Sayangku




Pagi yang cerah itu Mita awali dengan menyibukkan diri di dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya, setelah sebelumnya menyiapkan pakaian dan segala keperluan yang akan di kenakan suaminya ke kantor.
“Pagi” Mita menyapa suaminya yang baru saja muncul dengan pakaian rapi.
“Pagi” sahutnya datar.
“Sarapan dulu ya sebelum berangkat” Mita menyiapkan piring.
“Aku sarapan di kantor aja” katanya, berlalu pergi.
Mita menghela napas, untuk apa ia bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan sebisanya, jika suaminya saja sama sekali tak peduli. Kejadian seperti ini memang telah membuat hatinya terbiasa. Di abaikan suaminya sendiri.
“Kamu nggak ngerti perasaanku setiap kamu bicara seperti itu sama Aku” gumam Mita, menyeka air mata yang menetes.
♥♥♥
“Mitaaaaa!” seseorang memeluknya dari belakang, Dara sahabatnya.
“Lama banget si, Ra!” gerutu Mita yang memang sudah menunggu lama di cafe favoritnya dan Dara siang itu.
“Sorry, tadi Sifha rewel!” curhat Dara.
Sifha adalah putri pertama Dara dan Rio, pria yang di pilih Dara sebagai suaminya. Keluarga kecil mereka memang sangat harmonis, apalagi ditambah dengan Shifa Rizki Kusnanto, buah cinta mereka.
Mita terkadang iri dengan kehangatan yang terjalin di keluarga kecil sahabatnya itu. Penuh cinta dan tertata rapi. Tak seperti rumah tangganya yang terkesan kaku dan dingin.
“Yaudah gapapa!” sahut Mita datar.
“Mita kenapa?” tanya Dara.
Mita menggeleng. “Gapapa” jawab Mita.
“Bohong, pasti ada apa-apa” sanggah Dara. “Aku nggak pernah ngelarang kamu buat cerita lho!” Dara menatap Mita.
“Tenang aja, Aku gapapa, fine!” ujar Mita.
“Mita...” desah Dara.
Mita terdiam, menatap sahabatnya itu. Memang hanya Dara yang mengertinya.
“Soal Wahyu?” tanya Dara. Mita menatap Dara nanar, dan Dara yakin tebakannya benar. “Iya kan?” tegas Dara.
Mita mengangkat bahunya, entah iya atau tidak.
“Mita capek?” tanya Dara, yang tahu betul hubungan Mita dan Wahyu, suaminya.
“Perempuan mana yang kuat ngadepin orang macam Wahyu?” Dara tahu pertanyaan Mita itu tak perlu dijawab.
“Tapi, Mita sayang kan sama Wahyu?” tanya Dara. 
Mita terdiam, tak tahu pertanyaan itu harus dijawab apa. Sampai saat ini, ia terus belajar mencintai dan menyayangi pria angkuh itu. Pria yang sengaja dijodohkan dengannya.

“Nggak tahu!” Mita membuang napas lelah. “Kalau Aku sayang sama dia, lantas dia mau apa? Membalasnya?” Mita tersenyum getir. “Aku rasa nggak mungkin!” katanya lagi.

“Kalau Mita sayang sama Wahyu, Mita nggak boleh berhenti meyakinkan Wahyu, kalau dia cuma buat Mita!” jelas Dara.

“Jangan berhenti meyakinkan Wahyu, kalau Mita benar-benar mencintai Wahyu!” kata Dara lagi.
“Dan jangan pernah berhenti untuk membuat Wahyu mengerti kalau cuma Mita yang mencintai Wahyu dengan tulus!” kata Dara.
Mita tersenyum lirih, entah sejak kapan, bidadari kecilnya itu mulai pintar bicara.
“Tapi, kesabaran dan kesetiaan Aku itu terbatas, Ra!” Mita mengambil handphone-nya yang berdering di handbag-nya.

“Iya Aku tahu, tapi Aku yakin, kalian memang ditakdirkan bersama!” ujar Dara.
“Semoga!” Mita menatap layar LCD-nya.
“Siapa, Mit?” tanya Dara.
“Wahyu, Ra!” sahut Mita, menekan tombol answered.
“Iya, Yu?” tanya Mita.
“Mita, kamu tahu berkas yang Aku kerjain semalam kan?” tanya Wahyu.
“Iya” jawab Mita.
“Kamu anter ke kantor sekarang juga, penting!” perintahnya.
“Berkas itu dimana?” tanya Mita.
“Kamu cari dong, kamu yang biasa beresin kan?” jawab Wahyu.
“Tapi...”
“Udah ya, Aku nggak mau terima protes ini itu, berkas itu harus ketemu dan anter ke kantor!” Wahyu menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Mita.
Mita tampak sebal, kenapa bisa ada pria macam suaminya itu.
“Kenapa, Mit?” tanya Dara yang melihat sahabatnya itu tampak kesal.
“Ya begitulah Wahyu, semua yang dia mau harus ada, semua yang dia perintahkan harus di turuti!” curhat Mita.
Dara tampak memaklumi keadaan Mita. Ia tak akan banyak bertanya.
“Aku pulang ya, Ra” izin Mita, Dara mengangguk.
“Maaf acara kita ke ganggu” Mita tampak merasa bersalah.
“Gapapa, Wahyu lebih butuh kamu!” Dara menyeringai, mencairkan suasana.
“Butuh dalam hal...” Mita tersenyum. “Kamu tahu lah ya?” Mita terkekeh.

Dara ikut terkekeh menanggapi pernyataan Mita. Mita pun pergi meninggalkan tempat itu.
♥♥♥

Mita mengetuk pintu kaca itu, satu tangannya menggenggam sebuah map yang di minta Wahyu tadi.
“Masuk!” suara Wahyu menyahut dari dalam.
Mita membuka pintunya, di dapatinya Wahyu sedang sibuk dengan laptopnya.
“Kenapa lama banget si, Mit?” tanya Wahyu, tetap fokus pada laptopnya.
“Maaf, tadi...”
“Yaudah, mana berkasnya?” sela Wahyu.
Mita meletakkan berkas itu diatas meja Wahyu. Berharap Wahyu akan mengucapkan terima kasih padanya. Tapi, Wahyu tetap tak bergeming.
“Yu?” seru Mita.
“Ada apa?” tanyanya datar.
“Makan siang di luar, yuk!” ajak Mita.
“Lain kali aja, Aku sibuk!” tolak Wahyu.
Mita menyesal mengajak suaminya itu makan siang bersama. Jawabannya selalu seperti itu.
“Ok, Aku pulang ya” pamit Mita.
Wahyu mengangguk tanpa mengucapkan apapun.

♥♥♥

Mita menunggu Wahyu pulang malam itu sampai ketiduran di sofa ruang tengah itu. Ia selalu melakukan itu setiap hari. Tak peduli larangan Wahyu, ia hanya ingin menjadi seorang istri yang baik.
“Mita?” seseorang menepuk bahu Mita.
Mita membuka matanya, menggeliat. Didapatinya Wahyu berdiri di hadapannya.
“Nggak perlu nunggu Aku, tidur di kamar sana!” ucap Wahyu, ibu jarinya di masukkan ke kantung celananya.
“Iya maaf” lagi-lagi hanya maaf yang Mita ucapkan.
Wahyu berlalu meninggalkannya. Di mata Mita, Wahyu memang pria terangkuh yang pernah di kenalnya. Kalau ia tak menyayangi ibunya, ia pasti memilih kabur saat hari pernikahannya.
“Yu?” seru Mita.
Wahyu berhenti, tanpa menoleh.
“Aku udah buatin makanan favorit kamu!” seru Mita, berdiri dari duduknya.
“Aku udah makan!” sahut Wahyu, berjalan lagi.
Rahang Mita mengeras, menahan tangis. Kenapa Tuhan seperti tak sayang padanya. Kenapa Tuhan memberinya seorang seperti Wahyu dalam hidupnya. Kenapa Tuhan seperti sengaja membuatnya hidup dalam sebuah penderitaan.
“Mita capek, Ma!” batin Mita, menyeka air matanya yang menetes. Kalau boleh, ia ingin memeluk ibunya erat. Menumpahkan semua sesak yang mengganjal dadanya.
“Aku bukan robot, yang nggak punya hati dan perasaan, Yu!” lagi-lagi Mita hanya bisa berteriak dalam hati.
♥♥♥
 “Mita?” wanita paruhbaya berdiri di ambang pintu.
“Mama!” Mita menghambur ke pelukan ibunya itu.
“Kenapa nggak bilang kalau mau dateng?” tanya wanita itu.
“Sureprise!” Mita nyengir kuda.
“Wahyu kok nggak ikut?” tanyanya, celingukan.
“Sibuk!” jawab Mita sekenanya, masuk ke dalam rumah ibunya itu.
“Ada masalah?” tanyanya, menutup pintu rumah itu.
“Hallo Rey!” Mita menyapa Rey, putra Tata, kakak perempuannya yang sedang bermain di ruang tengah tanpa mengindahkan pertanyaan ibunya.
“Eh ada tante Mita!” seru Tata.
Mita duduk di dekat Rey yang sedang asik bermain bersama ibunya itu.
“Mita, kamu belum jawab pertanyaan Mama!” seru ibunya.
“Mita baik-baik aja sama Wahyu, Ma!” jawab Mita.
Tata tahu betul, adiknya itu sedang berbohong. Tampak jelas, di mata Mita ada kesedihan mendalam yang tak bisa ia hadapi sendiri.
“Yaudah kalau begitu, tapi kamu harus tau, Mama orang yang paling tahu kamu!” kata ibunya lagi, tersenyum, kemudian berlalu.
“Mau cerita sama Aku?” tanya Tata.
“Cerita apa?” Mita tampak seperti orang bodoh.
“Mita, pernikahan itu bukan keinginan kamu kan?” Tata tampak gemas. “Nggak mudah mencintai orang yang baru kamu kenal!” katanya lagi.
Mita menghela napas berat, dadanya kembali sesak mendengar ucapan Kakaknya yang mengarah pada masalah rumah tangganya.

“Aku cuma bisa dengerin kamu, kamu bebas cerita apapun ke Aku!” ujar Tata.
“Mita capek, Kak! Mita nyerah menghadapi Wahyu, Mita udah nggak kuat kalau setiap hari diperlakukan seperti patung!” curhat Mita akhirnya.
Tata tahu betul perasaan adik sematawayangnya itu. Tapi ia tahu, Mita tak suka di kasihani. Tata sempat menyesal dulu ia mendukung keputusan orangtua mereka untuk menjodohkan Mita, adiknya. Ia tak menyangka akan seperti ini akhirnya.
“Mita pengen udahan aja, Kak!” Mita merebahkan kepalanya di pangkuan Kakaknya itu. “Tapi, Mita udah terlanjur sayang sama Wahyu!” Mita menatap Tata.
“Percaya sama Aku, suatu saat nanti Wahyu pasti ngerti, semua soal waktu!” Tata membelai rambut adiknya.
“Mita pengen kayak Kakak, bahagia mencintai dan dicintai” ucap Mita. “Mita pengen kayak Dara, bahagia membangun keluarga kecilnya!” air mata menetes di sudut matanya.

Tata tahu, Mita tak setegar seperti pandangan orang diluar sana. Mita tetap adik kecilnya yang manja dan cengeng.

“Kamu nggak bisa sok tegar di depan Aku, Mit!” ujar Tata. “Nangis, kalau memang kamu mau nangis!” Tata mengusap bahu Mita.
Mita beranjak duduk, menatap kakaknya. Air matanya menggenang. Dan tumpah hanya dalam hitungan detik. Tata menarik adiknya itu dalam pelukannya.
“Mita nggak mau pulang, Mita mau disini aja!” rengek Mita di sela tangisnya.
“Kalau Wahyu cari kamu gimana?” tanya Tata.
“Mita nggak peduli!” jawab Mita.
Tata mengelus punggung adiknya itu, mencoba menenangkannya. Membiarkan adiknya itu menumpahkan semua beban yang mengganjal di hatinya. Mita hanya butuh pendengar yang baik saat ini.

♥♥♥
Aku..
Ya, Aku. Apa sih arti diriku dimatanya?
Apa sih arti kehadiranku di hidupnya?
Apa sih arti perhatianku di hari-harinya?
Apa? Hanya sebatas hembusan angin yang tak berarti.
Kapan ia mengerti kalau Aku mulai mencintainya?
Kapan ia akan mengerti kalau Aku membutuhkan semua perhatiannya? Kapan? Apa jika Aku sudah mati? Begitu?
Aku ini istrinya, bukan orang lain.
Bahkan mungkin arti diriku tak sebanding dengan hiasan rumahnya.
Hiasan itu setidaknya selalu dilihatnya
Tapi Aku? Aku seperti angin yang patut ia abaikan!
_Mita_


Mita menutup buku hariannya malam itu, buku yang sudah lama tersimpan rapi di kamarnya tanpa pernah dibukanya, semenjak menikah. Ia baru membukanya saat sedang menginap di rumah orangtuanya.
“Apa kamu peduli keadaan Aku sekarang gimana, Yu?” Mita berdiri di dekat jendela kamar yang sudah lama ditinggalkannya, menyapu pandangan di luar rumahnya itu. Sepi.
Mita merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, ia rindu tidur di kamar ini, kamar yang tak pernah memprediksikan pernikahannya dengan Wahyu.

♥♥♥

Wahyu mengetuk pintu rumah mertuanya pukul sepuluh malam, karena sepulang dari kantor, ia tak mendapati istrinya dirumah.
“Wahyu?” wanita paruhbaya membukakan pintu.
“Malem, Ma” Wahyu mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.
“Masuk yuk!” ajaknya. Wahyu mengangguk.
“Mita disini ya, Ma?” tanya Wahyu, duduk di sofa ruang tengah.
“Iya” katanya. “Mama pikir dia udah hubungi kamu” lanjutnya, duduk tak jauh dari Wahyu.
“Dia nggak hubungin Aku seharian ini” jawab Wahyu.
“Kalian ada masalah?” tanyanya.
“Nggak, kita baik-baik aja” ucap Wahyu.
Mungkin bagi Wahyu, sama sekali tak ada masalah. Tapi bagi Mita, entahlah....
Ibunda Mita menghela napas, ia tersenyum maklum.
“Wahyu mau jemput Mita” katanya.
“Mita udah tidur, kamu menginap disini aja” sarannya.
“Tapi....”
Ibu Mita berdiri. “Udah malem, Mita pasti nggak mau diajak pulang!” beliau meninggalkan Wahyu.
Wahyu berdiri dari duduknya, menuruti saran ibu mertuanya. Ia berjalan, memasuki kamar Mita, yang ada di sudut ruangan.

♥♥♥

Mita menggeliat, membuka matanya, menyapu pandangan dari balik selimutnya. Matanya menangkap sosok Wahyu yang tertidur lelap di sebelahnya. Masih lengkap dengan pakaian kerjanya. Mita menoleh jam weker di meja nakas. Delapan tepat. Tapi, Mita sengaja tak membangunkan Wahyu, tak peduli kalau Wahyu sudah telat ke kantor. Ia masih ingin membiarkan pria itu terbaring di sebelahnya. Menemani paginya yang selalu terlewatkan begitu saja.

“Mungkin orang diluar sana nggak percaya kalau kita ini suami istri” gumam Mita, memandangi wajah pria menyebalkan yang terlelap di depannya itu.
“Aku ini nggak berarti kan buat kamu? Aku ini hanya korban ketidak mengertian kamu!” Mita merasakan pipinya yang hangat, air mata itu menetes. “Wahyu Sudiro!” Mita menatap nanar wajah Wahyu yang terkesan jauh dari kata ramah senyum.
Wahyu menggeliat, cepat-cepat Mita menyeka air matanya, mata teduh itu menatapnya. Mita tetap pada posisinya. Wahyu mengangkat tangan kirinya, melirik jam yang melingkar di lengan kirinya.
“Kenapa kamu nggak bangunin Aku? Pagi ini Aku ada meeting!” cerca Wahyu.
Mita enggan menjawab, karena pasti jawabannya tak akan benar ditelinga Wahyu. Ia beranjak turun dari tempat tidurnya.
“Kita pulang sekarang!” Wahyu menarik tangan istrinya itu.
“Yu!” Mita berontak.
Wahyu sepertinya tak peduli dengan reaksi Mita. Ia tetap menggandeng tangan istrinya itu.
“Ma, Wahyu sama Mita pamit pulang ya!” seru Wahyu, menemui ibu mertuanya didapur.
“Lho, kenapa buru-buru?” ia memperhatikan Mita dan Wahyu yang masih terlihat lusuh.
“Kalian nggak mandi dulu? Nggak sarapan dulu?” tanyanya.
“Nggak usah, Ma” Wahyu mencium punggung tangan ibu mertuanya, Mita mengikutinya.
“Mita pulang ya, Ma!” pamit Mita dengan berat hati.
“Yaudah, hati-hati ya!” ujarnya.
Mita dan Wahyu pergi meninggalkan dapur.
“Aku nggak mau lagi kamu pergi tanpa seizin Aku!” Wahyu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah itu.

Mita tak menyahut, rahangnya enggan membantunya mengucapkan apapun. Lelah menanggapi cercaan itu. Ia ingin mati saja rasanya

♥♥♥

Mita duduk di kursi taman yang ada di halaman belakang rumahnya malam itu, menunggu Wahyu pulang. Sweater rajut berbahan wol membungkusnya dari dinginnya angin malam. Matanya menerawang jauh ke langit, mencoba memahami jalan hidupnya yang entah harus dikatakan apa. Bahagia? Mita rasa tidak. Harmonis? Tidak juga. Berantakkan? Mungkin.
Mita menaikkan lengan sweaternya yang melorot. Entah sejak kapan ia mulai terbiasa dengan kesendiriannya itu.

“Untuk saat ini Aku benar-benar butuh kamu, Wahyu!” Mita menatap bintang-bintang itu, berharap bintang-bintang itu mendengarnya.
“Aku tahu, menjadi bagian dari hidupku bukanlah keinginanmu, tapi bisakah kamu mengerti perasaanku?” Mita berteriak dalam hati. “Aku butuh perhatianmu, aku butuh kepastian tentang hatimu!” Mita menunduk, menyeka air matanya.
“Ehem...”
Mita menoleh, Wahyu duduk disebelahnya, memandangi langit cerah itu. Kapan Wahyu pulang, Mita tak tahu.
“Ada hal penting yang mau Aku bicarain sama kamu!” Wahyu mendekati istrinya itu. Mita hanya menoleh sebentar.
“Aku udah pikirin ini baik-baik” katanya. Mita tak menjawab.
“Aku rasa kita memang harus menjalani hidup kita masing-masing” Wahyu menghela napas.
Mita menoleh, tak mengerti dengan ucapan suaminya. “Cerai?” tanya Mita, tanpa menatap mata pria itu.
“Aku nggak akan pernah menceraikan kamu, Aku tak mau mengingkari janji pernikahan kita!” jelasnya.
Mita memalingkan wajahnya saat Wahyu menoleh. “Lalu?” tanya Mita, menatap lurus ke depan.
“Aku butuh waktu untuk memahami perasaanku padamu” katanya. “Aku butuh waktu untuk mengerti perasaanmu padaku” mata Wahyu menerawang jauh ke langit.
Mita merasakan dadanya yang sesak. Air matanya menggenang dan siap tumpah.
“Aku nggak mau terus-menerus menyakiti kamu kalau kita terus bersama, Aku harap kamu mengerti” tegas Wahyu.
Air mata itu menetes juga, keputusan Wahyu sangat mengejutkannya.
“Kamu memang bisa tanpa Aku, tapi Aku?” air matanya menetes. “Apa kamu pernah memikirkan hatiku, perasaanku?” Mita menangis, menatap mata teduh milik Wahyu itu.
“Mita, kamu nggak ngerti, justru kalau Aku terus ada bersamamu, Aku akan terus menyakitimu” jelas Wahyu.
Mita merasakan sikap Wahyu yang lebih lembut dari biasanya. Ia terdengar lebih tenang.
“Aku tahu, kamu tersiksa dengan sikapku yang seakan tak peduli padamu” Wahyu mendehem. “Itu semua karena Aku belum yakin dengan perasaanku, Mita!” Wahyu membalas tatapan Mita.
Air mata Mita menetes lagi, terasa hangat saat meluncur bebas di pipinya. Wahyu menyekanya dengan ibu jarinya.
“Lihat, bahkan Aku selalu membuatmu menangis dengan setiap ucapanku!” Wahyu tersenyum getir.
“Aku akan terus belajar mencintai kamu, mengerti perasaanmu, memahami keinginanmu” katanya lagi. “Aku janji, Sayang!” Wahyu mengecup kening istri yang selalu ia abaikan selama dua bulan itu.
Tangis Mita semakin dalam mendengar panggilan Sayang yang diucapkan Wahyu padanya untuk pertama kalinya. Ia tak tahu, apa yang di pikirkan Wahyu saat membuat keputusan itu.
“Tapi sekarang, kita memang harus menjalani hidup kita masing-masing!” ucap Wahyu, seakan keputusannya adalah keputusan terbaik.
Mita menatap wajah Wahyu yang tetap tenang itu. Ia benci ekspresi itu, benci sekali.
Yah, sekarang Mita sudah mendapatkan kepastian itu. Kepastian hati Wahyu. Kepastian dari ketidakmengertian Wahyu. Semuanya.
“Aku sayang kamu!” Mita berteriak dalam hati, lidahnya kelu tak mampu berucap.
“Kalau bisa, Aku mau tetap di sini, di samping kamu, menerimamu dan menyayangimu!” Wahyu menyeka air mata Mita.

Mita ingin sekali menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Wahyu. Memeluknya erat, dan menumpahkan ketidaknyamanan hatinya selama ini. Ia ingin bilang kalau Wahyu adalah pria teregois yang pernah di kenalnya. Egois karena memilih keputusan secara sepihak. Mita muak dengan keadaan ini. Keadaan yang seakan semakin menjauhkan hati Wahyu darinya, hingga tak ada kesempatan untuknya memiliki hati pria angkuh itu.

“Lalu, kamu pikir dengan kita berpisah kamu akan mengerti?” tanya Mita.
Wahyu tak menjawab. Ia tak bisa memastikan hal itu sekarang. Semua soal waktu. Ya, waktu
“Kenapa diem? Nggak bisa jawab?” Mita tersenyum sinis.
Wahyu masih dalam diamnya, pertanyaan Mita memang tak bisa ia jawab sekarang. Karena ia belum mencobanya.
“Apapun yang terjadi, Aku akan tetap di sampingmu, tapi tidak untuk saat ini” Wahyu mendehem. “Tapi nanti!” katanya.
Wahyu berdiri dari duduknya, dan berniat pergi meninggalkan Mita. Ia tak bisa melihat istrinya itu terus-menerus menangis di hadapannya.
“Aku akan terus meyakinkan hatiku, dan memberimu kepastian! Ini hanya sementara!” Wahyu membungkuk, mengecup kening istrinya.
Mita tak bergeming, air mata terus menggenang di pelupuk matanya. Mulai sekarang, ia akan membiasakan diri tanpa Wahyu. Menjalani hidupnya sendiri. Memang perpisahan mereka hanya sementara. Tapi itu cukup menyakitkan hatinya.
Wahyu berjalan pergi meninggalkan Mita. Mita menarik napas dalam, menyeka air matanya, lalu berdiri dari duduknya. Ia berbalik, berlari kecil.
“Wahyu!” serunya.
Wahyu tak menyahut, hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
Dalam sekejap, Mita telah memeluk tubuh Wahyu dari belakang. Meletakkan kepalanya di punggung pria itu seraya menangis. Kenyamanan menyelusup relung hatinya.
“Aku nggak mau kamu pergi!” suara Mita terdengar serak.
Wahyu menggenggam tangan Mita yang melingkar di perutnya. Merasakan pelukan Mita yang erat. Mita benar-benar tak ingin Wahyu pergi.
“Mita...” desah Wahyu.
“Kamu ngerti kan? Jadi tolong tetap disini!” tukas Mita, terisak.
Wahyu melepaskan tangan Mita yang melingkar di perutnya, memutar tubuhnya, menghadap Mita.
“Ini cuma sementara, Mita!” Wahyu menatap Mita. “Aku mau kamu mengerti” ia menyibak rambut Mita yang tertiup angin.
Mita menatap Wahyu, tatapan seperti anak kecil yang tak mau ditinggal pergi oleh orangtuanya. Lalu Mita memeluk Wahyu lagi, erat. Merasakan aroma tubuh Wahyu, merasakan detak jantung Wahyu yang tetap tenang. Ia nyaman melakukan hal itu. Wahyu meletakkan kedua tangannya di punggung Mita, membalas pelukan Mita. Ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan istrinya itu.
Selang beberapa menit, Mita masih enggan melepaskan pelukannya. Ia benar-benar tak ingin Wahyu pergi.
“Mita?” Wahyu membelai rambut Mita.
Mita mengendurkan dekapannya pada Wahyu. Menyeka air matanya, menatap mata Wahyu.
“Kamu boleh pergi sekarang!” Mita mencoba tersenyum dan menguatkan hatinya.
Wahyu menatap Mita nanar, kemudian menggenggam tangan Mita. Mita melengos, ia tak mau lagi menatap mata itu. Ia benci keegoisan Wahyu, kerasnya hati Wahyu. Benci. Dan, ia bodoh kenapa bisa mencintai Wahyu.
“Ok,” Wahyu melepas genggamannya. “Aku tinggal ya, jaga dirimu baik-baik” ujar Wahyu.
Mita membenahi sweaternya yang agak berantakkan. Ia hanya bisa terdiam melihat Wahyu berjalan pergi meninggalkannya.
“Aku yakin, kamu pasti mengerti kalau Aku mencintaimu!” gumam Mita lirih.
Ya, mereka memutuskan untuk berjalan di dua jalan yang berbeda. Berjalan di satu jalan yang sama hanya akan membuat salah satu dari mereka tersakiti. Mungkin dengan begini, mereka akan lebih mengerti hati satu sama lain.
“Kak Tata benar, Aku memang sok tegar, sok kuat!” Mita tersenyum miris. “Berpisah sama kamu aja, Aku nggak bisa!” Mita menyeka air matanya, tersenyum, sok tegar.
Ia masih diam mematung di tempatnya berdiri. Tak percaya, Wahyu membuat keputusan itu. Keputusan untuk berpisah tanpa bercerai. Mita menghela napas panjang, ia ingin belajar menerima semuanya. Apapun itu.

Sayangku rindu..
Sayangku cintamu..
Meski memang kau tak mengerti..
Ku butuh dirimu..
Ku ingin kau hadir..
Meski memang bukan inginmu..
Sampai saatnya engkau mengerti..
Aku mencintamu slalu..
Bila saatnya engkau sadari..
Hatimu hanya untukku..
Mengertilah kasih..






--TAMAT--

0 komentar:

Posting Komentar