***
Wahyu duduk disalah satu kursi meja makan, memandangi makanan yang tertata di meja makannya malam itu. Semua makanannya istimewa, semua yang ia mau tersedia di meja makan itu. Tapi, tak sedikitpun ia menyentuhnya, ada sesuatu yang membuatnya enggan menyentuh apalagi memakan makanan itu, ia masih menunggu orangtuanya pulang untuk mengajaknya makan malam bersama. Hal itu selalu Wahyu lakukan setiap hari, menunggu orangtuanya saat waktu makan tiba. Wahyu ingin sekali menyantap makanan itu bersama orangtuanya, hanya itu. Tapi, keinginannya itu belum sempat terpenuhi karena orangtuanya sibuk dengan pekerjaannya. Pergi pagi-pagi, pulang pun larut malam.
“Mas, kok makanannya ndak dimakan?” tanya wanita paruhbaya yang baru saja muncul membawa lap kecil.
Wahyu menggeleng, kemudian menyandarkan punggungnya dikursi itu.
“Mama sama Papa belum telepon, Bi?” tanya Wahyu.
“Sudah, Mas. Mereka pesen, Mas Wahyu ndak perlu nunggu Ibu sama Bapak, karena mereka pulang malem lagi” jawab wanita bernama Bi Minah itu.
“Selalu begitu, yaudah kalau gitu Bibi istirahat aja, biar ini semua saya yang beresin” ucap Wahyu.
“Tapi, Mas...” elak Bi Minah.
“Gapapa, Bi” sela Wahyu.
“Yaudah, Bibi pamit ya, Mas” ucap Bi Minah lalu pergi.
Wahyu menenggelamkan wajahnya diatas meja makan itu. Rasa kesal berkecamuk didadanya.
Wahyu meraih handphone-nya, kemudian memijit tombolnya, ia mencoba menghubungi Mita lagi. Sudah seminggu ini Mita tak pernah mengangkat telepon darinya. Bahkan, setiap hari Wahyu selalu mengunjungi rumah Mita untuk memastikan keadaan Mita. Tapi, hasilnya nihil, ia tak pernah bertemu Mita. Pembantu Mita bilang, Mita pergi tanpa pamit. Wahyu tahu, Mita bukan tipikal orang yang suka pergi tanpa pamit. Ini semua membuat kecurigaan Wahyu pada Mita semakin menjadi, hal ini juga yang membuat Wahyu semakin yakin, bahwa ada yang Mita tutup rapat-rapat darinya.
“Mita, loe kemana sih!” gumam Wahyu pada dirinya sendiri sambil meletakkan handphone-nya kembali dimeja itu.
Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, hampir tengah malam. Tapi, Wahyu masih duduk terdiam di kursinya. Masih menunggu orangtuanya pulang dari kantornya.
“Lho, kamu belum tidur, Yu?” tanya seorang laki-laki paruhbaya yang rapi dengan kemeja lengkap dengan dasinya.
“Udah malem lho, Yu. Tidur sana” timpal wanita cantik disebelah laki-laki itu.
“Mama, Papa. Kita makan malem sama-sama, yuk!” ajak Wahyu antusias.
Kedua orang itu saling pandang, kemudian memperhatikan Wahyu.
“Tapi makanannya dingin, biar Wahyu panasin dulu ya, Mama sama Papa tunggu disini” cerocos Wahyu.
“Wahyu....” panggil sang Mama.
“Sebentar kok, Ma manasinnya” lanjut Wahyu yang sedang sibuk itu.
“Papa sama Mama udah makan diluar, Yu” aku sang Papa.
Wahyu terdiam lalu menghentikan kesibukannya, kemudian kembali duduk di kursinya tadi.
“Maafin Mama sama Papa ya, sayang” ujar sang Mama.
“Wahyu cuma pengen setiap makan selalu sama-sama kalian, cuma itu kok, Ma. Wahyu pengen bisa kayak yang lain, setiap makan selalu sama-sama keluarga” Wahyu berhenti sebentar.
“Tapi, kayaknya Mama sama Papa nggak bisa kabulin keinginan Wahyu yang satu ini” lanjut Wahyu.
“Wahyu...” desah sang Mama.
“Wahyu tau, Mama sama Papa sibuk. Wahyu ngerti itu” sela Wahyu yang masih pada posisinya.
“Tapi, kenapa Mama sama Papa nggak pernah mau ngerti apa yang Wahyu mau?” lanjutnya lirih.
“Maafin Mama ya, Yu” ujar sang Mama sambil memeluk putra sematawayangnya itu.
“Sekali aja, Wahyu pengen ngerasain kumpul dimeja makan dan makan sama-sama kalian, itu aja, Ma. Nggak lebih” lanjut Wahyu.
“Tapi, Mama sama Papa udah makan, Yu” komentar Papanya.
“Kalian selalu begitu, makan diluar, padahal kalian tau kalau Wahyu nunggu dirumah. Wahyu ini anak Mama Papa, bukan pajangan yang nggak punya hati dan perasaan!” sanggah Wahyu lalu pergi meninggalkan Mama dan Papanya.
“Wahyu!” seru Mamanya.
“Wahyu punya perasaan, Ma!” sahut Wahyu tanpa menghentikan langkahnya.
***
Wahyu duduk termenung di gazebo yang ada di halaman belakang rumahnya siang itu. Tangannya menggenggam benda mungil bernama handphone itu. Ia masih terus berusaha menghubungi Mita, bahkan hari ini ia sampai tak ke sekolah dan hanya menghabiskan waktunya di gazebo itu sendirian seperti orang gila. Sudah beberapa kali Bi Minah membujuknya untuk makan, tapi ia selalu menolak.
“Yu...” sapa seseorang berseragam putih abu-abu yang baru saja datang.
“Amanda, Dio” ujar Wahyu datar.
“Kok loe nggak ke sekolah?” tanya Dio seraya duduk disebelah Wahyu.
“Loe sakit?” timpal Amanda.
“Nggak, lagi nggak pengen aja ke sekolah” jawab Wahyu datar.
Amanda menghela napas panjang.
“Yu, loe kok jadi cemen gini sih!” tukas Amanda.
“Maksud loe apa?” tanya Wahyu bingung.
“Gua tau kok, loe nggak mau ke sekolah, nggak mau makan, dan nggak mau angkat telepon kita karena loe mikirin Mita kan? Iya?” cerocos Amanda ketus.
“Nda, sabar loe” ujar Dio.
“Halah, buat apa si loe mikirin orang yang nggak peduli sama loe, loe capek-capek hubunghn Mita, sedangkan Mita sendiri nggak pernah ngerespon loe” lanjut Amanda.
“Gua yakin Mita pasti punya alasan kenapa dia tiba-tiba ilang gini” komentar Wahyu dingin.
“Yu, gua sendiri bingung harus gimana lagi cari tau keadaan Mita sekarang, jadi gua minta loe berhenti...” celoteh Amanda.
“Gua nggak akan berhenti cari tau keadaan Mita, ngerti loe?” sela Wahyu membentak.
“Tapi, Yu...”
“Apapun alesan Mita nanti, gua terima!” potong Wahyu.
Amanda memilih diam, ia tahu sahabatnya itu mulai marah.
“Sebenernya, apa loe sama Mita sempet ada masalah sebelumnya?” tanya Dio ketika Wahyu mulai tenang.
“Nggak ada, gua sama Mita masih sempet ke tempat futsal, cuma...” Wahyu menghentikan penjelasannya.
“Cuma apa?” tanya Amanda.
“Sikapnya agak aneh, yang gua sendiri nggak tau kenapa” lanjut Wahyu.
“Aneh gimana maksud loe?” tanya Dio belum mengerti.
“Gua ngerara ada sesuatu yang Mita tutup rapat-rapat dari kita, yang gua sendiri nggak tau” jelas Wahyu kemudian mengacak-acak rambutnya.
“Apa yang sebenernya terjadi sama loe, Mita?” gumam Amanda.
Dio meletakkan dagunya dibahu Amanda, seakan merasakan apa yang Amanda rasakan.
***
“Kamu yakin nggak perlu Bunda anter sampai kelas?” tanya seorang wanita paruhbaya yang sedang membantu anaknya keluar dari mobil hitam itu.
“Nggak perlu, Bunda. Mita bisa sendiri kok” tolak Mita.
“Bunda telepon Dio, Amanda atau Wahyu gimana?” tanya sang Bunda.
“Bunda, nggak perlu. Mita masih bisa jalan sendiri” tolak gadis itu lagi.
“Yaudah kalau gitu, bener gapapa?” tegas sang Bunda.
“Iya, belnya sepuluh menit lagi kok, cukup lah buat Mita jalan sampai kelas” jelas Mita meyakinkan.
“Ok, hati-hati ya, sayang” ucap Bundanya dibarengi senyum getir.
“Siap, Bunda!” komentar Mita sambil mencium punggung tangan ibunya itu.
“Bunda sayang Mita” bisiknya.
“Mita juga” balasnya lalu pergi meninggalkan ibunya.
Tapi, baru beberapa langkah berjalan, Mita membalikkan tubuhnya lagi. Tanpa sepengetahuannya, ibunya baru saja meneteskan air mata.
“Bunda, nanti Bunda nggak perlu jemput Mita ya, Mita mau pulang sama Wahyu” kata Mita tersenyum lalu kembali berjalan.
“Iya, Sayang” sahut sang Bunda disela tangisnya.
Senyuman Mita, anaknya benar-benar membuatnya takut kehilangan Mita. Senyum yang selalu membuatnya tenang.
Mita berjalan dengan susah payah menyusuri koridor kelas, kelasnya masih lumayan jauh. Hari ini entah apa yang membuatnya terlihat sumringah.
***
Bel berbunyi nyaring, padahal Mita hampir saja sampai. Semua anak-anak disekolah itu mulai berlarian dikoridor untuk masuk ke kelas masing-masing. Mita menepikan tubuhnya disebelah salah satu ruang kelas yang dilewatinya, agar ia tak tertabrak siswa lain. Biasanya, ia termasuk menjadi bagian dari siswa yang berlari-lari itu untuk cepat tiba dikelas. Tapi sekarang, untuk berjalan saja sulit dan butuh bantuan, apalagi harus berlari. Belum lama ini, Mita memang tervonis mengidap kanker tulang stadium tiga tahap akhir. Dan sekarang kanker itu sedang menggrogoti kedua kakinya.
Itu sebabnya, Mita berubah menjadi pribadi yang pendiam dan lebih suka sendiri. Tak ada yang tau tentang kanker itu, dan tentang dirinya yang masuk Rumah Sakit selama seminggu kemarin. Mita tak ingin dikasihani, apalagi dengan ketiga sahabatnya.
Mita melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya. Ia berharap bisa tiba lebih dulu dari Pak Dhani, guru fisikanya yang teramat tegas itu.
Tapi ternyata, Pak Dhani baru saja masuk kelasnya. Mita pun berusaha mempercepat langkahnya.
“Permisi, Pak” sapa Mita dari luar ruang kelas itu, napasnya masih tersengal-sengal.
Pak Dhani berjalan menghampiri Mita yang berpegangan di pintu kelas itu agar keseimbangannya tetap terjaga dengan baik.
“Kamu telat, Mita!” tandasnya ketus.
“Maaf, Pak” ujar Mita menunduk.
“Kamu tak saya izinkan masuk pelajaran saya!” lanjutnya.
“Tapi, Pak...”
“Ini juga sebagai hukuman untuk kamu karena tidak ke sekolah selama seminggu!” sela Pak Dhani.
“Saya kan izin, Pak!” protes Mita seraya mengangkat kepalanya.
“Kamu tau? Peraturannya izin hanya diperbolehkan dua hari, tapi kamu sudah seminggu izin, kamu kira ini sekolah ayah kamu!” omel Pak Dhani.
“Tapi Pak, saya mau ikut ulangan hari ini, saya udah belajar kok, Pak!” bujuk Mita.
“Apa?” tanya Pak Dhani.
“Iya, saya udah belajar, dan saya janji akan meperbaiki nilai ulangan saya yang selalu pas-pasan itu, Pak” celoteh Mita antusias.
“Kamu yakin?” tanyanya lagi.
“Yakin, Pak. Saya janji nilai saya kali ini bisa memuaskan!” tegas Mita dibarengi senyum.
“Baik, kesempatan kamu hanya hari ini, kalau kamu tidak berhasil, kamu saya scors” putus Pak Dhani.
Mita mengangguk mantap seraya tersenyum?
“Sekarang masuk!” perintahnya seraya masuk kelas.
Mita pun berjalan memasuki kelas, tangannya terus berpegangan setiap meja yang dilewatinya, semua orang diruangan itu memandangi cara jalannya yang sedikit aneh dan lambat itu. Wahyu, Amanda dan Dio benar-benar tak menduga kalau Mita akan hadir hari ini. Kejutan yang menyenangkan sekaligus menyebalkan.
Bel istirahat berbunyi nyaring, semua siswa penghuni kelas pun berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin.
Mita sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Amanda dan Dio memperhatikannya.
“Loe berdua kenapa?” tanya Mita usai memasukkan buku-bukunya.
“Kemana aja loe seminggu kemarin?” tanya Amanda ketus.
“Loe tau nggak, kita khawatir sama keadaan loe, handphone nggak aktif, rumah loe juga nggak ada orang!” timpal Dio tak sabaran.
“Gua ikut Ayah gua tugas di Bandung, sekaligus liburan, abisnya gua bosen sekolah” jelas Mita santai.
“Hah?!” seru Amanda dan Dio kompak.
Dio menggelengkan kepalanya, ia benar-benar heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
“Sinting loe!” semprot Amanda ketus.
“Gila loe, Mit!” timpal Dio.
“Kita disini khawatir sama loe, tapi ternyata loe justru seneng-seneng di Bandung, keterlaluan!” lanjut Amanda yang tak bisa meredam amarahnya.
“Ya, maaf” ucap Mita seraya menunduk.
“Loe udah kelewatan, Mit! Nggak punya perasaan!” semprot Dio.
Mita merasakan dadanya yang sesak, ingin rasanya ia menangis. Tapi, memang lebih baik seperti ini, sahabatnya membencinya. Daripada ia harus melihat sahabatnya mengasihaninya. Mita tak butuh belas kasihan. Ia hanya butuh kasih dan sayang.
“Gua nggak nyangka loe setega ini, Mit” kini Wahyu angkat bicara yang sedari tadi hanya duduk terdiam.
“Maaf, Yu..” komentar Mita.
Wahyu berdiri dari duduknya, lalu pergi meninggalkan ketiga sahabatnya itu.
“Asal loe tau ya, Wahyu orang yang paling khawatir sama keadaan loe, dia sampai nggak mau makan, dan setiap hari kerjanya cuma mantengin handphone-nya. Berharap ada kabar dari loe, tapi apa? Yang dia khawatirkan ternyata lagi seneng-seneng, jahat loe!” Amanda mengejudge Mita keras.
Mita tak menjawab, ia hanya menunduk, merasakan dadanya yang sesak dan sakit itu.
“Udah, cabut yuk!” ajak Dio pada Amanda.
“Gua benci sama loe!” tunjuk Amanda pada Mita sebelum akhirnya pergi bersama Dio, meninggalkan Mita sendiri dikelas itu.
Mita akhirnya
menangis tersedu-sedu karena kesalahan yang tak pernah ingin ia perbuat.
Suara deru motor membuyarkan lamunannya. Penunggang ninja hitam itu memperhatikannya agak sinis.
“Ayo gua anter pulang!” ajaknya tanpa turun dari motornya.
“Tapi...”
“Cepet naik!” perintahnya keras seraya memakai helmnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Mita pun naik keatas motor itu, duduk dibelakang lelaki berkulit putih dan tampan bernama Wahyu itu.
“Yu...” ucap Mita pelan saat motor itu mulai melaju.
Wahyu tak menjawab, pandangannya fokus ke depan.
“Yu, gua minta maaf soal seminggu yang lalu, gua salah karena ngebiarin loe khawatir” lanjut Mita.
“Loe bohong kan soal itu? Loe nggak ke Bandung ikut Ayah loe tugas, iya kan?” komentar Wahyu yang nada suaranya terkesan marah itu.
“Gua nggak mungkin bohongin kalian” sanggah Mita membela diri.
“Gua tau loe, Mit. Loe nggak mungkin ninggalin sekolah cuma demi ikut tugas keluar kota” lanjut Wahyu.
“Setiap orang bisa berubah, Yu” bela Mita lagi.
“Tapi, perubahan loe drastis, Mit!” sungut Wahyu.
Air bening itu menetes dari pelupuk mata gadis itu, kenapa ia sampai tega membohongi sahabat-sahabatnya?
“Cukup loe bohongin gua, Mit!” tukas Wahyu keras.
“Gua nggak bohongin loe, Yu” protes Mita membela diri.
“Mungkin, tapi ada hal yang masih loe tutupin dari gua, yang mungkin belum bisa loe ceritain ke gua” sanggah Wahyu.
“Cukup! Berhenti ngejudge gua bohong!” tegas Mita yang akhirnya menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
“Gua nggak bohong, Yu” lanjut Mita disela tangisnya.
Wahyu menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Mita, ia turun dari motornya, setelah sebelumnya Mita turun dari motornya.
“Mit...”
Mita menyeka air matanya, kemudian tersenyum hambar.
“Gua masuk dulu ya, thanks” pamit Mita.
“Mit, maaf udah bikin loe nangis, ternyata loe tetep Mita yang cengeng dan nggak bisa dibentak” ucap Wahyu pelan.
“Gapapa” komentar Mita.
Wahyu memang paling tak bisa melihat Mita menangis, walaupun Mita menangis karena kelakuannya. Wahyu tau, Mita gadis yang tak pernah bisa dibentak. Tapi tadi, ia membentak gadis itu.
“Tapi, loe tau kan, gua nggak suka dibohongin, bahkan sama sahabat sendiri pun gua nggak suka” bisik Wahyu.
Air mata kembali menetes dari pelupuk mata Mita usai Wahyu mengucapkan hal itu.
“Sampai besok” pamit Wahyu sambil menunggangi motornya dan memakai helmnya.
Mita pun bergegas masuk kedalam rumah lumayan besar itu, saat Wahyu sudah pergi dari rumahnya itu.
0 komentar:
Posting Komentar