Cinta Itu Hadir Lagi ...
Wahyu berjalan menyusuri koridor kelas saat jam istirahat, tujuannya hanya satu, ke perpustakaan untuk mencari buku-buku mengenai seni teater. Sampai saat ini ia belum menemukan ide yang tepat untuk tema naskah pagelaran teater sebentar lagi. Ia terlalu sibuk dengan tugas-tugas di kelasnya. Wajah Pak Tora, pembina ekskul teater sekaligus piminan produksi, terlintas dipikirannya. Wahyu tahu betul, Pak Tora bukan orang yang mudah memaklumi, beliau orang yang tegas dan disiplin.
Wahyu menghentikan langkahnya saat melewati taman sekolah, taman dimana para siswa menghabiskan waktu istirahatnya termasuk Mita, sahabatnya. Ya, Mita ada di salah satu kursi taman itu sendirian. Asik dengan kesibukannya membuat sesuatu dengan kertas origaminya.
Wahyu memperhatikan Mita dari tempatnya berdiri. Memandangi gadis tomboy itu dari kejauhan seperti sekarang, membuat hatinya tenang dan nyaman.
“Tuhan, kenapa Aku merasa ada kesedihan yang teramat dalam dimata bening itu? Adakah sesuatu yang melukai hati peri kecilku itu?” batin Wahyu.
“Wahyu!” seruan itu membuyarkan lamunannya. Wahyu tersentak kaget.
“Loe, Ri. Ada apa?” tanya Wahyu pada gadis bernama Riana itu.
“Ke Auditorium sekarang, ada rapat teater dadakan nih, ayo!” jelas Riana.
“Ada apa yah? Jangan-jangan Pak Tora mau minta tema naskahnya, baru mau gua cari” cerocos Wahyu panik.
“Eh udah, ke auditorium dulu aja, yuk!” ajak Riana kemudian berjalan mendahului Wahyu.
Wahyu kembali memperhatikan gadis tomboy yang mampu membuatnya bergantung itu.
“Mitaaa!” seru Wahyu.
Mita yang sedang duduk itu menoleh ke arah sumber suara. Di dapatinya sepasang mata teduh milik Wahyu.
“Apa?” tanya Mita menyeringai.
Wahyu menulis sesuatu di selembar kertas yang dibawanya dari kelas untuk dibawa ke perpustakaan. Usai menulis sesuatu, ia meremas kertas itu, lalu melemparkannya pada Mita.
“See you...” ujar Wahyu sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Mita mengambil kertas itu lalu membukanya. Senyum kecil terukir dibibir tipisnya.
~ Hari ini, loe harus nemenin kemanapun gua mau, full day and full time, nggak ada penolakan ~
Itu pesan singkat yang tertera di kertas itu. Mita tersenyum lagi.
“Dasar Wahyu!” gumam Mita kemudian menyelipkan kertas itu di salah satu bukunya.
Sikap hangat Wahyu terhadapnya, membuat cinta di hati Mita tumbuh semakin besar. Hadir lagi, lagi dan lagi. Semakin ingin ia melupakan perasaan itu, semakin sakit hatinya. Cinta itu menjerat hatinya kuat. Justru, cinta itu semakin kuat, kuat dan kuat. Bukan berkurang tapi bertambah. Mita terlalu takut mencampur adukkan urusan cinta ke dalam persahabatan yang ia bina sejak kecil itu. Mita tak mau hal bernama cinta itu nantinya akan merusak semuanya. Biarkan semuanya berjalan seiring dengan waktu yang terus berjalan tanpa henti. Dan biarkan, Mita tetap mencintai Wahyu dengan caranya sendiri, dengan membiarkan Wahyu bebas melabuhkan hatinya dengan siapa nantinya. Ia siap dengan segala sakit yang akan mengusik hatinya. Tapi ia tak kan siap dan terima jika persahabatannya hancur hanya karena cinta yang ia simpan untuk Wahyu. Cinta yang ia simpan serapat mungkin.
***
“Kalian tahu, kenapa saya meminta kalian berkumpul dadakan disini?” tanya seorang pria berkemeja putih dan berdasi berwarna senada dengan celananya yang berwarna hitam, yang terlihat gagah itu di Auditorium.
“Nggak, Pak!” sahut para siswa yang notabenenya adalah anggota ekskul teater.
“Ada berita bagus untuk pagelaran teater yang akan kita selenggarakan” pria bernama Tora itu bicara lagi.
Wahyu membenarkan posisi duduknya, ia duduk di sebelah Riana.
“Ada salah satu siswa dari sekolah ini yang dengan senang hati menyumbangkan sebuah naskah kepada saya, dan setelah saya baca, ceritanya sangat menarik” cerita Pak Tora.
“Dan kamu Wahyu...” Pak Tora mengarahkan pandangannya pada Wahyu.
“Iya, Pak?” sahut Wahyu kikuk.
“Saya mau kamu yang menjadi sutradara dalam pagelaran teater akhir tahun ini” lanjut Pak Tora tegas.
“Saya, Pak?” Wahyu agak shock.
“Iya kamu, kenapa? Nggak bisa?” tanya Pak Tora.
“Kesempatan bagus, Yu. Jangan loe sia-siain!” bisik Riana.
“Bisa, Pak!” jawab Wahyu lantang.
“Bagus! Kamu tahu kan apa saja tugas sutradara?” tanyanya lagi.
Wahyu mengangguk mantap, menjadi sutradara memang keinginannya sejak menjadi anggota teater disekolahnya. Selama ini, ia selalu menjabat sebagai penulis skenario, terkadang sekaligus menjadi penata musik bersama Riana.
“Baik, apa saja yang harus kalian kerjakan ada disini” jelas Pak Tora seraya menunjukkan map berisi beberapa lembar kertas.
“Dan kepala sekolah memberi kita perpanjangan waktu selama dua bulan” lanjut Pak Tora.
“Bekerjalah sebaik mungkin, gunakan waktu yang ini untuk berlatih dan mempersiapkan segalanya!” tegas Pak Tora.
“Dan naskah ini, saya serahkan kepada kamu, Wahyu. Pahami dengan baik, lakukan tugas kamu!” ucap Pak Tora.
“Baik, Pak!” sahut Wahyu seraya menerima lembaran kertas yang telah terjilid rapi itu.
“Ok, ada pertanyaan?” tanya Pak Tora.
“Kalau boleh tahu, siapa siswa yang membuat naskah ini, Pak?” tanya Wahyu dengan rasa penasaran.
“Kalian pasti kenal” jawab Pak Tora. Wahyu menghela napas kecewa.
“Ok, saya rasa cukup, bekerjalah dengan baik. Dan buat para penonton kalian terkesima” ucap Pak Tora lalu pergi.
“Ok guys, gua bacain ya pembagian tugas untuk pertunjukkan teater dua bulan lagi” seru gadis manis bernama Riana yang berdiri diatas stage.
“Ok!” sahut siswa lain.
“Pimpinan produksi dan Sutradara kalian udah tau siapa. Gua bacain yang lain!” lanjut Riana tegas.
“Eris, tugas loe disini bendahara, Trisa loe seperti biasa jadi make uper, dan loe Reno, tugas loe diurusan ticketing. Trus kalo urusan perlengkapan gua serahin ke Arga. Trus....” Riana terus membagi tugas itu.
Wahyu sibuk membaca naskah yang baru saja diterimanya.
“Stage manager kita dipegang sama Vino...” suara Riana terdengar nyaring.
“Dan gua sendiri diutus sebagai penata musik lagi...” lanjut Riana.
Wahyu semakin penasaran dengan penulis naskah yang baru saja diterimanya. Siapa kira-kira penulis naskah itu?
***
Mengenang Masa Lalu ...
Mita dan Wahyu duduk di kursi taman favorit mereka saat masih kecil dulu. Usai pulang sekolah tadi, Wahyu langsung membawa Mita ke taman itu. Taman yang memiliki banyak kenangan manis diantara kedua sejoli itu. Taman yang hanya terjamah oleh Mita dan Wahyu.
Mita menghirup udara segar yang sedang berhembus memanjakannya. Udara yang selalu ia hirup setiap duduk ditaman itu. Aroma tumbuhan yang sama, Mita sangat menyukainya.
Mita menghirup udara segar yang sedang berhembus memanjakannya. Udara yang selalu ia hirup setiap duduk ditaman itu. Aroma tumbuhan yang sama, Mita sangat menyukainya.
“Taman ini nggak banyak berubah, ya?” ujar Wahyu memecah hening.
“Ya, tapi taman ini berubah saat loe pergi” komentar Mita.
“Maksud loe?” tanya Wahyu tanpa menoleh ke arah Mita yang duduk disebelahnya. Matanya lurus ke depan.
“Semenjak loe pergi, gua nggak pernah sekalipun dateng kesini, taman ini seakan mati seperti pada awalnya” jelas Mita, kali ini memandangi Wahyu.
Wahyu terkekeh, entah apa yang lucu, Mita tak mengerti.
“Kenapa loe nggak pernah dateng ketaman ini semenjak gua pergi?” tanya Wahyu seraya membalas pandangan Mita.
“Loe lupa? Kita pernah janji, kalau kita akan dateng ke taman ini berdua, selalu berdua, nggak boleh salah satu” sergah Mita tersenyum kecut.
“Gua kira loe lupa sama janji itu” komentar Wahyu.
Mita tak menjawab, kenangan masa kecil itu masih tergambar jelas di benaknya, sedikitpun tak ada yang luput dari ingatannya. Mita rindu masa-masa menyenangkan itu, masa dimana ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang layak di dapatkan oleh anak seusianya.
“Empat tahun nggak sama loe, loe banyak berubah ya, Mit” Wahyu memulai pembicaraan. Mita tersentak.
“Berubah gimana maksud loe?” tanya Mita agak tak mengerti.
Wahyu tersenyum dingin, sangat dingin.
“Gua merasa banyak hal yang gua nggak tau tentang loe selama kita nggak sama-sama!” kalimat Wahyu ini membuat Mita bingung dan merasa terpojok.
“Gua merasa, banyak hal yang loe tutup rapat-rapat dari gua, yang gua sendiri nggak tau!” lanjut Wahyu.
Hati Mita seperti di tusuk ribuan pisau, sakit bukan main. Setega itukah ia, sampai-sampai sahabat yang teramat ia sayangi ia bohongi.
“Loe nggak se terbuka dulu sama gua, tertutup dan cenderung pendiam” lanjut Wahyu dingin.
“Tuhan, bisakah Kau meminta Wahyu untuk tak melanjutkan kata-katanya. Hatiku sakit!” batin Mita.
“Inget nggak janji kita dulu?” tanya Wahyu seraya menatap mata Mita.
“Saling terbuka dan tak saling melupakan satu sama lain” jawab Mita lirih. Wahyu tersenyum simpul.
Mita menunduk, hatinya terasa sangat sakit usai mengingat dan mengucapkan janji itu.
“Mit, loe akan tetap ke taman ini sama gua kan? Tetep nemenin gua kalo gue pengen kesini?” tanya Wahyu, pandangannya lurus ke depan.
“Janji, loe akan terus ke taman ini berdua sama gua?” tanya Wahyu lagi.
Janji? Mita tak pernah bisa menjamin berapa lama lagi ia akan hidup dan tetap berdiri di samping Wahyu. Tuhan bisa saja mengambil nyawanya sekarang, besok atau mungkin detik ini. Jadi, Mita tak bisa sembarangan mengucapkan janji yang belum tentu bisa ia tepati.
“Mita?” Wahyu menoleh ke arah Mita.
“Yu, kita nggak pernah tahu kan, kapan Tuhan akan mencabut nyawa kita? Gua nggak mau janji itu nantinya nggak bisa gua tepatin” jelas Mita tanpa membalas pandangan Wahyu. Wahyu menyatukan alis.
“Selama gua bisa, gua akan terus ke taman ini sama loe!” lanjut Mita seraya tersenyum.
“Omongan loe aneh, gua kurang suka!” Wahyu tersenyum dingin.
Mita tak menjawab, senyuman itu membuatnya beku.
***
Peri Kecil Yang Malang ....
Hujan siang itu membuat seluruh siswa di sekolah itu mengurungkan niatnya untuk segera pulang kerumah masing-masing termasuk Amanda, Dio dan Mita. Mereka bertiga memang tak berada di tempat yang sama. Mita lebih memilih duduk di dalam perpustakaan dan berkutat dengan origami-origaminya. Perpustakaan itu memang tak terlalu ramai, hanya ada dirinya dan dua siswa lainnya. Sementara Amanda dan Dio lebih memilih duduk di koridor kelas. Dan Wahyu, seharian ini Mita sama sekali tak bertemu Wahyu. Wahyu memang hadir ke sekolah. Tapi Amanda bilang, Wahyu sibuk mengurus pagelaran teater. Maka dari itu Wahyu sama sekali tak muncul dan ikut pelajaran di kelas.
“Mit, perpus udah mau dikunci nih!” seru salah seorang siswa yang memang bertugas memegang kunci perpustakaan.
“Oh, ok!” sahut Mita seraya menyudahi kegiatannya, lalu memasukkan kertas-kertas origaminya ke dalam tasnya seraya tersenyum.
Mita pun berdiri dari duduknya, matanya melirik sebuah buku berjudul “Penyakit Kanker Tulang”.
“Mita!” siswa perempuan itu berseru lagi.
“Eh iya, sorry!” sahut Mita seraya mengambil buku itu lalu berjalan keluar.
“Gua pinjem buku ini, ya!” ujar Mita seraya menunjukkan buku yang ia ambil tadi kemudian pergi tanpa menunggu jawaban siswa itu.
“Hei” sapa Mita pada Amanda dan Dio saat tiba di koridor kelas.
“Kemana aja si loe, pulang yuk!” ajak Amanda.
“Ehmmm...” Mita menyapu pandangannya keseluruh penjuru gedung sekolahnya. “Loe duluan aja deh sama Dio, gua mau Auditorium” lanjut Mita seraya meringis, memperlihatkan deretan giginya yang rapi itu.
“Yaudah deh, gua sama Dio balik ya. Laper!” ujar Amanda to the point.
“Dasar tukang makan, ayo!” sembur Dio seraya menarik tangan Amanda.
“Bye, Mita!” Amanda melambaikan tangannya, begitu pun Dio.
Mita berjalan menyusuri koridor kelas, sekolah mulai sepi saat hujan mulai reda. Mungkin hanya anggota ekskul teater yang masih ada di sekolah ini.
Mita membuka pintu Auditorium, benar dugaannya, anggota ekskul teater masih berkutat dengan rapatnya.
Mita berjalan di tengah deretan kursi merah yang berjejer rapi khas Auditorium, kemudian duduk tak jauh dari siswa-siswa yang mengikuti rapat itu. Wahyu berdiri di atas stage, memimpin rapat itu bersama Riana, asisten produksi. Terlihat gagah.
“Hai” Mita melambaikan tangannya saat Wahyu menyadari kehadirannya.
Wahyu tersenyum simpul, kemudian melanjutkan pidatonya, entah apa itu namanya, Mita tak tahu.
Tiga puluh menit berlalu, Mita sudah membaca buku yang di pinjamnya itu separuh. Tapi, rapat itu belum juga berakhir. Mita melihat orang yang berdiri di stage, bukan lagi Wahyu. Di dapatinya sosok Wahyu duduk di belakang piano klasik yang ada disisi kanan stage.
Mita beranjak dari duduknya, membiarkan tas dan bukunya tergeletak di kursi itu, ia sudah tak tahan ingin segera ke toilet.
“Wah! Kebetulan banget nih, orang yang kita cari ada disini!” seru seorang siswa laki-laki di depan toilet pria.
Mita tak mempedulikannya, ia tahu betul siapa lelaki itu. Lelaki itu adalah Ramon dan kedua temannya, genk yang terkenal sadis pada orang yang berani mengusiknya. Tapi, Mita tak pernah takut pada Ramon. Dengan cueknya, Mita tetap masuk ke toilet itu, dan tidak mempedulikan Ramon.
“Woy Mita! Keluar loe!” suara Ramon terdengar nyaring seraya menggedor pintu toilet itu.
Mita membuka pintu dengan cuek dan tanpa rasa takut.
“Apa?!” tanya Mita garang.
“Loe apain Alexa gua, hah?!” tanya Ramon tanpa basa-basi.
“Gua jambak rambutnya, trus gua siram mukanya pake jus alpukat! Kenapa? Nggak suka?” jawab Mita cuek.
“Sialan loe!” Ramon meninju pintu toilet itu. Mita sedikit tersentak.
“Jangan loe pikir gua takut ya sama loe!” lanjut Ramon seraya mencengkram leher Mita dengan keras.
Mita tak berontak sama sekali, ia tahan rasa sakit itu.
“Banci loe!” tandas Mita dengan suara serak. Mata Ramon membulat.
“Cewek nggak tau di untung! Loe pantes masuk sini!” Ramon memasukkan Mita ke dalam toilet itu dengan paksa.
“Gua nggak pernah takut sama loe, Ramon!” tukas Mita seraya membuang air liurnya di depan Ramon.
“Cewek sialan!” Ramon menampar keras pipi kiri Mita hingga meninggalkan bekas kemerahan, kemudian keluar dari toilet itu dan mengunci toilet itu.
“Ramon! Buka!” seru Mita seraya menggedor pintu toilet itu dari dalam.
Ramon dan kedua temannya terkekeh seraya membuang kunci pintu itu ke tempat sampah.
“Mampus loe! Jangan kurang ajar sama Ramon!” seru Ramon membanggakan diri lalu pergi. Benar-benar pergi.
“Ramon!” teriak Mita keras.
Tapi percuma, tak ada siapapun di toilet itu.
1 komentar:
Gak ada sambungannya yaa??
Posting Komentar