Nano Nano Rasanya


Selamat malam semua pembaca dan pengunjung blog ini. Blog yang sama sekali nggak jelas isinya, hehe. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga kalian selalu bahagia dan sehat selalu.

Fyuh, nggak nyangka udah lama banget nggak nyoret-nyoret disini. Sok sibuk, padahal nggak sibuk sama sekali. Iya jelas nggak sibuk, wong kerjaannya cuma ngayal tok. Hohoho

Tahukah kalian apa alasanku nulis disini? Hehe. Coba tebak kenapa? Kenapa hayooo. Hehe kebanyakan cingcong ye gue. Wkwk

Langsung aja ya. Aku mau promoin buku baru nih. Judulnya Nano Nano Rasanya, karya ReaLea. Ini buku pertamanya lho, isinya ada sepuluh cerpen. Dan sepuluh cerpen itu temanya beda-beda. Nggak semua tentang cinta. Jadi nggak akan bosenlah. Hehe. Makanya yuk di order bukunya. Nggak akan nyesel. Aku aja udah baca. Dan isinya oke. Siapa tahu swtelah kalian order terus baca isinya kalian bisa terinspirasi nulis cerpen juga. Hehe. Nggak mahal kok bukunya. Nggak sampe jual rumah buat beli buku ini. Lagian buku kan sumber ilmu juga. Jendela dunia hehehe. Bener kan?

Pokoknya aku recomend banget deh buat kalian buku ini. Kalau minat order, kalian bisa klik link ini ⇨  http://nulisbuku.com/books/view_book/8264/nano-nano-rasanya . Cara ordernya gampang banget kok. Nggak ribet. Setelah transfer, buku langsung kirim. Dengan membeli buku ini, sama aja kalian menghargai  penulis Indonesia. Hehe, yuk jangan lupa order ya, Guys.

Salam Hangat,



-DevyR-

Serpihan Sesal




Mita berjalan riang menyusuri area parkir rumah sakit siang itu, tangannya menggenggam sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan yang ia lakukan. Siang itu ia mendapat kabar hebat. Kabar yang selalu ia tunggu setiap harinya. Ia hamil. Sudah masuk usia tiga minggu. Dan ia tak sabar ingin segera menyampaikan berita hebat itu pada suaminya.

"Ya, Ma?" Mita menempelkan ponsel di telinga kirinya, tangan kanannya menggenggam amplop putih itu sembari membuka pintu mobilnya.

"Kamu dimana?" tanya sang Mama dari seberang. "Mama lagi bikin kue nih, main dong kesini," katanya, terdengar antusias.

"Mita lagi mau jalan ke kantornya Wahyu, Ma." Mita beringsut masuk ke dalam mobilnya. "Ada hal penting yang mau Mita omongin sama Wahyu," Mita meletakkan amplop itu di jok sebelahnya, lalu sibuk memasang sabuk pengamannya.

"Yaudah kalau gitu nanti sore aja, ajak Wahyu sekalian," sahut Mamanya.

"Iya, Ma, Mita usahain," ujar Mita seraya menstarter mobilnya. "Mita jalan dulu ya, Ma." katanya lalu memutus sambungan telfonnya.

Mobil Mita pun melaju meninggalkan area parkir itu. Membelah jalanan yang cukup padat siang itu. Siang itu agak mendung, mungkin karena sudah masuk musim penghujan.
***

Mita urung membuka pintu ruangan Wahyu. Sejak tadi, ia hanya menyentuh knopnya tanpa ia putar agar pintu terbuka. Entah apa yang membuatnya takut seperti ini. Sekretaris Wahyu bilang, suaminya itu sedang ada tamu, tapi sektetaris itu tidak menyebutkan siapa tamu suaminya itu.

Mita menarik napas panjang, menahannya sebentar lalu menghembuskannya, ia mencoba menarik sudut bibirnya, mengukir senyum. Tanpa pikir panjang lagi, Mita putar knop pintu itu. Pintu terbuka tak terlalu lebar, tapi cukup jelas memperlihatkan siapa saja yang ada diruangan itu. Suaminya itu sedang mengecup kening seorang wanita cantik yang tak ia kenal sama sekali. Pelan-pelan, jantung Mita seperti melorot turun, dadanya sesak. Tangannya terlepas dari knop pintu itu. Untuk kesekian kali, ia kembali melihat Wahyu asik berduaan dengan wanita lain.

"Mita...." suara Wahyu terdengar samar di telinga Mita.

Mita berbalik sebelum air matanya tumpah dan Wahyu akan melihatnya. Langkahnya cepat menembus karyawan-karyawan perusahaan yang sedang berlalu lalang itu. Mita tahu Wahyu mengejarnya, bahkan ketika ia sampai parkiran pun ia tahu Wahyu masih mengejarnya.

"Mita!" seru Wahyu, ia berhenti, ia pandangi Mita yang mendekati mobilnya.

Mita enggan menoleh, ia hendak membuka pintu mobil itu, tapi tiba-tiba, "Kamu mau kemana?" tanya Wahyu, menggenggam lengan Mita yang sedikit gempal itu.

Mita berusaha menepisnya, sekuat tenaga masih ia tahan emosi serta air mata yang bergerumul di balik matanya. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang baru saja ia lihat.

"Mita...." Wahyu mengendurkan genggamannya ketika Mita sama sekali tak merespons-nya dan hanya diam bersandar di badan mobil itu.

Mita menepis pelan genggaman Wahyu. Dengan gerakan pelan, Mita membuka pintu mobilnya lalu beringsut masuk dan menutup pintunya dengan kasar. Ia pasang seatbelt-nya lalu menstarter mobilnya tanpa mempedulikan Wahyu yang berdiri mematung disebelah mobilnya itu. Ia benci dengan pria itu. Sangat membencinya. Mita menginjak gasnya hingga membuat mobilnya melasat pergi. Dan saat itu juga air mata menetes dari pelupuk matanya, air mata yang ia tahan sejak tadi.

Mita membasahi bibirnya, menghapus air matanya dengan kasar. Sungguh ia benar-benar marah, sangat marah pada pria bernama Wahyu itu. Pria yang selama ini amat ia cintai, amat ia sayangi, amat ia hargai, dan amat ia butuhkan dalam keadaan apapun itu tega melukai hatinya, menyayat nadinya dengan cara menjijikkan seperti itu. Sementara ia selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Wahyu. Lalu inikah balasan Wahyu?

Mita menepikan mobilnya disebuah pinggiran taman kota, ia lepas seatbelt-nya lalu keluar dari mobilnya itu. Mita memilih duduk di salah satu bangku taman itu, sendirian. Ia pandangi orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. Mendung semakin gelap. Dan Mita seakan tak peduli ketika tetesan air hujan jatuh di atas kemeja hitamnya itu. Ia mendongak sebentar menatap langit yang siap mengeluarkan ribuan tetes air hujan itu, kemudian ia pandangi orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh itu.

"Yu, kenapa kamu setega itu?" gumam Mita berbarengan dengan air matanya yang mengalir di pipi. "Salah aku apa?" Mita terisak bebarengan dengan air hujan yang kian deras itu hingga membasahi tubuhnya.

Mita menelan ludah getir. Semua rasa bahagianya seakan menguap tanpa sisa. Semua rasa antusiasnya ketika ingin bertemu Wahyu tadi seperti lenyap diterpa rasa kagetnya melihat Wahyu bersama wanita lain. Seperti ada yang menekan dadanya kuat. Sangat kuat. Sampai ia harus mencari celahnya sendiri untuk tetap bisa bernapas. Andai Wahyu tahu apa tujuannya datang ke kantor, apa pria itu akan mengurungkan niatnya untuk berselingkuh?

***

Wahyu menatap lurus ke luar jendela yang dibasahi air hujan. Ia terperangah ketika mendapati sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah itu, hujan lebat masih saja mengguyur bumi sampai detik itu. Ia pandangi Mita yang keluar dari dalam mobil, berlari menembus hujan sampai teras depan rumah. Wahyu tersenyum tipis, ia bergerak dari tempatnya, dan disaat yang bersamaan, pintu terbuka dan Mita muncul dari sana. Senyum Wahyu pudar demi melihat betapa berantakkannya Mita, bibirnya pucat, pakaian dan rambutnya setengah basah, kelopak matanya sayu. Apa yang terjadi dengan istrinya itu?

"Mit...." sekuat hati ia memberanikan diri menyebut nama itu.

Mita diam tak menjawab, ia tatap Wahyu sebentar lalu pergi meninggalkannya.

Wahyu tak menyerah, ia kejar Mita yang masuk ke dalam kamar. Wanita itu kini duduk didepan meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tatapannya kosong. Wahyu dekati wanita itu.

"Mit," Wahyu menyentuh bahu Mita. Dan dengan cepat Mita menepisnya. "Aku minta maaf," kata Wahyu pelan seperti bisikan.

Mita bergeming. Suara Wahyu terdengar samar ditelinganya. Ia pandangi pantulan diri Wahyu dari cermin didepannya. Semua membuatnya sakit. Amat sakit. Sampai ia tak tahu bagaimana cara mendefinisikan rasa sakit itu.

"Aku bisa jelasin semuanya," Wahyu bicara lagi.

Mita melepaskan handuk digenggamannya, ia remas amplop putih ditangan kirinya dengan mata terpejam, amplop itu tidak lagi mampu membuatnya bahagia, amplop putih itu tak lagi bisa membuktikan kalau Wahyu benar-benar mencintainya. Mita menarik napas panjang, menahan air matanya kuat-kuat agar tidak menetes.

"Aku sama dia cuma sebatas rekan kerja, Mit." gumam Wahyu. "Selebihnya, dia temen lamaku saat SMA dulu, wajar kan kalau kita deket, dan...." Wahyu menggantung kalimatnya ketika Mita berdiri dari duduknya dan menatapnya nanar.

"Wajar kalau sampe cium segala?!" napas Mita memburu.

"Bukan gitu maksud aku.." suara Wahyu mulai meninggi.

"Maksud kamu apa?!" Mita diambang batas kesabarannya. "Sengaja berbuat seperti itu?" dada Mita naik turun. "Sengaja mau nyakitin aku?!" Mita menunjuk dadanya sendiri. "Iya?!" Mita garang menatap Wahyu.

Wahyu diam saja. Ia tahu ia salah. Ia tak akan membela diri. Ia memang salah. Salah besar menyakiti Mita.

"Sebenernya artinya aku buat kamu itu apa?" Mita tak bisa lagi menahan gejolak di hatinya, ia memang harus menangis.

Wahyu menunduk. Diam tak bersuara. Hatinya seperti luluh lantak melihat air mata yang mengalir di kedua pelupuk mata wanita didepannya. Apa yang sudah ia lakukan sampai Mita menangis sehebat itu? Air mata itu membuat hatinya pilu.

"Aku benci sama kamu!" Mita mengusap air matanya dengan kasar, bergegas pergi dari hadapan Wahyu, ia keluarkan koper dari lemari pakaiannya kemudian memasukkan beberapa pakaian yang ia ambil sekenanya dari dalam lemari itu kedalam koper berukuran sedang itu.

"Hey, kamu mau kemana?" Wahyu mendekati wanita yang siap menarik kopernya itu. "Diluar hujan," kata Wahyu, berusaha mencegah Mita.

"Kamu boleh temui aku setelah kamu bisa benar-benar mengerti apa kesalahan kamu!" Mita susah payah menarik kopernya.

"Tapi, Mit..." seruan Wahyu hanya dihadiahi suara keras dari pintu yang dibanting Mita. "Mita!" Wahyu mengejar istrinya itu. "Kamu mau kemana?" tanya Wahyu.

"Aku nggak mau lagi tinggal sama kamu!" jawab Mita sembari membuka pintu itu dan keluar sambil menarik kopernya diikuti Wahyu.

Wahyu hanya bisa menatap nanar kepergian Mita. Dibawah derasnya hujan, ia tahu betapa dalam luka yang telah ia toreh dihati Mita. Andai semua bisa ia ulangi. Andai.

***

Wahyu menyipitkan matanya menatap seorang wanita yang duduk di sebuah bangku di taman rumah sakit itu. Disebelah wanita itu duduk ada sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu. Dada Wahyu bergetar ketika melihat wajah wanita berambut hitam legam itu tampak pucat dan tak bersemangat dengan perutnya yang sedikit membesar. Lima bulan ia mencari tahu dimana Mita. Setelah sekian lama semua orang yang mengetahui keberadaan Mita itu bungkam, akhirnya Mama Mita mengatakan dimana keberadaan Mita. Pertengakaran malam itu benar-benar pukulan telak baginya. Satu hal lagi yang membuatnya seperti terhempas sekeras-kerasnya adalah tak lama setelah Mita pergi, ia tahu bahwa istrinya itu tengah mengandung. Betapa jahat dirinya tega melukai wanita yang amat ia cintai itu. Masih bolehkah ia duduk disebelah wanita itu dan melipur laranya? Masihkah Mita mau menerimanya?

Wahyu menatap nanar sebucket mawar merah digenggamannya, bunga favorit Mita. Ia tarik napas dalam-dalam lalu dengan segenap keberaniannya ia dekati Mita. Langkahnya terhenti ketika Mita bergerak hendak berdiri dari duduknya. Miris hatinya memandangi betapa rapuhnya saat ini, susah payah wanita itu hendak berdiri. Wahyu mendekat, ia takut terjadi sesuatu dengan Mita.

"Mita...." panggil Wahyu pelan. Dalam hati ia takut, takut kalau Mita akan mengusirnya.

Mita mengangkat wajahnya, cukup kaget mendapati Wahyu berdiri didepannya. "Kamu?" Mita menyibak rambutnya yang kian memanjang itu ke belakang, makin memperjelas setiap inci wajahnya yang pucat pasi.

"Apa kabar?" tanya Wahyu, mengukir seulas senyum.

"Baik," jawab Mita dengan senyum tipisnya. "Kamu apa kabar?" Mita balik bertanya.

"Buruk," jawab Wahyu seraya maju beberapa langkah mendekati Mita.

"Kenapa?" tanya Mita.

"Buruk tanpa kamu," jawab Wahyu.

Mita menarik sudut bibirnya, tersenyum getir demi mengingat kembali lima bulan yang ia lalui tanpa Wahyu. Hanya seorang diri. Jatuh bangun merawat kandungannya sendirian. Tanpa bantuan suaminya itu. Tak terhitung sudah berapa kali ia harus masuk rumah sakit karena kandungannya bermasalah selama lima bulan terakhir ini. Wahyu tak akan lebih buruk darinya.

"Itu bunga buat aku?" Mita melirik sebucket mawar merah digenggaman Wahyu.

"Ya," Wahyu memberikan bunga itu pada Mita dan ia cukup lega ketika Mita menerimanya dengan baik. "Masih suka mawar merah, kan?" tanyanya.

"Masih," Mita tersenyum dan kembali duduk, memeluk bunga itu sambil menatap lurus ke depan. Angin di akhir musim penghujan itu menerbangkan setiap helai rambutnya.

Wahyu ikut duduk di sebelah Mita. Menarik napas dalam-dalam. Semuanya seperti terasa ringan didadanya ketika ia kembali bisa melihat Mita, senyumnya, suaranya, semua yang ada pada Mita amat ia rindukan.

"Maafin aku, Mit." Wahyu menghela napas pendek. "Aku tahu terlalu banyak luka yang aku toreh dihati kamu," timpalnya. "Maafin aku," Wahyu menatap Mita nanar. Sungguh, ia akan selalu membutuhkan cinta dan kasih sayang dari Mita.

"Aku udah maafin," Mita mengulum senyum getir. "Aku nggak ngerti kenapa selalu ada maaf buat kamu di hati aku," Mita menarik napas panjang, berusaha membiarkan setiap beban dibahunya menjauh pergi. "Sebesar apapun kesalahan kamu, aku nggak pernah bisa benci sama kamu," Mita menatap setiap kelopak beberapa tangkai mawar yang ada dipangkuannya itu. Semuanya tampak segar, tidak ada yang tampak layu. Mita yakin, Wahyu pasti sengaja membelinya sebelum datang kesini.

"Kenapa kamu masih mau menerima aku, Mit?" tanya Wahyu. "Aku sering nyakitin kamu, bikin kamu marah, kecewa, sedih dan terluka," paparnya.

"Anak aku akan selalu membutuhkan kamu," Mita menoleh, menatap Wahyu yang juga menatapnya. "Harus ada sosok Ayah disampingnya sampai kapanpun," bibir pucat Mita mengulas senyum.

Wahyu menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Mita terlalu tangguh untuk diruntuhkan begitu saja. Ia selalu tampak hebat dibalik sikap cuek dan sederhananya. Tak ada yang tahu jika begitu banyak beban yang ada dibahu wanita itu. Demi apapun di dunia, Wahyu berjanji tidak akan menyakiti hati Mita lagi, ia tidak akan melukai hati wanita yang selalu membuatnya gila itu. Mita terlalu sempurna untuk dipatahkan hatinya.

"Aku pikir aku bisa tanpa kamu, tapi aku rasa aku nggak sekuat saat ada sama kamu, Yu." Mita menyandarkan kepalanya dibahu Wahyu.

Wahyu usap kepala Mita, satu tangannya meremas jemari Mita yang agak dingin itu. Selalu ada celah yang Mita berikan untuknya. Selalu ada ruang dihati Mita yang memang Mita sediakan khusus untuknya. Dan selalu ada maaf yang Mita beri untuk setiap kesalahannya. Lantas kenapa ia masih saja tega menyakiti wanita seperti Mita? Membiarkan Mita berjuang sendirian merawat kandungannya. Seketika serpihan sesal itu kembali menghujam jantungnya pilu.

"Setelah ini kamu masih mau, kan pulang ke rumah kita?" tanya Wahyu.

Mita mengangkat kepalanya, ia tatap Wahyu dengan mata sayunya, kemudian ia mengangguk.

Wahyu kecup kening Mita. Ia usap pipinya dengan lembut. Demi apapun didunia, ia tidak akan lagi membiarkan Mita sendirian menghadapi semuanya. Tak akan lagi ia lukai hati Mita. Ia janji. Pada Tuhan serta dirinya sendiri.

TAMAT 

@DevyMrz 

Sempurna Bukan Milik Mita

Beberapa hari ini lagi muak banget buka Twitter. Bukan karena lemot atau apa koneksinya, terlebih kepada fansnya The Virgin lagi sakit jiwa semua. Lagi pada ngoceh nggak jelas cuma karena ada provokator kelas kakap. Masalahnya nggak jauh-jauh dari masalah 'itu'. Kuping gue kebal coy denger para haters berkedok fans yang bilang Mita Dara begitulah. Untuk masalah itu gue kebal dengernya.

Tapi sekarang, disini yang tersudut si Mita. Lagi. Nggak ngerti kadang-kadang sama orang yang suka ngomong asal tentang orang lain. Komentar tentang hidup orang lain. Kayak hidupnya udah bener dan sempurna aja.

Yang bikin gue ngelus dada tuh kenapa Mita terus yang jadi sasaran para haters berkedok fans itu. Dikit-dikit Mita. Apa-apa Mita. Yang salah Mita. The Virgin kenapa-kenapa yang kena Mita. The Virgin itu Mita sama Dara. Bukan cuma Mita. Atau bukan cuma Dara.

Guys, coba kalian pikir, Mita ngerugiin apa buat hidup kalian? Dia manusia biasa, yang bisa salah, bisa khilaf. Manusiawi. Tapi kenapa seakan-akan kalian anggepnya Mita itu paling salah? Mita nggak pernah ngajak kalian berbuat jelek, kan? Mita malah ngajarin kalian buat jadi fans yang bisa ambil positifnya Mita, buang negatifnya. Bisa nggak jangan lihat manusia dari sisi positifnya? Jangan negatifnya melulu? Nggak bisa?

Ok, gue bukan mau sok menggurui. Tapi mending buat kalian yang nggak tahu apa-apa tentang Mita mending diem aja. Nggak usah malah ikutan ngebacot karena di komporin sama provokator. Sadar, sikap kalian itu justru bakalan ngancurin diri kalian sendiri. Cuma mau ingetin aja, kalau bicara hati-hati, jangan sampe ada hati yang merasa disakiti. Karena Allah nggak akan diem aja mendengar salah satu doa hambanya yang di fitnah.

Kalau memang Mita buruk ya emang kenapa? Bukan kalian yang nyatet amal buruknya kan? Kenapa ribet sih? Jangan tuntut Mita jadi sempurna dan harus ikutin apa yang ada di otak sakit kalian para haters. Allah SWT aja nggak pernah nuntut hambaNya buat sempurna kok. Toh, nerakanya Mita bukan urusan loe semua, surga juga belum tentu jadi tempat kalian. Nggak usah sombong, kalian napas aja gratis, apa-apa minta sama Allah. Jadi nggak usah sok nyeramahin hidup orang. Benerin aja hidup sendiri. Baik buruknya manusia cuma Allah yang berhak menghakimi. Bukan kalian!

Allah itu Maha Segalanya. Maha Besar. Maha Tahu. Jadi ati-ati kalau mau ngomen buruk orang lain. Kalian tahu apa tentang Mita? Udah ngerasa lebih dari Mita? Udah ngerasa hebat dari Mita? Suatu saat nanti, fans yang beneran tulus bakal keliatan, dan yang busuk bakal ancur. Semua cuma soal waktu. Sekarang, silakan kalau masih mau ngomong jelek tentang Mita. Silakan. Gue mau jadi fans bijak aja, nggak suka boleh ngomel. Gue nggak peduli, gue cuma bisa nyampein ini. Semoga kalian sadar. Gitu aja. Gue apa atuh, cuma fansnya Mita yang nggak terima liat Mita disalahin melulu. Makin Mita dibully, dicaci, dimaki, dihina, seakan dijatuhin, gue malah makin sayang sama tuh cewek. Semoga dengan semua ucapan buruk kalian, Allah malah bakalan ngangkat derajat Mita. Ngejadiin Mita manusia yg lebih bijak lagi ngadepin semuanya. Fans itu nggak pamrih coy. Dan nggak akan goyah karena provokator. Semuanya balik ke diri loe semua masing-masing. Masih mau bertahan support Mita atau mau mundur. Kalo mau mundur mending dari sekarang, biar nggak malu-maluin, hehe. Mita nggak akan nangis kehilangan fans yang pikirannya sakit semua kayak kalian. Calm down, Mita masih punya fans yang mau terima dan sayang dia apa adanya. Dikit asalkan berotak waras semua lebih baik daripada banyak tapi sakit semua otaknya. Kalau Mita salah biar Allah yang negor. Gitu aja.

Keep Calm Down, Guys. Semua sama dimata Tuhan ;)

Bohong!

Kalian pernah mendengar kata bohong? Kalau pernah, apa yang langsung terpikirkan di kepala kalian?

Lalu, kalian pernah dibohongi? Atau membohongi mungkin?

Kata bohong adalah kata yang paling tidak saya sukai. Apalagi jika kata bohong itu sudah berubah menjadi 'dibohongi'. Kalian pernah di dibohongi? Saya pernah :)

Bagaimana rasanya dibohongi? Saya akan menceritakannya sedikit.

Rasanya seperti dianggap bodoh dan tolol. Dengan mudahnya dibohongi. Saya memang terlalu mudah percaya, tapi bukan berarti saya bodoh dan mudah dibohongi. Kalian tahu bagaimana rasanya dibohongi dan dipermainkan oleh orang yang sangat kalian percaya? Rasanya aneh. Dikepala hanya ada dua kata; Kok bisa? Hanya itu.

Saya bukan pendendam. Tapi saya bukan manusia yang mudah melupakan. Dendam hanya akan membuat saya susah sendiri.

Kalian pernah berharap kan? Lalu bagaimana rasanya ditengah kalian berharap, harapan kalian hanya dianggap lelucon tak penting? Rasanya seperti terbang lalu dihempaskan sekeras-kerasnya. Kalian definisiksan sendiri bagaimana rasanya.

Kalian boleh sebut saya sok bijak, atau apalah. Hanya hanya ingin membagi kisah yang lumayan berhasil membuat saya banyak berpikir. Kenapa saya bodoh? Kenapa saya terlalu mudah percaya? Dan kenapa saya bisa di bohongi?

Ini bukan kebohongan sepele, kebohongan ini sudah berhasil merusak harapan saya. Itu yang membuat saya kecewa dan selalu berpikir dua kali sebelum mempercayai orang yang baru saya kenal.

Selamat malam, semoga kalian memahami maksud tulisan aneh saya malam ini ;)

@DevyMrz

Kerinduan

Selamat siang semuanya. Fyuh, saya pikir tempat ini sudah bersarang laba-laba karena saking lamanya tidak saya kunjungi. Omong-omong bagaimana kabar kalian semua hari ini? Sehatkah? Kalau sehat, bersyukurlah ;)

Hmmm, saya mau bercerita tentang banyak hal hari ini. Masih berkaitan dengan hobby menulis saya. Kalian pernah bermimpi menjadi penulis? Lalu tulisan kalian berhasil menjadi best seller? Saya sedang memimpikannya sekarang. Jika dibayangkan memang sepertinya sangat menyenangkan. Ketika tulisan kita ditunggu banyak orang, banyak kalangan, semuanya. Membayangkannya saja sudah cukup membuat hati senang, bagaimana merasakannya secara nyata.

Saya bukan penulis hebat seperti Tere Liye atau Andrea Hirata yang semua tulisannya mampu menjadi sejarah hebat. Saya hanya seorang amatiran yang sedang dilanda rindu, hehe. Lama saya tidak menulis. Padahal banyak yang ingin saya tulis. Banyak kisah yang ingin saya bagi. Tapi entah kenapa setiap saya mulai ingin menulis lagi, kadar keoptimisan saya menurun. Saya tidak sepercaya diri seperti dulu. Dan saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu.

Rindu. Satu kata itu selalu saja tersemat dihati saya. Saya rindu menulis seperti dulu, saya rindu berimajinasi, saya rindu berpetualang didunia saya sendiri. Dan saya rindu menciptakan kalimat-kalimat aneh saya menjadi sebuah cerpen atau apalah namanya. Menulis selalu membuat saya rindu.

Berhenti. Pernah berfikir untuk berhenti menulis. Tapi saya tidak bisa. Tenyata menulis sudah menjadi bagian dalam diri saya. Dan saya bersyukur karena Tuhan memberi bakat seperti ini pada saya. Menjadi seorang imajiner. Dan saya putuskan saya akan terus menulis. Sampai saya mati.

Siang ini saya punya satu pesan untuk kalian yang senang menulis. Menulis itu hal yang akan membuat kalian ketagihan. Menulis itu menyenangkan, selain mampu menghibur diri sendiri, menulis juga bisa menjadi media yang mengasikkan. Dengan menulis kalian akan tahu karakter kalian sendiri dibalik setiap kalimat yang kalian tulis. Hebat kan?

Satu lagi, menulis akan selalu berhasil membuat otak kita terus berpikir.

So, let's take a papper and write your imagination. Kalian akan tahu betapa menyenangkannya menulis.


Yuks saling sharing:  devyrahmawati18@yahoo.co.id

Corat-Coret



        Sedikit mau bicara tentang sesuatu hal yang saya miliki dulu
        Tentang persahabatan yang kemudian seperti keluarga
        Lama kami semua bersama
        Berbagi kisah dalam setiap kesempatan
        Berbaggi tawa dan cerita-cerita lucu
        Pada akhirnya saya sampai di titik ini
        Titik dimana saya harus mengerti semuanya tak ada yang abadi
        Awalnya hanya satu yang hilang
        Tapi kemudian jadi dua yang hilang
        Saya bertahan
        Terus bertahan dengan hal yang semakin hari semakin menyakiti saya
        Hal yang pelan-pelan membuat saya sakit sendiri
        Ok, ini bukan cerpen atau cerita bersambung seperti yang sering saya tulis dulu
        Ini kisah saya dan kalian
        Kisah yang sudah berakhir dan saya lah orang terakhir yang terluka

        Saya pikir dengan saya bertahan semua akan baik-baik saja
        Tapi ternyata sama saja
        Semakin hari semua yang saya anggap seperti keluarga menjelma menjadi orang asing yang tidak bisa saya kenali lagi
        Seperti dipojokkan
        Seperti diabaikan
        Seperti dianggap tidak ada
        Itulah yang saya rasakan
        Entah siapa yang harus disalahkan
        Entah siapa yang harus meminta maaf duluan
        Satu hal yang saya tahu, kalian tidak sama seperti yang saya kenal dulu
        Berubah mungkin
        Sekarang saatnya saya pasrah
        Tak ada yang harus saya pertahankan lagi
        Tak ada yang harus saya perjuangkan lagi
        Dan tak ada yang harus saya hargai lagi
        Kadang Saya berpikir
        Untuk apa bertahan ditempat yang tak layak lagi untuk dipijak?
        Mungkin saya yang berubah
        Tapi mungkin saja kalian
        Tapi satu hal yang saya tahu
        Sekarang saya berani pergi dari tempat saya berdiri
        Dari kalian yang melukai banyak orang

Tanpa Ujung



            Mita menatap pria berkemeja putih yang tengah sibuk memakai dasi merah maroon dihadapannya itu. Matanya menatap lekat pria yang telah menjadi suaminya selama hampir dua bulan itu. Ia mencintai Wahyu, suaminya. Sangat mencintainya. Pria yang penuh kasih sayang, pria yang penuh cinta, pria yang bak malaikat baginya, dan pria yang tak pernah luput dari pandangannya. Selalu ada dan akan selalu ada. Di dunia nyatanya, atau di dunia mimpinya. Terlalu sempurna memang, tapi itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan suaminya itu.
            “Kenapa liatin aku sampe kayak gitu?” tanya Wahyu yang masih sibuk dengan dasinya.
            Mita tak menyahut, Wahyu sadar wanitanya itu memang menatapnya tapi pikirannya tak sama sekali ada padanya. Ia tatap Mita yang asik dengan pikirannya itu. Ia akan menunggu sampai Mita menyadarinya. Mita sering sekali seperti ini akhir-akhir ini.
            Menit terus berganti, Wahyu telah usai memakai dasinya, ia juga telah menyematkan jas hitam ditubuhnya yang tersampir disofa yang ada disebelahnya berdiri, tapi Mita belum juga sadar dari lamunannya. Wahyu tatap lagi Mita, istrinya itu. Sejurus kemudian Mita menatapnya, kali ini ia yakin pikiran Mita ada padanya.
            “Yu,” gumam Mita.
            “Ya?” tanya Wahyu kalem.
            “Kamu udah selesai?” tanya Mita balik.
            “Sejak beberapa menit yang lalu,” jawabnya.
            Mita melirik jam dilengan kirinya. “Lho ini udah siang banget lho, kenapa kamu belum berangkat?” tanya Mita.
            “Nungguin kamu ngelamun,” jawab Wahyu santai.
            “Ngelamun?” Mita menatap Wahyu. “Siapa yang ngelamun?” tanya Mita bingung.
            “Kamu,” Wahyu tersenyum tipis.
            “Yakin nggak ngelamun?” tanya Wahyu.
            “Iya, aku kan liatin kamu terus dari tadi,” Mita membela diri.
            “Oh ya?” tanya Wahyu. “Kalau kamu nggak ngelamun kenapa nggak bantuin aku pake dasi tadi?” tanya Wahyu.
            Mita menutup mulutnya rapat-rapat, ia menelan ludahnya dengan perasaan ketar-ketir. Pertanyaan Wahyu membuatnya mati kutu. Seharusnya ia tak melamun sampai selama itu jika sedang dihadapan Wahyu. Ia lupa kalau Wahyu itu bak malaikat yang bisa tahu betul tentangnya.
            “Aku jalan dulu ya,” Wahyu mengecup kening istrinya itu. “Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku,” Wahyu mengacak pelan rambut Mita yang hanya diikat sekenanya itu.
            “Yu,” Wahyu yang hendak pergi itu pun berhenti. “Maafin aku,” ucap Mita pelan persis seperti bisikan. Wahyu mengangguk kemudian berlalu pergi dan hilang dari pandangan Mita.
***
            Mita menatap pria berkemaja hitam tanpa dasi yang duduk dihadapannya sambil melahap pastanya. Pria itu memang selalu mengajaknya makan siang bersama seperti saat ini. Ia tatap pria berkawat gigi itu dengan seksama. Entah sejak kapan pria itu mulai masuk kedalam hatinya tanpa ia sadari. Yang Mita tahu, ia senang jika sedang bersama pria itu. Entah kenapa Mita tak tahu. Ia tek penah bisa menjelaskan tentang hal itu.
            “Kenapa liatin aku kayak gitu?” tanya pria itu saat sadar sejak tadi wanita berkuncir ekor kuda itu terus menatapnya.
            “Mal, aku mau tanya sama kamu,” Mita menarik napasnya seraya meletakkan garpu yang sedari digenggamnya tanpa digunakan.
            “Soal apa?” tanya pria bernama Ikmal itu dengan santainya.
            “Soal kita,” jawab Mita.
            “Kenapa soal kita?” tanya Ikmal seraya menyuapkan segulung pasta digarpu kemulutnya.
            “Soal hubungan kita yang nggak jelas ini,” ucapan Mita berhasil membuat Ikmal berhenti mengunyah makanan dimulutnya.
            “Maksud kamu?” Ikmal meletakkan garpunya.
            “Kita nggak boleh kayak gini terus,” Mita coba menjelaskan. “Kamu tau nggak sih secara nggak langsung aku ini udah nyakitin Wahyu,” tambah Mita dengan nada suara yang disetel sepelan mungkin. “Setiap hari kita pergi berdua, kemana-mana berdua,” katanya. “Bahkan aku sampe nggak punya waktu buat berdua sama suami aku sendiri, Mal.” Mita menekan kata ‘suami’ dikalimatnya barusan.
            “Suami kamu kan sibuk, mana sempet dia ngajak kamu pergi, jadi kamu boleh dong pergi sama aku?” Ikmal menyeringai, seakan semuanya hanya lelucon.
            “Mal, aku sayang sama Wahyu,” ucap Mita penuh ketegasan. Ia tatap mata Ikmal lekat-lekat, mencoba mencari pengertian dimata pria dihadapannya.
            “Kamu juga sayang sama aku,” Ikmal menatap Mita. “Ya kan?” Ikmal tersenyum.
            “Mal,” Mita mendesah pelan. Ikmal memang pria yang berbanding terbalik dengan Wahyu. Tak seserius Wahyu, tak sependiam Wahyu, tak juga mudah peduli seperti Wahyu. “Aku rasa aku salah ngelakuin semua ini ke Wahyu,” Mita menunduk
            “Kamu nyesel kenal dan deket sama aku?” tanya Ikmal. “Kamu nyesel dengan semua hal yang udah kita lakuin sama-sama selama ini?” timpalnya. Masih dengan nada kalem.
            “Aku nggak pernah nyesel,” Mita mengangkat kepalanya menatap Ikmal. “Aku rasa semua ini udah cukup, Mal.” Mita membasahi bibirnya. “Aku mau...”
            “Kita udahan aja sampe disini?” tanya Ikmal seraya menatap Mita. “Ngebiarin semuanya tanpa ujung yang jelas?” timpalnya. “Ngebiarin semuanya nggak ada akhirnya?” Ikmal menghela napas pendek. “Aku nggak bisa,” suara Ikmal melemah. “Aku sayang kamu,” ujarnya pelan tapi masih terdengar oleh Mita.
            “Aku terlalu jauh nyakitin Wahyu,” gumam Mita. “Sampe aku nggak tau gimana cara ngobatin luka itu nantinya,” Mita mengigit bibir bawahnya. “Luka yang entah bisa disembuhin atau enggak,” Mita menatap Ikmal yang juga menatapnya. “Aku nggak akan pernah bisa kehilangan Wahyu, Mal.” Mita seperti memohon kepada Ikmal agar pria itu mengerti tentang posisinya. “Nggak akan pernah bisa,” Mita menekan setiap kata-katanya itu.
            “Mita,” Ikmal menyentuh jemari Mita yang ada diatas meja itu. “Aku nggak bisa kehilangan kamu,” katanya dengan suara lirih.
            “Kita nggak seharusnya kayak gini, Mal.” Mita menarik tangannya yang digenggam Ikmal. “Aku nggak bisa terus-terusan bohongin Wahyu,” tambahnya.
            “Kamu selalu mikirin bagaimana perasaan Wahyu,” Ikmal tersenyum sinis. “Tapi apa pernah sedikit aja kamu mikirin perasaan aku, Mita?” suara Ikmal mulai meninggi.
            Mita tatap Ikmal lekat. Ia memang tak hanya menyakiti Wahyu, tapi ia juga menyakiti Ikmal. Pria yang juga menyayanginya. Pria yang juga ia anggap kehadirannya. Jujur ia tak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. “Kalau kamu terus menerus sayang sama aku justru kamu akan terus terluka, Mal.” ujar Mita lirih.
            “Aku nggak bisa berhenti mencintai kamu,” sahut Ikmal pelan. “Nggak akan pernah bisa,” imbuhnya.
            “Aku tau,” Mita medesah lemah. “Tapi kamu juga harus ngerti posisi aku, Mal.” Mita menghela napas pendek. “Hubungan kita ini nggak pantes,” imbuhnya.
            “Aku tau,” sahut Ikmal. “Aku ngerti,” katanya.
            Mita menunduk, ia sama sekali tak mengerti kenapa bisa melakukan hal bodoh seperti ini, hal yang seharusnya tak ia lakukan, hal yang menyakiti dua orang sekaligus, hal yang mungkin akan menghancurkannya sendiri.
            “Mit, aku anter kamu pulang,” Ikmal menarik tangan Mita hingga membuat Mita terperanjat kaget. Dan untuk kali ini Mita memang tak bisa menolaknya.
            Ikmal menggandeng tangan wanita yang amat disayanginya itu keluar dari restaurant. Seakan Mita adalah miliknya utuh. Ia tatap Mita yang berjalan disampingnya, sejurus kemudian ia kecup pipi Mita dengan lembut, tak peduli pada semua orang yang memandangnya kala itu.
            “Mal,” Mita menatap Ikmal.
            “Untuk yang pertama dan terakhir kalinya,” Ikmal tersenyum simpul. Mita menelan ludahnya menahan malu luar biasa saat semua orang menatapnya.
***
            Mita menatap pria yang tengah duduk bersila ditepi kolam sambil mengelus-elus Chiko yang ada dipangkuannya dari ambang pintu. Pria yang terlalu sering ia sakiti, pria yang terlalu sering ia bohongi, dan pria yang terlalu sering ia korbankan demi pria lain. Kenapa ia bisa sampai setega itu pada Wahyu? Pria yang sedikitpun tak pernah menyakitinya. Mita benar-benar benci dirinya sendiri.
            Mita berjalan mendekati Wahyu yang asik dengan anjing pudle-nya itu. Ia tatap pantulan wajah Wahyu di air kolam dihadapannya. Wajah yang seakan menunjukkan semuanya baik-baik saja. Wahyu yang seakan selalu baik-baik saja dengan senyum tipisnya itu.
            “Yu,” Mita duduk disebelah Wahyu seraya memeluk kedua lututnya.
            “Udah selesai mandinya?” tanya Wahyu tanpa mengalihkan perhatiannya dari Chiko. Beberapa menit yang lalu ia dan Mita memang baru saja berenang bersama, kegiatan rutin mereka setiap malam sebelum makan malam.
            “Makan malem diluar yuk,” ajak Mita kemudian. “Aku bingung mau masak apa buat kamu,” katanya.
            “Tumben ngajak makan diluar,” Wahyu menatapnya, tapi tangannya tak berhenti mengelus-elus Chiko yang tertidur dipangkuannya itu.
            “Udah lama kan kita nggak pergi berdua?” Mita tersenyum.
            Wahyu tersenyum, kemudian menatap pantulan wajahnya dan wajah Mita yang menatapnya seakan menunggu jawabannya dikolam itu.
            “Aku boleh tanya satu hal dulu nggak sama kamu sebelum kita pergi?” tanya Wahyu.
            “Apa?” tanya Mita.
            “Tadi siang kamu makan siang diluar sama siapa?” tanya Wahyu to the point.
            Mita seperti tersambar petir kala itu. Pertanyaan Wahyu membuat jantungnya seperti ingin mencelos keluar. Sungguh pertanyaan yang membuat napasnya seakan berhenti detik itu juga. Dan ia bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan Wahyu barusan. Seketika lidahnya kelu. Rahangnya mengatup rapat bak diberi lem super lengket sehingga membuatnya tak mampu bicara sepatah katapun.
            “Temen kamu?” tanya Wahyu lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Chiko yang semakin hari semakin menggemaskan itu. Mita tetap diam seribu bahasa. “Tapi kayaknya kalau cuma temen dia nggak mungkin berani sampe cium pipi kamu didepan banyak orang lho, Mit.” Wahyu berdiri dari duduknya sambil menggendong Chiko.
            Sempurna. Mita ingin menembak kepalanya sendiri dengan pistol sekarang juga agar semuanya selesai. Selesai secara keseluruhan. Hingga tak ada lagi masalah seperti ini. Hingga ia tak harus lagi melihat Wahyu terluka. Ia benci dirinya yang tega menyakiti pria sebaik Wahyu. Ucapan Wahyu barusan membuatnya sedih bukan main. Seperti ditikam ribuan pisau dari berbagai penjuru. Pilihannya hanya dua. Mati atau berlari dari itu semua. Jujur Mita tak bisa melihat Wahyu yang seakan-akan selalu baik-baik saja itu.
            “Yu,” Mita berjalan pelan mendekati Wahyu yang baru saja memasukkan anjingnya itu kedalam kandang yang ada tak jauh dari kolam.
            “Jadi kan mau makan malem diluar?” tanya Wahyu. Hati Mita bertambah sakit. “Yuk!” Wahyu menarik lengan Mita dan hendak mengajaknya pergi dari tempat itu.
            “Wahyu,” Mita menepis genggaman Wahyu kemudian menarik pria itu kedalam pelukannya. Ia peluk Wahyu se-erat mungkin, mencoba merasakan luka yang telah ia toreh dihati Wahyu.
            “Mita,” gumam Wahyu.
            “Maaf untuk semuanya, Yu.” Mita berbisik lirih.
            “Aku benci liat kamu sama dia,” ujar Wahyu.
            Mita bergeming, ia biarkan hatinya berada ditempat dimana seharusnya ia berada. Ia telah menyakiti malaikatnya, tak hanya menyakiti tapi juga menghancurkan hatinya. Hati malaikat cintanya. Hati yang seakan kokoh itu seakan telah ia hancurkan. Cinta yang seakan abadi itu seakan telah ia musnahkan begitu saja. Dan itu semua karena kesalahan bodoh yang ia lakukan. Ia penghancur semuanya.
            “Mita,” Wahyu melepaskan pelukan Mita. “Aku tanya sama kamu,” kata Wahyu menatap mata bening wanita dihadapannya itu. “Selama ini artinya aku buat kamu itu apa?” tanya Wahyu.
            “Yu, biar aku jelasin dulu ke kamu siapa Ikmal,” Mita menatap mata teduh yang seakan mematikannya itu.
            “Jadi namanya Ikmal?” Wahyu menatap Mita
            “Biar aku jelasin semuanya, aku sama dia...”
            “Mit,” Mita berhenti bicara seraya menatap lekat mata Wahyu. “Aku nggak butuh penjelasan kamu tentang laki-laki itu,” katanya. “Aku cuma mau kamu jawab pertanyaan aku,” imbuhnya. Yang seakan-akan selalu baik-baik saja itu kini terlihat hancur berantakkan.
            “Yu, aku mohon dengerin aku dulu,” Mita menghapus air matanya dengan kasar. “Biar aku jelasin semuanya biar kamu ngerti,” imbuhnya dengan suara serak.
            “Apa yang harus aku mengerti?” tanya Wahyu yang masih dengan nada bicara biasa saja. “Keputusan kamu untuk pergi sama laki-laki lain selain suami kamu sendiri, begitu?” suara Wahyu akhirnya meninggi juga. Mita sesenggukan. “Untuk hal lain aku masih bisa mengerti, tapi untuk semua yang menyangkut perasaan aku, aku nggak mau ngerti,” katanya.
            “Yu,” Mita lirih.
            “Selama ini aku nunggu kamu buat jelasin semuanya sama aku, tapi kamu nggak pernah cerita, kamu menganggap seakan-akan aku ini bodoh yang bisa segampang itu kamu permainkan,” Wahyu maju selangkah mendekati Mita, hingga tak menyisakan jarak diantara keduanya. “Aku nggak suka permainan konyol kamu ini, Mita.” ujar Wahyu pelan tepat didepan wajah Mita.
            “Yu, aku nggak bermaksud mempermainkan kamu,” Mita menatap mata Wahyu yang amat dekat didepan matanya. “Aku sayang kamu,” katanya.
            “Kamu sayang sama aku?” tanya Wahyu yang juga menatap Mita. “Tapi kenapa kamu ngelakuian hal ini sama aku?” matanya bertemu dengan mata Mita. “Apa aku nggak cukup sempurna buat kamu?” Wahyu menyentuh pipi Mita dengan lembut. “Apa aku nggak cukup membuat kamu bahagia?”  Wahyu masih menikam Mita dengan tatapannya.
“Yu, kamu boleh berhenti mencintai aku,” Mita masih menatap Wahyu. “Tapi jangan pernah kamu minta aku untuk berhenti mencintai kamu,” katanya. “Karena aku nggak akan pernah bisa,” Mita menatap Wahyu dengan tatapan nanar.
“Kenapa?” tanya Wahyu.
“Aku nggak pernah punya alasan kenapa aku bisa mencintai kamu,” jawab Mita.
“Kalau kamu mencintai aku, kenapa kamu tega melakukan semua ini sama aku?” tanya Wahyu. “Apa aku orang yang pantas menerima itu semua?” imbuhnya.
“Yu,” Mita meremas jemari Wahyu.
“Jawab aja, Sayang.” Wahyu menatap mata bening dihadapannya itu.
“Maafin aku,” Mita menunduk. “Aku salah, nggak seharusnya aku melakukan ini semua sama kamu, Yu.” Mita menatap Wahyu lagi. “Buat aku kamu lebih dari sempurna, buat aku kamu lebih dari bisa membahagiakan aku,” katanya. “Dan buat aku kamu lebih dari berarti buat aku,” imbuhnya.
“Mita,” Wahyu menatap lekat wanita berambut panjang dihadapannya itu. “Kalau aja aku ini seorang malaikat, pasti aku bisa jagain kamu terus dimana pun kamu berada,” katanya. “Tapi sayang aku bukan malaikat,” Wahyu mendekap Mita erat seakan tak akan pernah lagi membiarkannya pergi.
“Buat aku kamu lebih dari seorang malaikat, Yu.” ujar Mita dalam hati. Untuk saat ini ia hanya ingin berada dalam pelukan hangat ini. Baginya, Wahyu tetap ada disisinya itu sudah lebih dari cukup.
Wahyu melepaskan pelukannya kemudian menatap Mita. Mita membalas tatapan Wahyu yang seakan penuh makna itu. “Aku baru sadar kalau malam ini kamu...” Wahyu mendekatkan wajahnya ke wajah Mita. Mita menatap suaminya itu dengan perasaan was-was. Dan benar saja, sejurus kemudian Wahyu berhasil membuainya dengan ciuman mesra. Dan untuk malam ini ia merasa sempurna karena telah memiliki Wahyu. Dan biarkan kisahnya bersama Ikmal tidak memiliki ujung.


Selesai

Happy birthday ya adikku yang manis dan cantik, semoga sehat selalu, makin dewasa, murah rizkinya, makin pinter sekolahnya, semua yang dicita-citakan terwujud. Maaf aku Cuma bisa kasih ini aja, kalo jelek boleh kok dibuang laptopnya *eh. Maaf gak bisa kasih apa-apa, aku Cuma bisa bikin cerpen semacam ini, hiks. Semoga diumur yang baru kamu selalu disayang orangtua, disayang Allah, disayang orang-orang sekitar kamu. Happy birthday ya kamuu
@DevyMrz