“Wahyu!” seru seorang gadis berambut bondol berseragam putih abu-abu sedang berlari-lari kecil, ada hal yang sedang dikejarnya.
Lelaki bernama Wahyu itu menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya.
“Jalan loe cepet banget! Huh huh!” ujar gadis itu saat sudah berdiri di hadapan lelaki yang dikejarnya itu.
“Ada apa, Mit?” tanya lelaki yang memiliki tubuh proporsional itu, Wahyu.
“Ada surat buat loe” jawab gadis itu, seraya mengeluarkan amplop pink dari saku kemejanya, kemudian menyodorkannya pada Wahyu.
“Dari siapa?” tanya Wahyu seraya membolak-balikan amplop itu.
“Gua nggak tau!” jawab gadis itu sambil mengangkat bahunya, lalu pergi.
Wahyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, Ia benar-benar bingung. Kemarin ia mendapatkan satu bucket bunga tulip, kemarinnya lagi ia mendapatkan dua buat coklat. Dan semua itu ia dapatkan melalui Mita, gadis tomboy yang juga teman sebangkunya dikelas. Siapa pengirim rahasia itu? Kenapa selalu melalui Mita? Pertanyaan itu yang benar-benar mengganggu pikirannya selama hampir seminggu terakhir ini.
Wahyu Sudiro, seantero sekolah itu tahu siapa Wahyu Sudiro, laki-laki penggila futsal itu memang menjadi idola satu sekolah, selain ahli dalam bermain futsal, Wahyu juga lelaki yang aktif dalam ekstrakurikuler teater, sekaligus menjadi ketua osis. Itu sebabnya, tak sedikit yang menginginkannya menjadi kekasih hati.
“Wih, dapet surat cinta nih!” sindir Amanda, salah satu teman baik Wahyu, saat Wahyu duduk dikursinya sambil membaca surat itu.
“Apaan si loe!” komentar Wahyu.
“Manda, nanti sepulang se...” seru seorang gadis yang muncul dari balik pintu kelas itu sambil membawa dua pacs kertas origami yang baru saja dibelinya, Mita.
“Wahyu dapet surat tuh hari ini” sindir Amanda lagi.
“Udah tau, kan gua yang kasih ke dia”sanggah Mita seraya duduk disebelah Wahyu, teman sebangkunya.
“Yaaah, berarti loe tau dong siapa pengirimnya, kasih tau dong!” celoteh Amanda antusias.
“Sorry, gua nggak tau siapa pengirimnya, nggak kenal” sanggah Mita.
“Yaaah” desah Amanda.
Ketiganya terdiam, Mita sibuk dengan origaminya, Amanda sibuk memperhatikan Wahyu yang sedang membaca suratnya.
“Kok sepi, yang lain kemana?” tanya lelaki berkacamata minus yang baru saja datang, Dio.
“Olahraga” jawab Mita.
“Loe bertiga nggak ikutan?” tanya Dio, teman sebangku Amanda.
“Loe sendiri kenapa nggak ikutan?” Mita balik bertanya.
“Gua kan baru dateng” jawab Dio membuang napas.
“Dasar Mr. Ngaret!” sembur Amanda.
Dio memanyunkan bibirnya, lalu duduk disebelah Amanda.
“Gurunya nggak dateng, jadi ogah ikutan” jelas Amanda.
“Oh gitu” Dio manggut-manggut.
Dio Irawan, cowok yang terkesan cupu dengan kacamatanya itu, ternyata playboy kelas kakap. Terbukti, dari banyaknya perempuan yang tercatat pernah menjadi korban mulut manis seorang Dio.
“Mit, buat apaan tuh origami?” tanya Dio ingin tahu.
“Hah? Ini... Buaat ..” Mita tergagap.
“Loe akhir-akhir ini aneh, kemarin beli origami dua pacs, sekarang beli lagi 2 pacs, buat apa si?” tanya Amanda.
“Iseng aja, hehe” jawab Mita disertai cengiran.
Mita tahu, jawabannya pasti sama sekali tidak memuaskan sahabat-sahabatnya.
“Mit, temenin gua ke kantin yuk!” ajak Wahyu seraya menarik lengan Mita sambil berdiri dari duduknya.
Mita tak menjawab, toh apapun jawabannya, Wahyu pasti akan tetap memaksanya untuk mengantar.
“Gua tau, ada yang loe rahasiain dari gua, ya kan?” tanya Wahyu saat diperjalanan menuju kantin.
“Rahasia? Nggak ada” sanggah Mita cuek.
“Gua nggak tau, tapi feeling gua bilang, ada hal yang loe tutup rapat-rapat dari gua, Amanda dan juga Dio” tukas Wahyu dingin.
Mita tak menjawab, penjelasan Wahyu cukup membuat hatinya bergetar, entah karena apa, Mita tak tahu pasti. Hanya Tuhan yang tau apa yang ada dihatinya. Diam, hanya itu hal yang ia bisa saat ini. Ia tau, Wahyu bukan tipikal lelaki yang suka ditentang perkataannya. Mita tahu betul sikap sahabatnya itu.
***
Mita duduk diatas tempat tidurnya yang rapi dengan balutan sprei bermotif bendera Inggris itu. Kertas origami berserakan diatas tempat tidurnya. Gadis itu sedang asik dengan mainan barunya.
“Kak Mita” sapa seorang gadis cantik berambut hitam panjang dan lurus itu, ia duduk diatas tempat tidur Mita.
“Dara, Aku udah bilang kan, kalau masuk kamar orang, ketuk pintu dulu” omel Mita, kesal dengan kelakuan adik sematawayangnya itu.
“Maaf, kakak buat apa?” tanya gadis bernama Dara itu.
“Bangau kertas” jawab Mita cuek.
“Sebanyak itu?” tanya Dara sambil melirik dua pacs origami itu.
“Iya” jawab Mita.
“Buat apa bangau kertas sebanyak itu?” tanya Dara lagi.
“Iseng aja pengen buat” jawab Mita.
Dara manggut-manggut mengerti, lalu ia pun keluar dari kamar kakaknya itu.
Mita tak menghiraukan Dara, jari-jari kecilnya sangat telaten membentuk pola bangau pada setiap kertas origami itu, hingga terbentuk sebuah bangau. Mita memasukkan bangau yang sudah rapi didalam toples bertutup merah itu.
Entah sejak kapan Ia menyukai hal-hal kurang penting itu.
Mita menghentikan kesibukannya saat handphone-nya berdering. Nama Wahyu tertera dilayar LCD-nya.
“Mit, besok sepulang sekolah loe harus temenin gua futsal, ya?” cerocos Wahyu langsung tanpa basa-basi, kebiasaan yang aneh.
“Ehmmm gimana ya?” gumam Mita berpikir.
“Ayolaaah!” pinta Wahyu memohon.
“Ok” putus Mita akhirnya.
“Gitu dong, oh iya gua punya cerita lucu, mau denger nggak?” celoteh Wahyu.
“Mauuuu, ayo cerita!” sahut Mita antusias.
Mita dan Wahyu memang sudah terbiasa seperti ini setiap hari. Berbagi cerita melalui media apapun, Wahyu tak pernah absen menghubungi Mita. Itu yang membuat Mita akhirnya mencintai Wahyu. Yah, Mita mencintai Wahyu. Tanpa seorang pun tahu, kecuali Tuhan dan dirinya. Tapi, ada satu hal yang Mita takutkan selama ini, jatuh cinta! Yah, Mita takut jatuh cinta. Karena ia takut waktunya tak cukup untuk saling berbagi bersama orang yang dicintainya, Wahyu. Mita takut membuat Wahyu kecewa jika ia mencintainya.
***
Mita duduk dikursi panjang yang ada ditepi lapangan berpagar besi itu, setelah sebelumnya ia berdiri tepat dipinggir pagar itu untuk memperhatikan Wahyu bermain futsal dengan teman-temannya.
Mita mulai merasa jenuh menunggu Wahyu. Ia pun mengeluarkan origami dari dalam tasnya, kemudian jari-jarinya mulai sibuk melipat-lipat kertas berwarna merah itu, membentuk sebuah pola. Ya, dia akan membuat bangau.
“Mitaaa!” seru seseorang yang suaranya tak asing bagi Mita.
Mita mengangkat kepalanya, memperhatikan orang yang memanggilnya.
“Main aja, nggak perlu manggil-manggil gua” sahut Mita tersenyum.
“Ikut main yuk!” ajak Wahyu dari dalam lapangan.
“Lagi nggak mood!” tolak Mita.
“Ok, sayang!” lanjut Wahyu kemudian kembali sibuk bermain.
“Sayang?” gumam Mita.
Mita menghentikan kesibukannya, kemudian memasukkan kembali kertas origami dan beberapa bangau kertasnya yang sudah rapi ke dalam tas. Kemudian, berjalan mendekati pagar lapangan yang tinggi itu, memperhatikan Wahyu dengan senyumnya.
“Yu, kalau aja loe tau apa yang gua mau sekarang, mungkin loe bingung daaan...” gumam Mita terputus disertai senyum miris.
Mita menunduk sebentar, dadanya terasa sesak, ditambah dengan rasa nyeri yang teramat sangat dikedua kakinya. Air mata pun tak mampu ia bendung.
“Gua bukan sahabat yang baik buat loe, dan nggak akan pernah jadi yang terbaik” lanjut Mita tersenyum lirih.
“Tuhan, Aku siap dengan apapun yang telah Kau rencanakan. Aku terima dengan senang hati” ucap Mita yang terdengar seperti bisikan.
Mita buru-buru menyeka air matanya saat Wahyu berjalan keluar dari lapangan.
“Mit, mau langsung pulang atau?” tanya Wahyu yang sudah berdiri dihadapan gadis tomboy itu.
“Langsung pulang aja, gua capek!” sahut Mita.
Wahyu memandang lekat mata gadis yang ada didepannya itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Mita, membuat Mita membulatkan matanya.
“Loe abis nangis ya?” tanya Wahyu kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Mita.
“Hah? Nangis? Enggak!” jawab Mita tergagap.
“Bohong!” protes Wahyu ketus.
Mita pergi meninggalkan Wahyu dengan jengkel, tapi gerak langkahnya yang lambat seakan memperlambat keinginannya untuk segera pergi dari tempat itt. Mita agak kesulitan berjalan.
“Jangan sekarang, Tuhan” batin Mita sambil terus berusaha berjalan seperti biasanya.
“Mita, are you ok?” tanya Wahyu yang sudah berjalan disebelah Mita.
“Ya, gua gapapa” jawabnya.
“Loe susah jalan?” tanya Wahyu heran.
“Nggak” jawab Mita.
“Mita, gua minta maaf soal ba...”
“Nggak perlu, loe nggak salah, gua emang abis nangis” jelas Mita sambil terus berusaha berjalan dengan baik.
“Nangis karena apa?” tanya Wahyu.
“Nggak penting buat loe” jawab Mita sekenanya.
Wahyu tak berkomentar lagi, ia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Ada yang membuat Wahyu yakin, bahwa ada yang Mita tutupi darinya.
“Mit, gua gendong ya?” tawar Wahyu akhirnya.
“Gua masih bisa jalan, nggak usah berlebihan” tolak Mita.
“Tapi, Mit...”
“Biarin gua jalan sendiri, gua masih bisa” sanggah Mita tersenyum.
***
“Bundaaa, kak Mita pulang!” seru Dara yang berdiri ambang pintu.
Mita masuk ke dalam rumahnya dengan langkah lambat. Ia meminta Wahyu agar hanya mengantarnya sampai gerbang.
“Mita, kok jam segini baru pulang?” tanya wanita paruhbaya yang baru muncul.
“Tadi nemenin Wahyu futsal, Bunda” jawab Mita.
“Yuk, sekarang Bunda bantu kamu masuk kamar” ucap sang Bunda seraya menuntun tangan anaknya itu.
“Makasih, Bun” kata Mita.
Tapi, baru beberapa langkah Mita berjalan, tubuhnya tiba-tiba ambruk, membuat Dara dan Ibunya panik.
“Mita, kamu kenapa?” tanya sang Bunda yang mulai terisak.
“Kak Mita bangun!” teriak Dara disela tangisnya.
_ TO BE CONTINUE _
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Blognya lumayan dev, tapi gua saran kan tulisan post nya lebih baik warna putih aja atau warna yang enggak mencolok mata, supaya biar gak sakit mata yang bacanya hehe
liat aja nih contoh blog gua :D
>> http://ngegau.blogspot.com/
>> http://ngegau-blogz.blogspot.com/
>> http://berber-blogz.blogspot.com/
dll
Posting Komentar