Kejutan Buat Bunda | Part 2

         Mita tiba dirumah lebih awal, pukul tiga sore, ia mengkhawatirkan keadaan salah satu putranya yang sedang demam itu. Maka dari itu, ia izin pulang cepat pada atasannya.

       “Dhasa? Deriel?” seru Mita, meletakkan handbag-nya di sofa ruang tengah, berjalan menuju kamar kedua putranya.

       Mita membuka pintu kamar itu, hingga menimbulkan suara berdecit. Didapatinya, Dhasa dan Deriel tertidur di sisi Ayahnya. Posisi Wahyu memang berada di tengah.
Mita mengecup kening kedua anaknya itu satu persatu, dibelainya rambut Dhasa yang agak pirang itu. Meskipun nakal dan sulit diatur, Mita tak pernah berhenti merindukan Dhasa jika sedang bekerja. Seperti halnya ia selalu merindukanDeriel.                                                                   

        Usai makan malam dan belajar, Mita menggiring kedua putranya ke kamar supaya segera tidur. Walaupun mereka sempat menolak dan masih ingin bermain bersama Ayahnya, tapi Mita terus membujuknya karena malam telah mulai larut.

        “Bunda tidur disini aja ya?” pinta Dhasa yang di iringi anggukan Deriel.

        “Kalian kan udah besar, harus tidur sendiri dong!” Mita menyelimuti kedua putranya.

        “Bunda nyebelin!” sahut Deriel.

        “Kalau Bunda tidur disini, nanti Ayah sama siapa?” tanya Mita. Dhasa dan Deriel diam, berpikir.

      “Yaudah, kita aja deh yang tidur dikamar Bunda!” komentar Dhasa, kemudian bangun dari baringannya, diikuti Deriel.

         “Yuk!” Deriel turun dari tempat tidur, di ikuti Dhasa.

 Mita tak berkomentar apapun, hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum.

        “Ayah!” seru Dhasa dan Deriel saat tiba dikamar Ayah dan Bundanya, Wahyu sedang membereskan laptopnya di sofa yang ada di dekat ranjang.

         “Lho? Kalian kok disini?” tanya Wahyu yang sudah mengenakan piyamanya itu.

        “Mereka mau tidur sama kita, Yu!” Mita muncul dari balik pintu, kemudian menutup pintu kamar itu.

Dhasa dan Deriel berbaring di tempat tidur besar itu, di ikuti Mita yang berbaring di sisi kanan, kemudian Wahyu di sisi kiri.

        “Mit?” Wahyu menghadap ke arah Mita, istrinya.

“Iya?” sahutnya menghadap ke arah Wahyu.

“Kenapa mereka tidur disini?” tanya Wahyu.

“Aku juga nggak tahu, awalnya Aku yang diminta tidur di kamar mereka, tapi Aku nolak, dan mereka malah kesini!” jelas Mita seraya tertawa pelan.

“Ayah, Bunda!” seru Dhasa dan Deriel.

“Ya?” sahut Mita dan Wahyu.

“Nyanyi dong!” jawab Dhasa dan Deriel.

“Nyanyi?” Mita dan Wahyu mendelik.

“Iya!” sahut mereka.

Mita dan Wahyu saling pandang, kemudian tersenyum.

“Ayah sama Bunda ngantuk!” kata Mita dan Wahyu, kemudian memejamkan mata.

“Bohong!” Dhasa dan Deriel menggoda Ayah dan Bundanya itu.

                                                                                     ♫

           “Baik-baik ya dirumah, Ayah harus ke kantor lagi” Wahyu mengantar anak-anaknya sampai rumah usai menjemputnya.

          “Iya, Ayah!” sahut Dhasa dan Deriel.

Wahyu mengacak rambut kedua putranya itu, tersenyum, kemudian meninggalkan mereka, meskipun rasa khawatir itu terus mengganggunya.

        “Sekarang kita ngapain?” tanya Dhasa. Mereka masih memakai seragam lengkap dengan tasnya.

       Deriel tak menjawab, ia meletakkan tasnya di sofa, lalu meninggalkan Dhasa. Dhasa melakukan hal yang sama, lalu mengikuti kakaknya itu.
 
         “Kita buat kejutan yuk buat Bunda!” seru Deriel saat tiba didapur. Dhasa melongo bingung.

         “Caranya?” tanyanya.

         “Pakai donat ini!” Deriel mengangkat satu box donat yang dibelikan Ayahnya tadi.

         “Aku nggak ngerti, Deriel!” Dhasa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


         Deriel membuka box berisi donat itu, kemudian mengambil piring besar, meletakkannya diatas meja makan, kemudian membuka kulkas, mengambil cokelat batang yang baru di pakai sedikit oleh ibunya. Dhasa tampak bingung.

         “Donat ini di tumpuk diatas piring!” Deriel menumpuk donat-donat itu di atas piring hingga meninggi.

         “Terus coklat ini diparut, terus di taburin diatas donat ini!” jelas Deriel. Dhasa manggut-manggut mengerti.

          “Aku aja yang parut cokelatnya!” Dhasa mengambil parutan, kemudian mulai memarut coklat batang itu.

Deriel duduk memperhatikannya sambil melahap donat yang ia sisakan untuknya dan Dhasa.

         “Kok susah ya?” keluh Dhasa.

           “Masa sih?” Deriel menjilati jarinya yang berlumur selai strawberry dari donat yang di makannya.

          “Iya, coba kamu!” Dhasa menyodorkan cokelat beserta parutannya pada Deriel.
Deriel mencoba melakukan apa yang Dhasa lakukan tadi. Sementara Dhasa sibuk memakan donat bagiannya.

         “Iya susah!” keluh Deriel.

         Akhirnya mereka melakukannya secara bergantian, hingga membuat meja makan itu kotor, lengket dan berantakan. Banyak parutan coklat yang tercecer di meja makan itu.
Deriel dan Dhasa memperhatikan donat itu usai menaburinya dengan coklat yang telah di parut.

        “Aku boleh minta satu lagi nggak?” tanya Dhas, menopang dagunya dengan kedua tangannya diatas meja.

        “Nggak! Ini buat Bunda!” ujar Deriel.

        “Deriel, ayo dong! Kamu juga pasti mau kan?” tanya Dhasa agak merayu.

        “Dhasa, kalau donatnya kamu makan terus, kejutan buat Bunda apa?” tanya Deriel.

        “Iya sih, tapi....”

        “Dhasa!” Deriel memelototinya.

       “Iya-iya!” Dhasa tersenyum kecut.

Dhasa turun dari kursinya, meninggalkan meja makan itu.

       “Dhasa mau kemana?” tanya Deriel.

       “Mau buat kejutan juga buat Bunda!” Dhasa mengerling jahil. Deriel pun mengikutinya.

 
       Mita menunggu Wahyu di depan kantornya malam itu. Setiap ia pulang malam, Wahyu pasti menjemputnya sebelum pulang kerumah, maka dari itu ia tak bawa mobil.
Tak lama, mobil sedan hitam muncul dan memasuki pelataran kantor itu. Mita mengulum senyum, ia tak lama menunggu.

        “Mita!” seru Wahyu dari balik kaca mobilnya.

        Mita berjalan mendekati mobil itu, membuka pintu bagian depan, lalu beringsut masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu pun melaju meninggalkan pelataran kantor.

       “Yu, kita salah arah kayaknya!” protes Mita karena Wahyu melajukan mobil ke arah yang tak seharusnya.

          Wahyu tak menjawab, hanya tersenyum, membuat Mita bingung.

        “Yu!” Mita tampak gemas.

        “Mita, tolong jangan cerewet!” ujar Wahyu.


           Wahyu menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga, Mita masih belum mengerti. Saat Wahyu turun dari mobilnya, Mita pun ikut turun dengan perasaan bingung.

        “Mbak, ada tulip merah?” tanya Wahyu saat memasuki toko bunga itu.

       “Oh, ada Mas” wanita penjaga toko itu membimbingnya menuju deretan bunga tulip dengan berbagai warna.

       “Saya ambil tulip merah ini sembilan tangkai!” katanya. Mita masih belum mengerti, ia hanya menyibukkan diri melihat bunga jenis lainnya.

      “Baik, Mas!” ucap wanita itu lalu pergi.

      “Yu, kamu kok ajak Aku kesini?” tanya Mita.

      “Ehmmmm, nggak boleh ya?” Wahyu menyeringai.

      “Wahyu!” Mita mendelik.

       Wahyu terkekeh, kemudian mendekati meja kasir, mengambil bunga pesanannya yang telah dibungkus rapi menjadi sebuah bucket, kemudian membayarnya.
Wahyu menoleh, mencari istrinya yang sudah tak ada ditempatnya, ia tersenyum, berjalan mendekati Mita yang ternyata sudah menunggu di dekat mobil dengan wajah muram.

       “Happy Birthday!” Wahyu mengecup pipi istri yang amat dicintainya itu, Mita melonjak kaget.

       Mita menutup mulutnya saat Tulip merah itu disodorkan padanya. Terharu, Shock, semua menjadi satu di hatinya. Bahkan, ia saja lupa kalau hari ini ia berulang tahun.

        “Sembilan itu artinya selamanya, maka dari itu Aku mau kita bisa terus seperti ini selamanya!” Wahyu tersenyum.

       “Wahyu!” Mita menatap pria yang paling di sayanginya itu penuh cinta.

      “Kamu suka?” tanya Wahyu yang di iringi anggukan Mita.

       Mita menerima bunga itu, kemudian mengecup pipi suaminya itu. Masa bodo dengan orang yang melihatnya. Ia sedang berbahagia malam ini dengan perlakuan istimewa Wahyu.


       Mita dan Wahyu tiba dirumah tepat pukul sembilan malam, tapi lampu di rumahnya itu tak ada satupun yang menyala, membuat Mita harus berhati-hati saat berjalan.
“Anak-anak udah tidur ya?” tanya Mita.

            “Nggak tahu” Wahyu berjalan dibelakang Mita.

            “Kita kemaleman, Yu! Mereka marah nggak yah?” Mita merasa bersalah.

           “Mereka pasti ngerti kok!” ujar Wahyu.

        Mita menekan saklar lampu ruang tengah, didapatinya kedua putranya tertidur lelap dilantai itu.

          “Lho, kalian kenapa tidur disini?” gumam Mita, meletakkan bunga dan handbag-nya di sofa, melepas wedgesnya, lalu duduk di samping kedua putranya.

         “Dhasa Deriel?” Mita membelai rambut kedua putranya. Dhasa dan Deriel menggeliat.

         “Bunda?” suara Dhasa terdengar samar-samar.

         “Tidur di kamar yuk!” ajak Mita.

         Dhasa bangun dari baringannya, kemudian mendekati Deriel. Mita sempat berpikir Dhasa berniat menjahili Deriel. Tapi pikirannya salah, Dhasa membisikkan sesuatu yang membuat Deriel langsung bangun dari baringannya.
 
         “Kalian kenapa?” tanya Mita, bingung.

         Wahyu yang sedari tadi duduk di sofa pun ikut bingung dengan sikap Dhasa dan Deriel yang seperti orang terburu-buru.

         “Dhasa Deriel!” seru Wahyu.

          Dhasa dan Deriel berdiri dengan sempoyongan, matanya masih setengah terbuka. Mereka sama sekali tak mengindahkan seruan Ayahnya.

          “Ayo!” Deriel menarik tangan adiknya, mengajaknya ke dapur.

          “Bunda suka nggak ya?” suara Dhasa menghilang perlahan.

        Mita dan Wahyu saling pandang, kemudian menautkan alis. Sama-sama bingung melihat tingkah kedua putranya.

       Selang beberapa menit, Dhasa dan Deriel tak muncul-muncul juga dari dapur, Mita sudah berpindah duduk di sebelah Wahyu yang duduk di sofa.

         “Mereka lagi apa sih?” tanya Mita penasaran, mengikat ulang rambutnya yang mulai berantakkan sekenanya.

         “Coba deh kamu cek, kayaknya berisik banget!” perintah Wahyu. Mita mendelik, Wahyu menyatukan alis.

         “Jangan-jangan mereka ribut!” Mita berlari menuju dapur untuk menengok anak-anaknya.


        “Kalian lagi apa?” tanya Mita yang sudah berada di dapur, di dapatinya Dhasa dan Deriel berdiri di sisi meja makan, dan di meja makan itu terdapat satu piring donat yang di tumpuknya tadi dengan taburan cokelat parut. Ditengahnya tertancap beberapa lilin kecil yang sudah menyala.

          Mita membulatkan matanya, shock bukan main dengan apa yang di lihatnya. Kedua putranya memberinya sebuah kejutan. Spechless.

         “Happy birthday ya, Bunda!” seru Dhasa dan Deriel, tersenyum.

         Mita berjalan mendekati kedua putranya, bersimpuh, lalu memeluk kedua putranya dengan perasaan bahagia. Dhasa dan Deriel menyambutnya dengan sebuah kecupan di kedua pipi ibunya itu.

         “Bunda pikir kalian lupa ulang tahun Bunda” Mita melepas pelukannya, menatap kedua putranya.

         “Enggak dong!” sahut mereka, tersenyum.

           Mita pun tersenyum, lalu mengecup kening kedua putranya, semua penatnya hilang dalam sekejap. Dan itu semua karena kedua buah cintanya dan Wahyu.

          “Bunda, maafin Dhasa sama Deriel ya kalau sering bikin Bunda marah, sedih, kecewa” ucap Dhasa dan Deriel.

         “Bunda selalu maafin kalian” Mita tersenyum, binar matanya memancarkan sorot kebahagiaan.

         Dhasa dan Deriel mengecup pipi Bundanya itu, membuat Mita merasa semakin sempurna sebagai seorang Ibu, karena memiliki kedua putra yang menyayanginya.

         “Tiup lilinnya dong, Bun!” Dhasa dan Deriel melirik kue ala kadarnya itu.

         “Ok!” Mita berdiri. Wahyu sudah berdiri di meja makan, tersenyum pada Mita. Mita membalasnya.

          Mita meniup lilinnya, Dhasa dan Derhel tampak gembira melihatnya, dan yah keluarga kecil itu tertawa bersama menikmati hari spesial itu.

         “Bun, maaf ya kuenya cuma donat!” ucap Deriel saat mereka sedang berkumpul di ruang tengah, menikmati donat bertabur coklat parut itu.

         “Soalnya, kita nggak bisa buat kue yang kayak di toko-toko itu!” timpal Dhasa.
Mita dan Wahyu tersenyum. “Gapapa” ucap Mita.

         “Kenapa nggak bilang sama Ayah kalau mau kasih kejutan buat Bunda? Ayah pasti bantu!” kata Wahyu.

          “Ayah kan sibuk!” Dhasa dan Deriel menyeringai.

          “Tapi kalau buat kalian, Ayah pasti usahain dong!” Wahyu mengacak rambut kedua putranya itu.

        Dhasa dan Deriel saling pandang, kemudian tersenyum jahil.

       “Ayah, katanya mau ajak Bunda dansa!” seru Dhasa dan Deriel. Membuat Wahyu dan Mita melonjak kaget.

        “Dansa?” Mita mendelik menatap Wahyu.

        “Lho lho, yang mau dansa itu siapa?” Wahyu tampak bingung, Dhasa dan Deriel tertawa geli.

        “Udah deh Yah, nggak usah pura-pura!” seru Dhasa dan Deriel, menahan tawa.

        “Mit, Aku nggak ngerti!” ujar Wahyu.

        “Kamu tau kan, Aku nggak bisa dansa!” gumam Mita tepat di wajah Wahyu.

        “Aku juga nggak ngerti, Aku nggak....”

Ucapan Wahyu terhenti saat Heaven milik Bryan Adams mengalun lembut di ruangan itu.

       “Ayo dong, Yah!” seru Dhasa dan Deriel.

       “Yu?” Mita menatap suaminya, meminta pendapat.

       “Ok, ikutin Aku ya!” Wahyu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Satu tangannya menggenggam tangan Mita. “Fokus!” bisik Wahyu. Dan mereka melakukannya sesuai irama. Pelan dan lembut.

       “Kamu kok makin cantik ya, Mit?” ujar Wahyu, melihat istrinya yang begitu anggun dengan balutan kemben yang dipakainya kantor tadi, cardigannya dilepaskannya saat tiba dirumah. Mita mendelik sebal.

       “Serius!” ujar Wahyu, mengerling jahil.

       Mita menunduk tersipu malu, Wahyu tahu istrinya itu gugup. Menurut Wahyu, semenjak menjadi ibu, Mita terlihat lebih cantik, elegan dan sexy. Padahal sebelum hamil, Mita cenderung cuek terhadap penampilannya. Dan mulai memperhatikan penampilannya saat mengandung dan usai melahirkan.

        “Aku sayang banget deh sama kamu!” Wahyu menyeringai.

         “Wahyu!” Mita mendorong pelan tubuh Wahyu.

        Selang beberapa menit, mereka menyudahi dansa mereka. Padahal, lagu belum selesai. Wahyu mengecup kening istrinya itu. Mita hanya membalasnya dengan senyuman.

        “Mit, Dhasa sama Deriel kok nggak ada suaranya ya?” tanya Wahyu, kemudian menoleh, diikuti Mita. Didapatinya, Dhasa dan Deriel tertidur nyenyak di sofa itu. Mita dan Wahyu menggelengkan kepala seraya tersenyum.

         “Tadi minta kita dansa, tapi mereka malah tidur!” Wahyu tampak gemas.

          “Bawa ke kamar aja, Yu!” perintah Mita pada Wahyu.

          “Sebentar” Wahyu mematikan lagu yang masih mengalun itu, kemudian mendekati Mita yang berdiri di dekat sofa.

        “Biar Aku beresin dulu kamarnya” Mita pergi meninggalkan Wahyu.

Mita membuka pintu kamar anak-anaknya itu, masih gelap. Gordennya pun belum ditutup.

         “Dhasa Deriel....” desah Mita saat melihat kamar anak-anaknya itu.

      Mita menekan saklar lampu, menyapu pandangannya ke seluruh sudut kamar. Matanya terbelalak kaget bukan main, di dinding kamar itu terdapat coretan krayon berukuran besar.

        “Dhasa Deriel!!” Mita tampak geram melihat dinding yang tak sedap pandang itu.

        “Kenapa si, Mit?” Wahyu datang dengan membopong Dhasa dan Deriel.

        “Itu!” Mita menunjuk dinding itu dengan dagunya.

Wahyu menidurkan kedua putranya di tempat tidur, kemudian menyelimutinya.

        “I Love You, Bunda” Wahyu membaca tulisan di dinding itu.

        “Kejutan apa lagi sih ini?!” Mita tampak frustasi dengan kelakuan anak-anaknya itu.

Wahyu terkekeh melihat wajah istrinya yang sedang emosi.

         “Tapi mereka kreatif lho, Mit!” ujar Wahyu menahan tawa. “Hadiah ulang tahun itu nggak harus mahal! Tapi berkesan!” kata Wahyu lagi.

         “Iya Aku tahu, tapi....” Mita tampak sebal pada Wahyu.

         “Nanti kan bisa dicat ulang, Mita!” kata Wahyu.

         “Kamu tuh sama aja ya kayak anak-anak kamu! Nyebelin, keras kepala!” Mita pergi meninggalkan kamar anak-anaknya itu.

          “Mita, masa begitu aja ngambek sih!” Wahyu menggelengkan kepala, mengejar istrinya itu, sebelumnya menutup pintu kamar Dhasa dan Deriel.

         Dhasa dan Deriel membuka matanya, saling pandang, kemudian terkekeh. Mereka terbangun saat ibunya marah tadi. Mereka berhasil membuat Ibu mereka terkejut dengan kejutan yang mereka buat.

         “Berhasil!” Dhasa dan Deriel berbisik seraya terkekeh.

         “Dhasa Deriel, Bunda nggak mau maafin kalian!” seru Mita keras, ia tak peduli Dhasa dan Deriel mendengarnya atau tidak.

         “Mita!” Wahyu menyahut.

         Dhasa dan Deriel hanya tertawa pelan dibalik selimut mereka, toh Mita tak akan mendengarnya.

 


--TAMAT--

0 komentar:

Posting Komentar