“Ayah!” Wahyu berdiri dari duduknya saat
melihat putra kecilnya berlari-lari kecil kearahnya sambil membawa sebuah
kertas. Wahyu menyambutnya dengan senyuman. “Liat nih, Yah,” bocah bernama Rey
itu menyerahkan selembar kertas itu pada Wahyu. Wahyu mengamati kertas yang
ternyata terdapat sebuah gambar didalamnya. Dikertas itu, Rey menggambar tiga
orang yang sedang saling bergandengan tangan, salah satu dari orang itu masih
sangat kecil dan berdiri ditengah, nama Rey tertera diatas gambar bocah lelaki
itu. Disebelah kanan ada gambar bertuliskan ‘Ayah’ dan gambar disebelah kiri
bertuliskan ‘Bunda’. Rey duduk dikursi tunggu yang diduduki Ayahnya tadi. Wahyu
pun ikut duduk disebelah putranya itu. “Bagus kan, Yah gambar buatan Rey?”
tanyanya antusias seraya memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sedang
berjalan bersama ibu mereka masing-masing untuk pulang kerumah.
“Bagus,”
komentar Wahyu seraya mengusap rambut putranya itu. “Anak Ayah udah pinter yah
sekarang,” pujinya pada Rey. Rey hanya mengulum senyum bangga.
“Nanti
kalo Rey ketemu sama Bunda, Rey mau kasih liat gambar itu ke Bunda,” katanya
antusias. Wajah Wahyu berubah muram, ini kesekian kalinya Rey menyebut kata
Bunda, Bunda dan Bunda didepannya. Sebegitu rindukah Rey pada Mita?
“Rey
kangen sama Bunda?” tanya Wahyu seraya menggulung kertas ditangannya itu.
“Iya,”
jawab Rey seraya tersenyum, senyum itu selalu mengingatkannya pada senyuman
Mita, Rey persis seperti Mita, ramah senyum. “Kita kerumah Bunda yuk, Yah!”
pintanya.
“Rey,
jam segini itu Bunda lagi sibuk kerja,” sahut Wahyu.
“Sebentar
aja kok, Yah,” rajuknya. “Ya ya ya,” Rey memohon.
Wahyu
tak menyahut, ia tak mungkin membiarkan Rey bertemu Mita dalam keadaan seperti
sekarang, ia yakin Mita masih belum bisa menerima semua kenyataan pahit yang
dialami Rey. Tidak, Rey tidak akan bertemu Mita sekarang.
“Ayah!”
rengek Rey. Wahyu tersentak kaget. “Ayo,” ajaknya.
“Lain
kali aja ya sayang, Ayah sibuk hari ini,” lagi-lagi alasan itu yang terlontar
dari mulut Wahyu.
“Yaaaah,”
Rey tampak kecewa.
“Sekarang
kita pulang ya,” Wahyu berdiri sambil menggenggam tangan mungil putranya itu.
Rey pun menurut saja.
“Yah,”
Rey mendongakkan kepalanya memperhatikan Ayahnya yang berjalan disampingnya.
“Ya?”
sahut Wahyu.
“Kenapa
sih kita nggak tinggal aja sama Bunda?” tanyanya. “Kenapa Rey tinggalnya sama
Ayah aja, kenapa nggak sama Bunda juga?” imbuhnya. “Temen-temen Rey aja
tinggalnya sama Mama Papanya, kenapa Rey enggak?” Rey menunduk, menatap lantai
berwarna merah maroon yang ia pijak itu.
Wahyu
menahan napasnya, kenapa Rey tanyakan hal itu padanya? Bagaimana cara ia
menjawabnya? Wahyu menatap wajah lugu Rey yang berjalan disampingnya. Andai
saja Rey mengerti semua yang terjadi, pasti semua tak akan serumit ini. Rey
masih terlalu kecil untuk mengetahui lebih jauh mengenai sebuah perceraian
antara ia dan Mita, ibunya.
“Ayah
kok diem aja?” tanya Rey saat pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban. “Rey
salah ngomong ya?” imbuhnya.
Wahyu
berhenti, kemudian bersimpuh didepan Rey, menyamai tinggi putranya itu. “Rey,
dengerin Ayah,” katanya seraya menyentuh bahu Rey. “Nanti kalo Rey udah dewasa,
Rey pasti ngerti,” jelas Wahyu seraya tersenyum. Rey menatap Ayahnya, sejurus
kemudian ia tersenyum. Wahyu mengacak rambut putranya itu seraya tersenyum simpul.
“Sekarang, Rey mau apa?” tanyanya.
“Ehm,”
Rey tampak berpikir. “Ice cream aja boleh nggak, Yah?” tanyanya lugu.
“Boleh
dong,” Wahyu berdiri, kemudian menggandeng tangan Rey. “Yuk!” ia pun membawa
Rey pergi dari sekolah yang mulai sepi itu.
₯₯₯
Mita
memasuki sebuah rumah besar malam itu, menyapu pandangannya ke seluruh penjuru
rumah yang pernah ia tinggali itu, rumah Wahyu, yang sekarang mantan suaminya.
Rumah itu tak banyak berubah, sama seperti dulu saat ia masih mengambil alih
semua yang ada dalam rumah itu. Jujur, ia rindu suasana rumah ini, rindu setiap
moment yang pernah ia ukir bersama Wahyu dan juga Rey sebagai sebuah keluarga
kecil yang amat bahagia. Tapi sekarang? Moment itu tak pernah terulang lagi,
moment dimana ia, Wahyu, dan Rey tertawa bersama, makan dimeja makan bersama
dengan obrolan-obrolan yang mengundang gelak tawa, semua itu tinggal kenangan.
Yah, hanya secuil kenangan yang amat berarti. Dan malam ini, Wahyu menepati
janjinya kemarin malam untuk mempertemukannya dengan Rey.
“Rey,”
seru Wahyu, suaranya menggema keseluruh penjuru rumah itu. Mita berjalan pelan
dibelakang Wahyu, langkahnya canggung saat menginjakkan kakinya lagi dirumah
ini.
“Ayah!”
seorang bocah lelaki yang mengenakan baju tidur muncul dengan riang melihat
Ayahnya sudah pulang.
Mita
menatap bocah lelaki itu dari belakang Wahyu yang belum menyadari kehadiran
dirinya, terlihat Rey menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Wahyu. Mita
seperti mimpi melihat tawa dan senyum itu lagi, Rey yang ceria. Ah, ia ingin
memeluk malaikat kecilnya itu sekarang.
“Ayah,
kenapa baru pulang?” tanya Rey manja, seraya bergelayut dilengan Ayahnya.
“Ayah
jemput seseorang dulu,” jawab Wahyu seraya tersenyum.
“Siapa?”
tanya Rey seraya menyapu pandangannya, dan ia mendapati ibunya berdiri didepannya,
orang yang ia tunggu kehadirannya setiap hari. “Bunda!” wajah Rey tampak
sumringah melihat ibunya itu.
Mita
bersimpuh menyamai tinggi putranya itu, ditatapnya bocah lelaki didepannya,
sejurus kemudian ia memeluk malaikat kecilnya itu erat. Menumpahkan segala
kerinduannya pada Rey, orang yang selalu ingin ia temui setiap harinya. Dan
sekarang, ia benar-benar ada didepan Rey, memeluknya, menatap wajahnya yang
seperti malaikat, semuanya benar-benar membuatnya bahagia. “Bunda kangen banget
sama Rey,” bisik Mita. Wahyu berdiri dari posisinya.
“Rey
juga, Bunda,” katanya lugu. Mita melepaskan pelukannya dari Rey, ia tatap lagi
anak kesayangannya itu dalam-dalam, siapa yang menyangka jika anaknya itu
sedang sakit. Baginya, Rey tetap putranya yang terhebat, Rey tetap jagoan
kecilnya. Malaikat kecilnya. “Bunda mau tinggal disini lagi kan sama Rey?”
tanyanya.
Mita
mengusap rambut Rey pelan, kemudian ia menatap Wahyu yang berdiri dibelakang
Rey, Wahyu memalingkan wajahnya, berpura-pura seperti tidak mendengarkan
pembicaraan antara Rey dan dirinya. “Enggak,” jawab Mita seraya mengukir
senyum.
“Malem
ini Bunda mau nemenin Rey bobo,” Wahyu menambahi seraya memasukkan ibu jarinya
kedalam kantung celananya.
“Iya,
Bunda?” Rey menatap ibunya.
“Iya
sayang,” Mita tersenyum simpul.
“Asiiiik,
Rey udah lama banget nggak bobo sama Bunda,” Rey tampak bahagia. Mita pun
tertawa kecil melihat wajah Rey yang sangat riang itu, sudah lama ia tak
melihat wajah sumringah itu.
“Yaudah,
sekarang Rey masuk kamar ya, Ayah mau ngomong sebentar sama Bunda,” perintah
Wahyu lembut. Rey tak menyahut, ia pun pergi meninggalkan kedua orangtuanya
itu. Mita berdiri dari duduknya, Wahyu duduk disofa ruang tengah itu, melepas
dasi dan sepatunya. Pekerjaan hari ini membuatnya sangat lelah.
“Makasih
ya, Yu,” Mita mendekati Wahyu.
“Buat
apa?” tanya Wahyu.
“Kamu
udah ngizinin aku ketemu sama Rey,” jawab Mita.
“Rey
masih hak kamu juga, kan?” Wahyu menggeser posisi duduknya. “Duduk,”
perintahnya pada Mita seraya menunjuk tempat kosong disebelahnya. Mita pun
duduk disebelah Wahyu. “Aku lakuin ini semua semata-mata karena Rey,” kata
Wahyu.
“Ya,
aku ngerti,” pandangan Mita lurus kedepan.
“Bagus
kalo kamu ngerti, Rey butuh kamu, sangat membutuhkan kamu,” Wahyu berdiri
dari duduknya. “Apapun akan aku lakuin
asalkan Rey bahagia,” tambahnya.
Mita
paham, dirinya memang telah terhapus dalam hati Wahyu, dihati Wahyu sudah tak
ada namanya lagi, tak ada tempat untuknya lagi, dan tak ada cinta untuknya
lagi. Tapi, ia selalu menempatkan pria itu dihatinya sampai detik ini, pria itu
masih memiliki tempat dihatinya, selalu dan selau.
“Udah
malem, mending sekarang kamu tidur,” ujar Wahyu. “Rey pasti udah nunggu kamu,”
Wahyu meninggalkan Mita yang masih diam ditempatnya. Mita memandangi Wahyu yang
berjalan menjauh, pria itu banyak berubah dimatanya.
Mita
berjalan menuju kamar Rey, dibukanya pintu kamar itu, didapatinya Rey sedang
bermain dengan mainannya diatas tempat tidur, Mita tak bisa membayangkan jika
hal buruk akan menimpa putranya itu, apa ia masih akan tetap melihat senyum
manis putranya itu lagi besok. Mita takut kehilangan Rey.
“Hey,
kok belum tidur?” Mita duduk diatas tempat tidur itu.
“Nungguin
Bunda,” jawabnya tersenyum.
“Udah
malem, bobo yuk!” Mita mengacak rambut Rey yang agak pirang itu. Rey mengangguk
seraya merapikan semua mainannya, Mita pun ikut membantunya kemudian
meletakkannya diatas meja nakas. Rey merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur
itu. Mita pun merebahkan tubuhnya disebelah Rey.
“Rey
seneng deh, Bun,” Rey membuka pembicaraan.
“Seneng?”
tegas Mita. Rey mengangguk. “Kenapa?” tanyanya.
“Rey
ketemu sama Bunda lagi, bobo sama Bunda lagi,” jawabnya antusias. “Janji ya,
Bunda nggak boleh ninggalin Rey lagi, Bunda harus terus ada sama Rey,” katanya
lagi seraya mengelus pipi ibunya itu. Mita menyentuh tangan mungil yang ada
dipipinya itu, diremasnya tangan Rey yang hangat itu. “Janji ya, Bun,” imbuh
Rey.
“Janji,”
ujar Mita tersenyum. Baginya, kebahagiaan Rey adalah prioritas utamanya saat
ini, ia tak peduli halangan yang akan menyulitkan posisinya, ia akan terus
mendampingi Rey, menemaninya, memberikan kebahagiaan yang memang berhak Rey
dapatkan dari seorang ibu seperti dirinya.
“Bunda
sayang kan sama Rey?” tanya Rey lagi.
“Seorang
ibu pasti dan selalu menyayangi anaknya, sayang.” Mita tersenyum seraya
membelai rambut Rey. Rey tersenyum, kemudian ia memejamkan matanya, tangan
mungilnya itu menggenggam tangannya erat, seakan tak ingin ia pergi darinya.
“Rey, kalo aja kamu ngerti gimana posisi Bunda saat ini,” Mita tersenyum getir
seraya menatap wajah Rey yang tenang saat tertidur seperti ini. Ia pun mengecup
kening malaikat kecilnya itu.
“Mita,”
seorang dengan piyamanya membuka pintu kamar itu. “Kamu…”
“Rey
nggak mau lepasin tangan aku, jadi biarin aku tidur disini sama dia,” sela
Mita. Wahyu mengangguk maklum, kemudian ia menyelimuti mantan istri dan
putranya itu, kemudian ia kecup kening Rey seperti yang dilakukan Mita tadi.
“Selamat
tidur,” Wahyu pun keluar dari kamar itu setelah sebelumnya mematikan lampu
kamar itu.
₯₯₯
Minggu Pagi…..
Mita
memandangi putranya yang terbaring tak berdaya disebuah ruangan khusus itu
bersama seorang dokter dan suster dari luar ruangan itu, terlihat Rey
menggenggam erat tangan suster itu dengan matanya yang terpejam, dokter itu
sibuk memasukkan obat-obatan kedalam tubuh Rey melalui beberapa jarum suntik.
Ini kemoterapi pertama Rey. Mita tahu kemoterapi itu pasti sangat menyakitkan,
terbukti saat Rey menggenggam tangan suster itu erat-erat, kalau saja ia boleh
berada didalam sana, ia akan berusaha menguatkan putra kecilnya itu. Ikut
merasakan apa yang malaikat kecilnya itu rasakan. Hati Mita menjerit pilu,
kenapa Tuhan memberikan penyakit mematikan itu dalam tubuh Rey? Kenapa?
“Kalau
bisa, Bunda rela menukar posisi itu Rey, biar Bunda aja yang ngerasain sakit
itu,” gumam Mita. “Tapi Bunda nggak bisa,” bahu Mita bergetar.
“Rey
itu anak yang kuat, kamu harus tahu itu,” sahut seseorang. Mita menoleh,
didapatinya Wahyu sudah berdiri lagi dibelakangnya. “Aku yakin dia pasti bisa
melewati semua masa sulit ini,” Wahyu berusaha tegar dihadapan Mita, semua itu
ia lakukan agar dapat memotivasi Mita untuk bisa seperti dirinya dalam keadaan
ini.
“Kenapa
harus Rey?” Mita kembali mengamati Rey didalam sana. “Kenapa bukan aku?” gumam
Mita.
“Kenapa
harus kamu?” tanya Wahyu. “Kamu nggak sekuat Rey,” ujar Wahyu. Mita menelan
ludah pahit. “Kamu motivasinya Rey untuk tetap bertahan sampai saat ini, jadi
kamu juga harus belajar untuk menjadi wanita dan ibu yang kuat buat Rey,” jelas
Wahyu panjang lebar.
Mita
berbalik, berjalan sedikit mendekati kursi tunggu lalu duduk disana, Wahyu
benar, ia tak boleh menjadi wanita dan ibu yang cengeng dan rapuh, ia harus
bisa lebih kuat dibandingkan Rey. Rey napasnya, nadinya, dan separuh jiwanya.
Mita tak mau kehilangan separuh jiwanya, kehilangan Wahyu sudah cukup baginya.
Separuh napasnya.
“Kamu
bener, Yu,” Mita menghapus air matanya. “Aku harus kuat didepan Rey,” lanjutnya
seraya berdiri dari duduknya.
“Dengan
orangtua Rey?” seorang pria paruhbaya keluar dari ruangan itu, Dokter yang
menangani Rey dari awal Rey check up mengenai kesehatannya.
“Iya,
Dok?” Wahyu mendekati pria berkaca mata minus itu. Mita mengikuti Wahyu.
“Kemoterapinya berjalan baik kan, Dok?” tanya Wahyu.
“Tubuh
Rey menolak obat-obatan yang kami berikan, kondisi Rey menurun saat melakukan
kemoterapi ini, maka dari itu tubuhnya tak bisa merespon obat-obatan yang kami
berikan,” jelas Dokter itu. Wahyu menoleh kebelakang, didapatinya Mita diam
mematung ditempatnya berdiri, Wahyu tahu wanita itu shock. “Dan itu membuat Rey
sempat kejang-kejang saat kami sudah memasukkan obat-obatan itu kedalam
tubuhnya,” lanjut pria itu.
“Sekarang,
bagaimana keadaan Rey?” tanya Wahyu yang juga cukup shock.
“Dia
masih tidur karena tadi kami sempat memberinya obat penenang,” jawab Dokter
itu. Wahyu menyeka hidungnya. “Saya permisi,” pamitnya lalu meninggalkan Wahyu
dan Mita.
“Mit?”
Wahyu berbalik, didapatinya Mita masih diam tanpa ekspresi ditempatnya. Wahyu
mendekati wanita itu. “Mit?” ulang Wahyu seraya menyentuh bahu Mita. Mita
tersentak dari lamunannya. “Ini baru kemoterapi pertama, masih ada lima
kemoterapi selanjutnya, kamu yakin kan kalau Rey bisa melewati itu semua?”
tanya Wahyu.
Mita
menghela napas berat, matanya sembab, dadanya sesak karena terus menahan
tangis. “Ya, aku yakin Rey pasti bisa,” Mita meyakinkan dirinya sendiri. “Rey
anak yang kuat!” Mita sesenggukan. Wahyu mengangguk seraya tersenyum tipis.
₯₯₯
Mita
duduk disebuah bangku panjang yang ada dihalaman belakang rumah sakit malam itu
sendirian, ia merapatkan jaket rajutnya saat angin berhembus menyelusup kedalam
tubuhnya, angin malam ini cukup membuat telapak tangannya dingin. Mita
memandangi langit tanpa bintang itu, pikirannya mengangkasa, banyak hal yang ia
pikirkan, Rey, Wahyu, dan tentu saja dirinya sendiri. Ia merasa dirinya persis
seperti kapal yang ada ditengah laut lepas tanpa penunjuk arah yang tak tahu
harus kemana, berlabuh dimana, bersandar dimana, ia tak pernah mengerti
hidupnya yang sekarang. Setiap pagi, ia berangkat ke kantor, dan saat malam
tiba ia pulang kerumah, makan malam lalu tertidur. Ia terus melakukan itu
setiap hari, sama sekali tak berkesan. Rey, begitu banyak moment yang hilang
bersama malaikat kecilnya itu, terlalu banyak yang sia-sia dalam hidupnya
setelah ia berpisah dengan Wahyu. Dan sekarang, saa ia kembali kepada Rey, itu
justru karena Rey sakit dan hanya ia yang dibutuhkannya. Menyakitkan. Andai ia
bisa memutar waktu, andai Wahyu mau mendengar penjelasannya, semua tak akan
seperti sekarang. Ah, tak ada gunanya menyesal sekarang. Piker Mita.
“Nih,”
seseorang menyodorkan minuman kaleng tepat didepan wajahnya. Mita menoleh,
Wahyu berdiri disampingnya kemudian duduk disebelahnya saat ia sudah menerima
minuman kaleng itu. “Ngapain kamu disini? Kenapa nggak jagain Rey?” tanya pria
disebelahnya seraya menyeruput minumannya.
“Suntuk,”
jawabnya asal. “Terlalu lama liat Rey nggak berdaya kayak gitu, aku nggak
tega,” akunya seraya membuka minuman kaleng itu lalu menyeruputnya sedikit.
“Aku
sedang berusaha menerima semuanya,” kata Wahyu, pandangannya menerawang jauh ke
angkasa. “Mungkin ini yang Tuhan mau,” Wahyu tersenyum kecut. “Dia ambil kamu
dari aku, lalu Dia akan mengambil Rey juga,” Wahyu tertawa kecil.
“Yu,
Tuhan nggak akan ambil Rey, Rey pasti sembuh, kamu nggak boleh putus asa,”
tukas Mita, menatap Wahyu dalam-dalam.
“Aku
tahu, Rey pasti sembuh, pasti!” katanya. “Bagaimanapun caranya pasti aku lakuin
asal Rey sembuh dan sehat kayak dulu lagi,” katanya. “Meskipun nyawa aku
sekalipun taruhannya,” gumam Wahyu seraya menunduk. Mita melihat kesedihan
teramat dalam diri pria itu.
“Kalau
manusia adalah penentu takdir seperti Tuhan, aku nggak mau semuanya serumit
sekarang,” Mita menatap angkasa. “Tapi sayang, aku cuma manusia yang nggak bisa
berbuat apapun dalam keadaan rumit ini,” Mita tersenyum kecut.
“Kalau
dengan cara seperti ini Tuhan mengajarkan aku untuk lebih dewasa, aku akan
terus bersabar,” timpal Wahyu seraya menatap wanita disebelahnya. Mita membalas
tatapan itu. Wahyu meneguk minumannya kemudian melempar kalengnya jauh-jauh
kedepan. Mita ingin memeluk pria disebelahnya itu sekarang, merasakan apa yang
pria itu rasakan, dan berusaha menenangkan hati pria yang sedang frustrasi itu.
Kalau saja ia bisa. Yah, kalau saja ia bisa melakukan itu semua. “Teruslah ada
bersama Rey, Mit, jangan pernah tinggalin dia lagi, kamu napas Rey saat ini,”
Wahyu berdiri, kemudian meninggalkan Mita sendirian ditempat itu. Apa
maksudnya? Pikir Mita.

0 komentar:
Posting Komentar