Malaikat Kecil 1


        
       “Aw,” Mita melepaskan pisau yang ada ditangannya secara reflex, jari telunjuk kirinya mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Mita cepat-cepat menuju westafel yang ada dibelakangnya berdiri untuk mencuci darah ditangannya.
        “Kenapa, Mit?” seorang wanita paruhbaya muncul dengan mimik wajah khawatir seraya mendekati Mita yang sedang sibuk diwestafel.
        “Gapapa, Ma, Cuma kena pisau aja sedikit,” Mita menyudahi kesibukannya seraya menutup keran air diwestafel itu kemudian menghadap kearah wanita paruhbaya itu.
        “Yakin gapapa?” tanya ibunya itu. Mita mengangguk. “Lain kali ati-ati dong, Mit,” katanya lagi. “Yaudah obatin sana biar nggak infeksi,” imbuhnya lagi.
        “Iya, Ma,” sahut Mita kemudian meninggalkan ibunya untuk mengambil box P3K diruang tengah, ibunya pun mengikutinya dari belakang.
        “Kenapa sampe bisa kena pisau sih, Mit?” ibunya membalut luka dijari telunjuk Mita dengan kain kasa dan sedikit plester disofa ruang tengah itu.
        “Nggak tahu, Ma,” jawab Mita sambil memandangi luka yang sudah tertutup rapat itu.
        “Ngelamun lagi?” tanya ibunya seraya merapikan kotak P3K itu.
        Mita tak menyahut, apa iya ia sedang melamun saat sedang memotong-motong sayuran tadi? Hampir empat bulan ia tak pernah bertemu dengan Rey, putra sematawayangnya yang tinggal bersama suaminya usai insiden perceraian itu terjadi. Mita rindu Rey, apa kabar ia sekarang? Bagaimana sekolahnya? Siapa yang membuatkannya sarapan setiap paginya? Siapa yang membacakan buku dongeng sebelum ia tidur? Ah, Mita ingin memeluk malaikat kecilnya itu sekarang. Tapi sayang, Wahyu, mantan suaminya, tak pernah mengizinkan ia bertemu dengan Rey barang sedetik, alasannya klasik, mantan suaminya itu belum bisa melupakan semua yang terjadi, sesuatu yang menghancurkan rumah tangga mereka, suatu kejadian yang akhirnya memisahkan ia dan Rey.
        “Mit?” tangannya disentuh dengan lembut. Mita tersadar dari lamunannya. “Kenapa?” tanya ibunya.
        “Kangen aja sama Rey, Ma,” Mita tersenyum kecut. “Lagi apa ya dia sekarang?” Mita menatap jam besar yang ada tepat disebelah televisi. “Biasanya kalo jam segini pasti dia lagi main PS sama Ayahnya,” Mita mengamati jarum jam yang tak pernah berhenti berputar itu. Pukul lima sore.
        “Telepon sana,” sahut ibunya. “Mama juga kangen sama dia,” tambah ibunya.
        “Percuma, Ma,” Mita menghela napas lelah. “Wahyu pasti nggak izinin aku ngobrol sama Rey walaupun sebentar,” Mita menelan ludah getir.
        “Mit, kamu ibunya, dan kamu berhak atas Rey,” komentar ibunya seraya meremas jemari Mita.
        Pandangan Mita lurus kedepan, menatap televisi didepannya yang mati. Kalau saja Wahyu mau mengerti semua itu, ia tidak akan repot jika ingin bertemu Rey. Mita lelah dengan semua ini. Sangat lelah. Ia harus menerima semua kenyataan pahit dari perbuatan yang tak pernah ia perbuat. Mita benci keadaan ini. “Tapi, Wahyu yang memenangkan hak asuh Rey, Ma,” Mita enggan berharap lagi dapat bertemu Rey. “Wahyu punya hak penuh atas hal itu,” jelas Mita datar.
        “Sabar ya sayang,” ibunya itu mengusap rambutnya dengan lembut. “Tuhan punya rencana lain dibalik ini semua,” hibur ibunya. “Sekarang kamu focus aja sama kerjaan kamu dikantor,” ujar ibunya.
        “Iya, Ma,” Mita mengangguk. Dengan begitu, ia akan lupa pada Rey, walaupun tak sepenuhnya, tapi setidaknya saat bekerja, ia bisa sedikit meminimalisir rasa kerinduannya pada Rey.
        “Mita harus kuat,” kata ibunya tersenyum simpul. Mita pun membalas senyuman itu, dan itu senyum ketulusan.

₯₯₯

        Mita menatap monitor computer didepannya siang itu, banyak sekali berkas yang harus ia serahkan pada Bossnya, jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, tapi ia masih enggan beranjak dari tempatnya duduk, baginya sekarang waktu adalah uang. Sebenarnya Mita tak perlu bekerja keras seperti ini, karena orangtuanya termasuk orang yang berkecukupan, Ayah Mita seorang Direktur disebuah perusahaan, apapun yang ia mau pasti bisa ia dapatkan. Tapi itu tidak pernah berlaku lagi semenjak ia menikah dengan Wahyu Damara, yang sekarang mantan suaminya, saat menikah dengan Wahyu, Mita bukanlah tanggung jawab orangtuanya lagi, ia sepenuhnya tanggung jawab Wahyu, tapi setelah bercerai, Mita tak lantas ingin menyusahkan orangtuanya lagi, ia sudah terbiasa mandiri dengan cara menghidupi dirinya dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Itu sudah membuat Mita bahagia meskipun tanpa sosok suami disisinya. Rey adalah kekuatannya untuk tetap bertahan sampai detik ini, Rey motivasi hidupnya disela kehancuran rumah tangganya dengan Wahyu.
        “Mit, makan siang, yuk!” suara Eris membuat Mita mengalihkan pandangannya dari computer didepannya. “Udah siang banget nih,” katanya lagi.
        “Duluan aja, Ris, gue lagi nanggung nih,” Mita kembali memusatkan perhatiannya pada monitor.
        “Ntar maag loe kambuh lagi gimana?” Eris tampak khawatir melihat temannya yang terlalu memforsir tenaganya itu. “Gue beliin ya?” tanyanya.
        “Nggak usah, bentar lagi juga gue pasti keluar cari makan,” tolak Mita. “Udah sana, nanti cewek loe marah lagi karena nunggu kelamaan,” Mita malah bergurau.
        “Dih, malah ngeledek,” tukas Eris. “Yaudah kalo loe masih tetep mau disini,” katanya. “Gue cabut ya,” imbuhnya.
        “Iya,” jawab Mita singkat.
        “Kalo perlu apa-apa, telepon aja gue,” Eris berjalan meninggalkan meja Mita.
        Thanks, Ris,” seru Mita.
            Eris adalah sahabat Mita sejak ia menjadi pegawai dikantor itu, Eris pria yang baik, menyenangkan, memiliki selera humor tinggi, ramah, sopan, dan sangat lembut pada perempuan. Berbanding terbalik dengan Wahyu, pria itu cenderung serius, tegas, jauh dari kesan ramah apalagi menyenangkan, tapi itu semua tak lantas membuat Mita lebih tertarik pada Eris, ia justru tertarik pada Wahyu Damara, pria angkuh yang sangat konsisten dengan ucapannya. Pria yang Mita temui disebuah meeting antara perusahaan tempatnya bekerja dan perusahaan tempat Wahyu bekerja, disitulah hati mereka saling terpaut. Yang kemudian berujung pada sebuah pernikahan indah yang didalamnya terdapat seorang malaikat kecil bernama Rey Nairo Damara, buah cinta dari pernikahan indah itu. Pernikahan yang akhirnya berujung sebuah perceraian, perceraian yang disebabkan dari sebuah perbuatan yang tak pernah Mita perbuat. Semuanya hancur saat Mita dituduh selingkuh dengan pria lain dengan berbagai macam embel-embel foto mesra tentang perselingkuhan itu, disitulah semua yang telah ia bangun hancur berantakkan. Kerasnya hati Wahyu tak bisa Mita elakkan, perceraianlah jalan keluarnya. Mita kehilangan semuanya, Rey, Wahyu, kepercayaan dari Wahyu pun lenyap begitu saja. Semuanya hanya tinggal kepingan kecil sekarang, tak bisa kembali utuh seperti sedia kala. Mustahil. Wahyu menghindarinya, memutuskan komunikasi dengannya, ia tak suka Wahyu yang sekarang. Wahyu yang egois, Wahyu yang ketus, Wahyu yang jauh dari kata menynangkan. Mita menghela napas lelah. Andai saja Wahyu mau sedikit lebih memahami inisiden itu.
₯₯₯

        Mita berjalan keluar dari gedung besar dan tinggi itu bersama Eris tepat pukul delapan malam, biasanya jam pulang kantor adalah jam tujuh tepat, tapi ada pekerjaan yang harus Mita selesaikan, Eris memaksa ingin menemani Mita, padahal Mita sudah berkali-kali menyuruh pria itu pulang, tapi itulah Eris, keras kepala.
        “Yakin nggak mau gue anter pulang?” tanya Eris saat mereka tiba diparkiran. “Loe kan lagi nggak bawa mobil,” imbuhnya.
        “Kan gue bisa naik taksi aja,” jawab Mita. “Udah sana pulang, jam Sembilan nanti loe mau pergi kan sama Grace?” Mita tahu Eris akan pergi bersama Grace, pacarnya.
        “Tapi…”
        “Eris, gue bisa pulang sendiri,” sela Mita seraya tersenyum. “Lagian gue juga maksih banget tadi ditemenin sampe pulang.” tambahnya.
        “Yaudahlah,” Eris mengalah juga. “Ati-ati loe,” Eris pun menghampiri mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Mita pun meninggalkan arena perkir itu untuk menunggu taksi, tapi tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat didepan Mita berdiri. Kaca mobil bagian depan itu terbuka.
        “Mita,” seorang pria dengan setelan jas hitam duduk dibelakang kemudi.
        “Kamu,” Mita shock saat tahu orang yang ada didalam mobil itu adalah Wahyu. Mau apa pria itu? Pikirnya.
        Wahyu turun dari mobilnya, kemudian menghampiri Mita yang diam mematung. “Ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu,” ujar Wahyu tanpa basa-basi lagi. Itulah Wahyu, tak banyak omong.
        “Soal apa?” tanya Mita tanpa membalas tatapan mata hangat itu. “Kalau nggak terlalu penting, aku pulang aja, udah malem,” imbuhnya seraya melangkah pergi meninggalkan Wahyu.
        “Soal Rey,” nama itu membuat Mita menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Wahyu masih memunggungi Mita, ia yakin Mita berhenti.
        “Kenapa, Rey?” tanya Mita tetap diposisinya.
        “Kita nggak bisa ngobrol disini,” Wahyu berbalik, kemudian hendak berjalan menuju mobilnya. “Ayo ikut aku,” Wahyu berjalan terlebih dulu.
        Mita diam sebentar, ada apa sebenarnya, kenapa raut wajah Wahyu tak seperti biasanya, Mita melihat kesedihan luar biasa dimata itu, apa sesuatu yang buruk sedang menimpa Rey? Ah, Mita tak boleh berpikir macam-macam. Lihat, bahkan Wahyu enggan menggenggam tangannya lagi saat ingin membawanya pergi, apa Wahyu benar-benar ingin melupakannya? Menghapus memori indah yang pernah terjadi diantara mereka dalam ingatnnya? Apa Wahyu sudah berhenti mencintainya? Mita tak mengerti hal itu.
        “Mita,” seru Wahyu dari sebelah mobilnya. Mita menoleh kearah Wahyu. “Cepet,” katanya lagi seraya membuka pintu mobilnya dan beringsut masuk. Mita menghela napas, kemudian berjalan menuju mobil itu.

₯₯₯

      Mita memesan Capuchino float sama seperti Wahyu saat mereka berada disebuah café yang tak jauh dari kantor tempat Mita bekerja, seleranya memang sama dengan Wahyu, sama persis. Mita menyesap capuchino-nya sedikit, kemudian memandangi Wahyu yang sedari tadi lebih banyak diam dan melamun, tatapan matanya kosong seperti orang bingung.
        “Jadi,” Mita meletakkan cangkirnya diatas meja. “Apa yang mau kamu omongin?” tanya Mita.
        “Rey kangen sama kamu, dia pengen ketemu sama kamu,” jawab Wahyu datar.
        Mita memalingkan wajahnya, ucapan seperti ini sering sekali Wahyu lontarkan padanya, tapi nyatanya, Wahyu tak pernah mempertemukannya dengan Rey. “Jadi hal pentingnya cuma itu?” Mita menghela napas kesal. “Udah biasa kan, kamu selalu bilang sama aku kalau Rey kangen sama aku dan pengen ketemu,” Wahyu menatapnya. “Tapi, kamu nggak pernah izinin aku untuk ketemu sama dia,” tambahnya. “Maksud kamu apa si, Yu?” Mita menyandarkan punggungnya disandaran bangkunya. “Kamu mau bilang kalau Rey itu nggak butuh sosok ibu dalam hidupnya, dengan cara kayak gini kamu sama aja mempermainkan aku,” Wahyu memalingkan wajahnya. “Kamu mau bilang, kalau kamu bangga bisa mengurus Rey sendiri, ngebiarin Rey tumbuh tanpa aku disisinya, begitu mau kamu?” Mita menghembuskan napasnya.
        “Mita, kamu nggak….”
        “Soal insiden perselingkuhan itu?” sela Mita. Mata Wahyu membulat. “Kenapa si kamu belum bisa ngelupain semua itu?” Mita menyetel suaranya sepelan mungkin. “Lihat, bukan hanya aku yang menderita, tapi Rey juga ikut menderita dengan sikap keras kepala kamu,” Mita menatap mantan suaminya itu.
        “Mita, cukup!” bwntak Wahyu keras. Mita tersentak, kemudian ia memalingkan wajahya. “Aku nemuin kamu bukan untuk membahas masalah kita,” katanya. “Apa kamu pikir aku nggak menderita dengan keadaan ini?” Wahyu memandangi Mita yang duduk didepannya. “Apa kamu pikir aku mau mengorbankan Rey dalam masalah ini?” Wahyu meamalingkan wajahnya. “Nggak, Mit,” ujar Wahyu dengan suara pelan.
        Mita mengalihkan pandangannya kearah Wahyu yang menunduk. “Kenapa kamu nggak percaya sama aku?” tanyanya. Wahyu mengangkat wajahnya, menatap Mita. “Kenapa?” Mita bertanya lagi.
        “Aku percaya sama kamu,” sahutnya. “Tapi aku nggak bisa mentolerir katidakjujuran kamu, itu aja,” jelasnya.
        “Itu bukan percaya namanya,” Mita melengos.
        “Terserah kamu mau bilang apa tentang keadaan ini, tapi kamu harus tahu, sampai detik ini aku selalu percaya sama kamu,” timpal Wahyu santai.
        Mita muak dengan obrolan yang tak sesuai awalnya ini, ia pun berdiri dari duduknya. “Aku rasa obrolan kita udah terlalu ngawur, kalau nggak ada yang mau kamu bicarain lagi soal Rey, aku pamit,” Mita mendorong bangkunya kebelakang kemudian hendak meninggalkan Wahyu.
        “Rey sakit, Mit,” ucap Wahyu pelan, tapi cukup terdengar oleh telinga Mita. Mita mengurungkan niatnya utuk melangkah pergi tanpa mambalikkan tubuhnya yang memunggungi meja itu. “Leukimia stadium lanjut,” lanjut Wahyu. Mita seperti disambar petir detik itu juga. “Dan dokter  bilang, umurnya udah nggak lama lagi,” suara Wahyu semakin pelan. Mita ingin pingsan sekarang juga, Wahyu pasti bergurau, Rey anak yang sehat, tidak mungkin ia mengidap penyakit mematikan itu. Tidak, ia pasti salah dengar. “Tapi aku nggak percaya, Rey pasti akan tetap hidup puluhan tahun lagi,” suara Wahyu terdengar sedang menghibur dirinya sendiri.  Kaki Mita mendadak lemas seakan tak mampu menopang tubuhnya, Mita menarik napas dalam-dalam. “Dua bulan terakhir, Rey emang sering mimisan sampai pingsan segala, dan dokter menganjurkan Rey harus menjalani tes laboraturium, dan aku setuju,”  jelas Wahyu. Air mata Mita menetes juga, seburuk itukah keadaan putranya yang baru berumur lima tahun itu?
        “Kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang?” Mita membalikkan tubuhnya, menatap Wahyu yang diam tanpa ekspresi lebih, hatinya sakit bukan main.
        “Hasil tes itu baru keluar tadi pagi,” jawab Wahyu. “Tadinya, aku mau langsung kasih tahu kamu, tapi aku….” Wahyu tampak frustrasi. “Aku juga shock, Mit,” Wahyu memandangi wanita yang berdiri mematung didepannya. Sisi rapuh itu terlihat jelas dalam diri mantan istrinya itu.
        “Tapi Rey masih bisa sembuh kan?” suara Mita serak.
        “Kemungkinannya kecil untuk sembuh total,” tatapan Wahyu kosong, pikirannya tak karuan. “Tapi ada cara untuk mencegah pertumbuhan penyakit itu,” tambahnya.
        “Apa?” tanya Mita.
        “Kemoterapi,” jawab Wahyu. “Dilakuin sebanyak enam kali selama enam bulan,” jelas Wahyu.
        Astaga! Apa itu kemoterapi? Bagaimana rasanya kemoterapi itu? Bagaimana kalau menyakitkan? Apa Rey sanggup menjalani semua itu sendirian? Mita membayangkan putranya yang akan sering keluar masuk Rumah Sakit itu. Melawan penyakit mematikan itu seorang diri? Ya Tuhan, kenapa harus Rey? Kenapa tidak dirinya saja? Kenapa takdir seakan mempermainkannya seperti ini?
        “Kamu setuju kalau Rey harus dikemo setiap bulannya?” tanya Wahyu. Mita menatap Wahyu yang seperti orang tak memiliki semangat hidup lagi. “Aku nggak mau ambil keputusan ini sendirian, bagaimanapun kamu masih bagian dari Rey, kamu ibunya,” jelas Wahyu.
        “Kalau emang itu yang terbaik buat Rey, aku setuju,” sahut Mita tanpa memikirkan apapun lagi.
        “Ok,” Wahyu meghela napas berat. “Mau aku anter pulang?” Wahyu menawarkan diri.
        “Aku mau ketemu sama Rey sekarang,” ujar Mita seraya menghapus air matanya dengan kasar.
        “Kamu mau ketemu Rey dalam keadaan kayak gini?” tanya Wahyu seraya berdiri dari duduknya. Mita menautkan alisnya. “Rey nggak suka kan liat kamu nangis?” imbuhnya. “Jadi, tenangin dulu diri kamu,” ujar Wahyu.
        “Yu, please!” Mita menatap Wahyu dengan tatapan memohon. “Aku mohon,” rengek Mita. “Sebentar aja, aku janji!” katanya.
        “Mit, udah malem,” komentar Wahyu. “Besok aja, aku janji akan jemput kamu sepulang dari kantor,” Wahyu tersenyum, Mita tahu itu hanya senyuman untuk menutupi segala kecemasan hatinya. “Sekarang, aku anter kamu pulang.” katanya, ia kembali menjadi pria yang kaku dan cuek. Mita pun memilih mengalah kali ini, toh percuma ia bersikeras ingin bertemu Rey, Wahyu saja tak mengizinkannya sama sekali. Kenapa hati Wahyu sekeras itu? “Yuk,” Wahyu berjalan mendahului Mita, Mita pun mengikuti pria itu dari
belakang. Jujur, ia juga amat rindu pada pria itu.

0 komentar:

Posting Komentar