Malaikat Kecil 2



     “Ayah!” Wahyu berdiri dari duduknya saat melihat putra kecilnya berlari-lari kecil kearahnya sambil membawa sebuah kertas. Wahyu menyambutnya dengan senyuman.      “Liat nih, Yah,” bocah bernama Rey itu menyerahkan selembar kertas itu pada Wahyu. Wahyu mengamati kertas yang ternyata terdapat sebuah gambar didalamnya. Dikertas itu, Rey menggambar tiga orang yang sedang saling bergandengan tangan, salah satu dari orang itu masih sangat kecil dan berdiri ditengah, nama Rey tertera diatas gambar bocah lelaki itu. Disebelah kanan ada gambar bertuliskan ‘Ayah’ dan gambar disebelah kiri bertuliskan ‘Bunda’. Rey duduk dikursi tunggu yang diduduki Ayahnya tadi. Wahyu pun ikut duduk disebelah putranya itu. “Bagus kan, Yah gambar buatan Rey?” tanyanya antusias seraya memperhatikan teman-teman sekelasnya yang sedang berjalan bersama ibu mereka masing-masing untuk pulang kerumah.
        “Bagus,” komentar Wahyu seraya mengusap rambut putranya itu. “Anak Ayah udah pinter yah sekarang,” pujinya pada Rey. Rey hanya mengulum senyum bangga.
        “Nanti kalo Rey ketemu sama Bunda, Rey mau kasih liat gambar itu ke Bunda,” katanya antusias. Wajah Wahyu berubah muram, ini kesekian kalinya Rey menyebut kata Bunda, Bunda dan Bunda didepannya. Sebegitu rindukah Rey pada Mita?
        “Rey kangen sama Bunda?” tanya Wahyu seraya menggulung kertas ditangannya itu.
        “Iya,” jawab Rey seraya tersenyum, senyum itu selalu mengingatkannya pada senyuman Mita, Rey persis seperti Mita, ramah senyum. “Kita kerumah Bunda yuk, Yah!” pintanya.
        “Rey, jam segini itu Bunda lagi sibuk kerja,” sahut Wahyu.
        “Sebentar aja kok, Yah,” rajuknya. “Ya ya ya,” Rey memohon.
        Wahyu tak menyahut, ia tak mungkin membiarkan Rey bertemu Mita dalam keadaan seperti sekarang, ia yakin Mita masih belum bisa menerima semua kenyataan pahit yang dialami Rey. Tidak, Rey tidak akan bertemu Mita sekarang.
        “Ayah!” rengek Rey. Wahyu tersentak kaget. “Ayo,” ajaknya.
        “Lain kali aja ya sayang, Ayah sibuk hari ini,” lagi-lagi alasan itu yang terlontar dari mulut Wahyu.
        “Yaaaah,” Rey tampak kecewa.
        “Sekarang kita pulang ya,” Wahyu berdiri sambil menggenggam tangan mungil putranya itu. Rey pun menurut saja.
        “Yah,” Rey mendongakkan kepalanya memperhatikan Ayahnya yang berjalan disampingnya.
        “Ya?” sahut Wahyu.
        “Kenapa sih kita nggak tinggal aja sama Bunda?” tanyanya. “Kenapa Rey tinggalnya sama Ayah aja, kenapa nggak sama Bunda juga?” imbuhnya. “Temen-temen Rey aja tinggalnya sama Mama Papanya, kenapa Rey enggak?” Rey menunduk, menatap lantai berwarna merah maroon yang ia pijak itu.
        Wahyu menahan napasnya, kenapa Rey tanyakan hal itu padanya? Bagaimana cara ia menjawabnya? Wahyu menatap wajah lugu Rey yang berjalan disampingnya. Andai saja Rey mengerti semua yang terjadi, pasti semua tak akan serumit ini. Rey masih terlalu kecil untuk mengetahui lebih jauh mengenai sebuah perceraian antara ia dan Mita, ibunya.
        “Ayah kok diem aja?” tanya Rey saat pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban. “Rey salah ngomong ya?” imbuhnya.
        Wahyu berhenti, kemudian bersimpuh didepan Rey, menyamai tinggi putranya itu. “Rey, dengerin Ayah,” katanya seraya menyentuh bahu Rey. “Nanti kalo Rey udah dewasa, Rey pasti ngerti,” jelas Wahyu seraya tersenyum. Rey menatap Ayahnya, sejurus kemudian ia tersenyum. Wahyu mengacak rambut putranya itu seraya tersenyum simpul. “Sekarang, Rey mau apa?” tanyanya.
        “Ehm,” Rey tampak berpikir. “Ice cream aja boleh nggak, Yah?” tanyanya lugu.
        “Boleh dong,” Wahyu berdiri, kemudian menggandeng tangan Rey. “Yuk!” ia pun membawa Rey pergi dari sekolah yang mulai sepi itu.

₯₯₯
        Mita memasuki sebuah rumah besar malam itu, menyapu pandangannya ke seluruh penjuru rumah yang pernah ia tinggali itu, rumah Wahyu, yang sekarang mantan suaminya. Rumah itu tak banyak berubah, sama seperti dulu saat ia masih mengambil alih semua yang ada dalam rumah itu. Jujur, ia rindu suasana rumah ini, rindu setiap moment yang pernah ia ukir bersama Wahyu dan juga Rey sebagai sebuah keluarga kecil yang amat bahagia. Tapi sekarang? Moment itu tak pernah terulang lagi, moment dimana ia, Wahyu, dan Rey tertawa bersama, makan dimeja makan bersama dengan obrolan-obrolan yang mengundang gelak tawa, semua itu tinggal kenangan. Yah, hanya secuil kenangan yang amat berarti. Dan malam ini, Wahyu menepati janjinya kemarin malam untuk mempertemukannya dengan Rey.
        “Rey,” seru Wahyu, suaranya menggema keseluruh penjuru rumah itu. Mita berjalan pelan dibelakang Wahyu, langkahnya canggung saat menginjakkan kakinya lagi dirumah ini.
        “Ayah!” seorang bocah lelaki yang mengenakan baju tidur muncul dengan riang melihat Ayahnya sudah pulang.
        Mita menatap bocah lelaki itu dari belakang Wahyu yang belum menyadari kehadiran dirinya, terlihat Rey menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Wahyu. Mita seperti mimpi melihat tawa dan senyum itu lagi, Rey yang ceria. Ah, ia ingin memeluk malaikat kecilnya itu sekarang.
        “Ayah, kenapa baru pulang?” tanya Rey manja, seraya bergelayut dilengan Ayahnya.
        “Ayah jemput seseorang dulu,” jawab Wahyu seraya tersenyum.
        “Siapa?” tanya Rey seraya menyapu pandangannya, dan ia mendapati ibunya berdiri didepannya, orang yang ia tunggu kehadirannya setiap hari. “Bunda!” wajah Rey tampak sumringah melihat ibunya itu.
        Mita bersimpuh menyamai tinggi putranya itu, ditatapnya bocah lelaki didepannya, sejurus kemudian ia memeluk malaikat kecilnya itu erat. Menumpahkan segala kerinduannya pada Rey, orang yang selalu ingin ia temui setiap harinya. Dan sekarang, ia benar-benar ada didepan Rey, memeluknya, menatap wajahnya yang seperti malaikat, semuanya benar-benar membuatnya bahagia. “Bunda kangen banget sama Rey,” bisik Mita. Wahyu berdiri dari posisinya.
        “Rey juga, Bunda,” katanya lugu. Mita melepaskan pelukannya dari Rey, ia tatap lagi anak kesayangannya itu dalam-dalam, siapa yang menyangka jika anaknya itu sedang sakit. Baginya, Rey tetap putranya yang terhebat, Rey tetap jagoan kecilnya. Malaikat kecilnya. “Bunda mau tinggal disini lagi kan sama Rey?” tanyanya.
        Mita mengusap rambut Rey pelan, kemudian ia menatap Wahyu yang berdiri dibelakang Rey, Wahyu memalingkan wajahnya, berpura-pura seperti tidak mendengarkan pembicaraan antara Rey dan dirinya. “Enggak,” jawab Mita seraya mengukir senyum.
        “Malem ini Bunda mau nemenin Rey bobo,” Wahyu menambahi seraya memasukkan ibu jarinya kedalam kantung celananya.
        “Iya, Bunda?” Rey menatap ibunya.
        “Iya sayang,” Mita tersenyum simpul.
        “Asiiiik, Rey udah lama banget nggak bobo sama Bunda,” Rey tampak bahagia. Mita pun tertawa kecil melihat wajah Rey yang sangat riang itu, sudah lama ia tak melihat wajah sumringah itu.
        “Yaudah, sekarang Rey masuk kamar ya, Ayah mau ngomong sebentar sama Bunda,” perintah Wahyu lembut. Rey tak menyahut, ia pun pergi meninggalkan kedua orangtuanya itu. Mita berdiri dari duduknya, Wahyu duduk disofa ruang tengah itu, melepas dasi dan sepatunya. Pekerjaan hari ini membuatnya sangat lelah.
        “Makasih ya, Yu,” Mita mendekati Wahyu.
        “Buat apa?” tanya Wahyu.
        “Kamu udah ngizinin aku ketemu sama Rey,” jawab Mita.
        “Rey masih hak kamu juga, kan?” Wahyu menggeser posisi duduknya. “Duduk,” perintahnya pada Mita seraya menunjuk tempat kosong disebelahnya. Mita pun duduk disebelah Wahyu. “Aku lakuin ini semua semata-mata karena Rey,” kata Wahyu.
        “Ya, aku ngerti,” pandangan Mita lurus kedepan.
        “Bagus kalo kamu ngerti, Rey butuh kamu, sangat membutuhkan kamu,” Wahyu berdiri dari  duduknya. “Apapun akan aku lakuin asalkan Rey bahagia,” tambahnya.
        Mita paham, dirinya memang telah terhapus dalam hati Wahyu, dihati Wahyu sudah tak ada namanya lagi, tak ada tempat untuknya lagi, dan tak ada cinta untuknya lagi. Tapi, ia selalu menempatkan pria itu dihatinya sampai detik ini, pria itu masih memiliki tempat dihatinya, selalu dan selau.
        “Udah malem, mending sekarang kamu tidur,” ujar Wahyu. “Rey pasti udah nunggu kamu,” Wahyu meninggalkan Mita yang masih diam ditempatnya. Mita memandangi Wahyu yang berjalan menjauh, pria itu banyak berubah dimatanya.
        Mita berjalan menuju kamar Rey, dibukanya pintu kamar itu, didapatinya Rey sedang bermain dengan mainannya diatas tempat tidur, Mita tak bisa membayangkan jika hal buruk akan menimpa putranya itu, apa ia masih akan tetap melihat senyum manis putranya itu lagi besok. Mita takut kehilangan Rey.
        “Hey, kok belum tidur?” Mita duduk diatas tempat tidur itu.
        “Nungguin Bunda,” jawabnya tersenyum.
        “Udah malem, bobo yuk!” Mita mengacak rambut Rey yang agak pirang itu. Rey mengangguk seraya merapikan semua mainannya, Mita pun ikut membantunya kemudian meletakkannya diatas meja nakas. Rey merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur itu. Mita pun merebahkan tubuhnya disebelah Rey.
        “Rey seneng deh, Bun,” Rey membuka pembicaraan.
        “Seneng?” tegas Mita. Rey mengangguk. “Kenapa?” tanyanya.
        “Rey ketemu sama Bunda lagi, bobo sama Bunda lagi,” jawabnya antusias. “Janji ya, Bunda nggak boleh ninggalin Rey lagi, Bunda harus terus ada sama Rey,” katanya lagi seraya mengelus pipi ibunya itu. Mita menyentuh tangan mungil yang ada dipipinya itu, diremasnya tangan Rey yang hangat itu. “Janji ya, Bun,” imbuh Rey.
        “Janji,” ujar Mita tersenyum. Baginya, kebahagiaan Rey adalah prioritas utamanya saat ini, ia tak peduli halangan yang akan menyulitkan posisinya, ia akan terus mendampingi Rey, menemaninya, memberikan kebahagiaan yang memang berhak Rey dapatkan dari seorang ibu seperti dirinya.
        “Bunda sayang kan sama Rey?” tanya Rey lagi.
        “Seorang ibu pasti dan selalu menyayangi anaknya, sayang.” Mita tersenyum seraya membelai rambut Rey. Rey tersenyum, kemudian ia memejamkan matanya, tangan mungilnya itu menggenggam tangannya erat, seakan tak ingin ia pergi darinya. “Rey, kalo aja kamu ngerti gimana posisi Bunda saat ini,” Mita tersenyum getir seraya menatap wajah Rey yang tenang saat tertidur seperti ini. Ia pun mengecup kening malaikat kecilnya itu.
        “Mita,” seorang dengan piyamanya membuka pintu kamar itu. “Kamu…”
        “Rey nggak mau lepasin tangan aku, jadi biarin aku tidur disini sama dia,” sela Mita. Wahyu mengangguk maklum, kemudian ia menyelimuti mantan istri dan putranya itu, kemudian ia kecup kening Rey seperti yang dilakukan Mita tadi.
        “Selamat tidur,” Wahyu pun keluar dari kamar itu setelah sebelumnya mematikan lampu kamar itu.

₯₯₯

        Minggu Pagi…..

        Mita memandangi putranya yang terbaring tak berdaya disebuah ruangan khusus itu bersama seorang dokter dan suster dari luar ruangan itu, terlihat Rey menggenggam erat tangan suster itu dengan matanya yang terpejam, dokter itu sibuk memasukkan obat-obatan kedalam tubuh Rey melalui beberapa jarum suntik. Ini kemoterapi pertama Rey. Mita tahu kemoterapi itu pasti sangat menyakitkan, terbukti saat Rey menggenggam tangan suster itu erat-erat, kalau saja ia boleh berada didalam sana, ia akan berusaha menguatkan putra kecilnya itu. Ikut merasakan apa yang malaikat kecilnya itu rasakan. Hati Mita menjerit pilu, kenapa Tuhan memberikan penyakit mematikan itu dalam tubuh Rey? Kenapa?
        “Kalau bisa, Bunda rela menukar posisi itu Rey, biar Bunda aja yang ngerasain sakit itu,” gumam Mita. “Tapi Bunda nggak bisa,” bahu Mita bergetar.
        “Rey itu anak yang kuat, kamu harus tahu itu,” sahut seseorang. Mita menoleh, didapatinya Wahyu sudah berdiri lagi dibelakangnya. “Aku yakin dia pasti bisa melewati semua masa sulit ini,” Wahyu berusaha tegar dihadapan Mita, semua itu ia lakukan agar dapat memotivasi Mita untuk bisa seperti dirinya dalam keadaan ini.
        “Kenapa harus Rey?” Mita kembali mengamati Rey didalam sana. “Kenapa bukan aku?” gumam Mita.
        “Kenapa harus kamu?” tanya Wahyu. “Kamu nggak sekuat Rey,” ujar Wahyu. Mita menelan ludah pahit. “Kamu motivasinya Rey untuk tetap bertahan sampai saat ini, jadi kamu juga harus belajar untuk menjadi wanita dan ibu yang kuat buat Rey,” jelas Wahyu panjang lebar.
        Mita berbalik, berjalan sedikit mendekati kursi tunggu lalu duduk disana, Wahyu benar, ia tak boleh menjadi wanita dan ibu yang cengeng dan rapuh, ia harus bisa lebih kuat dibandingkan Rey. Rey napasnya, nadinya, dan separuh jiwanya. Mita tak mau kehilangan separuh jiwanya, kehilangan Wahyu sudah cukup baginya. Separuh napasnya.
        “Kamu bener, Yu,” Mita menghapus air matanya. “Aku harus kuat didepan Rey,” lanjutnya seraya berdiri dari duduknya.
        “Dengan orangtua Rey?” seorang pria paruhbaya keluar dari ruangan itu, Dokter yang menangani Rey dari awal Rey check up mengenai kesehatannya.
        “Iya, Dok?” Wahyu mendekati pria berkaca mata minus itu. Mita mengikuti Wahyu. “Kemoterapinya berjalan baik kan, Dok?” tanya Wahyu.
        “Tubuh Rey menolak obat-obatan yang kami berikan, kondisi Rey menurun saat melakukan kemoterapi ini, maka dari itu tubuhnya tak bisa merespon obat-obatan yang kami berikan,” jelas Dokter itu. Wahyu menoleh kebelakang, didapatinya Mita diam mematung ditempatnya berdiri, Wahyu tahu wanita itu shock. “Dan itu membuat Rey sempat kejang-kejang saat kami sudah memasukkan obat-obatan itu kedalam tubuhnya,” lanjut pria itu.
        “Sekarang, bagaimana keadaan Rey?” tanya Wahyu yang juga cukup shock.
        “Dia masih tidur karena tadi kami sempat memberinya obat penenang,” jawab Dokter itu. Wahyu menyeka hidungnya. “Saya permisi,” pamitnya lalu meninggalkan Wahyu dan Mita.
        “Mit?” Wahyu berbalik, didapatinya Mita masih diam tanpa ekspresi ditempatnya. Wahyu mendekati wanita itu. “Mit?” ulang Wahyu seraya menyentuh bahu Mita. Mita tersentak dari lamunannya. “Ini baru kemoterapi pertama, masih ada lima kemoterapi selanjutnya, kamu yakin kan kalau Rey bisa melewati itu semua?” tanya Wahyu.
        Mita menghela napas berat, matanya sembab, dadanya sesak karena terus menahan tangis. “Ya, aku yakin Rey pasti bisa,” Mita meyakinkan dirinya sendiri. “Rey anak yang kuat!” Mita sesenggukan. Wahyu mengangguk seraya tersenyum tipis.

₯₯₯
        Mita duduk disebuah bangku panjang yang ada dihalaman belakang rumah sakit malam itu sendirian, ia merapatkan jaket rajutnya saat angin berhembus menyelusup kedalam tubuhnya, angin malam ini cukup membuat telapak tangannya dingin. Mita memandangi langit tanpa bintang itu, pikirannya mengangkasa, banyak hal yang ia pikirkan, Rey, Wahyu, dan tentu saja dirinya sendiri. Ia merasa dirinya persis seperti kapal yang ada ditengah laut lepas tanpa penunjuk arah yang tak tahu harus kemana, berlabuh dimana, bersandar dimana, ia tak pernah mengerti hidupnya yang sekarang. Setiap pagi, ia berangkat ke kantor, dan saat malam tiba ia pulang kerumah, makan malam lalu tertidur. Ia terus melakukan itu setiap hari, sama sekali tak berkesan. Rey, begitu banyak moment yang hilang bersama malaikat kecilnya itu, terlalu banyak yang sia-sia dalam hidupnya setelah ia berpisah dengan Wahyu. Dan sekarang, saa ia kembali kepada Rey, itu justru karena Rey sakit dan hanya ia yang dibutuhkannya. Menyakitkan. Andai ia bisa memutar waktu, andai Wahyu mau mendengar penjelasannya, semua tak akan seperti sekarang. Ah, tak ada gunanya menyesal sekarang. Piker Mita.
        “Nih,” seseorang menyodorkan minuman kaleng tepat didepan wajahnya. Mita menoleh, Wahyu berdiri disampingnya kemudian duduk disebelahnya saat ia sudah menerima minuman kaleng itu. “Ngapain kamu disini? Kenapa nggak jagain Rey?” tanya pria disebelahnya seraya menyeruput minumannya.
        “Suntuk,” jawabnya asal. “Terlalu lama liat Rey nggak berdaya kayak gitu, aku nggak tega,” akunya seraya membuka minuman kaleng itu lalu menyeruputnya sedikit.
        “Aku sedang berusaha menerima semuanya,” kata Wahyu, pandangannya menerawang jauh ke angkasa. “Mungkin ini yang Tuhan mau,” Wahyu tersenyum kecut. “Dia ambil kamu dari aku, lalu Dia akan mengambil Rey juga,” Wahyu tertawa kecil.
        “Yu, Tuhan nggak akan ambil Rey, Rey pasti sembuh, kamu nggak boleh putus asa,” tukas Mita, menatap Wahyu dalam-dalam.
        “Aku tahu, Rey pasti sembuh, pasti!” katanya. “Bagaimanapun caranya pasti aku lakuin asal Rey sembuh dan sehat kayak dulu lagi,” katanya. “Meskipun nyawa aku sekalipun taruhannya,” gumam Wahyu seraya menunduk. Mita melihat kesedihan teramat dalam diri pria itu.
        “Kalau manusia adalah penentu takdir seperti Tuhan, aku nggak mau semuanya serumit sekarang,” Mita menatap angkasa. “Tapi sayang, aku cuma manusia yang nggak bisa berbuat apapun dalam keadaan rumit ini,” Mita tersenyum kecut.
        “Kalau dengan cara seperti ini Tuhan mengajarkan aku untuk lebih dewasa, aku akan terus bersabar,” timpal Wahyu seraya menatap wanita disebelahnya. Mita membalas tatapan itu. Wahyu meneguk minumannya kemudian melempar kalengnya jauh-jauh kedepan. Mita ingin memeluk pria disebelahnya itu sekarang, merasakan apa yang pria itu rasakan, dan berusaha menenangkan hati pria yang sedang frustrasi itu. Kalau saja ia bisa. Yah, kalau saja ia bisa melakukan itu semua. “Teruslah ada bersama Rey, Mit, jangan pernah tinggalin dia lagi, kamu napas Rey saat ini,” Wahyu berdiri, kemudian meninggalkan Mita sendirian ditempat itu. Apa maksudnya? Pikir Mita. 
       

0 komentar:

Posting Komentar