga gue pasti
keluar cari makan,” tolak Mita. “Udah sana, nanti cewek loe marah lagi karena
nunggu kelamaan,” Mita malah bergurau.
“Dih, malah ngeledek,” tukas Eris.
“Yaudah kalo loe masih tetep mau disini,” katanya. “Gue cabut ya,” imbuhnya.
“Iya,” jawab Mita singkat.
“Kalo perlu apa-apa, telepon aja gue,”
Eris berjalan meninggalkan meja Mita.
“Thanks,
Ris,” seru Mita.
Eris
adalah sahabat Mita sejak ia menjadi pegawai dikantor itu, Eris pria yang baik,
menyenangkan, memiliki selera humor tinggi, ramah, sopan, dan sangat lembut
pada perempuan. Berbanding terbalik dengan Wahyu, pria itu cenderung serius,
tegas, jauh dari kesan ramah apalagi menyenangkan, tapi itu semua tak lantas
membuat Mita lebih tertarik pada Eris, ia justru tertarik pada Wahyu Damara,
pria angkuh yang sangat konsisten dengan ucapannya. Pria yang Mita temui
disebuah meeting antara perusahaan tempatnya bekerja dan perusahaan tempat
Wahyu bekerja, disitulah hati mereka saling terpaut. Yang kemudian berujung pada
sebuah pernikahan indah yang didalamnya terdapat seorang malaikat kecil bernama
Rey Nairo Damara, buah cinta dari pernikahan indah itu. Pernikahan yang
akhirnya berujung sebuah perceraian, perceraian yang disebabkan dari sebuah
perbuatan yang tak pernah Mita perbuat. Semuanya hancur saat Mita dituduh
selingkuh dengan pria lain dengan berbagai macam embel-embel foto mesra tentang
perselingkuhan itu, disitulah semua yang telah ia bangun hancur berantakkan.
Kerasnya hati Wahyu tak bisa Mita elakkan, perceraianlah jalan keluarnya. Mita
kehilangan semuanya, Rey, Wahyu, kepercayaan dari Wahyu pun lenyap begitu saja.
Semuanya hanya tinggal kepingan kecil sekarang, tak bisa kembali utuh seperti
sedia kala. Mustahil. Wahyu menghindarinya, memutuskan komunikasi dengannya, ia
tak suka Wahyu yang sekarang. Wahyu yang egois, Wahyu yang ketus, Wahyu yang
jauh dari kata menynangkan. Mita menghela napas lelah. Andai saja Wahyu mau
sedikit lebih memahami inisiden itu.
₯₯₯
Mita berjalan keluar dari gedung besar
dan tinggi itu bersama Eris tepat pukul delapan malam, biasanya jam pulang
kantor adalah jam tujuh tepat, tapi ada pekerjaan yang harus Mita selesaikan,
Eris memaksa ingin menemani Mita, padahal Mita sudah berkali-kali menyuruh pria
itu pulang, tapi itulah Eris, keras kepala.
“Yakin nggak mau gue anter pulang?”
tanya Eris saat mereka tiba diparkiran. “Loe kan lagi nggak bawa mobil,”
imbuhnya.
“Kan gue bisa naik taksi aja,” jawab
Mita. “Udah sana pulang, jam Sembilan nanti loe mau pergi kan sama Grace?” Mita
tahu Eris akan pergi bersama Grace, pacarnya.
“Tapi…”
“Eris, gue bisa pulang sendiri,” sela
Mita seraya tersenyum. “Lagian gue juga maksih banget tadi ditemenin sampe
pulang.” tambahnya.
“Yaudahlah,” Eris mengalah juga.
“Ati-ati loe,” Eris pun menghampiri mobilnya yang terparkir tak jauh dari
tempat mereka berdiri. Mita pun meninggalkan arena perkir itu untuk menunggu
taksi, tapi tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat didepan Mita
berdiri. Kaca mobil bagian depan itu terbuka.
“Mita,” seorang pria dengan setelan jas
hitam duduk dibelakang kemudi.
“Kamu,” Mita shock saat tahu orang yang
ada didalam mobil itu adalah Wahyu. Mau apa pria itu? Pikirnya.
Wahyu turun dari mobilnya, kemudian
menghampiri Mita yang diam mematung. “Ada hal penting yang mau aku omongin sama
kamu,” ujar Wahyu tanpa basa-basi lagi. Itulah Wahyu, tak banyak omong.
“Soal apa?” tanya Mita tanpa membalas
tatapan mata hangat itu. “Kalau nggak terlalu penting, aku pulang aja, udah
malem,” imbuhnya seraya melangkah pergi meninggalkan Wahyu.
“Soal Rey,” nama itu membuat Mita
menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Wahyu masih memunggungi Mita, ia yakin
Mita berhenti.
“Kenapa, Rey?” tanya Mita tetap
diposisinya.
“Kita nggak bisa ngobrol disini,” Wahyu
berbalik, kemudian hendak berjalan menuju mobilnya. “Ayo ikut aku,” Wahyu
berjalan terlebih dulu.
Mita diam sebentar, ada apa sebenarnya,
kenapa raut wajah Wahyu tak seperti biasanya, Mita melihat kesedihan luar biasa
dimata itu, apa sesuatu yang buruk sedang menimpa Rey? Ah, Mita tak boleh
berpikir macam-macam. Lihat, bahkan Wahyu enggan menggenggam tangannya lagi
saat ingin membawanya pergi, apa Wahyu benar-benar ingin melupakannya?
Menghapus memori indah yang pernah terjadi diantara mereka dalam ingatnnya? Apa
Wahyu sudah berhenti mencintainya? Mita tak mengerti hal itu.
“Mita,” seru Wahyu dari sebelah
mobilnya. Mita menoleh kearah Wahyu. “Cepet,” katanya lagi seraya membuka pintu
mobilnya dan beringsut masuk. Mita menghela napas, kemudian berjalan menuju
mobil itu.
₯₯₯
Mita memesan
Capuchino float sama seperti Wahyu saat mereka berada disebuah café yang tak
jauh dari kantor tempat Mita bekerja, seleranya memang sama dengan Wahyu, sama
persis. Mita menyesap capuchino-nya sedikit, kemudian memandangi Wahyu yang
sedari tadi lebih banyak diam dan melamun, tatapan matanya kosong seperti orang
bingung.
“Jadi,” Mita meletakkan cangkirnya
diatas meja. “Apa yang mau kamu omongin?” tanya Mita.
“Rey kangen sama kamu, dia pengen ketemu
sama kamu,” jawab Wahyu datar.
Mita memalingkan wajahnya, ucapan
seperti ini sering sekali Wahyu lontarkan padanya, tapi nyatanya, Wahyu tak
pernah mempertemukannya dengan Rey. “Jadi hal pentingnya cuma itu?” Mita
menghela napas kesal. “Udah biasa kan, kamu selalu bilang sama aku kalau Rey
kangen sama aku dan pengen ketemu,” Wahyu menatapnya. “Tapi, kamu nggak pernah
izinin aku untuk ketemu sama dia,” tambahnya. “Maksud kamu apa si, Yu?” Mita
menyandarkan punggungnya disandaran bangkunya. “Kamu mau bilang kalau Rey itu
nggak butuh sosok ibu dalam hidupnya, dengan cara kayak gini kamu sama aja
mempermainkan aku,” Wahyu memalingkan wajahnya. “Kamu mau bilang, kalau kamu
bangga bisa mengurus Rey sendiri, ngebiarin Rey tumbuh tanpa aku disisinya,
begitu mau kamu?” Mita menghembuskan napasnya.
“Mita, kamu nggak….”
“Soal insiden perselingkuhan itu?” sela
Mita. Mata Wahyu membulat. “Kenapa si kamu belum bisa ngelupain semua itu?”
Mita menyetel suaranya sepelan mungkin. “Lihat, bukan hanya aku yang menderita,
tapi Rey juga ikut menderita dengan sikap keras kepala kamu,” Mita menatap
mantan suaminya itu.
“Mita, cukup!” bwntak Wahyu keras. Mita
tersentak, kemudian ia memalingkan wajahya. “Aku nemuin kamu bukan untuk
membahas masalah kita,” katanya. “Apa kamu pikir aku nggak menderita dengan
keadaan ini?” Wahyu memandangi Mita yang duduk didepannya. “Apa kamu pikir aku
mau mengorbankan Rey dalam masalah ini?” Wahyu meamalingkan wajahnya. “Nggak,
Mit,” ujar Wahyu dengan suara pelan.
Mita mengalihkan pandangannya kearah
Wahyu yang menunduk. “Kenapa kamu nggak percaya sama aku?” tanyanya. Wahyu
mengangkat wajahnya, menatap Mita. “Kenapa?” Mita bertanya lagi.
“Aku percaya sama kamu,” sahutnya. “Tapi
aku nggak bisa mentolerir katidakjujuran kamu, itu aja,” jelasnya.
“Itu bukan percaya namanya,” Mita
melengos.
“Terserah kamu mau bilang apa tentang
keadaan ini, tapi kamu harus tahu, sampai detik ini aku selalu percaya sama
kamu,” timpal Wahyu santai.
Mita muak dengan obrolan yang tak sesuai
awalnya ini, ia pun berdiri dari duduknya. “Aku rasa obrolan kita udah terlalu ngawur,
kalau nggak ada yang mau kamu bicarain lagi soal Rey, aku pamit,” Mita mendorong
bangkunya kebelakang kemudian hendak meninggalkan Wahyu.
“Rey sakit, Mit,” ucap Wahyu pelan, tapi
cukup terdengar oleh telinga Mita. Mita mengurungkan niatnya utuk melangkah
pergi tanpa mambalikkan tubuhnya yang memunggungi meja itu. “Leukimia stadium
lanjut,” lanjut Wahyu. Mita seperti disambar petir detik itu juga. “Dan dokter bilang, umurnya udah nggak lama lagi,” suara
Wahyu semakin pelan. Mita ingin pingsan sekarang juga, Wahyu pasti bergurau,
Rey anak yang sehat, tidak mungkin ia mengidap penyakit mematikan itu. Tidak,
ia pasti salah dengar. “Tapi aku nggak percaya, Rey pasti akan tetap hidup
puluhan tahun lagi,” suara Wahyu terdengar sedang menghibur dirinya sendiri. Kaki Mita mendadak lemas seakan tak mampu
menopang tubuhnya, Mita menarik napas dalam-dalam. “Dua bulan terakhir, Rey
emang sering mimisan sampai pingsan segala, dan dokter menganjurkan Rey harus
menjalani tes laboraturium, dan aku setuju,”
jelas Wahyu. Air mata Mita menetes juga, seburuk itukah keadaan putranya
yang baru berumur lima tahun itu?
“Kenapa kamu baru kasih tahu aku
sekarang?” Mita membalikkan tubuhnya, menatap Wahyu yang diam tanpa ekspresi
lebih, hatinya sakit bukan main.
“Hasil tes itu baru keluar tadi pagi,”
jawab Wahyu. “Tadinya, aku mau langsung kasih tahu kamu, tapi aku….” Wahyu
tampak frustrasi. “Aku juga shock, Mit,” Wahyu memandangi wanita yang berdiri
mematung didepannya. Sisi rapuh itu terlihat jelas dalam diri mantan istrinya
itu.
“Tapi Rey masih bisa sembuh kan?” suara
Mita serak.
“Kemungkinannya kecil untuk sembuh
total,” tatapan Wahyu kosong, pikirannya tak karuan. “Tapi ada cara untuk
mencegah pertumbuhan penyakit itu,” tambahnya.
“Apa?” tanya Mita.
“Kemoterapi,” jawab Wahyu. “Dilakuin
sebanyak enam kali selama enam bulan,” jelas Wahyu.
Astaga! Apa itu kemoterapi? Bagaimana
rasanya kemoterapi itu? Bagaimana kalau menyakitkan? Apa Rey sanggup menjalani
semua itu sendirian? Mita membayangkan putranya yang akan sering keluar masuk
Rumah Sakit itu. Melawan penyakit mematikan itu seorang diri? Ya Tuhan, kenapa
harus Rey? Kenapa tidak dirinya saja? Kenapa takdir seakan mempermainkannya
seperti ini?
“Kamu setuju kalau Rey harus dikemo
setiap bulannya?” tanya Wahyu. Mita menatap Wahyu yang seperti orang tak
memiliki semangat hidup lagi. “Aku nggak mau ambil keputusan ini sendirian,
bagaimanapun kamu masih bagian dari Rey, kamu ibunya,” jelas Wahyu.
“Kalau emang itu yang terbaik buat Rey,
aku setuju,” sahut Mita tanpa memikirkan apapun lagi.
“Ok,” Wahyu meghela napas berat. “Mau
aku anter pulang?” Wahyu menawarkan diri.
“Aku mau ketemu sama Rey sekarang,” ujar
Mita seraya menghapus air matanya dengan kasar.
“Kamu mau ketemu Rey dalam keadaan kayak
gini?” tanya Wahyu seraya berdiri dari duduknya. Mita menautkan alisnya. “Rey
nggak suka kan liat kamu nangis?” imbuhnya. “Jadi, tenangin dulu diri kamu,”
ujar Wahyu.
“Yu, please!” Mita menatap Wahyu dengan
tatapan memohon. “Aku mohon,” rengek Mita. “Sebentar aja, aku janji!” katanya.
“Mit,
udah malem,” komentar Wahyu. “Besok aja, aku janji akan jemput kamu sepulang
dari kantor,” Wahyu tersenyum, Mita tahu itu hanya senyuman untuk menutupi
segala kecemasan hatinya. “Sekarang, aku anter kamu pulang.” katanya, ia
kembali menjadi pria yang kaku dan cuek. Mita pun memilih mengalah kali ini,
toh percuma ia bersikeras ingin bertemu Rey, Wahyu saja tak mengizinkannya sama
sekali. Kenapa hati Wahyu sekeras itu? “Yuk,” Wahyu berjalan mendahului Mita,
Mita pun mengikuti pria itu dari
belakang.
Jujur, ia juga amat rindu pada pria itu.

0 komentar:
Posting Komentar